
Setelah mami meninggalkan tante, Arnita, sama Kak Eva juga memilih pergi, sebenarnya lebih baik menjauh dari orang pembawa virus kebencian seperti tante Candra.
“Harusnya kakak itu mendoakan Netta, bukan malah tertawa. Ingat Kak Netta itu anak abang kita.”
“Aku tidak menghina, aku hanya mengatakan apa yang aku rasakan,” ujar tante.
Aku ingin memarahi tante, tapi papi melarang ku.
“Jangan biarkan pikiran jahat merusak ketenangan mu,” bisik papi.
Kalau saja saat itu Netta sedih atau tersinggung, aku pasti akan bertindak, tidak perduli ia tanteku ataupun orang lain.
Aku melihat Netta tidak memperdulikan omongan tante Candra, ia menanggapinya dengan santai, membuat ku lebih tenang, aku saja memikirkan perasaannya.
Setelah menaburkan bisa beracun nya pada kami, ia berjalan ke dapur dan makan, masakan yang di protes tadi ia makan dengan lahap, dan ia merasa tidak bersalah, Juna yang baru mengenal keluargaku tampak bingung melihat sifat tante, di tambah suara yang seperti toa di rumah kami kalau sedang bicara, belum juga bahasa yang tidak ia mengerti, karena Juna orang Manado.
Melihat keributan yang terjadi di rumah kami, ia memilih keluar mengajak putranya bermain, sementara aku duduk mengepal tangan di bawah kakiku yang terlipat, mendengar ejekan tante pada Netta aku merasa sangat marah.
“Sabar Mang ….,” ucap papi mengusap pundak ku.
“Kenapa manusia seperti tante masih ada di buka bumi ini,”ujar ku kesal.
“Sabar Mang … itulah, ada saja masalah yang akan kita hadapi,” bisik papi.
“Aku mau pulang sajalah ke rumah kami duluan, nanti Netta biar aku jemput lagi.”
Berdiri dan meninggalkan papi yang masih duduk, tadinya suasananya sangat tenang, saat tante datang situasi langsung berubah
“
Saat berjalan keluar, papi dan kakak Eva datang.
“Tidur di kamar saja Ito, dari pada kamu pulang, nanti eda siapa yang mengantar pulang.”
“Malas aku melihat tante itu.”
“Papi sudah bilang kamu harus tegar mendengar hal seperti Mang,” ujar papi.
Aku tahu, papi juga merasa kesal pada tante, tetapi ia menahan diri ia tidak mau ribut di depan hula-hulanya.
“Ito … kita sudah tahu kalau tante dari dulu memang seperti itu,” ujar Kak Eva.
Setelah dibujuk papi dan Kak EVa, aku memilih naik ke bekas kamarku dulu, kamar yang akan kami tempati kalau pulang ke rumah mami.
Aku memilih tidur di kamar, menunggu keluarga pulang dari rumah mami.
Masih duduk bersama keluarga, aku mendengar tulang mencari ku, tidak sopan memang meninggalkan tulang di sana, Aku memilih gabung lagi.
Sementara Netta pergi dari sana, melihat nenek lampir itu di situ aku takut tidak bisa mengendalikan diri.
Tante hanya sebentar ada di rumah mami, ia hanya ingin pamer pada semua keluarga kalau ia punya menantu dokter sama seperti Netta. Mungkin benar kata Kak Eva, kalau tante masih sakit hati pada Netta dan aku.
Saat menjelang sore keluarga akhirnya pulang, aku dan Netta juga pulang, dalam perjalanan pulang Netta hanya diam, mungkin ia capek saat di rumah mami.
“Diam aja Dek, capek?” tanyaku.
“Iya capek.”
“Tidur saja dulu, nanti kalau sudah sampai di rumah, aku bangunin,” ujar ku.
“Hmmm ….”
Netta menarik sandaran kursi dan merebahkan tubuhnya di jok,
Jalanan ibu kota akan selalu macet, apalagi kalau sudah hari minggu dan sabtu, suasana jadi hening dalam mobil karena Netta tidur menutupi selempang ke wajahnya.
