Pariban Jadi Rokkap

Pariban Jadi Rokkap
Sambutan Keluarga


 Kami tiba dan akan  naik kapal menyebrangi Danau Toba menuju pelabuhan Pandingan,  dari sana naik lagi ke Dolok Martahan.


“Bapak Paima masih ingat kamu saat kita datang pas pernikahan kalian dulu persis seperti ini,” ujar Tante, mengingatkanku  saat pernikahan kami dulu.


“Ingatlah Tan, tidak akan lupa,” ucapku tersenyum.


“Memang saat itu dia kenapa Bou?” Tanya Netta.


“Ingin kabur”


“Ha! Kamu ingin kabur?” Netta melotot padaku.


“Kan, baru rencana hasian, tapi gak jadi kan buktinya kamu masih lengket padaku sampai sekarang,” ucapku menunjukkan tangannya yang  bergelayut di lenganku.


“Dasar.” Ia menggelitik pinggangku.


Bercanda  diatas kapal,  orang yang melihat, menduga kamilah pasangan yang akan menikah, karena penampilan Netta yang terlihat masih  terlihat seperti ‘cecen na badia’ seperti gadis polos.


Kali ini kakak Eva dan lae ikut pulang, menambah suasana riuh dalam perjalanan pulang kampung kali ini, karena berapa kali pulang kampung Kak Eva, tidak bisa ikut.


Namun kali ini ia bisa ikut,  di mana ada kakak Eva di situ ada kehebohan, kali inipun seperti itu, sepanjang jalan dari Jakarta - Silangit Kak Eva dan mami yang selalu membuat kami tertawa.


Saat kapal ingin tiba di pelabuhan, kakak Eva masih sempat-sempatnya ingin berfoto.


“Mi … pegang dulu si Jeny, aku  mau berpose ala kapal titanic.”


Ia memaksa suaminya melakukannya, lae Arkan malu dan enggan melakukannya, tetapi kakak Eva memaksa dan  pedenya itu loh, tingkat dewa.


“Na heppottan omak ni Arkan on, manabu maho anno tu na Danau toba , muruk annon namboru panjagani Danau Toba i”


(Repot bangat mama si Arkan ini, jatuhlah kamu nanti, marah nanti namboru penjaga Danau Toba itu) ujar mami merepet.


“Tenang mi, aku  kan sopan, gak mungkinlah namboru penghuni danau toba ini marah, kalau awak hanya numpang foto. Maaf ya namboru hanya berfoto,” ujarnya lagi.


Kalau aku sudah hapal kelakuan Kak Eva, aku yakin sepanjang kami di kampung ia kan terus update status dan buat postingan, kalau ia sedang ada di kampung  dan semua sudut kampung mau bukit terjal, mau lobbang , mau lumpur ia akan berfoto. Sebelum memori ponselnya habis, ia tidak akan berhenti.


Apa lagi ada tante Ros, mereka berdua sebelas dua belas, selalu eksis di manapun dan kapanpun.


Saat kami ingin turun dari kapal, ternyata keluarga sudah menunggu kami di pelabuhan, kami di sambut bagai tamu besar, ada mertuaku dan semua adek-adek Netta dan Lae Rudi ikut datang.


“Bah … nian do halak eda!”


(Wah … itu eda!” Teriak mami melambai dari kapal sebelum kami berlabuh.


“Wah, rame bangat mereka sudah kayak tamu agung kita”Kak Eva ikut  melambaikan tangannya dari kapal.


“Ito Netta …! Abang Rudi …! Ro Abangku … Nungga ro itokku sian jakarta”


(Kakak Netta …! Abang Rudi …! Datang abangku …. datang kakakku dari Jakarta.” Parluhutan  lae kecilku  teriak- teriak kegirangan.  Saat kapal berhenti, ia berlari ke tepi pantai.


“Paima di sida unang naikko”


“Tunggu di situ ya, jangan naik ke tangga kapalnya,” ujar Netta  dengan lembut, meminta adik kecilnya tetap  menunggunya di bawah kapal karena turun harus satu-satu.


“Olo Kak … Bang  Maloppat maho tuson, asa huhaol ho, nungga masihol au”


“Ya Kak … Bang Rudi, lompatlah kau ke sini, biar aku peluk, abang sudah rindu aku sama abang,” ucapnya tidak sabar lagi, ia menatap ke atas kapal.


