Pariban Jadi Rokkap

Pariban Jadi Rokkap
Menangis sebelum tidur


Setelah mami meninggalkan tante, Arnita, sama Kak Eva juga memilih pergi, sebenarnya lebih baik menjauh dari orang pembawa virus kebencian  seperti tante Candra.


“Harusnya kakak itu mendoakan Netta, bukan  malah tertawa. Ingat Kak Netta itu anak abang kita.”


“Aku  tidak menghina, aku hanya mengatakan apa  yang aku rasakan,” ujar tante.


Aku ingin memarahi tante, tapi papi melarang ku.


“Jangan  biarkan pikiran jahat merusak ketenangan mu,” bisik papi.


Kalau saja saat itu Netta sedih atau   tersinggung, aku pasti akan bertindak, tidak perduli ia tanteku ataupun  orang lain.


Aku melihat Netta tidak memperdulikan omongan tante Candra, ia menanggapinya dengan  santai, membuat ku lebih tenang, aku saja memikirkan perasaannya.


Setelah menaburkan  bisa beracun nya pada kami, ia berjalan ke dapur dan makan, masakan  yang di protes tadi ia makan dengan lahap, dan ia merasa tidak bersalah, Juna yang baru mengenal keluargaku tampak bingung  melihat sifat tante, di tambah suara yang seperti toa di rumah kami kalau sedang bicara, belum juga bahasa yang tidak ia mengerti, karena Juna orang Manado.


Melihat keributan yang terjadi di rumah kami, ia memilih keluar mengajak putranya bermain, sementara aku duduk mengepal tangan di bawah kakiku yang terlipat, mendengar ejekan tante pada Netta aku merasa sangat marah.


“Sabar  Mang ….,” ucap papi mengusap pundak ku.


“Kenapa  manusia  seperti tante masih ada di buka bumi ini,”ujar ku kesal.


“Sabar Mang … itulah, ada saja masalah yang akan kita hadapi,” bisik papi.


“Aku mau pulang sajalah ke rumah kami duluan, nanti Netta biar aku jemput lagi.”


Berdiri dan meninggalkan  papi yang masih duduk, tadinya suasananya sangat  tenang, saat tante datang situasi langsung berubah



Saat berjalan  keluar, papi dan kakak Eva datang.


“Tidur di kamar saja Ito, dari pada kamu pulang, nanti eda siapa yang mengantar pulang.”


“Malas aku melihat tante itu.”


“Papi sudah bilang kamu harus tegar mendengar hal seperti Mang,” ujar papi.


Aku tahu, papi juga merasa kesal pada tante, tetapi ia menahan diri ia tidak mau ribut di depan hula-hulanya.


“Ito … kita sudah tahu kalau tante dari dulu memang seperti itu,” ujar Kak Eva.


Setelah dibujuk papi dan Kak EVa, aku memilih naik ke  bekas kamarku dulu, kamar yang akan kami tempati  kalau pulang ke rumah mami.


Aku memilih tidur di kamar, menunggu keluarga pulang dari rumah mami.


 Masih duduk bersama keluarga, aku  mendengar tulang mencari ku, tidak sopan memang meninggalkan  tulang di sana, Aku memilih gabung lagi.


Sementara Netta pergi dari sana, melihat nenek lampir itu di situ aku takut  tidak bisa mengendalikan diri.


Tante hanya sebentar ada di rumah mami, ia hanya  ingin pamer  pada semua keluarga kalau ia punya menantu dokter sama seperti Netta. Mungkin benar kata Kak Eva, kalau tante masih  sakit hati pada Netta dan aku.


Saat menjelang sore keluarga akhirnya pulang, aku dan Netta juga pulang, dalam perjalanan pulang  Netta hanya diam, mungkin ia capek saat di rumah  mami.


“Diam aja Dek, capek?” tanyaku.


“Iya capek.”


“Tidur saja dulu, nanti kalau sudah sampai di rumah, aku bangunin,” ujar ku.


“Hmmm ….”


Netta menarik sandaran kursi dan merebahkan tubuhnya di jok,


Jalanan ibu kota akan selalu macet, apalagi kalau sudah hari minggu dan sabtu, suasana jadi hening dalam mobil karena  Netta tidur menutupi selempang ke wajahnya.


