
“Oh Tuhan rambutnya di potong pendek, separah itukah?”
Melihat penampilan Netta hatiku bagai di remuk, aku ingin sekali merangkulnya, meminta maaf padanya.
Maafkan aku Netta, terimakasih karena mau menemui ku,
tolong jangan benci aku, ucapku berharap dalam hati, melihat rambut yang di potong super pendek membuat penampilan Netta sangat berbeda, kemana rambut indah ikal milik istriku?
Baru baru ingat, iya!
Arnita menggunting rambutnya, saat hari naas itu, saat Netta datang, aku menatap Tulang dan tulang bergantian dengan tatapan tidak enak, ada rasa bersalah yang sangat besar dalam hatiku, benar kata Candra, aku lelaki yang gagal, lelaki yang tidak bisa menjaga istriku.
Melihat rambut yang di botakin, membuat hatiku merasa tidak pantas.
“Iya, inilah Netta yang sekarang, setelah dipukuli si Nita, sungguh perlakuan yang tidak pantas, kata tulang, wajahnya terlihat sangat kecewa.
“Maaf tulang, saya sangat menyesal, karena tidak bisa menjaga Netta, saya saat itu tidak ada tulang, saya bekerja di Papua”
Kataku.
“Tulang tahu Tan, Netta sudah memberitahukan, tulang tidak ingin masalah tambah panjang, Netta juga bilang tidak ingin berkepanjangan, tapi Mama Candra ingin melaporkan ke Polisi saya pikir tidak perlu, Nita juga keluarga kita, alangkah baiknya kalau kita bicarakan sendiri, tapi tidak tahu inang udamu, ia mengotot bawa ke ranah hukum, kalau seperti itu, apa artinya kekeluargaan itu,”
kata Tulang.
Aku hanya diam, tidak tahu harus bicara apa lagi, tidak pernah menduga rumah tangga akan bermasalah seperti ini, semua keluarga tahu hubungan yang terlarang yang aku lakukan, kalau saja waktu bisa diputar, aku memilih menghapus hubunganku dengan Mikha.
“Tan keputusan ada sama kalian berdua, jangan dengarkan omongan dan ocehan orang lain, kalau sudah berumah tangga, lebih baik di bicarakan berdua saja.
Kalau ada pihak orang tua yang terlalu mencampuri, percayalah, rumah tanggamu tidak akan berjalan mulus,” kata Nantulang memberi nasehat.”
Maka, kalau sudah berumah tangga, lebih baik pisah dari orang tua, sekalipun hanya mengontrak rumah, itu akan lebih baik.”
Nantulang menatapku.
Apa yang dikatakan nantulang benar adanya,
harusnya aku saat sudah menikah dengan Netta, harusnya kami pisah dari Mami, tidak terlalu menuruti kemauan Mami,
mungkin masalah tidak separah ini, sekarang semua keluarga mengetahui persoalan rumah tangga kami dengan Netta.
Rumah tanggaku di ujung tanduk karena aku tidak bersikap tegas sebagai seorang suami, selama ini aku membiarkan Mami memarahi Netta semaunya, aku pikir itu adiknya sendiri, ternyata sikap diam ku di salah artikan Arnita, ia jadi bertindak kasar pada Netta, ia pikir aku tidak perduli dengan Netta selama ini karena aku diam.
“Tulang, aku ingin bicara berdua dengan Netta, boleh tulang?”
“Boleh, harusnya memang seperti itu, tapi Mama Candra yang membuat semuanya jadi rumit, kalau ada masalah keluarga lebih baik bicarakan dengan baik-baik, tentang hubungan rumah tangga, karena selalu belajar dalam menjalani sebuah rumah tangga.
Inang udamu yang koar sana-koar sini, ia tidak berpikir masalah kakaknya masalahnya juga,
ke semua orang di beritahukan, kalau Netta dan kamu lagi ada masalah, ia membawa Netta dari Bekasi, tadi juga ia mengantar Netta kesini.
Aku sudah bilang, biarkan kalian bicara dan berunding sendiri dan memutuskan sendiri, kami orang tua hanya memberi arahan yang tepat, memberi nasehat kalau salah, karena sudah dewasa dan kalian juga yang menjalaninya,”
kata Tulang.
