
Langit menyapa dengan senyuman penuh harapan baru dan angin berbisik menyampaikan salam.
‘Selamat pagi’
Suara Mobil yang mulai saling berteriak bersahutan membangunkan dari tidurku yang tidak nyenyak itu. Aku menggerakkan badanku dengan malas, ini pertama kalinya aku tidur dikamar tanpa Netta.
Aku memutuskan pulang ke rumah kemarin sore setelah mendapatkan perawatan tiga hari di rumah sakit, aku merasa lebih baik mendapat perawatan di rumah saja, karena bau rumah sakit membuat kepalaku pusing dan bertambah sakit.
Satu malam ini tidak sedikitpun aku bisa memejamkan mataku.
Bayangan Netta masih mengisi ruangan ingatanku, bayangannya masih mengisi ruang hatiku, seolah ia masih di kamar itu.
Satu setengah tahun hidup satu kama tentu sudah meninggalkan kenangan dalam hatiku .
Malam itu seakan jiwaku menunggunya, sampai jam sebelas malam aku sengaja belum tidur, berharap ia datang, membayangkan ia datang dan menyapaku, memberi senyum kecil dengan wajah lelah,
masuk ke kamar mandi, aku akan memulai obrolan, banyak menanyakan, ini itu sampai akhirnya tidur, ia tidur di kasur lipat di lantai, dan aku tidur di ranjang empuk milikku.
Ah menyebalkan, mengingat itu kembali aku mendumal kesal.
Saat ini arti kehilangan itu baru sangat berasa saat ia pergi,
Jika selama ini kesabarannya tak cukup menyadarkan ku. Tapi kali ini, kehilangannya akan menyadarkan ku.
Masih dalam posisi rebahan di ranjang, Mami mengetuk kamar, membawa nampan berisi obat dan serapan.
Mami terlihat bingung, ia seperti ingin mengatakan sesuatu tapi ragu.
“Ada apa Mi?,”
tanyaku, penasaran.
“Tan, Papi tidak meneleponku sejak ia pergi, ia sangat marah, bisa gak, kamu telepon Papi?”
Mami menatapku.
“Aku sudah mencoba melakukannya Mi, tapi Papi sepertinya marah padaku juga, tidak mau mengangkat telepon dariku juga.”
“Terus… Bagaimana dong Tan,” kata Mami terlihat memelas.
Saat Mami seperti itu, disitu aku merasa bingung, seperti melihat diriku, kenapa saat Papi ada, Mami tidak menghargainya sebagai suami, dan lebih galak’kan Mami dari pada suaminya,
tapi saat Papi pergi, ia seperti orang ketakutan seperti itu,
“Tunggu saja Mi, nanti juga menelepon,” ucapku sekenanya, karena aku dan Mami itu sama sebenarnya posisinya.
Di tinggal pergi baru sadar, “
Aku mau mandi dulu Mi, ada urusan sebentar,” kataku tidak ingin membahas apapun dengan Mami, aku merasa Mami itu tidak perduli dengan masalahku dengan Netta.
Padahal aku berharap , Papi pergi dari rumah dan keadaan jadi berubah, aku berharap Mami menyesal, setidaknya ia ada niat untuk memperbaiki hubungan rumah tangga kami dengan Netta.
Tapi tidak, dugaan ku salah, sejak Netta pergi beberapa hari lalu, ia tidak pernah mengungkit masalahku dengan Netta, dan tidak pernah menyinggung tentang Netta juga.
Apa Netta seburuk itu di mata Mami, padahal itu anak dari abangnya sendiri, apa rasa kasih itu sudah hilang?
Terus terang, aku kehilangan empati dari wanita yang melahirkan ku saat itu.
Biasanya orang tua, kalau sudah hubungan anaknya sudah renggang, mereka akan bertindak sebagai penengah untuk keduanya, jadi pengayom untuk anak-anaknya.
Tapi kali ini Mami sepertinya bersikap bodoh amat, ia lebih mementingkan uang dan uang saja.
Saat ini malah sibuk mengurus acara jalan-jalannya ingin ke Korea dengan teman-teman arisannya.
Belakangan aku mendapat kabar, Mami menemui Mikha lagi.
Ada apa?
Mami keluar dari kamarku, aku buru-buru menghabiskan serapan yang di bawa dan menelan obatnya sampai habis.
