
Setelah cerita sama Netta malam itu, ada rasa plong dalam dada.
Kami sepakat untuk mem bicarakan sama keluarga.
Beberapa hari kemudian kita datang ke rumah mami.
Sebenarnya keluarga dan teman-teman banyak yang yang penasaran sama sikap mami sama Netta, dan bagaimana caranya mami berbaikan sama Netta.
Jadi, tahun lalu setelah kami pulang dari kampung dan ibu mertuaku juga ikut dan adik-adik Netta saat itu.
Mungkin mami merasa tidak tenang dan merasa bersalah, jadi saat kami duduk santai. Mami datang dan tiba-tiba meminta maaf sama Netta, ia menangis dan merasa bersalah.
Semuanya akhirnya terungkap sama ibu mertuaku, tadinya ia sangat kaget saat tahu kalau mami memaksa Netta menandantangani surat minta izin untuk menikah lagi, dan terungkap juga penganiyaan yang di lakukan Arnita pada Netta.
Arnita juga saat itu sampai berlutut di kaki Netta, mendengar itu ibu mertuaku menangis sedih, ia akhirnya menyadari kalau selama itu Netta sangat menderita, tetapi menyimpan sendiri agar keluarga di kampung tidak khawatir.
Demi meminta maaf, mami datang ke rumah ito-itonya dan meminta maaf pada tulang, setelah di jelaskan sama tulang dan Netta, ibu mertua akhirnya memaafkan kami. Kalau bukan karena
kebaikan papi, mungkin ibu mertua sudah memecat ku jadi menantu saat itu, setelah mami meminta maaf sama Netta dan ibu mertua, dari situ hubungan Netta dan mami berjalan baik. Netta juga yang merawat mami hingga benar- benar sembuh .
Hari itu kami ke rumah mami untuk bicara tentang rencana kami.
“Lakukanlah Mang, kalau itu bisa jalan mendatangkan berkat,” ujar papi.
“Tapi kalau bisa jangan di bulan ini Bang,” ujar mami.
“Kenapa?”
“Tetapi bulan ini kan pesta si Candra.”
“Lah … kok cepat Pi, bukannya papi bilang dua bulan lagi?” Tanyaku penasaran.
“Tidak tahu, tante mu taku kali calon menantunya kabur makanya di uber-uber,” ujar papi.
Papi menceritakan saat pertemuan acara pertemuan ke rumah tulang Gres, menurut cerita papi tante nyaris bertengkar tante dan bapa uda, karena tante bicara tidak sopan pada hula-hulanya.
“Tante itu tidak ada tobat-tobatnya ya Pi.”
“Tunggu di tegur Tuhan kali dia …. baru bisa berubah,” celetuk mami dari dapur.
Papi mengedipkan mata padaku. “Kalau mami sudah dapat bagiannya, tinggal kembarannya,” bisik papi .
“Sudah makan dulu kalian baru pulang, mami sudah suruh Bibi Atun untuk masak ikan arsik kesukaanmu Bang, mana istrimu panggil dulu biarkan makan kalian,” ujar mami.
Inilah model mamiku yang sekarang, ia sangat perhatian pada Netta. Bahkan kalau Netta pegang dapur sudah tidak diperbolehkan, lebih baik Kak Eva dan Arnita yang membantu Bi Atun mengerjakannya.
*
Pernikahan Candra berlangsung hari itu, tante mengadakan pesta yang sangat mewah, diadakan di salah satu gedung di Jakarta.
“Kakak benar-benar menunjukkan kesombongannya,” ujar tante Ros, ia duduk di sampingku.
“Kenapa Tan?”
“Kakak sampai jual rumah, jual mobil untuk pesta mewah ini, dia ingin menunjukkan kalau dia punya menantu hebat, padahal Candra juga masih pendidikan belum menghasilkan uang.”
“Tapi tante kan PNS Tan.”
“Dia sudah umur lima puluh tahun, bentar lagi pensiun, maksud tante kenapa dia tidak bergaya sesuai kantongnya, lihat abang itu serasa tertekan,” ujar tante.
