
Tulang sama nantulang terdiam menatap Netta dengan tatapan tidak percaya.
“Alusi bang, jadi Jongong!” ujar tulang kembar yang dari bogor.
(Jawab Bang …! Kok jadi diam)
“Maksudnya beli rumah sungguhan begitu?” tanya tulang Gres.
“Iya Bapa uda, ini kuncinya dan sekalian untuk bengkel juga.
“Wah … hebat, selamat Bang rumah baru, kita tunggu selamatannya,” ujar tulang kembar.
“Makasi inang, makasi bangat … impian inang nguda selama ini kamu wujudkan, adik - adikmu pasti senang bangat, mereka ga tidur berdesakan lagi sama abangnya,” ujar nantulangku melirik lae Rudi.
Rasa bahagia terharu itu yang dirasakan tulang dan nantulangku.
Akhirnya aku paham ungkapan jika kamu menanam mangga mangga yang akan tumbuh.
Jika kamu menanam kebaikan maka kebaikan juga yang kamu dapat.
Nantulang Gres dan tulang sangat baik sama keluarga Netta, apalagi setelah bapa Netta meninggal, tulang Gres yang selalu membela mereka, perhatian tidak bisa dinilai dengan materi.
hal itulah yang dilakukan tulang, hal itulah yang di ingat lae Rudi, walau ia sudah polisi dan bisa mendapatkan tempat tinggal dari gajinya sebagai polisi, tetapi ia tidak mau mengontrak, tetapi ia tinggal di rumah tulang Gres dan menjadi sosok abang untuk anak tulang Gres.
(pasu-pasu> Berkat)
Mudah-mudahan apa yang kami berikan menjadi berkat untuk tulang dan untuk kami juga dengan Netta, doa dan pasu-pasu atau seorang tulang sangat kuat bagi seorang bere atau keponakan, makanya dalam adat batak, seorang tulang sangat di segani dan tidak bisa sembarangan bicara.
Arisan kali ini sangat berkesan dan penuh berkat.
“Hanya ito Gres yang kalian ingat, aku pun ulang tahunya empat hari yang lalu,” ujar tente
“Uda lewat pun … ehe tahe,” ujar Bapa uda meledek istrinya.
“Langsung irinya kamu Ros, ini aku kasi samamu,” ujar papi menyodorkan uang lima puluh ribuan sama tante.
“Kurang ini Bang!” teriak tante Ros tertawa.
Tante sama papi memang akrab dan suka bercanda, beda sama tante sama tente Candra, papi tidak pernah mau bercanda karena tante selalu merasa sok pinter.
Benar kata Netta, yang lain pasti akan merasa iri jika Netta hanya memberi satu orang, karena saat Netta ingin jadi dokter saat itu semua keluarga bekerja sama, karena itu kami dan lae Rudi sudah mempersiapkan kado juga untuk keluarga yang lain.
Makanya saat aku menemani Netta mengambil sisa barang miliknya saat kuliah di Jerman, kami sudah membelikan mereka juga oleh-oleh.
“Tenang Bou, untuk bou spesial aku berikan,” ujar Netta memberikan tas impian tante Ros.
“Oh! Tas impianku,” ucapnya kegirangan.
Untuk para bapak- bapak kami memberikan kemeja dan ibu-ibu tas hiasan rambut, itu saja yang kami berikan semua tampak heboh sampai melupakan pungutan uang arisan.
Kami mengumpul semua keluarga karena arisan dan saat itu yang dapat uang arisannya mami.
Arisan hari itu lebih adem karena tante Candra belum datang, ia bilang masih ada urusan.
“Aku berharap tante tidak datang Kak, adem bangat keluarga kita kalau tante itu tidak datang ,” bisik Arnita sama kak Eva.
“Ya, kamu benar, kalau dia datang aku yakin suasananya akan berubah,” ujar Kak Eva yang duduk di sampingku.
Baru juga di omongin tante Candra sudah datang bersama bapa uda dan Lasria.
“Horas!” Sapa tante.
