Pariban Jadi Rokkap

Pariban Jadi Rokkap
Wisata ke Tugu Op Situmorang


Setelah selesai masalah dan  kesalahpahaman, aku berpikir  sudah punya waktu berdua dengan Netta. Lega rasanya setelah semuanya terungkap, kepercayaan diriku kembali pulih.


Saat malam tiba aku bicara  sama Netta.


“Bagaimana kalau besok kita liburan Ta?”


“Liburan kemana?”


“Di sini, di Pulau Samosir, kata kamu banyak tempat wisata."


“Memang banyak Bang, abang saja yang ga mau melestarikannya.”


“Maksudnya?”


“Abang  itu kalau liburan itu ke Paris, Amerika, Bali, Lombok, Raja ampat …. Padahal  ke Danau Toba gak pernah,” ujar Netta.


“Eh … itu kan dulu Ta, jangan di ungkit-ungkit lagi lah. Lagian aku sudah hapus kok sosial mediaku yang lama,” ujar ku merasa tidak enak.


Jujur, dulu memang aku selalu liburannya sama si mantan selalu ke luar negeri ke Bali, Lombok, jarang ke Danau Toba, pernah ke Danau Toba liburan, itupun saat masih kecil, saat kami pulang ke kampung oppung.


Dari ketiga anak mami, aku orang yang jarang mau ikut pulang ke kampung. Makanya saat kami di jodohkan dengan Netta dulu, aku tidak mengingat wajah Netta, terakhir kami  bertemu saat itu dia ... masih anak-anak, makanya saat perjodohan itu aku hanya melihat foto yang di berikan mami


“Bang! Kok melamun …. Bagaimana besok jadi gak?” Tanya Netta.


“Jadi.”


Baru juga mengobrol berdua di samping rumah samanya, ia sudah di panggil lagi, selama di kampung, tidak ada waktu  berdua dengannya.


Aku berpikir untuk  liburan  besok sebelum pulang, menginap dulu kami di hotel satu malam, malam itu, aku  sudah menyusun rencana untuk kami berdua.


Dolok Martahan, Pukuk 07:00


Aku masih meringkuk diatas tikar dibalut selimut tebal,  tiduran kali ini sudah lebih nyaman, karena tante Candra tidak ribut lagi.


“Bang … Kita jadi pergi gak?” Netta membangunkan ku.


“Kemana?”


“Katanya mau jalan- jalan.”


Oh … mendengar kata jalan-jalan aku langsung bangun dengan cepat, berganti pakaian dan keluar.


Tetapi .... saat keluar dari rumah, ternyata pasukan bodrek sudah berbaris dengan rapih berpakaian bagus.


‘Astaga … gagal lagi berduaan sama istriku’ ucap ku membatin.


“Bang, gak papa- papa kan  mereka ikut?”


“Gak papa sih."


'Nanti mereka bisalah main handphone atau suruh bermain jauh’ ucapku mencoba memaklumi.


Tapi saat  aku duduk tiba-tiba ibu mertuaku juga berpakaian  na testes.


(Berpakaian na testes> baju cantik)


‘Amang Tahe.... ! Ibu Mertuaku juga ikut, baiklah belum waktunya’ lemas rasanya.


(Amang Tahe > Iya ampun)


“Bang … tidak keberatan kan kalau mama ikut, aku yang membujuknya ikut, tidak pernah dia liburan Bang, hari-hari mama itu selama bertahun-tahun hanya di rumah mengurus oppung,” ujar Netta, wajahnya memelas.


Seketika hatiku tersentuh, egois rasanya kalau aku hanya memikirkan diri sendiri, Netta anak yang sangat berbakti pada keluarga, dia tidak  mementingkan dirinya sendiri, mungkin dalam hati Netta, ada juga ingin berduaan bersamaku, secara sudah bertahun-tahun tidak bersama. Tetapi kebahagiaan orang tuanya dan adik - adiknya, tetap juga ia pikirkan.


“Baiklah Ta, kita pergi sama-sama biar rame,” ujar ku, aku juga ikut merasa kasihan sama ibu mertuaku, gagal kami honeymoon, tetapi mungkin lain waktu.


Pagi itu kami beres-beres dan siap untuk berangkat.


“Ta … ambil jaket ku dong aku gantung di pintu!” seruku dari halaman.


“Ya Bang.” Netta menuju rumah.


