
Setelah kami mendapatkan cuti Netta, akan pulang ke ke Jakarta hari itu juga, untuk membicarakan rencana selanjutnya tentang pesta pernikahan Lae Rudi , karena bicara di telepon sepertinya kurang tepat, lebih bagus bicara bertatap muka.
“Bang kita ke tempat amang boru dulu, kita titip rumah ke amang boru,” ujar Netta usulan yang tepat.
“Ya uda, ayo”
Mampir ke cafe bapa uda, tiba di sana suasana sedang ramai di penuhi para turis yang ingin latihan olah raga surfing, aku memang lelaki tukang cemburu, sebenarnya Netta tidak salah, para bule keparat itu yang gatal mengajak Netta ngobrol dan berfoto.
"Bang ro ho tuson asa diboto halaki ho amatta ku"
“Bang sini, biar mereka tahu kamu suamiku,” ujar Netta.
“Gak usah”
Aku keluar dari cafe bercampur marah, cemburu, melihatku marah, Netta juga berlari ia merangkul lenganku.
Setelah melakukan semua persiapan dan menitipkan rumah ke bapa uda, karena bapa uda tidak pulang ke kampung, ia akan tinggal di Bali.
Cafe Baru yang mereka rintis dengan papi berjalan lancar, menurut uda pengunjungnya bukan hanya orang lokal datang minum kopi, orang bule juga banyak ingin menikmati kopi khas Sidikkalang tersebut.
“Salam sama keluarga di kampung ya Bapak Paima,” ujar bapa uda,
“Ya, uda, titip rumah kami uda”
“Ya baiklah dan bapa uda akan pantau ke sana nanti, pergilah, hati-hati di jalan”
Kami meninggalkan cafe, mengendarai mobil
Netta tidak ingin milon tinggal di Bali, jadi kami memutuskan bawa mobil pulang dari Bali ke Jakarta, agar milon bisa ikut ke jakarta, karena bawa binatang peliharaan naik pesawat , terkadang sulit apalagi sejenis doggy, karena itu kami memutuskan menyetir dari Bali.
“Nanti kalau abang mengantuk atau capek bilang saja ya Bang, biar kita gantian menyetir,” ucap Netta saat kami mulai jalan.
“Tidak akan capek Dek, Jakarta-Bali tidak jauh-jauh amat, masih bisa aku menyetir sendiri stamina masih oke, bukan seperti bule-bule bau kambing itu, aku bukan seperti kamu yang gampang kelelahan, ” ucapku masih jengkel.
Netta tertawa lepas saat aku bule bau kambing.
“Pak Jonathan Axesander Situmorang, masa umur masih muda begini, dibilang gampang lelah dan kalah sama om-om seperti kamu,” ucapnya meledekku.
“Apa, Om-om kamu bilang!?”
Aku suka kesal kalau Netta menyebutku om-om, memang perbedaan umurku kami jauh, tetapi aku selalu rajin olah raga dan jaga pola makan, maka itu wajahku tidak terlalu terlihat tua. Tetapi Netta meledek seperti itu membuatku panas, sebenar sudah ada percikan api sejak dari cafe tadi.
“Benar kan umur abang itu jauh dariku, kita sebenarnya cocok seperti paman dan keponakan,” ucapnya menahan tawa, aku mengarahkan satu jariku menyentil jidat Netta dengan keras, aku paling kesal kalau ia menyebut seperti keponakan.
“Auuu …!”
Netta semakin tertawa melihatku dongkol.
“Ngambek ni ye .….” Netta semakin meledek.
“Aku turunin kamu di tengah jalan,” ucapku meminggirkan mobil.
“Turunin saja, paling ntar ada bule nyasar dari Bali, bawa aku pulang,” ujarnya lagi semakin membuat kupingku panas, ini namanya api kecil di siram bensin akhirnya terbakar.
“Jangan mancing aku marah Nettania! ”
“Baiklah, kalau kamu marah aku tidur saja, kalau sudah sampai bangunin aku.” Netta masih menahan tawa menutup wajahnya dengan slendang. Kesal juga jika di ledekin tua ama istri sendiri, aku benar-benar merasa padanya. Setelah berkendara setengah perjalanan Netta duduk kembali.
Aku diam, masih marah padanya, melihatku masih kesal Netta mengalah .