Tetapi saat aku menoleh, aku menyadari kalau Netta tidaklah tidur, aku mendengar ia menghela napas berat.
‘Ada apa dengan Netta, apa yang di pikirkan?’ tanyaku dalam hati, tetapi aku memilih membiarkannya menyelesaikan konflik batin yang ia rasakan.
Setelah berjuang melewati macet, akhirnya sampai juga di rumah kami.
“Dek … bangun, kita sudah sampai.”
“Apa semuanya baik?” tanyaku menatap wajah Netta.
“Ya, baik Bang.”
“Tapi wajahmu berkata lain Ta.”
“Tidak apa-apa Bang, hanya mengantuk.”ujar Netta .
Aku tahu ia berbohong , aku berpikir kalau ia menyembunyikan sesuatu dalam hatinya, Netta memang sudah terbiasa menyimpan masalah dalam hatinya, ia bilang ia lebih nyaman seperti itu, ia akan meminta pendapatku , kalau ia merasa tidak mampu mengatasinya barulah ia akan bercerita padaku.
Ia berjalan mendahuluiku dan membuka kan pagar rumah kami, sikapnya masih acuh dan dingin, hati ini jadi bertanya- tanya, ada apa .
‘Apa aku salah bicara padanya tadi?’ aku bertanya dalam hati.
Karena di rumah mami sudah mandi tadi, Netta masih diam, dan bicara seperlunya padaku. Aku juga tidak mau memaksanya, Netta akan lebih memilih beres- beres dan berganti pakaian, tidak perlu mandi lagi karena kami sudah mandi tadi di rumah mami.
Sebelum tidur seperti biasa, di rumah kami ada peraturan, menggosok gigi, cuci kaki, ganti pakaian. Aku duduk santai di sofa menonton acara sepak bola dari dalam negeri. Netta berjalan duluan ke kamar mandi , saat aku menyusul ke kamar mandi, tidak sengaja aku mendengar Netta menangis.
“Apa dia selalu seperti itu, menyimpan sendiri masalahnya dan menangis sendirian?” gumam ku pelan.
Melihatnya menangis sedih seperti itu hatiku terasa jauh lebih sakit, apa lagi saat Netta memanggil almarhum bapak mertuaku di sela isakan tangisnya, aku merasa sesak di dada, mungkin tidak tertahan lagi, aku memilih mundur pura-pura tidak mendengarnya, aku akan bertanya jika situasinya sudah tenang.
Saat ingin tidur, ia tidur membelakangi ku, Netta tidak biasanya seperti itu.
“Apa aku punya salah Dek?”
“Gak Bang.”
“Kalau tidak ada lalu kenapa kamu memunggungi ku?” Tanyaku.
“Aku hanya mengantuk.”
“Dek … kamu yang bilang kita harus jujur satu sama lain kan? Kalau kamu bersikap seperti itu abang tidak akan bisa tidur.”
Ia membalikkan tubuhnya, aku kaget ternyata ia menangis matanya sampai bengkak.
“Dek …? Kenapa?”Aku duduk.
“Bang … aku bukan robot, aku juga bisa sedih marah, kenapa Bou Candra bicara seperti itu, kenapa yang keluarga yang harus bicara seperti itu,” ujarnya.
“Oh … Dek maaf, karena aku kamu jadi seperti ini.” Aku menarik tubuhnya membawanya ke dadaku dan membiarkannya menangis, ada saatnya ia merasa rapuh seperti saat itu.
Bersambung ….
KAKAK JANGAN LUPA KASIH KOMENTAR DAN PENDAPAT KALIAN DI SETIAP BAB DAN JANGAN LUPA JUGA.
Bantu share ya Kakak.
Fb Pribadi: Betaria sona Nainggolan
FB Menulis; Nata
Ig. Sonat.ha
LIKE, VOTE DAN KASIH HADIAH
Baca juga karyaku yang lain
-Aresya(TERBARU)
-The Cured King(TERBARU)
-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)
-Menikah dengan Brondong (Tamat)
-Menjadi tawanan bos Mafia (ongoing)
Bintang kecil untuk Faila (tamat)