Pariban Jadi Rokkap

Pariban Jadi Rokkap
Meminta jatah suami


“Abang, jangan Ucapan kan janji yang tidak bisa kamu tepati nantinya.


Tapi jadilah lelaki yang melakukan banyak hal, tanpa harus berucap, melakukan pekerjaan yang baik dan perilaku yang baik juga.”


Aku terdiam kata-kata itu menyindirku, aku tau tidak mudah menggapai hatinya, walau dengan rayuan gombal sekalipun.


Tapi aku akan membuktikan pada Netta dengan caraku, kalau aku tulus mulai hari ini, kalau aku layak untuk di maafkan, karena aku manusia biasa yang bisa melakukan kesalahan,


yang terpenting ada niat untuk memperbaiki kesalahan.


Saat Netta menyindirku dengan kata-katanya aku terdiam,


seakan lidahku keluh untuk bicara.


Ia juga diam suasana jadi hening, hanya suara sendok saling bersentuhan dengan piring.


“Bang, aku bukan wanita yang jahat dan munafik”


kata Netta setelah kami selesai makan, “Tapi, aku juga punya hati yang bisa sakit bila di sakiti,


cinta dan tubuhku berharga untukku, aku akan melakukan kewajiban ku sebagai istri jika abang tidak memiliki wanita lain di hati abang lagi, karena aku tidak suka di duakan.


Saat inipun aku mau melakukannya kalau abang Nathan sudah bilang yakin, kalau wanita itu tidak akan mengusik rumah tangga kita lagi, aku bersedia.


Aku memberikan abang waktu minggu ini, jika abang sudah yakin tidak ada nama wanita lain di hatimu, ayo kita lakukan.


Tapi… kalau wanita itu datang mengusik kita lagi, tidak akan mudah memaafkan,” kata Netta.


Kata-kata tidak mudah memaafkan dari Netta terdengar menakutkan untukku.


“ Karena hubungan kita abang sudah buat janji.”


“Aku sudah bilang Ta, aku sudah berusaha melepaskannya.”


“Tapi usahanya berhasil gak ?”


Ia menatapku dengan curiga.


“Terserah kamulah Ta, bilang saja kamu menolak karena ada Aldo ‘kan,” kataku malah membahas yang lain


terdengar seperti anak kecil yang cemburu, aku menyadari sikapku yang tiba-tiba seperti anak ABG yang baru pacaran.


“Lah, kok jadi bahas Aldo?”


Netta memutar bola matanya.


“Iya, aku tahu lelaki itu menyukaimu Ta, sekarang jujur!


kamu juga menyukainya kan?”


“Abang ini mau memperbaiki masalah atau mau menambah masalah sih?,”


tanya Netta terlihat sangat tenang membuatku yang merasa malu.


“Tentu saja aku ingin memperbaiki masalah, tapi aku juga harus tahu, kalau kamu tidak punya hubungan dengan lelaki lain,


jika kamu sudah tahu segalanya tentang aku , aku juga ingin tau tentang kamu!”


“Menyukai dan menjalin hubungan beda, kan?”


“Aku tahu beda, kamu mau bilang Aldo itu hanya menyukaimu’kan, tidak menjalin hubungan, sedangkan aku menjalin hubungan yang salah, iya kan?”


“Iya.”


“Bukanya dari menyukai dulu baru Menjalaninya, tapi hubungan semua orang juga begitu, baik yang selingkuh juga karena ia menyukai lelaki lain, baru menjalin hubungan?”


“Menyukai itu ada dua macam bang, mencintai dengan tulus dan mencintai karena ada maunya, atau ada keinginan lain.”


“Terus Aldo di pihak yang mana?


Kamu mau bilang yang tulus?”


“Tentu, karena aku tidak punya apa-apa, ia sudah lama menyukaiku sejak kami sekolah kelas satu SMA, tapi aku menghiraukannya karena aku tahu diri.


Ia dari keluarga kaya raya, bahkan terpandang di Kampung.


Sedangkan aku tidak ada apa-apanya,” kata Netta.


“Saat ini juga seperti itu, aku tahu ia masih sering melihat, tapi aku punya prinsip, karena pernikahan yang di berkati dengan sakral, aku akan tetap setia, selagi aku masih istrimu, aku akan tetap menjalani hubungan ini dengan benar,


saya harap abang bisa menyimpulkan kata-kataku.”