Tiba-tiba oppung yang duduk di halaman  menegurku.


“Jangan kamu panggil pakai nama istrimu, harus Nai Paima, Mama Paima,” ujarnya memberiku nasihat.


“Oh … iya oppung," sahutku sopan.


Jadi, di kampung Netta itu, kalau sudah menikah tidak boleh panggil nama pada pasangannya, apalagi kalau menikah sudah  bertahun-tahun seperti kami.


Harus di panggil mama Paima atau Nai paima, panggil Dek atau Bang juga bisa,  kalau belum punya anak, asal jangan panggil nama.


( Paima itu artinya Menunggu atau Harapan)


Acara jalan-jalan kita berlanjut.


Hanya tante Ros yang ikut dan mertuaku dan tiga empat laeku.


Perjalan pertama Netta mengajakku ke tugu Situmorang yang ada di Palipi Urat, di sanalah tunggu Oppu Situmorang si Pitu Ama berada, jadi sebaiknya kalian yang marga  Situmorang harus harus tahu dan  mampir ke  sana.



Tugu Situmorang di Urut Palipi.


Saat kami berdiri mengawasi tiba- tiba datang  seorang  Bapak.


“Bah horas.” Menyodorkan tangan.


“ Horas Amang! Br Nainggolan,” ujar Netta menyambut tangannya.


“Au … Sitohang,” ujarnya lagi.


“Situmorang Tulang,” ujar ku menyalam tangannya.


“Tulang Immu do …? Si Tohang do au”


(Pamannya kamu bilang … aku marga di Tohang)


“Bukan tulang Bang …. bapa uda,” bisik Netta menyenggol lenganku.


“Ai boha do Baen …. Batak Dalle do ho …! Dang dibotoho  si Tumorang si Pitu Ama?”


“Bagaimana laki-laki ini …. Batak tidak tahu adat ….! Kamu tidak tahu Situmorang Tujuh Bapak?” Ujar marah.


Jujur. Aku memang tidak tahu nunut di paradaton atau silsilah adat.


Untung tante Ros dan mertuaku menghampiri Bapa uda  itu, mereka berdua menjelaskannya.


“Kenapa dia marah bangat  Dek?” tanyaku bingung.


“Wajar dia marah Bang,  si Tohang kamu panggil tulang.“


“Kan, bukan marga Situmorang?” Tanyaku bingung.


“Si Tohang itu Situmorang si 7 Ama bang, abang tahu gak si 7 ama itu siapa saja? Abang Tau gak Abang itu Situmorang Apa? "Tanya Netta.


“Gak tau."


"Ya ampun Bang, harus tau. Abang Itu Situmorang Lumban Nahor."


"Baiklah Dek, aku akan hapal nanti, lalu kenapa dibilang  7 Bapak, Ta?” Tanyaku lagi lebih penasaran.


“Panjang sejarahnya Bang, kalau aku jelaskan nanti panjang banget tarombonya .... Intinya begini;


Oppu Tuan Situmorang menikah dengan boru Limbong


dan memiliki dua anak yakni; Ompu Panopa Raja dan Ompu Pangaribuan dan cucu dari kedua anaknya, memiliki tujuh anak cicit dari kedua anaknya inilah diangkat jadi anak kembali di jadikan Op Situmorang jadi anaknya kembali karena cicit dalam adat Batak anak mangulahi,” kata Netta.


Karena aku di omelin sama bapa uda itu, Netta terpaksa menjelaskan sejarah tentang Situmorang si 7 Ama.


Pesanku, jika kita orang Batak pelajarilah tentang adat Batak agar tidak disebutkan Batak dalle atau Batak tidak punya adat, setidaknya dari marga kita sendiri.


Bersambung ….


KAKAK  JANGAN LUPA KASIH KOMENTAR DAN PENDAPAT KALIAN DI SETIAP BAB DAN JANGAN LUPA JUGA.


Bantu share ya Kakak.


Fb Pribadi: Betaria sona Nainggolan


FB Menulis; Nata


Ig. Sonat.ha


LIKE,  VOTE DAN KASIH  HADIAH


Baca juga  karyaku yang lain


-Aresya(TERBARU)


-The Cured King(TERBARU)


-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)


-Menikah dengan Brondong (Tamat)


-Menjadi tawanan bos  Mafia (ongoing)


Bintang kecil untuk Faila (tamat)