Pariban Jadi Rokkap

Pariban Jadi Rokkap
Rahasia antara Mami dan Tante


Saat Netta mengatakan  hal itu aku sangat terkejut, semua  itu diluar dugaan ku.


“APA??” mobil  yang  aku kendarai mendadak berhenti, aku menatap Netta dengan panik. “ Maksudmu aku yang merebut kamu dari Candra?”


Netta menatapku sekilas, ada banyak yang ingin ia ceritakan padaku, tadi ia ragu untuk mengungkapkannya membuatku ingin mati penasaran.


“Apa Ta? katakan yang  tidak aku ketahui lagi. Apa kamu mau bilang kamu sama Candra sudah dijodohkan sebelumnya?”


“Aku tidak bilang begitu Bang, saat itu aku menganggapnya hanya hubungan keluarga, kita tidak pernah bertemu hanya komunikasi lewat telepon saja, itupun jarang,” ujar Netta.


“Sejauh mana?” tanyaku semakin penasaran, merasakan wajahku terbakar karena dilanda rasa cemburu.


“Ha!? Maksudnya?” Netta menatapku dengan bingung, aku merasa perasaanku bagai di aduk-aduk, tadi pagi aku baru seperti berada di hamparan luas yang dipenuhi bunga-bunga yang indah, tetapi saat Netta bilang kalau ia sempat punya hubungan dengan Candra sepupuku.


Aku  merasa di hempas kan  ke tanah, lalu ditimpuk pakai batu.


 Hatiku terasa perih, aku merasa seperti ada luka, lalu di atas luka diperas asam, seperti itu yang aku rasakan saat ini, aku terdiam merasakan lutut kakiku lemas tidak berdaya lagi.


 “Dia tidak pernah menembak ku Bang, kami hanya komunikasi biasa saja, itupun bou yang memaksanya, sejak saat itu aku tahu kalau bou itu yang selalu memaksa bang Candra untuk mendekatiku, kemarin malam itu juga dia mengaku juga, kalau abang Candra terus di paksa untuk mendekatiku, menurutku Bou itu aneh dan sedikit berlebihan, mana mungkin dia memaksa anak lelakinya melakukan itu,  lagian mana ada di adat kita yang seperti itu?” ujar Netta.


“Benarkah hanya sebatas itu?” tanyaku suaraku melemah, Lemas lutut ini jadinya.


“Iya.”


“Aku bingung dengan Tante sama Mami tidak pernah akur satu sama lain dari dulu,” ujar ku menggeleng.


Mendengar penjelasan dari Netta, akhirnya  aku merasa lega, aku kembali  menghidupkan mesin mobilnya dan berjalan perlahan, adik-adik Netta terlihat anteng menonton YouTube, terdengar suara khas bahasa melayu sampai ke depan, sepertinya mereka lagi menonton film kartun, kartun kesukaan sejuta umat, film anak-anak asal Negara tetangga Malaysia Ipin dan upin.


Jadi bisa di pastikan percakapan kami dan Netta tidak di hiraukan mereka, Netta juga memberikan ponselnya pada adik bungsunya,  begitu cara kami agar bisa membahas tentang hubungan Netta dan Candra di masa lalu.


“Abang bisa jaga rahasia tidak?” Tanya Netta dengan raut wajah serius.


“Iya kalau rahasia besar aku bisa simpan, tapi kalau rahasia kecil aku tidak mau menyimpannya,” ujarku  menatapnya dengan senyuman, niatku ingin bercanda tadinya ternyata garing… iya sudahlah lanjutkan.


 “Baiklah, apa itu?”


“Abang tidak tahu’ kan, kalau bou Mamak mertua  dan Bou Candra mereka berdua kembar?”


“Haaa … Apa …!?” Aku menatap panik, ini hal yang lebih mengejutkan lagi, mataku  melotot menatap Netta.


Netta menempelkan jari telunjuknya di bibirnya.


“Ssttt jangan kencang-kencang,” ujar Netta lagi.


“Benarkah? Pantasan Mami dan Tante itu wajahnya sama dan sifatnya juga sama …. Kok kita semua tidak tahu, Ta?” tanyaku sangat terkejut.


