Pariban Jadi Rokkap

Pariban Jadi Rokkap
Saat anak jadi rebutan


“Sudah…sudah anda lebih baik pulang saja sebelum aku panggil polisi,” kata Papi mengusir keluarga Juna.


Papi terpaksa mengusirnya, Juna dan keluarganya yang ingin memiliki anak Arnita.


Kedatangan Juna dan keluarganya ternyata berbuntut panjang, ini namanya menghalalkan cara yang penting keinginan tercapai.


Mereka datang ke rumah keluargaku saja menurutku itu sudah hal yang memalukan, bagaimana ia menuntut anak yang di lahir kan Arnita akan mereka bawa dengan alasan itu benih dari Arjuna, terdengar lucu dan tidak masuk akal, mendengarnya saja membuatku ingin tertawa, Juna terlalu percaya diri seakan tidak punya rasa malu lagi.


‘Apa otak Juna rusak juga sepertiku waktu itu?’


Aku tidak setuju sedikitpun, mana mungkin kami memberikan Arnita pada lelaki yang jelas-jelas sudah tidak punya masa depan , seorang pengedar dan seorang pemakai juga, orang tua mana yang mau menikahkan anaknya pada orang yang seperti itu, walau aku tahu ia kaya raya, banyak harta, mungkin kalau sama Mami pasti sudah di iyakan , sama seperti waktu itu, saat ia tahu Juna anak seorang pejabat dan punya banyak usaha, ia merestui hubungan mereka, tapi saat ini semua itu akan berbeda, harta tidak lagi hal yang paling penting.


Itu sama saja kami menghancurkan hidup Arnita untuk kedua kalinya.


Aku pikir setelah diusir dari rumah tidak bakalan datang lagi, tapi saat aku pulang dari Kantor Juna datang lagi, kali ini ia datang sendiri.


Melihatnya membuatku semakin lelah, sudah dari kantor merasa sangat capek melihatnya datang lagi, aku makin emosi.


“Lu ngapain datang lagi kesini? Lu memang gak ada malunya iya, apa urat malu kamu sudah putus?”


Tadinya, kalau saja ia menjawab sepatah kata saja, aku akan memberinya bogem mentah, tapi masalahnya, ia diam tidak menjawab.


Wajahnya terlihat sayu, ia menundukkan kepalanya,  aku ikut duduk di samping Papi.


“Maaf nak Juna, kami tidak ingin melakukan kesalahan dua kali pada Arnita, ia akan meneruskan kuliahnya,” kata Papi tidak terlihat marah.


“Lo, pulang sana!” Kataku marah.


“Biarkan aku bicara dengan Arnita Om,” kata Juna wajah memohon.


“Kita sudah bicara dengan Nita, ia juga tidak mau bicara lagi dengan kamu, tadi malam kami semua sudah bertanya baik-baik, kami bertanya, apa ia mau menikah dengan kamu atau ia akan melanjutkan studinya, ia pilih studinya, iya kami tidak bisa memaksanya,” kata Papi dengan sabar.


Lama membujuk tidak ada hasil, Juna terlihat banyak pikiran, menurut ceritanya, keluarganya marah, karena ia merusak Arnita, Juna, akan dicoret namanya dari warisan kalau Anak itu tidak berhasil di bawa pulang.


Mungkin itu benar keluarganya menekannya, karena satu yang paling di takutkan tidak punya uang, selama ini ia bisa berfoya-foya dari harta orang tuanya.


“Aku akan membawa ke jalur hukum untuk mendapatkan hak ku, akan aku bawa anak itu pulang ke rumah nanti,” ucapnya santai, tidak mengenal rasa malu.


Ia berusaha keras ingin mendapatkan anak Arnita, kehadiran seorang anak sangat berharga pada sebuah keluarga, itu benar adanya, begitu juga dengan keluarga Juna, karena Arnita tidak mau berbaikan dengan Juna.


Akhirnya anak perempuan itu sadar juga, sekarang ia mulai berpikir dewasa dan mandiri. Ternyata pengalaman hidup adalah guru yang paling terbaik, Arnita banyak belajar dari kesalahan yang ia lakukan.


Tapi benar keluarga Juna tidak main-main, ia menempuh jalur hukum untuk mendapatkan anak Arnita, aku berpikir itu sebuah tindakan putus asa, dari segi manapun Juna tidak akan berhasil, melihatnya ia menempuh jalur hukum, justru aku ingin melaporkan balik, tapi takutnya makin panjang, maka itu aku membiarkannya.