“Horas. wajah semua orang langsung berubah.” Tante Ros berdiri menyimpan tas miliknya, aku tahu niat tante agar tidak ada masalah. Tetapi apa yang mau dikata justru itu yang jadi awal perdebatan.
“Apa yang kamu sembunyikan Ros, gak usah kamu langsung sembunyikan tasmu yang baru itu, lebih dari di situ bisanya aku beli,” ujarnya marah.
“Apa sih kakak ini, baru juga datang uda marah-marah,” ujar tante Ros sewot.
“Sudahlah makan dululah, kami sudah makan duluan tadi . Mana lae?” Tulang kembar mengalihkan pembicaraan, ia tidak mau nenek lampir ini bikin keributan.
“Tidak ikut, lagian aku juga tidak lama, aku hanya ingin bilang kalau Candra sebentar lagi akan menikah, dia sudah dapat pacar dokter, boru Panjaitan mamanya Thionghoa dan bapaknya Batak.”
“Oh, mauliate ma, sai denggan ma sude.”
“Oh terima kasih lah mudah mudahan lancar semua.” ujar tulang Gres.
“Iyalah, kalau nanti aku punya menantu, aku akan aku sayang, tidak akan ku suruh pisah sama anakku,”
ujarnya.
Omongannya menyindir mami.
Aku bisa melihat mami mulai panas mendengar tante menyindirnya, tetapi papi yang duduk di sampingnya memegang tangan mami agar tidak ada keributan.
“Sudahlah makan dulu ito, agar kita bisa bicara lebih tenang,” ujar Tulang kembar.
“Masak apa memang kalian, gak suka aku makan ikan mas, terlalu banyak duri-durinya,” ujarnya lagi.
“Ada ayam gulai Tan,” ujar Kak Eva.
“Siapa yang masak?”
“Gak usah kamu tanya siapa yang masak, kalau kamu mau makan, kalau tidak suka jangan makan, repot kali kau ku tengok,” ujar mami mulai naik darah.
“Kalau kamu yang memasak, gak enak kan?’
“Eh … bukan aku yang memasak, ada menantu yang jago masak, kamu coba saja.”
“Ah … panggar kali kau ada menantu mu yang jago masak, untuk apa jago masak kalau tidak bisa punya anak,” ucapnya pelan.
Aku panas mendengarnya.
“Eh mulutmu!”
Buuk …!
Satu botol air mineral aku mendarat di kepala tante Candra, mami melempar kepalanya, itu mewakili perasaanku, bukan hanya aku tapi kami semua dalam ruangan itu tidak ada yang melarang mami melempar tante.
“Jaga bicaramu ito, siapa ito samaku seperti itulah Netta samaku!” ujar tulang kembar.
“Salah bicaranya aku, bukan maksudku senang jika mereka belum memiliki anak.”
“Cukup! Jangan kamu teruskan lagi, aku berharap kamu mendapat menantu sebaik Netta, jangan kamu pikir kalau menantu mu sudah dokter, kamu jadi hebat, belum tentu.
Aku sudah minta maaf padamu satu tahun lalu, aku pikir kita tidak ada masalah lagi, aku tidak tahu apa lagi yang membuatmu masih dendam padaku,” ujar mami.
“Menantuku akan lebih baik dari Netta, ingat itu …. jadi tidak usah kakak sok merasa orang yang beruntung.”
“Lomom ma, malas au makkatai daohot na gila ,” ujar mami berdiri ia meninggalkan tante.
(Suka-sukamu lah malas aku bicara sama orang gila)
Kami pikir tante Candra akan berubah setelah pertemuan terakhir di kampung Netta.
Ternyata tante semakin gila, apalagi lagi saat pernikahan Arnita di rayakan besar- besaran sama ibu mertuanya, di salah satu hotel di Bandung, tante merasa sangat tersaingi sama kakak kembarannya, padahal mami sudah berapa kali mengalah sama tante . Namun nenek lampir ini tidak berubah.
Bersambung …
Terima kasih kakak untuk supportnya...
Jangan lupa like dan share ya kakak kakak..