Aku jadi kasihan sama Candra nanti, habis pesta mewah jadi terlilit hutang, karena Candra sendiri masih pendidikan, menurut papi ia minta pernikahan habis pendidikan. Tetapi si nenek lampir inginnya buru-buru takut calon menantunya kabur, karena calon istrinya sendiri hasil pilihan tante.
Kami duduk di pihak tulang yang harusnya di hormati, tetapi boro-boro di hormati, di sapa pun tidak, seolah-olah tante malu melihat keluarganya, tetapi giliran tamu pejabat yang datang ia langsung berdiri dan bersikap ramah.
“Perasaan kita tidak terlalu kampungan dah … kenapa si nenek lampir ini seolah-olah malu melihat kita,” ujar tante Ros.
Melihat kesombongan kakaknya tante Ros dari tadi yang gelisah dan geram.
“Sudah, duduklah kamu Ros, biarkan saja yang penting kita hadir, malu atau tidak itu urusan dia,” ujar papi.
Aku dan Netta hanya diam, istriku memang kalem dan menawan, saat ibu-ibu yang lain repot berfoto dengan beberapa artis yang datang, karena ada beberapa tamu dari kalangan artis.
Kak Eva apa lagi yang paling heppot, ia meletakkan bayi perempuannya di pangkuan lae ku . Lalu ia dan Arnita minta foto sama aktor tampan salah satu artis sinetron.
“Ah … heppot nai!”
(Ah … repot bangat!)rutuk laeku melihat Kak Eva.
“Kamu tidak Dek?” tanyaku pura-pura.
“Gak … ah, malu aku,” ujar Netta.
“Foto sama aku saja ya?” tanyaku.
Tidak diduga iya mengangguk, karena selama ini ia paling malas di foto selfie. Penampilan Netta kali ini, seperti biasa ia selalu terlihat simpel tetapi elegan. Lagi-lagi aku menjadikan kakak Eva dan adikku yang menjadi perbandingannya.
Kakak Eva duduk kembali sehabis minta berfoto sama artis.
Jika Netta tampil natural, tidak demikian dengan kakakku yang satu ini, Kak Eva selalu berpenampilan menor setiap kali menghadiri pesta apa lagi pesta keluarga dekat seperti Candra.
Kak Eva memakai kebaya yang ada kamisolnya yang dipadukan dengan songket, dengan badan gembrot seperti itu ia terlihat sesak dan kerepotan sendiri, belum lagi bulu mata anti badai yang di pakai hampir copot. Kak Eva punya bayi alhasil tubuhnya gemuk, melihatnya kerepotan menggendong bayi dengan kebaya yang ia pakai aku yang merasa gerah.
‘Kenapa kakak ini tidak pakai yang simpel saja’ ucapku dalam hati.
“Sini aku gendong si butet itu Eda,” ujar Netta saat Kak Eva kerepotan mencabut bulu mata anti badai yang menutupi matanya.
“Aduh … tolong Da, mataku sakit,” keluhnya lagi.
Belum lagi adikku Arnita penampilannya sangat membahana.
Saat lagi duduk melihat mereka bergantian, tiba-tiba papi duduk di sampingku.
“Kasihan aku melihat bapa uda mu itu, dia bilang sama papi dia tidak setuju dengan pesta mewah ini, dia inginnya pesta adat Batak seperti biasa, tetapi Inangudamu ingin yang mewah, terpaksa dia menjual mobilnya.”
“Sepertinya akan ada masalah nanti Pi.”
“Bukan hanya nanti, tadi pun sempatnya mereka suami istri bersitegang, habis pesta mewah satu hari terlilit utang,” ujar papi menghela napas.
“Kenapa bapa uda tidak jujur sama besannya, kenapa harus memaksakan diri PI.”
“Papi sudah mengajari bapa uda mu seperti itu, ujung-ujungnya mereka berantem, jadi dari pada bertengkar dia mengalah sama istrinya, tapi lihat wajah bapa uda mu itu tertekan batin,” ujar papi.
Memang di setiap pernikahan sering sekali kita temui seperti tante Candra itu, di bikin pesta besar dan mewah, tetapi ujung-ujungnya terlilit hutang sehabis pesta. Saran ku sih bergayalah sesuai isi kantong.
Bersambung …..