
Bukit Simargalung Samosir
“Sudah ma, abang jonathan pasti sudah lapar, kita cari makan dulu iya,” ucap Netta menghentikan obrolan Ibu mertua dengan inang-inang yang lewat.
Aku Mengangguk, Laeku abang Netta lae
Saut ikut mengangguk
Pasukan Bodrek masuk dalam mobil, setelah semuanya masuk dan disusun kaya ikan asin lagi, mobil kita berjalan perlahan.
“Putar lagu bang, lagu daerah, aku mau nyanyi,” ucap Netta untuk menghilangkan kejenuhan.
“Judulnya apa?” tanyaku.
“Mauliatema Tuhan”
(Terimakasih Tuhan)
“Ok.”
Untuk pertama kalinya bagiku melihat Netta bernyanyi, suaranya ternyata bagus, awalnya menyanyikan lagu bersama ibu mertua. Karena liriknya sangat sedih dan menyentuh, mertuaku malah menangis lagu akhirnya dihentikan.
“Kok jadi menangis lagi sih ma? jangan dong, hari ini hari bahagia, nanti mama ikut ke Jakarta sama kami untuk mengantar abang Rudi, ya?”
“Toho do inang, boi do hela?”
(Benar nak, apa bisa menantu?)
“Boi inang.”(Bisa bu)
“Tidak ada oppung lagi yang mama urus, jadi mama itu sudah bisa pergi kemana-mana, mau ikut kamipun ke Jakarta juga boleh,” ucap Netta wajah mertuaku berbunga-bunga.
Karena menurut Neta sejak ia jadi menantu, jarang mamanya pergi kemana-kemana karena Oppung kami, Oppung na reteng atau galak dan selalu melarangnya pergi.
Hingga akhirnya mobil kami tiba rumah makan khas daerah di tempatnya Pasar Nainggolan, rumah makan di pinggir Danau Toba, pemandangan Danaunya yang indah, ingin rasanya berlama-lama di sana karena di sungguh kan pemandangan yang luar biasa. Danau yang luas dan airnya masih jernih, bahkan airnya dimanfaatkan warga untuk kebutuhan sehari-hari.
Adik –adik Netta terlihat sangat tertib, tidak banyak permintaan, mungkin anak-anak ingin minta hal lain tapi tidak ada yang berani bersuara saat Lae saut bersama kami.
Netta mengerti akan hal itu, iya tau adik-adiknya takut dan tertekan, maka, ia yang selalu menawarkan apa-apa pada mereka.
“Ok catat di sini apa yang ingin kalian makan dan apa yang kalian inginkan,” ucap Netta tersenyum pada adik-adiknya.
“Aku mie goreng siantar kak,” kata Adik Netta yang duduk di bangku SMP.
“Ini catat disini, apa yang ingin kalian makan dan apa yang belum pernah di makan, tapi ingin di makan hari ini, abang Nathan akan belikan,” ucap Netta, mengedipkan matanya padaku sembari tersenyum kecil.
'Eee .... Borneng! main mata pula kau samaku, gimana aku gak tambah gemas kan' ucapku dalam hati.
Ingin rasanya aku membalas mencubit pipi si Netta, tetapi awak segan, ada hula-hula di sana.
(Hula-hula >Saudara laki-laki dari istri)
Lae- laeku bersemangat mencatat semua yang yang ingin mereka coba makan.
Dalam meja makan alhasil pesanan kami memenuhi meja besar itu.
“Bah godang nai on, habis do on?”
(Wah banyak amat pesanan makanannya, habis ini?)
Lae saut menatap dengan heran, mungkin ia pikir terlalu boros dan takut terbuang-buang, tapi terbalik dengan adik-adik Netta yang terlihat bersemangat melihat hidangan yang tersaji.
“Ga papa Ito, biarkan saja, anggap saja ini perayaan kita,” ucap Netta.
“Iya lae, biarkan kita puas-puaskan dulu, nanti kita lanjut belanja lagi.”
Bahagia itu ternyata sederhana, melihat keluarga mertuaku makan dengan sangat lahap. Padahal menurutku makanannya biasa, tapi buat keluarga Netta itu sesuatu yang luar biasa.
Karena kehidupan di kampung yang serba susah, jangan makan di restauran seperti ini, biasa makan pakai lauk ikan asin saja sudah bersyukur, kata Netta.
Melihat mereka makan dengan sangat lahap membuatku ikut merasa senang, karena bisa melihat wajah-wajah kuat dan tegar dari adik-adik Netta, di tinggal bapak sejak dari kecil menempah mereka menjadi anak-anak yang kuat.
Tetapi aku salut sama mertuaku, walau tampa suami beliau berjuang menyekolahkan semua anak-anaknya.
aku jadi ingat slogan orang Batak
'Anakkon ki do hamoraon di au'
(Anak-anakku harta paling berharga untukku)
Adik-adik Netta.
Sebelum berangkat ke sekolah harus bekerja dulu, mengantar pupuk kandang ke ladang, pulang dari sekolah selesai makan langsung ke ladang, tak jarang adik-adik Netta dari sekolah langsung ke sawah atau ke ladang makan, di sana ganti pakaian langsung bekerja.
Tidak ada ponsel, tidak ada waktu untuk bermain-main, makanya mereka bilang kedatangan kakaknya dan aku kali ini, bagai kedatangan malaikat penolong untuk mereka.
Sekarang aku mengerti kenapa Netta bertahan ingin tetap kuliah walau dengan rintangan berat yang ia hadapi, semua untuk keluarganya untuk adik-adiknya dan untuk ibu mertuaku.
