
Kami masih dalam pesta, menunggu pihak tulang untuk kasih ulos.
Tetapi saat dalam pesta ada kejadian terjadi antara kedua pengantin yang membuat banyak orang bertanya-tanya.
Pengantin perempuan yang bernama Tivani Chan ini keturunan, ia tidak mengertilah adat Batak.
Seperti biasa dalam pesta pernikahan Batak, sederet acara adat yang panjang akan berlangsung, mulai dari mangulosi dan lain-lainnya.
Saat berjalan sederetan acara Tivani mulai merasa jenuh, pertama wajahnya mulai terlihat jutek, anehnya Candra seolah-olah membiarkan, ia tidak ada niat untuk membujuk istrinya bahkan hubungan mereka berdua terlihat sangat kaku satu sama lain hanya diam.
“Dek … apa dulu kita seperti itu?” tanyaku berbisik pada Netta.
“Gak deh … walau kita di jodohkan, saat pesta abang masih peduli padaku saat aku menangis sepanjang acara,” ujar Netta.
“Ya, kenapa si Candra tidak mengajak bicara istrinya?” tanyaku penasaran.
Saat tiba akan memberikan Ulos untuk pengantin, ia menolak.
Melihat kejadian itu orang-orang dibuat bingung.
“Ai aha do namasa, boasa dang olo ibana di ulossi?”
(Apa yang terjadi kenapa dia tidak mau di kasih ulos?)tanya tante Ros.
“Inilah yang aku takutkan dari pertama, saat diajak ke rumah, dia juga merasa keberatan sebenarnya, dia meminta waktu untuk mempersiapkan mental. Tetapi mama Candra ini, memaksa dengan banyak rayuan,” ujar tulang.
“Sebenarnya abang itu juga menolak, karena Candra katanya sudah punya kekasih, hanya karena guru honorer dan dari keluarga biasa, si nenek lampir ini tidak setuju,” ujar tante Ros.
Ia sangat geram melihat tante Candra, dari tante datang ke rumah saat pamer calon menantu dokternya, ia sudah muak melihat kakaknya.
“ Iya, Lasria juga bilang padaku, tante minta Candra memutuskan pacarnya dan menikah dengan si Tivani itu,” ujar Arnita.
“Amang tahe kakak on, holan harta ido di otak-otakna dan dipikirhon kebahagian gellengna,” Tante memijit keningnya.
(Ya, ampun kakak ini, hanya harta yang dipikirkan tidak memikirkan Kebahagian anak-anaknya) ujar tante Ros lagi.
Tante Ros saja, hanya tante memikirkan kebahagian dan kelanjutan rumah tangga si Candra, tetapi mamanya tidak memikirkannya. 'Holan Gaya' Ia hanya berpikir bagaimana biar di bilang orang dia hebat dan dibilang kaya, tetapi ia tidak memikirkan orang sekitarnya menderita.
Sepanjang pesta bapa uda tidak terlibat bahagia atau tersenyum layaknya orang pesta. Tetapi sepanjang pesta tante Candra terlihat tertawa bahagia, tetapi Edo adik Candra yang bertugas di Malang tidak hadir.
Semua tamu menatap mereka dengan tatapan bertanya-tanya, Raja Parhata atau Raja adat sampai mengulang dua kali memanggil pengantin wanitanya untuk turun dari panggung untuk menerima ulos.
Orang tuanya sampai membujuk-bujuk Tivani agar mau menyelesaikan adat tersebut. Mungkin karena belum terbiasa ia merasa sangat jenuh, belum lagi Candra yang terlihat tidak perduli padanya.
“Aku capek duduk seperti patung di sini satu harian,” ujar Tivani.
“Nanti sebentar lagi selesai ya, sabar dulu,” ujar tante Candra wajahnya panik.
“Kalau begitu biarkan aku istirahat sebentar, kain ini membuatku tidak bisa bernapas,” ujarnya mencari alasan.
Papi memintaku menenangkan Candra, karena ingin kabur dari pestanya sendiri, maka itu aku bisa mendengar percakapan mereka.
“Temanin aku sebentar ke kamar mandi Bang,” ujar Candra.
“Tapi kalian sebentar lagi ingin di ulosi, jangan macam-macam deh!” Bisik tante dengan wajah penuh penekanan.
“Sebentar Tan, biar aku yang menjaganya,” ujar ku.