Aku ingin sembuh, aku harus bertindak benar kali ini, aku bertekad.
Walau badan masih kurang fit, tapi aku harus melakukannya hari ini juga, sepertinya kalau bukan aku yang bertindak, Mami tidak akan melakukan apa-apa.
Selesai mandi dan sudah siap untuk pergi, Berdiri di pantulan kaca, melihat Nathan yang sudah mapan dalam umur, berdiri di pantulan kaca, ingin rasanya aku memaki diri sendiri.
aku pikir, aku belum kuat menyetir sendiri, meminjam sebentar supir mami untuk mengantarku ke suatu tempat.
“Kamu, mau kemana Tan, kan belum sembuh,” Mami mengoceh lagi.
“Ini tentang hidup mati ku Mi, aku harus pergi,” meninggalkan Mami yang masih sibuk mengoceh.
“Ayo bang.” Panggil pak Boy, menghentikan mobilnya.
“Jangan pulang malam-malam lagi Tan, kamu masih sakit.”
Mami terlihat cantik hari ini, sepertinya ia mau pergi bertemu dengan teman-teman sosialitanya.
“Iya Mi,” jawabku
tidak bertanya Mami mau pergi kemana, biasanya aku selalu bertanya.
Mami mau kemana dan bertanya pulang jam berapa, mau di jemput apa tidak.
Tapi kali ini, aku tidak melakukannya, Mamiku terlihat berbeda belakangan ini, ia banyak menghabiskan waktu bersenang-senang di luar, dan hobby belanjanya sangat meningkat.
Mesin mobil Porsche cayman mewah milikku menderu halus meninggalkan rumah Mami, menyusuri jalanan Ibu kota.
Aku tahu saat ini jalanan pasti macet dan butuh usaha keras untuk melewatinya, karena saat ini masih jam pagi, masih banyak orang yang ingin berangkat untuk kerja ataupun ke kantor.
“Kita kemana bang, Nathan?”
“Hotel Lanox pak.”
Tidak butuh penjelasan panjang lebar, lelaki paruh baya itu sudah langsung tau kemana arah tempatnya.
Hotel mewah yang bertempat di Jakarta Timur.
Hingga sampai di plataran lobby Hotel.
“Aku menunggu, apa saya tinggal bang Nathan?” Ia bertanya lagi.
“Tunggu saja Pak, saya tidak lama.”
“Baik bang.”
Aku melihat layar di ponselku memastikan alamat yang aku tuju benar adanya.
“Saya Ingin bertemu dengan Mikha mba,” kataku di meja resepsionis.
“Sudah ada Janji pak,” tanya wanita berparas cantik ,dengan tatan rambut indah dan gigi berbehel, terlihat rapi dengan balutan seragam Hotel, ia tersenyum ramah.
“Sudah.”
Wanita cantik itu menelepon Mikha.
“Silahkan pak.”
Seorang pekerja Hotel, membawaku kelantai tiga, kamar bernomor 304.
“Silahkan Pak,” ucapnya ramah meninggalkanku, tidak lupa juga memberinya sedikit uang tips.
Tok,Tok
Tidak sampai ketukan ketiga, Mikha mendonggokkan kepalanya keluar.
“Mari masuk bang, kemana saja, aku merindukanmu,” ucapnya manja saat aku baru masuk kedalam kamar Hotelnya, ia melingkarkan tangan di pinggangku, menadahkan kepalanya di dadaku.
“Mikha sudah… mari kita bicara.”
“Aku rindu kamu Beb, kenapa tidak pernah menghubungiku, kenapa marah padaku.”
Ia terus mengeluarkan uneg-unegnya, tidak menghiraukan penolakan yang aku berikan.
“Mikha, sudah hentikan, aku tidak punya waktu banyak, kita harus bicara, agar semuanya selesai.”
Kataku Menolaknya.
“Beb, kamu tau gak, aku tidak bisa tidur, badanku jadi kurus, kepalaku sakit terus, aku tidak bisa tidur-“
“Mikha dengar.
Aku datang kesini bukan untuk mendengar curhatan mu.” Kataku menjauhkan tubuhnya.
“Dengar
kapan kamu menemui Netta? Apa yang kamu katakan pada Mami? dan untuk apa kamu menemui Netta saat itu?” Aku bertanya dengan nada tegas.
Ia terkaget menatapku dengan mata membulat.
BERSAMBUNG