Semua orang yang ngantri turun ikut tertawa mendengar sikap polos lae parluhutan.


“Janganlah mang … nanti patah kaki abangmu tidak bisa jalan, batal kita berpesta,” ujar tante Ros bercanda.


“Dekat ni Bang, lebih tinggi dahan kecapi yang di ladang kita itu,” ucapnya lagi, sepertinya ia memang serius dengan ucapannya ia tidak sabar ingin memeluk lae Rudi.


“Molo songoni takkupma tas son da, asa mngaluppat au”


“Kalau begitu tangkap tasku ini ya biar lompat aku,” ujar lae Rudi.


“OLo”


Setelah turun, ia  benar-benar memeluk lae Rudi dengan erat, setelah turun Netta juga langsung memeluk mamanya, setelah saling memberi salam, kami pulang ke rumah, sebelum kami tidak di kampung aku dan Netta sudah menyewa tiga mobil untuk kami pakai selama di kampung.


                    *


Malamnya keluarga Nainggolan dan keluarga Pandiangan bertemu, kami datanglah menjenguk calon ibu mertua Lae Rudi, benar, kondisinya memang sudah sakit parah, sehari-harinya hanya tidur di atas tempat tidur.


Awalnya keluarga kami merasa gondok dengan permintaan mereka, tetapi kami tiba di rumahnya, keluarga itu keluarga yang sederhana dan tidak banyak tuntutan.


“Maaf hami Lae molo tung gabe mangarepoti sude keluarga”


“Maaflah kami Lae kalau permintaan kami jadi membaut semua keluarga repot,” ujar abang Nelly yang paling besar, merasa bersalah karena mendesak untuk diadakan pesta.


“Sebenarna dang pola songoni nian lae, ala akka waktu do, si Rudi  maol dapot cuti na”


(Sebenarnya tidak  begitu Lae, ini hanya soal waktu, si Rudi  susah dapat cuti)ujar tulang Gres, ia ah yang bicara langsung.


Nelly hanya diam, wajahnya begitu tertekan, Lae Rudi juga awalnya sangat marah padanya karena terus di desak, tetapi setelah kami melihat kondisi orang tuanya dan rasa bersalah dari keluarga dari pihak perempuan akhirnya keluarga kami luluh juga.


Terus terang keluarga Nainggolan sudah sempat, punya pikiran yang jelek pada calon perempuan.


"Mungkin dia mendesak, karena takut di tinggalin sama Rudi, secara Rudi kakn polisi takut dia ada wanita lain di Jakarta." Mami sudah sempat bicara seperti biru dalam mobil saat kami berangkat ke kampung.


Tetapi kali ini, setelah di rumah Nely, kami paham alasan mereka, ternyata jauh sebelum Rudi jadi polisipu keluarga dari pihak perempuan sudah meminta mereka menikah.


" Atur hamu ma songondia na deggan amang"


(Bikinlah yang terbaik Amang, asalma Saut pestai, molo songon si namot, na parpatupa hamu ma"


(Kalian aturlah mana bagaimana bagusnya, yang penting jadi pesta, kalau soal sinamot atau panik jangan khawatir, sesanggup kalian saja, "ujar mama Nely dengan suara pelan.


" Nauli ito, molo songoni "


(Terimakasi ito kalau seperti itu) ujar tulang Gres.


" Sebenarnya si Nely pe dang adong sae dope kebaya na, dituhoma naung jadi i"


(Sebenarnya si Nely juga belum jadi kebayanya, nanti beli yang sudah jadi saja)


" Ake boha hamu na dua calon pengantin holan na sip hamu nadua"


(Lalu Bagaimana kalian berdua, calon pengantin, jangan hanya diam saja kalian"


"Ya Bapa uda"


Akhirnya Rudi tidak marah lagi, karena sepanjang kami pulang kampung, ia hanya diam, bahkan telepon dari Nely ia matikan. Tetapi kali ini, semuanya sudah dijelaskan alasan. Rudi akhirnya memaklumi dan setuju dilanjutkan pesta pernikahan seperti yang sudah direncanakan.


Bersambung


" Mami salah ... mereka bukan keluarga yang gila harta, tidak semua wanita itu menginginkan harta dan kekayaan mami," bisik Kak kak Eva.


"Ya Mami salah"