Pariban Jadi Rokkap

Pariban Jadi Rokkap
Mimpi yang Menjadi Kenyataan



Huta Dolok Martahan, Samosir


Kami masih menunggu dengan sabar dalam  mobil, aku berharap apa yang  menjadi cita-cita laeku jadi kenyataan, aku berharap Beny bisa membantunya walau harus  menggunakan uang aku bersedia membayarnya.


Setelah menunggu berapa lama, suara telepon berdering.


Driiing …!


Dengan cepat-cepat aku mengangkat ponselnya dan menarik napas berat, tegang rasanya, bukan hanya aku saja yang merasa tegang, mereka menatapku dengan tatapan menunggu.


“Halo, bagaimana Ben?” tanyaku, aku sengaja tidak speaker lagi.


“Bagus Bro, aku sudah Memeriksa data yang kamu kirim, dia sudah mengikuti banyak seleksi dan tes. Sebenarnya .... Dalam berkas itu, dia sudah dinyatakan lulus. Dengan persyaratan di harus bayar, artinya Jika saat itu dia ada uang sebenarnya sudah bisa masuk polisi."


"Lalu bagaimana Bro? Kalau masuk pakai uang ga papa aku akan bayar," ujarku.


"Tidak usah, aku bisa bantu. Di sini dia tidak usah mengikuti seleksi dan tes lagi, mungkin bisa langsung di terima karena nilainya bagus, aku memperlihatkan langsung pada atasanku, Komandanku setuju, dia meminta membawa ipar mu langsung  ke Jakarta, karena nilainya bagus, jangan khawatir aku pastikan dia masuk,” ujar Beny dengan yakin.


“Maksudnya …?”


“Ya bisa diterima tanpa harus diseleksi lagi, karena dia sudah lulus seleksi dari tes sebelumnya, dia gagal karena tidak ada yang menjamin, sekarang aku yang menjaminnya dan membawanya masuk, tenang saja sembilan puluh persen masuk,” ujar Beny yakin.


Mendengar itu, aku orang paling bahagia saat itu, aku menatap mereka satu persatu.


“Bagaimana Bang ?” tanya Netta hampir menangis.


“Kamu di terima lae,” kataku memeluk lae Rudi, tetapi lelaki bertubuh tinggi tegap itu seolah-olah tidak yakin ia hanya diam.


“Maksudnya dia di terima, tidak usah ikut seleksi lagi?” Netta bertanya lagi.


“Iya Lae?” Rudi menatapku dengan wajah memerah seolah-olah tidak percaya.


"Toho do laekku?"


(Serius Bang?)


“Iya, lae harus ikut sama kami ke Jakarta,” ujar ku bersemangat.


“Iya ampun … serius ini Bang?” Netta masih belum percaya.


 Tiba-tiba Netta maju ke jok depan, lalu ia memelukku dan memeluk Lae Rudi.


“ Selamat iya Ito.” Netta  memeluknya dan ia menangis sesenggukan.


“Au dang porsea dope ito, sehera nipi hurasa.”


( Aku belum percaya, ini bagai mimpi) ujar Lae Rudi, Netta juga mengusap buliran air dalam matanya.


“Kamu diterima lae, nanti saat kamu datang ke Jakarta, lae akan langsung mengikuti pendidikan dan pelatihan, karena sebenarnya lae itu sudah di terima, tapi karena minta bayaran banyak, maka itu lae tidak mau kan? Temanku bisa bantu tidak usah bayar, karena nilai lae bagus,” kataku.


Tetapi sepertinya Lae Saut dan Rudi belum belum yakin, masih diam menatap kami bergantian.


Tiiit …!


Notif ponselku, Beny mengirimkan email Berhasil pada ponselku.


Dari sinilah aku percaya nasib seseorang bisa berubah seketika, sama seperti Rudi yang tiba-tiba di terima di terima jadi Polisi, Aku menunjukkan email itu padanya, barulah Lae Rudi percaya ia menangis sesenggukan, ia turun dari Mobil membuka pintu belakang dan memeluk ibu mertuaku ia bahkan bersujud di kaki ibu mertuaku, ia menangis di kakinya.


"OMAAA ....!DI JALO TUHAN DO TAMIANG MI."


(Mama....! Tuhan menerima doamu) ucap dengan suara tangisan keras.


"Olo amang, Mauliate ma Amang Debata."


(Iya Nak, Terimakasih Tuhan,"ujar ibu mertuaku ikut menangis dan saling berpelukan.


Suasana begitu haru, ternyata kami sudah menghabiskan beberapa jam untuk mengurus berkasnya, niat kami ingin belanja jadi kendala, kami bekerja sama mengantarnya jadi polisi.