Aku sependapat dengan Tulang bungsuku,
Apa yang dikatakan tulang benar adanya, bila ada masalah dalam hubungan keluarga, harusnya dibicarakan dengan duduk bersama, karena permasalahan satu rumah tangga tidak ada habisnya.
Aku pernah dengar nasehat-nasehat dan petuah dari orang tua.
Katanya, Berumahtangga itu seperti sekolah, yang tidak pernah Tamat.
Karena menjalani rumah tangga itu, setiap saat selalu ada saja permasalahannya, dan belajar dan belajar.
Tidak pernah lulus.
“Baiklah kalian bicarakan saja berdua, sebelum besok kita bahas di keluarga besar tentang bagaimana baiknya, aku berharap yang terbaik, karena permasalahan kalian dari dulu itu-itu lagi.”
Kata Tulang.
“Iya tulang.”
“Kebetulan nih ada yang meninggal satu arisan, kami ingin melayat, ditinggal saja kalian iya, bicara baik-baik dari hati ke hati, jangan buat keputusan yang nantinya akan kalian sesali.
Tolong lihatin adik-adikmu iya.
Nang”
“Iya bapa uda.”
Jawab Netta.
Menarik nafas panjang seakan tenggorokanku di penuhi pasir, aku tidak tahu mau bilang apa sama Netta, saat tulang pergi, karena rasa bersalah aku tidak tahu mulai dari mana.
“Apa kamu masih merasa sakit, Ta?” tanya memberanikan diri.
Netta menarik nafas panjang, ia melihatku dengan tatapan berbeda kali ini, aku merasa ingin memasukkan kepalaku kedalam tanah saat melihat tatapan dingin dari Netta.
“Aku sudah merasa sehat Bang, walau masih sedikit nyerinya di luka bagian kepala.”
“Maaf iya Ta, karena aku tidak ada saat kamu terkena masalah,
tapi tenang,
aku sudah memberi mereka pelajaran.
Arnita aku juga memberinya pelajaran , tapi Mikha pergi melarikan diri dan Juna kamu tahu?
aku juga memasukkannya ke penjara, karena ia ikut mengantar kedua wanita ke rumah kita,”
kataku penuh semangat berharap Netta mendengar ceritaku, hatinya sedikit terobati, karena orang yang membuatnya terluka sudah mendapat ganjarannya.
Tapi, raut wajahnya tetap datar, terlihat sangat dingin, melihat wajahnya sudah membuat jantung semakin berdetak lebih cepat.
Situasi apa ini? pikirku, hatiku semakin bergejolak, situasi ini sama seperti saat lagi sayang-sayang tiba-tiba pacar minta putus, alasannya ingin fokus belajar.
“Bagaimana kabar abang?”
tanya Netta, tidak menanggapi ceritaku yang berapi-api menceritakan.
“Oh aku baik, Ta”
aku ingin sekali merangkulnya, mengusap pundaknya, membuang rasa sakit dari hatinya, dan aku ingin menghiburnya.
“Bang, apapun keputusanku besok, harap abang menerimanya dengan baik,” ucapnya kemudian.
Mendengar itu aku menatapnya dengan dalam, lututku semakin bergetar, jantung berdetak semakin cepat.
“Kamu ingin menyerah?”
“Ini bukan tentang bertahan atau tentang berjuang Bang, tapi ini tentang hidup.
Aku tidak ingin hubungan abang dan Bou dan Anita menjadi buruk.”
“Jangan berbelit-belit Ta, kamu ingin berpisah tinggal bilang saja, jadi tidak usah nanti bahas ke sana-kemari, kamu tinggal katakan apa mau mu.”
Bentak ku terbawa emosi juga.
“Baiklah aku menyerah,”
katanya kemudian.
Bersambung....
Mumpung waktu lagi luang,bisa uploud satu bab lagi,semoga selalu sempat up lebih banyak
Untuk kakak kakak pembaca yang baik,tolong di bantu ya di Like dan bagikan,biar semakin banyak yang baca,buat beli perment dan kopi hahaha
Terima kasih ya kakak, sudah mendukung cerita ku....