Aku merasa kerdil jika bicara dan berdebat dengan Netta, ia wanita yang pintar, yang mampu berdebat dengan siapapun, kalau ia merasa benar.


Tapi itu juga yang membuatku tidak terima, tidak akan ku biarkan seorang wanita lebih hebat dari aku.


“Aku tidak ingin membahas kemana-mana Ta. Jika kamu tidak menolak ku dan tidak memberikan hak ku,” kataku terdengar memaksa .


Jika abang sudah yakin dengan ucapan abang, aku siap,” katanya menantang ku.


“ Tapi buktikan padaku kalau abang Nathan tidak punya hubungan apa-apa dengan wanita itu.


Ingat perjanjian yang abang buat saat kita mau menikah, tidak akan memaksaku dan tidak akan menutut apa-apapun dariku,” kata Netta.


“Sekarang aku tanya, kamu ingin gak pernikahan kita ini berlanjut?”


“Tentu.”


“Terus hubungan yang seperti apa?


Apa kamu ingin hubungan suami istri yang kaku dan cuek satu sama lain,


Aku tidak mau seperti itu Netta, aku ingin rumah tangga yang saling terbuka.


Aku sudah bilang Ta, aku mengaku salah telah melakukan kesalahan, tapi aku sudah memperbaikinya.


Saat ini yang jadi masalahnya antara kamu dan aku,” kataku terdengar sangat egois memang, saat aku menuntut hal itu dari Netta.


“Kita tidak ada masalah apa-apa bang Nathan,


percaya deh, aku selalu siap jadi istrimu,” kata Netta ia bergegas membereskan piring-piring di atas meja.


“Jangan kebiasaan kabur Ta, kalau aku lagi bicara, itu salah satu sifat melawan pada suami,


”kataku bernada Tegas.


Padahal Netta hanya membereskan piring di atas meja, aku tidak terima saat Netta selalu membuatku kalah setiap kali membahas sesuatu hal dengannya.


Aku merasa rendah, ketika seorang anak kecil seperti Netta jauh lebih pintar dariku.


Maka aku menggunakan kewenangan ku sebagi suami, aku menekannya.


Ia menghentikan aktifitasnya, ia menatapku dengan tatapan mata yang tidak bisa aku pahami, dan tidak bisa baca.


“Kamu duduk disini, mulai sekarang dan nanti, kamu harus dengarkan aku,” kataku marah.


Ia menurut dan duduk di sofa di sampingku.


“Apa harus marah, iya?”


“Iya” kataku tegas.


Netta terdiam.


Lagi-lagi ia menatapku dengan tatapan bingung, karena baru kali ini aku, terlihat marah padanya.


Sebenarnya aku melakukan itu membuktikan pada Netta, bahwa akulah suaminya, tiba-tiba ingatanku tertuju tadi siang, saat kami di Kampus Netta.


Aku baru ingat saat itu Aldo meneleponnya, tadi juga seperti itu, saat Netta mandi, aku melihat lelaki ‘longor’ itu mengirim pesan lagi pada Netta.


Aku tidak bisa membukanya, karena Netta menguncinya pakai kata sandi.


“Berikan ponselmu!” pintaku dengan wajah di buat setegas mungkin.


“Haa,,,,


untuk apa?”


“Untuk melihat siapa saja yang menelepon mu dan mengirim mu pesan.” Kataku.


“Kok jadi melebar kemana-mana?”


“Kamu tahu, selama ini aku membiarkanmu sendiri karena aku merasa kamu bukan milikku, tapi saat ini, aku sudah katakan kamu milikku, tidak ada lelaki lain, tidak ada Aldo satu dan Aldo dua di ponselmu lagi, baik Aldo tiga baik seterusnya,” kataku menahan amarah.


“Ia mungkin menghubungiku, karena ingin menanyakan tugas Bang, kami ada tugas kelompok, mungkin ia ingin membahas hal itu.”


Ia terlihat takut melihat kemarahan ku, aku bukan ingin menakutinya,


tapi aku merasa panas hati, saat Aldo lelaki yang menyukainya, menelepon dan mengirimnya pesan.


Sebagai suami, aku cemburu, karena Netta istriku, ia milikku.


Aku semakin kesal saat ia menolak ku juga.


Netta memberikan Ponselnya dengan berat Hati, saat aku membuka pesannya, benar bahasannya tidak jauh dari mata kuliah mereka.


Aku terdiam,


terus kalau terus begini, usahaku untuk mencetak anak, akan gagal terus.


Bersambung....