“Awas kalian macam - macam Ya!” Mata tante menatapku tajam.
Di dalam kamar mandi Candra menarik dasinya dengan kasar.
“AAAA!” Teriaknya di depan kaca kamar mandi.
“Ada apa?”
“Bang … mama yang memaksaku menikah.”
“Lalu kenapa kamu mau? "
(manikkot>bunuh diri)
“Astaga, jadi kamu dipaksa?”
“Ya, tolonglah aku Bang, gak tahan lagi aku,” ujar Candra.
“Can, kamu gila! Kamu akan mempermalukan keluarga besar kita! Jangan jadi pengecut,” ucapku geram , takut ia melakukan hal nekat aku memegang lengannya.
“Bang tolonglah aku,” ujar memohon.
“Kamu gila apa? Tante dan bapa uda akan kehilangan wajahnya kalau kamu melakukan itu sama saja kamu membunuh mereka, kamu tidak kasihan sama bapa uda? selesaikan pestamu, harus berani. Cepat pakai dasimu,” ucapku memakaikan dasinya kembali.
“Lama bangat kalian Mang.” Papi datang.
“Bapa Tua tolonglah aku, aku tidak mau seperti ini,” ujar Candra memaksa papi.
“Aduh …. gak boleh seperti itu Mang, laki-laki harus bertanggung jawab, kalau kamu sudah setuju menikah harusnya kamu harus komitmen,” ujar papi lembut, ia memberi nasihat pada Candra.
Papi bapak yang bijak sana, mendengar nasihat papi .... Candra membasuh wajahnya dan kembali ke pelaminan. Acara akhirnya di lanjutkan, tetapi sudah diawali banyak drama.
Saat selesai pesta dan rombongan kami mau pulang, tiba-tiba tante menghampiri kita
“Sudah puas kalian kan, aku sudah bilang sama ito saat itu, agar di pestakan secara nasional, kaliannya yang bikin pesta anakku kacau,” ujarnya sama tulang Gres.
"Na gila do haroa on!” Bentak tante Ros marah.
Kami semua kaget, ia yang memaksa anaknya menikah dengan wanita yang tidak ia cintai, tante malah melampiaskan kesalahannya pada tulang kembar.
Tulang Kembar dan tante Candra sama-sama tinggal di Bogor, tante katanya datang ke rumah tulang bungsu untuk kordinasi, kalau pesta si Candra di pestakan secara Nasional, karena calonnya bukan orang Batak. Tulang Kembar dan bapa uda kurang setuju, karena Candra anak pertama.
Saat ada insiden seperti ini, ia malah menyalahkan tulang kembar, stres lah memang tanteku ini ... tidak ingin ribut karena posisinya masih banyak orang yang mau pulang. Papi melarang kami untuk bicara.
“Aha do maksudmu,Ito?”
(Apa maksudmu ito?” Tanya tulang kembar
“Nunga lae, maila hita, ulaonta do on.”
(Sudah lae malu kita banyak orang, pesta kita ini,” ujar papi pada tulang kembar yang melotot tajam.
“Memang botulma jolma naso maradat, makana allang parumaenmi,” rutuk tante Ros dari dalam mobil.
(Memang benarlah kamu tidak punya adat, makanya makanlah menantu kayamu itu) ujar tante Ros lagi.
“Sudah, sudah Ros makin gila nanti dia,” ujar papi lagi.
Ajaibnya, untuk pertama kalinya mami hanya diam, ia tidak membela saudara kembarnya tidak juga memarahinya.
“Suhu itu saja diam Ros,” ujar papi melirik mami yang diam.
Karena semua keluarga dalam keadaan marah, papi mengajak semuanya untuk berkumpul dulu, agar kembali tenang, karena rumah kami yang paling dekat dari gedung jadi mampir ke rumah kami .
*
Setelah kami pulang dari gedung pesta mewah tersebut, berkumpul di rumah kami, pembahasan tentang pesta tersebut kembali diulang di rumah.
“Tadinya, aku juga sudah punya firasat tidak enak mengenai pesta ,” ujar tulang Gres.
“Kacau bangat … memalukan, masa mempelai wanitanya kurang menghargai si Candra dia kayak terpaksa seperti itu,” ujar tante Ros.
Jadi pesta mewah yang dibanggakan tante, ternyata bikin malu.
Bersambung..
Jangan lupa like, kasih komentar, kasih hadiah juga, bantu share ya Kakak.