“Justru itu bang, keduanya tidak mau di bilang kembar, mereka berdua sangat marah  bila dibilang kembar. Apa abang tahu nama asli keduanya?” tanya Netta.


“Bukan, Rina dan Rita, bou Candra tidak mau di panggil Rita, ia mengganti nama yang di berikan orang tuanya, dia menggantinya dengan nama baru, kata oppung, Tante Candra dulu sampai memotong rambutnya dengan sangat pendek agar orang lain tidak memanggil mereka kembar lagi, jadi tidak banyak  yang tahu mereka kembar, hanya  keluarga dekat, karena  mereka  juga dulu bukan lahir di kampung ini.”


Netta lagi-lagi menatapku dengan ragu. ”Bou kata bapak sudah dari dulu saling bermusuhan, bahkan pernah juga katanya mereka rebutan pacar waktu sekolah, bukan hanya pacar, mereka selalu bersaing dalam segala hal, oppung doli selalu memihak sama Tante candra dan oppung boru berpihak pada Bou Rini, sebenarnya perjodohan itu di inginkan oppung doli anak bou Candra dan aku, tetapi karena oppung doli merasa bou Candra itu semakin menjauh dari keluarga, jika di jodohkan dengan sama paribannya tujuan oppung agar tetap dekat dengan keluarga lagi, tapi menurut tradisi haruslah anak perempuan tertua lah yang berhak anaknya jodohkan dengan anak laki-laki tertua, yaitu abang dan aku,” ujar Netta.


“Lalu apa lagi?” Tanyaku semakin penasaran.


“Bou Candra marah dan tidak terima, menurutnya, Ibu Mertua dan bou Candra umurnya sama, hanya beda lima menit jarak kelahirannya , dia mengotot anaknyalah yang berhak meneruskan tradisi keluarga itu. Tapi tidak ada yang mendukungnya , bapak juga tidak setuju aku sama bang Candra, bapak setujunya sama abang Jonathan, walau sebenarnya bapak tidak mendukung perjodohan kita karena sudah tahu karakter itoya seperti apa.”


“Lalu ….?” Aku semakin memburu Netta  memintanya untuk menceritakan semuanya.


“Mulai saat itu kata bapak,  Bou Candra marah besar, bersumpah tidak akan mengenal keluarga besar oppung Saut lagi, itulah sebabnya dia tidak pulang dan tidak pernah akur dengan Bou mertua” Netta menceritakan semuanya panjang lebar, membuat kepala mumet memikirkannya. “Aku bingung apa hebatnya sebuh perjodohan, sampai keluarga saking membenci seperti saat ini, aku juga sempat bingung mendengar cerita bapak tentang tradisi keluarga kita yang selalu di jodohkan  turun temurun.”


Aku masih berdiam tidak percaya, ternyata masih banyak yang belum aku tahu tentang keluarga besar dari keluarga Mami, aku tidak tahu Mami dan Tante Candra itu sepasang anak kembar, menurut Netta tidak banyak yang mengetahuinya karena kedua wanita itu tidak mau di panggil sepasang anak kembar.


Aku baru sadar sifat mereka berdua hampir sama, bukan saja sifat yang sama bahkan wajahnya juga sama.


“Aku tidak tahu Mami sama Tante itu sepasang anak kembar,” kataku belum percaya.


“Memang tidak banyak yang tahu bang, hal itu rahasia hanya keluarga dekat yang tahu, abang juga jangan sampai mengungkitnya, iya,” kata Netta.


“Jadi perjodohan kita sudah masalah internal di keluarga besar kita dari dulu? Itu artinya kamu wanita rebutan dong?”  Aku menatap Netta.


“Rebutan apaan sih Bang? gak’lah, aku tidak pernah berpikir seperti itu,” ucap Netta, wajahnya terlihat datar.


Bersambung ….


KAKAK  JANGAN LUPA KASIH KOMENTAR DAN PENDAPAT KALIAN DI SETIAP BAB DAN JANGAN LUPA JUGA


LIKE,  VOTE DAN KASIH  HADIAH


Baca juga  karyaku yang lain


-Aresya(TERBARU)


-The Cured King(TERBARU)


-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)


-Menikah dengan Brondong (Tamat)


-Menjadi tawanan bos  Mafia (ongoing)


Bintang kecil untuk Faila (tamat)