
Saat r pagi tiba, Netta sudah bangun seperti kebiasaanya yang selalu bangun lebih pagi, aku sudah mendengarnya beres-beres tetapi aku memilih mengacungkannya, karena aku masih kesal.
Saat aku tidak mau bangun, Netta meminta si milon membangunkanku.
“Milon, sini aku akan kasih kamu roti bakar. Tapi .... Bagunkan tuanmu sana!" pinta Netta suaranya sangat jelas di telingaku.
Karena Milon memang sangat senang serapan pakai roti bakar, karena Netta sering memberinya serapan yang sama.
Aku bisa merasakan kaki hewan berbulu itu membangunkanku dengan satu kakinya memukul - mukul punggung dari belakang.
“Hmmm, Milon sana!” ujarku marah.
Hewan malang itu yang jadi sasaran kemarahanku pagi itu, si milon merengut takut, lalu ia duduk di dilantai dengan merungut sedih.
Netta tahu kalau aku lagi marah, ia akan memilih diam jika aku sedang kesal, aku masih tetap tidur walau jam sudah bertengger di angka jam enam, dan sudah waktunya Netta akan berangkat kerja, tetapi karena aku masih kesal dan marah. Jadi aku memilih lanjut tidur, aku merajuk karena tidak dikasih jatah malam jumat.
Tidak lama kemudian, setelah aku tidak mau bangun, Netta berangkat sendiri.
“Bang … aku berangkat ya,” ujar Netta .
Aku terdiam antara malu, bodoh dan merasa bersalah bercampur jadi satu, aku tidak menyahut Netta. Lalu ia pergi, setelah menutup pintu dan ada suara motor aku buru-buru berdiri mengintip Netta dari jendela, ia berangkat naik ojek online.
“Kenapa aku bersikap kekanak-kanakkan begini, itu kan bukan salah Netta, itu memang salahku, aku yang melenggar kesepakatan makanya dapat hukuman,” ucapku menyesal.
Aku melipat selimut yang aku pakai membawanya ke kamar lagi, saat aku berjalan memuju dapur, milon menunduk takut karena aku bentak tadi.
“Maaf ya milon kamu jadi sasaran kemarahanku tadi,” ujarku mengelus kepala milon.
Aku mengajaknya ke dapur memberinya susu hangat sebagai permintaan maaf, doggy hewan yang sangat pintar dan paling setia menurutku, dia tahu kalau aku lagi marah, tahu kalau senang, sering sekali aku pura pura memarahi Netta di depannya ia akan membela Netta menggigit celanaku dan menariknya menjauh.
Aku dan doggy sama-sama serapan, aku membakar satu roti lagi untuknya dan segelas susu, membawa ke ruang telivisi dan kami menonton kartun bersama.
Apa yang disukai Netta sangat disukai milon, bahkan apa yang tidak disukai Netta tidak sukai milon. Netta akan jijik kalau dikasih slei kacang, ia akan mual, ia merasa seperti melihat pub, begitu juga milon kalau roti bakarnya diolessin slei kacang ia akan buang muka dan medorongnya dengan kaki. Lucu memang mereka berdua jadi si milon sudah seperti keluarga untuk kami berdua.
Setelah Netta berangkat kerja , rumah terasa begitu sunyi dan kosong, setelah serapan membereskan rumah Sebelum berangkat ke kantor, aku tidak ingin setelah pulang capek, ia harus mengerjakan rumah lagi nanti.
Setelah mengerjakan semuanya aku berangkat kerja, tetapi rasa bersalah itu membuatku tidak bersemangat bekerja, pikiranku sama Netta.
*
Tiba di kantor, berjalan tidak bersemangat menuju ruangan kerja.
“Selamat pagi Pak”
“Pagi,” jawab ku datar.
“Ada apa dengan bos?” bisik seorang karyawan terdengar olehku.
Tidak ingin semua orang sasaran kekesalanku.
“Aku lagi sakit kepala, jangan ada mengangguku, jika ada yang penting laporkan saja saja Pak Frans,” ujarku pada sekretarisku, lalu melenggang masuk .
