Pariban Jadi Rokkap

Pariban Jadi Rokkap
Boru Batak harus tahu adat


Masih dalam suasana menegangkan, , karena rapat  malam ini rapat yang membahas tentang pengeluaran, dan sudah pasti tentang uang, kalau menyangkut tentang namanya uang sudah pasti akan ada perselisihan.


“Baiklah tante juga  ikut,” ucap tante Ros.


“Kalau Tante Candra tidak mau ikut, tidak apa-apa Tante, kami mampu,” ucapku, ia terdiam.


Terlihat bapa uda itu menatap ke istrinya dengan tatapan sinis.


“Bukan begitu maksudku, harta mama’kan ada, tanah kerbau kenapa tidak dijual itu saja,” ujarnya tidak mau rugi.


“Maaf sebentar, aku  bukan anak-anak lagi, aku  berhak bicara sebagai ganti bapak, kerbau itu bukan kerbau oppung  … itu kerbau milik mertuaku yang kami jaga, punya oppung hanya satu iya itu yang kita potong untuk acara pesta yang kemarin, kalau tidak ada kerbaunya mungkin biaya pesta adat oppung bisa kena lebih dari sekarang, aku yang disuruh oppung dan bapa menjaganya.


Sekarang yang kami jaga tinggal milik mertuaku, dijual nanti baru kami dapat bagian, sawah yang di kampung depan sudah dijual puluhan tahun yang lalu, saat namboru Candra ambil PNS kan? kami hanya menyewanya, sekarang sudah punya orang lain, jadi sawah oppung hanya tinggal dua tempat, itu yang kami kerjakan dan lahan pencarian kami, apa bou mau menjualnya juga?”Kata Lae saut, semua diam


“Tapi emas Mama kan banyak? Yang dikasi ke eda?”


“Iya ampun! kakak kenapa sih selalu bikin rusuh, mama sudah kasih barangnya buat eda karena sudah merawatnya, apa kakak pernah merawat mama, jangankan merawat, menjenguknya juga tidak pernah, jadi kakak itu malu sedikitlah…! jangan mengungkit harta mama dikasih sama siapa, untuk siapa? Giliran harta aja cepat, giliran disuruh pulang melihat mama , banyak alasan, tidak ada cuti, banyak kerjaan lah,” ujar tante Ros.


“Memang kamu kasih apa sama mama?” tanya Tante Candra menantang balik tante Ros.


“Dengar iya kakak, aku dua kali dalam satu tahun itu pulang untuk menjenguk mama, aku tidak perlu umbar-umbar ke kakak,


“Haa… itu doang,’ balasnya tidak mau kalah dan tidak merasa bersalah. “Kak Rina lebih kaya tidak kasih apa-apa” katanya balik menuduh Mami.


“Sudahlah kak, capek berdebat sama kakak intinya, kita selesaikan dulu masalah ini, jangan sampai eda Saut ada hutang karena pesta saur matua mama, aku juga malu ribut-ribut,” ujar Tante Ros,


“Bagaimana mau punya hutang, harta mama’kan sama eda semua” katanya lagi.


Tiba-tiba mata Netta menatap sangat tajam, melihat Netta marah, Lae saut terpancing, ia berdiri. “ Bou dengar iya!!” Suaranya meninggi. “Apa yang diberikan oppung sama mama menurutku sangat sepadan, mama yang mengurus oppung dari ia berak di tempat tidur, di mandikan, di gendong kemar mandi, menggendong untuk berjemur di halaman, belum lagi oppung marah-marah sama mama.


Tapi mama tidak pernah meninggalkannya, mama tidak pernah mengeluh, mama melakukanya dengan sabar, aku bersyukur punya mama seperti beliau” ucap Lae saut suaranya terdengar bergetar.


“Sudah Mang, sudah bapa, jangan di perpanjang lagi, bapa udah tahu itu, bapa uda juga berterimakasih sama kakak,” kata Tulang Bekasi untuk menenangkan Laeku, siapapun tidak akan terima orang tuanya di hina untuk  ke sekian kalinya. Padahal tadi pagi juga tante sudah  di jelaskan masih diulangi lagi.


