
Mendengar penjelasan Netta semua menarik napas lega, beruntung dalam rombongan keluarga kami ada Netta yang mengerti banyak tentang kesehatan.
Pesawat yang akan kami tumpangi terlambat empat puluh menit, ibu mertua punya waktu untuk istirahat sebelum terbang kembali ke Jakarta.
Kami pulang dengan kedua tulangku, Tulang kembar dan tulang Gres yang di bekasi dan Tante Ros.
Sementara mami dan papi ikut juga bergabung pulang bersama kami, beberapa hari ini mereka bertiga di Belawan di rumah oppung, karena oppung dari papi rumahnya di Belawan.
Sedikit cerita tentang keluarga papi, oppung doliku seorang Sittua atau pemuka gereja, oppung doli dan oppung boru masih hidup dua-duanya, papi tiga orang bersaudara papi anak pertama dan bapak Brayen anak kedua sementara namboru adik papi yang paling kecil ikut suaminya di London dan menetap di sana.
Keluarga Situmorang, keluarga dari papi tidak ada yang seperti keluarga mami, oppung doliku selalu mengajak anak-anaknya untuk saling menghormati dan saling membantu, namboruku sangat hormat sama papi karena itonya.
Sembari menunggu pesawat datang, aku mengajak semua keluarga untuk makan, semua orang mau tetapI Netta masih duduk di samping ibu mertua yang masih lemas.
“Kamu gak makan Dek?”tanyaku pada Netta.
“Ga usah Bang, tidak tega aku meninggalkan mama,” ujar Netta.
Aku tidak ingin Netta lapar aku memesan makanan ke tempat Netta duduk, menemaninya makan.
*
Sebelum naik pesawat Netta juga memeriksa mami , untuk pertama kalinya Netta mengobrol agak lama sama Mami setelah kejadian beberapa tahun lalu. Selama di kampung mami memang di jaga ketat sama papi, agar tidak mengobrol sama Netta, takutnya saat mengobrol sama Netta ia merasa bersalah dan jatuh sakit. Itulah alasan papi selalu melarang mami mengobrol dengan Netta.
Netta juga inginnya seperti itu, setelah memeriksa mami aku duduk di samping Netta.
“Dek … apa kamu tidak marah lagi sama mami?”
Ia menoleh ke arahku dengan tatapan yang mendominasi antara jawab masih dan tidak, wajar kalau ia jawab masih . Karena apa dulu yang di lakukan mami padanya hal yang sangat menyakitkan.
Mami dulu yang meminta kami untuk menikah, tetapi karena takut kehilangan hartanya ia rela memperlakukan Netta dengan buruk. Mami mau dihasut Mikha. Netta menarik napas panjang sebelum menjawab.
“Sebenarnya rasa sakit itu masih ada Bang”
“Lalu?” Tanyaku penasaran.
“Memaafkan …. memaafkan orang yang bersalah pada kita, akan membuat hidup kita lebih tenang dan damai”
“Tidak semua orang bisa seperti itu Ta,” ujar ku pelan.
“Memang gak semua bang, tetapi tidak semua orang juga seberuntung aku”
“Beruntung seperti apa?” Tanyaku lagi.
“Beruntung karena menikah dengan pariban yang baik seperti abang Jonathan,” ujar Netta, ucapannya terlihat tulus bukannya bercanda atau pura-pura.
“Aku jahat loh sama kamu aku berengsek,” ujarku
“Menurutku kamu tidak jahat Bang, melakukan kesalahan di masa lalu memang pernah, tapi di balik itu abang itu lelaki yang sangat baik,” ujar Netta.
Aku sangat terharu, aku pikir Netta tadinya mengatakan hal yang lain padaku setelah masalah yang kami alami, kata-kata Netta kali ini membuat hati adem menambah kepercayaan diri.
“Apa sebenarnya kamu sudah tahu tentang apa yang aku alami selama ini? Sebenarnya aku ingin bertanya ini padamu selama kita di kampung, tapi aku tidak punya keberanian untuk mengingat saat-saat suram itu.”
Aku menatapnya penuh harap.
“Amang boru meneleponku, apa abang tahu …? apapun yang terjadi padamu amang boru selalu memberitahuku”
“Bagaimana cara papi menelepon kamu kalau ponsel kamu tidak ada?”
