Pariban Jadi Rokkap

Pariban Jadi Rokkap
Kado Istimewa


Aku tidak pernah menduga kalau  keluarga kami akan kompak mengerjai ku seperti ini,  padahal semuanya rata-rata sudah punya cucu, bukan muda lagi,  aku aku yakin kakak Eva  yang menyusun rencana itu lagi, walau banyak orang yang menilai kakak Eva wanita galak, tetapi di keluarga kami, ia wanita yang hebat yang selalu  menjaga keluarga kami dengan sepenuh hati, belum lepas dari ingatanku, bagaimana ia menyingkirkan Mikha wanita jahat yang mencoba merusak rumah tangga Arnita dan rumah tanggaku, Bagiku dan Arnita kakak kami itu seorang pelindung.


Tidak lama kemudian, Anita dan Juna datang lagi ke rumah, tas yang  yang mereka tenteng keluar tadi dibawa lagi ke rumah.


 ia memberiku ucapan selamat.


“Maaf ya lae karena kerjain Lae, tadi kakak Eva yang suruh,” ujar Juna.


“Ya Lae, aku minta maaf juga, tadi aku juga hanya di suruh,” ujar adik Gres yang berteriak-teriak minta kunci tadi.


“Kalian sampai membuatku  sampai marah tadi”


Mereka semua tertawa setelah  membuatku marah, setelah meniup lilin dan memotong kue.



“Selamat ulang tahun ya anakku yang baik, kamu  pasti berpikir kalau tante  lupa ulang tahunmu, kan?” Tante Ros memelukku, tante Ros memang selalu baik untuk kami bertiga dari kami kecil, Soalnya sebelum tante Ros menikah,  dulu,  ia lama tinggal di rumah kami, ia juga pernah lama merawat kami,  maka itu ia tidak pernah lupa ulang tahun kami.


“Ya,  begitulah”


“Berarti kami berhasil donk memberi kamu kejutan,”


“Berhasil, aku sudah sampai emosi tadi, apa lagi tulang sama mama tua ikut ngerjain”


Mereka  kembali duduk, aku baru sadar ternyata  barang-barang  mereka masih ketinggalan.


“Wah … selamat ulang tahunlah Bere, kami jadi terhibur malam ini, biasanya aku malas melakukan hal-hal seperti ini, tapi karena ini kejutan untuk kau bere … tulang  jadi ikut dan  bersemangat,” ujar tulang Gres.


“Ayo duduklah lagi, mana tadi minumannya,”ujar tante Ros, ia menyajikan cemilan penutup , kacang, bir, fanta dan lappet.


                              *


Beberapa lama kemudian, semua keluarga akhirnya pulang,  tetapi tante Ros,  bapa uda dan kedua anaknya akan menginap di rumah mami.


“Mana kado tante untuk ito, biasanya tante kasih,” ujar Arnita.


“Doa sajalah ya Mang, apalah yang tante kasih, sudah punya dia  semuanya.”


“Ya Tan, doa tante sudah cukup untukku, gak usah pakai kado-kado sudah tua, lagian aku tadi tidak mau dirayain, aku malu,” ujarku.


Kami masih duduk di Tikar menikmati lappet ketan  buatan tante yang ia bawa dari Bandung.


“Jadi ito menolak kado dari aku donk.” Arnita memamerkan kotak yang terbuat dari kayu padaku.


“Kalau kado dari ito dan Lae tidak menolak.” Ia memberikan kotak  kayu tersebut,  saat di buka isinya jam tangan mahal.


“Wow mehol  bangat ini,” ujar kak Eva.


Netta masih duduk tenang di samping mami, wajahnya biasa saja, padahal aku sudah  menunggu kado dari Netta dari tadi.


“Mana kado dari  mama Paima?” Tanya tante.


“Kalau kado dari aku  nanti saja di rumah.”


“Kasihlah sekarang aku pengen lihat,” ujar tante.


“Baiklah kalau dipaksa.”


Netta mengambil kotak dari atas meja,  lalu ia memberikannya padaku.


“Coba kalian tebak isinya …  kalau ada yang bisa tebak aku kasih lima ratus ribu,” ujar kakak Eva, semua bersemangat memberikan tebakan masing-masing, papi yang tadinya duduk  di sofa ikut penasaran, ia ikut menebak.


“Papi tahu, pasti parfum.”


“Salah,” jawab Kak Eva.


“Buka donk apa isinya.” Tante Ros penasaran.


“Dari kotaknya sudah pasti sepatu,” tebak bapa uda suami tante Ros.


“Kemeja.”


“Jaket.”


“Ponsel!”