“Kita harus merayakan keberhasilan Lae Rudi menjadi polisi, tapi kita makan dulu aku sudah kelaparan,”kataku memegang perutku, tidak terasa ternyata sudah beberapa jam kami berhenti di pinggir jalan.


Kami menghabiskan waktu yang lama mengurus berkas-berkas, hingga perutku berkriuk karena lapar.


“Kita cari lapo paling enak, kita makan enak dulu untuk perayaan, baru kita lanjut belanja setuju?”


“Setuju.” suara riuh dan suasana gembira terlihat dari mereka semua.


“Sebentar lae, berhenti dulu sebentar,” ucap Lae Rudi, tiba-tiba ia berlari kesamping mobil ia muntah, ia tampak terlalu bergembira dan membuatnya sampai mual, kegembiraan membuat gejolak dalam lambungnya.


“Ito terlalu gembira dan bercampur panik,” ucap Netta, ia turun menepuk-nepuk pundak abangnya menggosoknya dengan minyak angin.


“Dang percaya au ito, hera nipi hulala, nungga sempat putus asa au dua taon on ito alani gagal torus.”


( Gak percaya aku, kayak mimpi rasanya aku di terima, dua tahun ini aku putus asa karena gagal terus)ujar Lae Rudi.


Rudi memeluk pilu tubuh Netta, Mertuaku ikut turun lagi, saling merangkul dan saling bertangisan, itulah pemandangan yang terlihat saat ini, semua keluarga Netta akhirnya turun dari mobil merangkul Rudi.


Aku berdiri di depan mobil melihat kekompakan mereka.


Tapi tiba-tiba ibu mertuaku datang ke arahku, lalu memelukku dengan tangisan yang lebih pilu lagi, membuatku kagok tidak tahu harus berbuat apa.


“Makasih hela karena kamu bagai seorang malaikat di keluarga kami,” ucap mertuaku mendengar itu aku diam membatu, tidak pernah terbayang ada ucapan itu di tujukan untukku apalagi dari keluarga Netta.


(Hela> menantu laki-laki)


Aku menatap Netta dengan bingung, ia tersenyum sangat manis padaku, tiba-tiba ia mendekat membisikkan satu kata untukku membuatku hampir jatuh pingsan lagi.


“Aku mencintaimu, Bang” itu pertama kalinya Netta mengucapkan kata cinta padaku, aku sudah hampir bertahun-tahun Menunggu mendengar itu dari Netta, aku semakin mematung lagi, kalau saja tidak ada keluarganya di sana, aku sudah menariknya ke dalam dadaku mengigit pipi dan bibir sekalian, aku harus sabar menunggu moment yang tepat untuk melakukan itu.


“Aku juga mencintaimu Borneng,” bisikku pelan, aku takut kata-kata di dengar laeku.


Hari ini hari yang paling indah padaku, keberuntungan dan cinta berpihak padaku.


Aku menyebut hari ini hari penuh cinta.


Mobil kami kembali berhenti di pinggir jalan setelah lae Rudi muntah karena terlalu bergembira, ia masih duduk jongkok dengan kepala menghadap tanah, ibu mertuaku dan Netta dengan sabar mengoleskan minyak angin ke bagian belakang leher lae Rudi.


Acara tangisan-tangisan yang berlangsung pinggir jalan itu akhirnya berhenti juga, kami mengundang perhatian beberapa orang pengguna jalan bertanya kenapa kami menangis dipinggir jalan. Sama seperti namboru yang baru yang berhenti ini.


“Ai aha namasa eda, Boasa tangis-tangis hamu di dalan on?”


(Kenapa kak, kenapa menangis di jalan?)


Bahkan wajah namboru ini terlihat bingung melihat kami sedari tadi  ada di pinggir jalan. Beruntung adik-adik Netta anak-anak baik dan penurut,  mereka bisa patuh menunggu di dalam mobil tanpa protes.


“Daong edaku, akka barita lasniroha do dobah, monang do paraman mon polisi dipamasuk helakkon suamini si Netta.”


(Gak eda, kabar gembira, menang keponakanmu masuk polisi, dibantu masuk sama menantuku suami Netta)


Ibu mertuaku menempuk pundakku dengan bangga, baru kali ini aku senang dipuji, apa lagi yang memuji mertua sendiri.


Kuping serasa naik lima centi meter.



Danau Toba


Bersambung ….


KAKAK  JANGAN LUPA KASIH KOMENTAR DAN PENDAPAT KALIAN DI SETIAP BAB DAN JANGAN LUPA JUGA


LIKE,  VOTE DAN KASIH  HADIAH


Baca juga  karyaku yang lain


-Aresya(TERBARU)


-The Cured King(TERBARU)


-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)


-Menikah dengan Brondong (Tamat)


-Menjadi tawanan bos  Mafia (ongoing)


Bintang kecil untuk Faila (tamat