“Baiklah, aku minta maaf Bang, aku hanya bercanda, masa begitu saja marah,” ujarnya suaranya melembut, ia mendaratkan bibirnya di pipiku, tetapi mendengar ia menyingung bule , hatiku masih panas.
Ngomong-ngomong soal bule masalahnya bukan hanya yang tadi terjadi … aku berapa kali ingin menghajar bule, karena berapa kali saat kami jalan Netta selalu di lirik bule yang tampan-tampan, jelas-jelas bule keparat itu sudah melihatku mengandeng tangan Netta, tetapi dengan beraninya ia masih mencuri pandang padanya, padahal Netta bukan tipe wanita yang suka centil atau pun tipe wanita yang tebar pesona. Netta itu selalu tenang dan kalem pembawaannya, tetapi tetap saja banyak bule yang mendekatinya, seperti yang tadi.
Sejak kami tinggal di Bali, bulan kemarin aku sampai ingin menghajar seorang bule yang nekat menunggu Netta di luar rumah sakit untuk meminta nomor handphone , saat itu, Netta memintaku menjemput lebih cepat agar si bule tahu kalau ia sudah punya pasangan, bukannya berhenti, ia malah semakin datang walau aku sudah bilang kalau kami sudah menikah.
Sebagai suami, hilang sudah kesabaranku, aku memberinya bogem mentah ke wajahnya aku menghajarnya bersama Riko karena badannya besar terpaksa bawa teman. Maka kalau Netta menyingung soal bule aku merasa sangat marah.
Saat lagi marah sama Netta ada saja yang membuat hati tambah jengkel, tiba-tiba telepon berdering, Netta menatap layar ponselnya dengan dahi berkerut.
“Halo?”
Tidak lama kemudian Netta berbicara dengan bahasa Jerman, bahasa yang tidak aku tahu apa artinya, mendengar ia bicara seperti itu hatiku makin panas kan ....
Aku menginjak pedal gas mobil yang aku kendarai, mobil berwarna hitam tersebut melaju kencang bagai terbang di jalanan aspal, melihatku marah Netta mengakhiri panggilan telepon.
“Bang! Pelan-pelan, abang mau kita celaka?”
Aku masih diam, ngambek seperti anak kecil sikap yang sangat memalukan, mengingat umur bukan lagi muda tetapi terkadang kalau sudah cemburu … bisa bersikap konyol seperti yang aku lakukan, melihatku masih marah Netta ikut kesal.
“Terserah … kalau kita celaka paling mati. Lanjutkan saja … ayo, kalau kecelakaan langsung mati masi oke, kalau hanya cacat …? Tapi terserah ….” Ia menyadarkan kepalanya di jok mobil dan menutup kepalanya dengan jaket.
Melihatnya marah, aku langsung berhenti mobil kembali berjalan dengan normal, setelah berjalan beberapa lama aku dan Netta hanya diam.
“Aku mengantuk kita berhenti saja dulu,” ucapku memulai obrolan, aku juga ingin minta maaf tapi masih gengsi.
“Baiklah,” jawab Netta dengan wajah datar.
Berhenti di salah satu tempat makan, kami berdua masih diam.
“Aku lapar kita makan dulu”
“Abang makan saja, aku tidak makan”
“Gak usah kalau kamu tidak mau”
Kami hanya duduk menikmati air kelapa di pinggir jalan, melihat Netta jadi marah karena sikapku, aku jadi merasa bersalah, kalau borneng sudah sempat marah, maka ia akan diam dalam waktu lama dan susah untuk membujuknya.
‘Aisss … kenapa juga aku bersikap kekanak-kanakkan tadi. Semua itu gara- gara bule keparat itu’ aku membatin kesal.
Setelah es kelapa habis aku mengajaknya melanjutkan perjalanan ia mengeluarkan buku dari dalam tasnya, maka hukuman untukkupun di mulai ….
Dalam mobil suasana hening itu membuat perjalan semakin sangat jauh.
Aku ingin gila rasanya jika Netta diam seperti itu, tetapi semua itu karena aku cemburu padanya.
‘Aku tidak salah, kan, cemburu tandanya cinta’ucapku membela diri
Sepanjang perjalanan, Netta tidak membuka mulut, kalau ia sudah marah apapun yang terjadi di luar sana, bacaan buku dalam tangannya jauh lebih menarik, ia akan diam.
Perjalanan Jakarta Bali terasa sangat membosankan, karena si borneng jadi marah
Bersambung
Bantu like dan Vote Kakak.