“Semua tebakan kalian salah! Coba buka ito,” ujar kak Eva.


Dengan tangan gemetaran,  aku membukanya berharap di dalamnya aku menemukan kertas jadwal program  bayi tabung. Tetapi saat di buka bukan kertas yang pertama yang ku lihat melainkan barang, aku langsung lemas, menghela napas panjang, tetapi ketika aku buka pertama yang aku lihat sepasang sepatu bayi.



‘Apa ini? Apa ini milik anak Arnita. Apa dia salah ngasih?’


“Ya, sudah  ini.” Aku mengangkat sepasang sepatu bayi berwarna coklat.


“Kok … sepatu bayi, tidak salah kasih kado? Punya mama Deon kali itu,” ujar uda.


“Buka bawahnya donk Ito … di baca, aduh kampungan bangat dah,” ujar kak Eva.


Seketika mataku terpaku, saat membuka lapisan bawah, aku  tidak percaya dengan apa yang aku lihat, mataku masih menatap dengan fokus …  bulu kudukku sampai merinding saat membaca secarik  kertas yang bertuliskan kata ucapan,  kertas itu terlipat rapi di bawa sepatu, isi tulisannya seperti ini;


~Selamat Anda Akan Jadi Seorang Ayah~


Tangan dan tubuhku bergetar, aku  tidak percaya dengan apa yang aku lihat,  aku menatap Netta dengan mata melotot.


“Be-be-benaran ….?” Tanyaku dengan suara terbat-bata.


“Kamu hamil …?”


“Ya,” jawab Netta.



Aku memeluknya dengan tangisan, tubuhku terus bergetar memeluk Netta.


“Netta hamil!?” Tante Ros teriak kencang,  setelah membaca surat dalam kotak.


“Hamil … Ne-Netta hamil?” Mami juga kaget, ia menangis sangat terharu karena Netta hamil.


“Ya Mi, Pi, Eda hamil,” ujar kak Eva.


“Papi jangan sedih lagi, abang Jo sebentar lagi akan punya anak,”ujar Arnita memeluk papi.


Papi sampai shock karena tidak percaya, ia menangis dengan diam sampai Kak Eva harus memberinya minum air hangat, karena wajahnya tiba-tiba menghitam menahan tangisan karena terharu.


“Terimakasih Tuhan. Terimakasih Tuhanku!” Mami terus saja menangis memeluk kotak kado yang diberikan Netta.


Melihat mami menangis sedih, semua orang jadi ikut menangis karena terharu.


“Mauliate Itoku Berton … mauliate inongku, ala di ramoti sahalam do  gelleng taon, alai ditamiakkon hamudo hami sian surgoi”


(Terimakasih itoku Berton … terimakasih mamaku, karena kalian menjaga anak-anak kita ini, karena kalian mendoakan kami dari surga) Ujar mami masih menangis haru.


Kak Eva menceritakan semuanya, ternyata saat Netta pingsan yang di rumah sakit satu bulan yang lalu dari situlah Netta tahu kalau ia hamil, tetapi Netta ingin memberiku kejutan sampai ulang tahunku, jadi Netta yang selalu bilang keja sampai malam tidak benar, sebenarnya ia main ke rumah Arnita bersama Kak Eva, jadwal kerjanya biasa saja.


Jadi mereka bertiga kompak memberiku kejutan, tetapi saat ini bukan hanya aku yang terkejut, papi yang jauh lebih terkejut,  ia hanya diam tidak bisa bicara apa- apa, tetapi tangannya selalu mengusap air matanya.


“Ambil beras dari dapur Ma, biar di kasih ke kepala inang itu,” ujar lae Arkan sama kak Eva.


Ia bergegas ke dapur dan membawa beras dalam piring memberikannya pada papi.


“Pi, ini kasih ke Eda sama Ito.”


Papi, mami, tante, bapa uda menaburkan beras di kepala kami berdua, beras sebagai lambang pasu-pasu (berkat) tujuannya agar kami selalu sehat dan selalu diberkati.


Bersambung ….


KAKAK  JANGAN LUPA KASIH KOMENTAR DAN PENDAPAT KALIAN DI SETIAP BAB DAN JANGAN LUPA JUGA.


Bantu share ya Kakak.


Fb Pribadi: Betaria sona Nainggolan


FB Menulis; Nata


Ig. Sonat.ha


LIKE,  VOTE DAN KASIH  HADIAH


Baca juga  karyaku yang lain


-Aresya(TERBARU)


-The Cured King(TERBARU)


-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)


-Menikah dengan Brondong (Tamat)


-Menjadi tawanan bos  Mafia (ongoing)


Bintang kecil untuk Faila (tamat)