Pariban Jadi Rokkap

Pariban Jadi Rokkap
Tinggal bersama di Bali


Setelah beberapa hari di Bali, dari rumah sakit tempat Netta bekerja menelepon, mereka menawarkan Netta untuk bertugas selama beberapa bulan di rumah sakit  cabang Bali.



Sore menjelang malam di Pantai Kutai Bali, aku dan Netta duduk di saung di tepi pantai, tempatnya tidak jauh dari Villa yang kami tempati. Netta menutup kepalanya dengan selendang.


"Dingin?"


"Ya, lumayan dingin tapi masih ingin di sini," ujarnya masih enggan untuk berdiri.


"Baiklah aku akan duduk menemani mu di sini," ujarku masih duduk manis di sampingnya.


"Apa kamu senang tinggal di sini?"


Netta menatap wajahku sekilas, ia ingin memastikan pertanyaan ku serius apa tidak, ia menghela napas berat.


"Aku cengeng ya Bang?"


"Kagak .... kamu wanita kuat yang pernah aku temui"


Ia tertawa tipis tetap matanya di penuhi air mata.


"Tetapi tiba-tiba aku dari tadi malam sangat merindukan bapak"


"Itu biasa Dek"


"Merindukan orang yang sudah tiada di dunia ini, rasanya menyesakkan dada Bang"


"Nanti bulan dua belas, saat lae Rudi menikah kita akan pulang dan Ziarah dan sekalian di situ kita minta makan ikan mas, ke lae Saut sebagai ganti Tulang, Bagaimana mana?"


“ Baiklah, tapi Bagaimana ya Bang, aku terima apa, tidak, tawaran untuk bertugas di sini?"


“Terserah, kamu Dek”


“Sebenarnya, jujur untuk saat ini aku tidak ingin  kembali ke sana. Tapi bagaimana kantor Abang”


“Aku tidak apa-apa, aku bisa  kerja dari sini”


Kami  mengabari mami tentang rencana Netta akan bertugas di rumah sakit cabang Bali.


Mami langsung merepet panjang lebar, mami memang tidak suka kamu jauh dari mereka.


“Ini hanya beberapa bulan saja Mi”


“Kenapa harus ke sana, di sini banyak rumah sakit”


“Mi, Netta tidak bisa asal keluar begitu saja dia kerja, terikat kontrak, kalau melanggar kerja bisa pidana”


“Aku sudah bilang waktu itu tidak usah kalian  jalan-jalan ke sana ujung-ujungnya malah tinggal di sana”


“Mi ini bukan keinginan Netta ini permintaan rumah sakit, Netta hanya mengikuti peraturan saja”


Papi dan mami sebenarnya tidak setuju, tetapi sebagai suami Netta aku  berhak memutuskan Netta  bekerja di mana, setelah mengabari mami aku menutup teleponnya.


“Bagaimana?” Tanya Netta.


“Seperti biasa mami  menolak ada banyak alasan, salah satunya soal rumah yang akan kita tinggali.


“Lalu bagaimana Bang, bagaimana  kalau aku saja yang bertugas di sini abang tetap di Jakarta”


“Apa?” Auto panik duluan. “Tega kamu,” ujar ku kesal.


Saat Netta bilang   kami harus bagi tugas tentu saja aku tidak setuju demi alasan apapun.


“Lalu bagaimana? Kita harus tinggal di mana?”


“Kamu suka gak Villa ini”


“Suka, suka bangat malah”


“Baiklah ini saja kita beli”


“Abang bilang orangnya tidak mau jual”


“Dia harus jual kerena ini sudah mendesak”


**


Netta akhirnya bertugas di Bali selama beberapa bulan, dr Dilla yang memintanya melakukan itu, ia dan kakak almarhum Aldo, untuk sementara  waktu meniggalkan rumah sakit untuk melupakan rasa sedih di hati mereka.


Sementara aku  tidak mau meninggalkan Netta bertugas sendirian di Bali, bukannya tidak percaya padanya, cuman, aku tidak akan membiarkannya kesepian sendirian.


Awal kepergian Aldo wajah Netta masih terlihat kehilangan, hanya ia tidak menunjukkan padaku, ia menghargai perasaan suaminya, itu yang aku salut sama Netta ia tidak Cengeng .



Beberapa minggu kemudian  Villa yang kami tempati berhasil aku beli walau dengan harga  tinggi, tetapi yang terpenting kami punya tempat yang nyaman selama Netta bertugas di Bali. Aku terpaksa  berkantor dari rumah dan terkadang bolak balik Jakarta- Bali.