“Tidak usah takut dari segi manapun ia tidak akan berhasil, aku pastikan di persidangan pertama, akan berhenti,” kata Lina.


Juna dan keluarganya tidak akan bisa merebut anak Arnita, karena Nita menikah sebelum melahirkan, jelas-jelas di aktenya di tulis ia anak dari mantan suaminya.


Di sidang pertama Lina benar, keluarga Juna tidak memiliki bukti yang tepat bahkan saat hakim menanyakan bukti kalau anak itu anaknya, ia hanya menceritakan hubungan mereka, saat diminta hasil tes DNA Juna bahkan tidak bisa memberikannya, karena saat mereka datang ke rumah, jangankan mengambil sampel untuk di tes, Arnita hanya memperlihatkan sebentar saja putra pada keluarga Juna, aku salut juga pada Arnita, di usianya yang masih muda, ia berani mempertahankan prinsip untuk membesarkan anaknya, bahkan ada beberapa teman kak Eva yang meminta untuk di asuh tapi ia tidak mau.


Baik kali ini, setelah aku menceritakan seperti apa Juna dan seperti apa kehidupannya, ia akhirnya menolak untuk menikah dengan lelaki tampan itu.


Akhirnya persidangan di menangkan Lina, Juna lagi-lagi gigit jari, tidak mendapatkan apa yang di mau, tidak punya bukti tapi


Aku kasihan melihatnya harus naik motor kuliah dan kerja, aku membeli mobil untuknya dan satu pengasuh untuk anaknya.


Walau ia pernah melakukan hal yang buruk padaku dan Netta aku memaafkannya, pada hal dulu aku berpikir tidak akan memaafkannya, tapi hati ini tidak bisa mengelak dan tidak bisa menghindar, saat ia terluka hati ini juga ikut sakit, begitulah seharusnya hubungan saudara kandung.


Aku baru pulang dari kantor, aku usahakan sebelum makan malam aku sudah tiba, makan bersama dalam satu meja membuat kedua orang tua itu terlihat bahagia.


Dua cucu Mami saat ini, itu saja cukup membuat mereka terhibur.


Apa lagi Arkan anak kak Eva yang mau sekolah Dasar, ia sangat sayang sama adiknya anak Arnita,


Jika aku nanti punya anak dengan Netta, aku yakin Papi akan makin bahagia.


Aku sering sekali membayangkan akan hal itu, Netta beberapa kali mengirim pesan, agar aku menjaga kesehatan, aku melakukanya, aku sudah tidak merokok lagi saat ini.


“Ini buat kamu,”Arnita menatapku dengan sungkan, dulu ia sebelum kecelakaan itu anak yang cerewet dan perhatian, pada abang kakaknya, tapi saat ini, ia irit bicara dan sangat sungkan bila melihatku.


“Apa ini bang?” Arnita melihatku dengan tatapan tidak percaya.


“Aku membeli mobil untuk kamu pakai kuliah dan kerja.”


Tiba-tiba menunduk sesenggukan, ia menangis.


“Makasih bang.”


“Kuliah lah yang benar jangan sia-siakan kepercayaan keluargamu.”


“Baik Bang.”


Arnita rela menjadi ibu tunggal, ia menolak Juna yang mengajaknya menikah, Juna pasti sudah menyesali perbuatanya, karena pernah menyia-nyiakan Arnita dan anaknya.


Bersambung


KAKAK  JANGAN LUPA KASIH KOMENTAR DAN PENDAPAT KALIAN DI SETIAP BAB DAN JANGAN LUPA JUGA


LIKE,  VOTE DAN KASIH  HADIAH


Terimakasih untuk kakak semua karena masih mengikuti cerita Pariban jadi Rokkap sampai Bab ini. Terimakasih untuk  kakak semua yang memberi tips dan hadiah untuk author, semoga rezeki kakak semua semakin bertambah, Jangan lupa mampir juga ke karya receh ku yang lain ya;


Baca juga  karyaku yang lain


-Aresya(TERBARU)


-The Cured King(TERBARU)


-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)


-Menikah dengan Brondong (Tamat)


-Menjadi tawanan bos  Mafia (ongoing)


Bintang kecil untuk Faila (tamat)