Netta hanya memakan porsi sedikit, ia terlihat sibuk memperhatikan semua adik-adiknya.
Melihatnya saja ada rasa kasihan, tidak terbayang ada di posisi mereka, luka-luka di tangan dan di kaki mereka, bukti kalau adik-adik Netta menjalani hidup yang keras, kulit mereka semua sangat berbeda dengan kulit Netta.
“Mau minum Jus apa Cendol?” tanya Netta menatap adik-adiknya satu persatu.
Mengangguk setuju, artinya apapun yang dikasih, mereka pasti mau, Netta berdiri aku ikut mengekor.
“Jus saja dek, biar lebih sehat,” ucapku mengikuti Netta berdiri di meja pemesanan.
“Campur saja bang, Lamhot tidak suka jus, ito Rudi juga, mama juga, kita campur saja, enam jus, lima es cendol” ucap Netta mengusap butiran bening di sudut matanya, aku tahu ia sedih melihat adik-adiknya.
Adik sebanyak itu ia hapal semua kebiasaan adik-adik dan abang-abangnya, salut dan angkat jempol pada wanita kuat yang satu ini.
“Wah kenyang bangat.” kata Lae Saut menepuk-nepuk perutnya.
“Tumben Ito, biasanya porsinya pargoci nambah lagi ,"ucap Netta .
"Nunggu be ito butong kian au."
(Sudah Ito kenyang bangat aku) ujar Lae Saut.
Hanya Netta yang akrap sama Lae Saut adik-adiknya semuanya terlihat takut.
Karena Netta anak perempuan satu-satunya, saudaranya sangat sayang sama Netta, terlebih abangnya yang sudah menikah.
“Makan sudah, kita sudah kenyang, sekarang kita belanja di mana?"tanyaku menatap Netta.
Aku pikir bakalan belanja di super market, ternyata hanya toko biasa, tempatnya tidak jauh dari tempat kami makan, tempatnya juga berpencar-pencar tidak satu tempat.
“Dek sini” aku memanggil Netta, aku berpikir kalau aku ikut dengan mertua dan laeku, mereka pasti segan, lebih baik mereka yang belanja sama Netta.
“Apa bang?”
“Ini kartunya, belanja lah sepuasnya, kalau aku ikut, Inang pasti segan sama lae dan istrinya, kamu saja yang menemaninya, aku akan menunggu disini, ini kartunya.”
“Toko-toko disini takutnya belum bisa menggunakan card bang, ada yang bisa ada yang tidak, abang ambil di Atm dulu deh, itu di depan.”
Untungnya card-nya bisa mengambil dengan nominal besar, tanpa dibatasi pengambilannya.
“Belikan apa saja yang mereka mau Dek, habiskan saja,"ucapku setelah menarik sejumlah uang dari Atm.
“Bagaimana kalau abang sama adik-adik? mereka pasti takut sama bang Saut,” kata Netta.
“Ok."
Akhirnya dua kubu, Netta sama ibu mertua dan abangnya dan iparnya dan adik kecilnya,
wakt untuk lahiran inang bao istri Lae Saut sudah dekat, pasti membutuhkan perlengkapan bayi, kalau aku ikut, abang Netta pasti segan padaku, jadi aku memutuskan dua kelompok.
“Ambil apa saja yang kalian mau, aku akan bayar,” kataku pada laeku.
Ternyata tidak lantas membuat mereka mengambil banyak, hanya secukupnya, hanya sepatu dan buku tidak jauh dari peralatan sekolah, segan dan canggung itu yang aku lihat dari mereka, Rudi yang sudah terlihat dewasa saja masih sungkan melihatku.
Kadang aku berpikir aku yang terlalu pede apa mereka yang pemalu?
“Lae Rudi, kita di Jakarta nanti belanja kebutuhan untuk pendidikan Lae, tapi beli baju untuk dipakai saja lae, sekalian buat adik-adik."
“Iya Lae."
Lalu membeli beberapa setelan kemeja dan kaos untuk adik-adiknya.
“Sudah lae."
"Tapi bagaimana kalau bou Candra lihat belanjaan kami nanti lae, dibilang lah nanti habisin harta warisan oppungnitu?"ujar Lamhot.
"Tenang lae nanti sembunyikan."
Oh, karena terlalu gembira aku lupa ada tante perusuh di rumah, aku yakin jika ia melihat belanjaan ibu mertuaku, tante akan seperti orang kesurupan lagi seperti lagi.
Tetapi tidak apa- apa sebentar lagi kami.
akan pulang ke Jakarta.
Aku merasa dada ini terasa sesak, karena nanti malam akan ada rapat terahir pembahasan ulaon lagi . Netta bilang akan menjelaskan semuanya di hadapan keluarga agar tante Candra paham.
Aku berharap semuanya baik-baik saja agar kami cepat kembali ke Jakarta.
Bersambung
Akak yang baik , jangan lupa tetap dukung karya ini kasih like vote dan komentar. Kalau bisa bantu share di facebook kakak semua dan boleh tag aku saya di sini👇
Fb Pribadi: Betaria sonata Nainggolan
FB Menulis:Nata
IG:Sonat.ha
Youtube: Nata Novel Channel
Agar makin banyak yang membaca ,terimakasih
Oh hampir lupa....
Terimakasi banyak untuk Ibu @Tatih Iriani yang sudah memberikan tip berupa koin, semoga rezekinya semakin bertambah.