Tetapi semua rasa lelah itu  bisa terobati setelah Netta kembali seperti sedia kala, ia kembali tersenyum manis.


Bukan hanya itu, saat Candra tahu Netta tugas di Bali mereka datang .


“Kejutan” Tivani mengangetkan Netta.


“Eh … pengantin baru datang.” Netta memeluk Tivani


“Ada lagi kejutan untukmu Dek …”


Membawa nilon ke depannya, Netta senang sekali, ia seperti kedatangan keluarga yang sangat ia rindukan.


“Milon … apa kamu sehat, apa kamu teratur makannya, eh tapi kamu kok berat.” Netta menggendong si milon.


“Papi yang rawat beberapa minggu ini, Dek jangan khawatir”


“Ya benar, dia sangat bersih dan gemuk, kalau amang boru yang rawatmah aku percaya. Asal jangan mama mertua”


“Kenapa?” Tanya Tivani tertawa melihat ekspresi Netta.


“Mama mertuaku setiap kali doggy makan di omelin mulu, bukan hanya manusia yang tertekan batin, bahkan binatang pun stres di dekatnya,” ujar Netta.


Setelah makan malam mengajak Candra duduk di balkon, sementara Netta asyik menonton drama korea.


“Bagaimana, aman nyonya besar?” Tanyaku.


“Aman bagaimana, Bang. Rumah bagai neraka untukku”


“Kenapa?”


“Awalnya aku ingin memberi mama pelajaran, tetapi saat di rumah aku tidak tahan melihat sikap mama, aku kasihan sama  Bapak, selama bapak sakit tidak pernah diurusin, sekarang mama itu punya gaya hidup baru, arisan sosialita”


“Hebat donk”


“Hebat apa? mama hanya  ingin pamer pada teman-temannya kalau menantu dan besannya kaya”


“Lalu Tivani bilang apa?’


“Dia jarang di rumah, dia banyak menghabiskan waktunya tidur di hotel timbang di rumah


“Lalu kamu ikut?


“Aku bagai terombang -ambing di antara mama dan Tivani, jadi sebenarnya rencana kami datang ke sini, kami ingin tinggal di sini”


“Wow … itu yang aku maksud Candra, kamu pisah dengan orang tua biar bebas”


“Melihat sikap mama  tidak perduli sama bapak seperti itu, ingin rasanya aku marah,  beruntung si Lasria mengurus bapa dengan baik, tetapi aku kasihan dia sering bolos kuliah untuk membawa bapak kontrol, mama selalu  banyak alasan. Aku ingin membawa Bapak tinggal sama kami


"Lalu bagaimana Tivani, apa dia setuju?"


"Justru dia yang mengusulkan Bang, dia punya rumah di Bali, jadi dia buka praktek di rumah dan aku akan bekerja di tempat Netta bekerja"


“Sudah, kerja keras aja bikin anak, mana tau setelah punya cucu tante berubah baik seperti mami”


“Itu juga alasanku pergi dari rumah”


“Kenapa, Tivani tidak mau punya anak?”


Wajah Candra langsung berubah, aku tahu kalau pertanyaan ku tidak.


“Dia, tidak punya anak Bang”


“HAAA Kenapa?”


“Dia mengakui semuanya padaku, dia bilang di tidak bisa hamil, mendengar itu seketika duniaku seakan-akan runtuh”


“Tetapi alasannya apa?”


“Dia bilang dia tidak bisa punya anak, dia bilang saat kuliah dia melakukan kesalahan, menyebabkan rahimnya rusak, "ujar Candra dengan wajah mendung.


“Kalau tante tahu, dia akan  sangat marah," ucapku.


“Bukan hanya  marah Bang, mama akan menggila, aku di rumah saja dia sudah meminta cucu, karena itu juga aku setuju pindak ke sini. Aku malas berdebat dengan mama”


“Nasip kita sepertinya sama Can”


“Beda Bang,  Netta dinyatakan dokter tidak bermasalah, dia sehat, tetapi Tivani ... rahimnya lemah dan tidak bisa hamil "


Aku kaget mendengarnya, bagaimana jika tante tahu hal itu, hal itu akan masalah besar nantinya. Tetapi aku percaya setiap masalah ada jalan keluarnya.


Aku senang karena Candra dan Tivani tinggal di Bali bersama kami.


Bersambung


.


. Bantu like dan Vote, share. Kasih hadiah💐 Kakak, agar Karya ini viwers naik dan author bertambah semangat up ceritanya sampai tamat 😊


Terimakasi