“Baik Pak,”jawab wanita berhijap warna biru itu menatapku dengan bigung
Duduk dengan diam setelah bertarung dengan pikiran sendiri, aku menelepon Netta, aku sadar sikap egois, akan menghancurkan satu hubungan secara tidak langsung. Jadi mengaku salah dan meminta maaf salah satu sikap gentelemen .
Aku merogoh kantung celana mendapatkan benda pipih tersebut, aku menekan nomor istriku, bunyi kedua baru ia angkat.
“Halo Bang,” suara Netta begitu lembut.
“Ya Dek, kamu lagi sibuk”
“Tidak, hanya menangani satu pasien hari ini, sudah selesai. Abang masih di rumah apa sudah di kantor ?”
“Sudah di kantor”
“Bang, aku mau ngomong “
“Apa?”
Dug …!
Tiba-tiba jantungku berdetak kencang, bahkan lututku ikut bergetar, ini bukan pertama kalinya Netta bertugas ke luar kota. Tetapi baru kali ini ia berangkat saat kami sedang marahan tadi pagi, bahkan aku belum sempat melihat wajahnya pagi ini.
“Bang apa kamu masih mendengarku?”
Aku bigung untuk menjawab pertanyaan Netta, hatiku berteriak' jangan', karena setiap kali Netta bertugas ke luar kota separuh jiwaku seakan-akan hilang, ketakutan terbesarku kehilangan Netta.
“Bang!” Panggil Netta lagi.
“Aku akan datang ke rumah sakit, kita akan bicara di sana”
“Bang …. Kami akan jalan ke Bandung, aku dan beberapa dokter akan menghadiri seminar nanti sore, malamnya atau paginya baru berangkat ke Bali, aku minta maaf waktunya memang dadakan, orang yang seharusnya berangkat mengalami kecelakaan,” ujar Netta suaranya kecil dan aku tahu kalau ia sedang bersedih.
‘Dokter siapalah yang kecelakaan? Kenapa dia sampai menangis sedih seperti itu’ ucapku dalam hati.
“Hasian ... maaf ya, karena tadi pagi aku marah padamu. Maaf tidak mengantarmu saat berangkat,” ujarku dengan lembut
“Tidak apa-apa,” jawab Netta dengan suara terdengar parau.
“Apa menangis Hasian?"tanyaku lagi.
Tidak apa-apa Bang, aku akan berangkat dulu teman-temanku sudah menunggu di mobil”
“Dek … hati-hati ya”
“Ya, nanti aku langsung berangkat ya Bang, tidak mampir lagi ke rumah”
Jujur, hatiku sedih luar biasa, aku sangat menyesal tidak mengatarnya pagi itu, aku ingin sekali melakukan panggilan videocall dengannya, tetapi Netta sedang buru-buru.
Aku sudah terbiasa melihat senyum dan tawa Netta setiap pagi, tetapi pagi ini, aku tidak melihatnya. Aku merasa ada yang kosong dalam hatiku.
“Bang!”
“Ya”
“Aku tutup dulu, ya”
“Dek...! "
“Iya Bang”
“Hati-hati ya,” ujarku lagi.
“Iya Bang,” jawab Netta dengan suara datar, lalu ia mematikan teleponnya.
Aku mematung diam dikursiku, bayangan saat Netta saat ke Jerman tiba-tiba melintas di otakku.
Aku sangat lemah kalau menyangkut Netta, kalau Netta tidak ada di rumah aku tidak akan pulang ke rumah kami.
Aku memilih pulang ke rumah mami dan meminta seorang pegawaiku untuk membawa milon ke rumah mami.
“Eh … tumben kamu siang-siang ke rumah mami, apa ada barang kamu yang ketinggalan tadi malam?” Tanya mami.
“Tidak ada hanya ingin tidur. Bi nanti si milon mau diantar Bayu ke sini, tolong kasih makan ya”
"Iya Bang"
Mami sama papi dan BI Atun, saling melihat.
“Ya, sudah nanti papi yang kasih makan, kamu tidur saja, tapi makan dulu Mang, tadi mami masak ikan mas arsik”
“Ya nanti Pi”
Berjalan ke bekas kamarku sama Netta dulu, kamar itu masih sama seperti dulu, tidak ada yang berubah merebahkan tubuhku di atas kasur. Aaku berharap Netta cepat kembali agar semangatku kembali hidup, tanpanya hidupku tidak ada artinya.
Bersambung ..