Tetapi saat aku menoleh, aku menyadari kalau Netta tidaklah tidur, aku mendengar  ia menghela napas berat.


‘Ada apa dengan Netta, apa  yang di pikirkan?’ tanyaku dalam hati, tetapi aku memilih membiarkannya  menyelesaikan konflik batin yang ia rasakan.


Setelah berjuang melewati macet, akhirnya sampai juga di rumah kami.


“Dek … bangun, kita sudah sampai.”


“Apa semuanya baik?” tanyaku menatap wajah Netta.


“Ya, baik Bang.”


“Tapi wajahmu berkata lain Ta.”


“Tidak apa-apa Bang, hanya mengantuk.”ujar Netta .


Aku tahu ia berbohong , aku berpikir kalau ia menyembunyikan sesuatu dalam hatinya, Netta memang sudah terbiasa menyimpan masalah dalam hatinya, ia  bilang ia lebih nyaman seperti itu,  ia akan meminta pendapatku , kalau ia merasa tidak  mampu mengatasinya barulah ia akan bercerita padaku.


Ia berjalan  mendahuluiku dan membuka kan pagar rumah kami, sikapnya masih acuh dan dingin, hati ini jadi bertanya- tanya, ada apa .


‘Apa aku salah bicara padanya tadi?’ aku bertanya dalam  hati.


Karena di rumah mami sudah mandi tadi, Netta masih diam, dan bicara seperlunya padaku. Aku juga tidak mau memaksanya, Netta akan lebih memilih  beres- beres dan berganti pakaian, tidak perlu mandi lagi  karena kami sudah mandi tadi di rumah mami.


Sebelum tidur seperti biasa, di rumah kami ada peraturan, menggosok gigi, cuci kaki, ganti pakaian.  Aku  duduk santai di sofa menonton acara sepak bola dari dalam negeri. Netta berjalan  duluan ke kamar mandi , saat aku menyusul   ke kamar mandi, tidak sengaja aku mendengar Netta menangis.


“Apa dia selalu seperti itu, menyimpan sendiri masalahnya dan menangis sendirian?” gumam ku pelan.


Melihatnya menangis sedih seperti itu hatiku terasa  jauh lebih sakit, apa lagi saat Netta memanggil almarhum  bapak mertuaku di sela isakan tangisnya, aku merasa sesak di dada, mungkin tidak tertahan lagi, aku  memilih mundur pura-pura tidak mendengarnya, aku  akan  bertanya jika situasinya sudah tenang.


Saat ingin tidur, ia tidur membelakangi ku, Netta tidak biasanya seperti itu.


“Apa aku punya salah Dek?”


“Gak Bang.”


“Kalau tidak ada lalu kenapa kamu memunggungi ku?” Tanyaku.


“Aku hanya mengantuk.”


“Dek … kamu yang  bilang kita harus jujur satu sama lain kan? Kalau kamu bersikap seperti itu abang tidak akan bisa tidur.”


Ia membalikkan tubuhnya, aku kaget ternyata ia menangis matanya sampai bengkak.


“Dek …? Kenapa?”Aku duduk.


“Bang … aku bukan robot, aku juga bisa sedih marah, kenapa Bou Candra bicara seperti itu, kenapa yang keluarga yang harus bicara seperti itu,” ujarnya.


“Oh … Dek  maaf,  karena aku  kamu jadi seperti ini.” Aku menarik tubuhnya membawanya ke dadaku dan membiarkannya menangis, ada saatnya ia merasa rapuh seperti saat itu.


Bersambung ….


KAKAK  JANGAN LUPA KASIH KOMENTAR DAN PENDAPAT KALIAN DI SETIAP BAB DAN JANGAN LUPA JUGA.


Bantu share ya Kakak.


Fb Pribadi: Betaria sona Nainggolan


FB Menulis; Nata


Ig. Sonat.ha


LIKE,  VOTE DAN KASIH  HADIAH


Baca juga  karyaku yang lain


-Aresya(TERBARU)


-The Cured King(TERBARU)


-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)


-Menikah dengan Brondong (Tamat)


-Menjadi tawanan bos  Mafia (ongoing)


Bintang kecil untuk Faila (tamat)