“Daong bapa uda dang terima au dibaen songonni tu oma . Bapa Tua jelashon tu Namboru on  boasa di lean opppung tu oma  emas nai, bapa uda dohot bapa tua do saksina kan? Lamhot jou oppung sia toruan! Jou dohot tulang Jelita dohot Amang Sittua  bila porlu”


(Tidak bapa uda, aku tidak terima di perlakukan seperti itu sama mama, Bapa Tua jelaskan sama Namboru ini, kenapa di kasih oppung semua emasnya sama mama, Karena bapa tua  yang jadi saksinya saat itu. Lamhot! Panggilkan oppung Tiwi dari kampung bawah ! Sama tulang Jelita sama gembala gereja bila perlu,” ujar Lae Saut emosinya  tidak terbendung lagi.


“Olo Abang”


(Iya abang) Lamhot ingin keluar.


“Ini masalah apa sekarang?” Tulang Marga Nainggolan yang memimpin rapat malam itu berdiri.


“Ini Bapa Tua emas yang di kasih oppung ke mama, Namboru bilang itu  tidak benar dikasih,” ujar Netta.


“Bah … bah nungga sega …  disi do au, disi amang sittua,  adong hami 8 halak saksi na, dang percaya ho, maksudmu na jadi dohot do hami panipu, unang di pailaho Nainggolan on … si  Saut on … On do gatti ni ibotom si Berton, pahoppu siangkangan gatti ni Bapam,  Hula-hulam do on, hargai …! Dang diboto ho adat …!


Barani nai ho mandok songonni tu ibotom, Nion bukti nai, untung di rekam pahoppung waktu na bereng aha di dok oppung Saut waktu”


(Wah … wah  salah besar … aku ada saat itu, pemuka agama ada, kami ada delapan orang di sana yang jadi saksi, kamu gak percaya, maksudmu kami ikut penipu? Jangan bikin malu keluarga Nainggolan, Si saut ini ganti Abang mu si Berton, dan dia cucu pertama yang membawa nama marga, artinya dia bapakmu,  orang yang  harus kamu hormati! Harus di hargai!


Kamu tidak tahu adat, berani kamu bilang seperti itu  padanya.


Ini ada buktinya, untung saat itu cucuku merekamnya,lihatlah apa yang dikatakan mamamu saat itu) Tulang yang terlihat berumur itu menyodorkan ponselnya.


Semua langsung terdiam, begitu juga dengan nenek lampir langsung tidak berkutik, ia salah tempat untuk marah, tante tidak tahu kalau dia berada diantara hula-hulanya yang artinya orang yang harus ia hormati.


“Maafkanlah kami Ito,” ujar tante Ros.


“Tidak  … ini si Rita ini tidak mengerti adat atau bagaimana?” Tulang  menatap bapa uda suami  tante.


“Maaf ma lae molo hurang sopan  parnijabu .”


(Maaf Lae bila kurang sopan istriku) ucap bapa uda merasa sangat malu.


“Molo boru Batak ikkon boto on do adat, jala botoon do parhundul niba, molo boru Ho huudul   di arah dapur ala parhobas, molo mangihut amattam, hula-hula hundul maho di halang ulu”


(Kalau boru  Batak harus tahu adat dan harus tahu aturan , jika kamu anak perempuan maka duduk di di dekat dapur, untuk melayani , jika ikut acara suami maka kamu jadi ratunya dan ditempat yang dihormati dan dilayani


“Nungga be abang tatarusmon ma, asa bulus sae.”


(Sudah Bang kita teruskan saja pembahasan biayanya biar cepat selesai, sudah malam) Bujuk Tulang Gres.


Bou Ros juga terlihat mengusap-usap pundak lae saut, untuk menenangkannya. Sementara tante Candra jadi diam setelah di marahin  Marga Nainggolan, dari oppung kakak beradik.


Setelah semua diam dan tenang pembahasan biaya pesta adat oppung di lanjutkan.


Bersambung....