“Dia datang ke pihak kampus dari kampus meneleponku”
“Pantas”
“Maafkan semua kelakuanku ya Dek, maafkan Arnita juga, maafkan mami juga. Apa kamu sudah tahu tentang Arnita?”
“Amang boru sudah memberitahukannya, aku juga yang melarang amang boru tidak menceritakan secara rinci perbuatan namboru pada mama sama Ito Saut. Sudahlah Bang, lupakan semua masa lalu mari kita hidup lebih baik”
“Baiklah Dek, aku berjanji akan jadi suami yang baik untukmu,” ucapku berjanji.
Netta mengangguk, tadinya aku sangat khawatir saat di kampung sikap diam Netta pada mami masih menyimpan dendam, akhirnya ia memberitahukan kalau selama ini Netta dan papi selalu komunikasi.
Tidak lama kemudian pesawat yang akan kami naiki sudah tiba, semua keluarga sudah bersiap, melihat ibu mertuaku yang masih lemas.
Aku meminta kursi roda ke bagian petugas bandara
Lae Rudi mendorong kursi ibu mertua naik ke pesawat, aku mengendong adik Netta yang paling kecil, tulang menggendong adiknya yang kedua lagi. Kita duduk dengan tenang menunggu si burung besi itu take of.
“Bang masih ingat yang waktu aku pertama kali naik pesawat sama kau?”
“Ingatlah, tidak pernah lupa, setiap kali aku naik pesawat kejadian saat itu pasti akan terlintas di pikiranku”
“Aku sangat memalukan ya Bang,” ucapnya sembari tertawa.
“Tapi … bagaimana Inang ya Dek, apa mereka akan muntah nanti?”
“Harusnya tidak lagi ya Bang, soalnya aku sudah memberi mama suntikan anti mabuk,” ujar Netta.
Perkiraan Netta benar, saat pesawat terbang tidak ada yang muntah seperti Netta dulu, adik Netta malah terlihat sangat antusias melirik kaca pesawat.
“Oh … diginjang di awan hita do Bang!”
(Oh … kita diatas awan Bang) seru di Parningotan.
Tidak lama kemudian Pramugari mendorong roda makanan.
Saat tiba di pesawat tidak ada yang mengeluh sakit lagi,karena di sungguh kan makanan yang enak sama pramugari cantik, bahkan perjalanan Silangit –Jakarta terlalu cepat menurut mereka, karena dimanjakan kenyamanan pesawatnya, bahkan adiknya Netta yang tadinya mabuk darat matanya tiba-tiba jadi terjaga.
“Sudah makanlah sepuasnya,” ujarku menawarkan.
Tetapi yang terjadi …. Jiwa membungkus pun akhirnya keluar, dasar inang-inang, saat di berikan yang gratis, nantulang dan tante Ros langsung mengeluarkan Plastik,
Tapi tawa gembira, bercanda, terlihat akur itu yang terjadi saat kami pulang, aku akan selalu mengingat hari-hari indah ini, sampai nanti.
Netta yang duduk di samping mamanya sesekali ikut tertawa dan matanya selalu was-was melihat adik-adiknya.
Setelah mendapat izin mendarat, akhirnya kami tiba dengan selamat di Bandara Soekarna Hatta Tanggerang. Delapan dan satu mobil box barang untuk mengangkut barang-barang kami, delapan mobil siap membawa kami pulang ke rumah, sengaja mobilnya di banyakin agar tidak sempit-sempitan seperti tadi pagi.
Selamat datang di Jakarta kembali Netta gumam ku, dalam hati, melihat sekilas pada Netta, ia sibuk membantu Ibu mertua masuk kedalam mobil. Awal yang baru akan mulai bersama Netta, berharap yang terbaik untuk rumah tangga kami.
Bersambung ….
Jangan lupa like dan vote iya kakak bantu share juga karya ini agar semakin dikenal banyak orang.
Bantu promosikan kakak I akun Facebook kakak semua boleh tag akun FB juga jika kalian promosi.
FB Pribadi: Betaria sonata Nainggolan.
FB Menulis: Sonata
IG. Sonat.ha
Terimakasih banyak kakak semua.