Pariban Jadi Rokkap

Pariban Jadi Rokkap
Saat Keluarga Jadi Penghancur Hidupku


Kini keributan terjadi di rumah kami karena tante Candra kembali datang ke rumah membawa anak anaknya.


Perasaanku mulai tidak tenang lagi saat nama Netta mulai di bahas, saat aku tiba tante terlihat terkejut melihatku.


“Tante sudah dong jangan dibahas lagi, keluarga ini sudah terlalu banyak masalah, kalau kelakuanku yang kemarin menyuruh paksa tante pulang, aku meminta maaf,” kata kak Eva tidak mau ribut apa lagi melihatku datang.


Aku memilih duduk di samping Papi, beliau terlihat duduk diam membiarkan tante Candra mengoceh sendiri.


Candra dan adik yang bernama Feno memilih diam, kalau saja mereka ikut bicara, akan beda cerita aku tidak peduli sepupu atau tidak, akan aku hajar.


Tapi mereka hanya diam tidak melarang dan juga membela Mamanya.


“Iya aku sakit hati, aku marah, aku ini orang tua.


Aku tante mu tapi kamu malah memperlakukan tante seperti itu, aku marah!” ucap tante.


“Kami hanya ingin Mami tetap sehat, kami tidak tidak ingin Mami tamba sakit karena Tante marah-marah,” kata kak Eva terlihat lebih sabar mungkin ia tidak ingin ada keributan lagi dan ia juga berpikir tidak ingin menambah masalah.


“Baiklah, Aku mau bilang tujuan kedatanganku kesini, ini mengenai Netta,” ucap tante, ada kata Netta membuatku menoleh.


“Ada apa dengan Netta? ini tidak ada hubungannya dengan Netta, Tan,” kataku merasa jantung berdetak lebih cepat.


“Aku harap kalian jangan mengganggunya lagi,” kata Tante membuatku menatap dengan tajam.


“Apa maksud Tante!


Apa hak tante melarang-larang ku menghubungi istriku.”


“Kalian sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi’kan ?”


“Dia …. ! Masih istriku Tante, jadi, berhenti mengurusi rumah tanggaku!” Emosiku mulai naik sampai ke ubun-ubun.


“Kamu yang harus berhenti, Netta pergi itu artinya kamu dengannya tidak ada apa-apa lagi, kamu tidak pantas mendapat anak sebaik Netta,” kata Tante terlihat lantang.


“Apa maksud tante sih, tante tidak punya hak, untu memisahkan hubungan suami istri,” ucap kak Eva ikut membela.


“Aku berhak…!


kerena aku yang membayar uang kuliahnya Netta saat dia keluar Negeri ,” ucap tante membuatku tercengang.


Aku kaget, karena tante meyebut membayar uang kuliah Netta, aku terdiam.


Selama ia pergi keluar Negeri, aku tidak melakukan apa-apa untuknya.


“Apapun yang Tante lakukan untuk Netta itu bukan jadi satu alasan untuk bisa memisahkan mereka Tante.


Karena apa yang dipersatukan Tuhan tidak boleh dipisahkan manusia,” ujar Kak Eva.


“Aku berhak dong padanya, Mami mu pernah menyinggung untuk mengembalikan uang sinamot, walau itu menggelikan, tapi aku akan mengembalikannya,” kata Tante.


Mami hanya diam bila tentang Netta, ia merasa bersalah.


“Hubungan mereka baik-baik saja Kok Tan, Nathan sama Netta sering bicara lewat telepon.” Eva membela.


Tapi, aku seakan mati kutu dan kehabisan kata-kata sangat memalukan rasanya sebagai seorang suami,  tidak melakukan apa-apa untuk istrinya.


Saat Netta pergi keluar negeri, aku sudah gila, jadi belum bisa memberinya biaya kuliah.


Di sinilah kepercayaan diriku merosot dan wajahku terasa panas bagai dikuliti aku merasa malu.


“Enak sekali kalian’ karena sudah berhasil si Netta, baru kalian anggap menantu di rumah ini, saat dia susah, kalian perlakukan buruk bagai sebagai pembantu, tidak di hargai.


Sekarang kalian terima kan akibatnya, itu pelajaran dan karma buat kalian.”


“Karma, karma cukup Tan,” Eva meninggalkan ruangan itu dengan sikap marah.


“Dia sudah berhasil sekarang, sebentar lagi dia mau jadi dokter, apa kalian masih punya muka bilang dia menantu di rumah ini?” tanya tante.


“Iya ma, sudahlah, Mak tua juga lagi sakit, kasihan Mamak tua ini, nanti makin sedih, Mama paksa kami berdua ikut ke sini, mau apanya sebenarnya? Kata Mama di pukuli sama bang Nathan ” Candra menatapku.


Mendengar itu kami sudah tahu kalau tante sudah mengada-ada sama keluarganya.


“Iya, aku di seret sama si Eva dari rumah ini dipaksa keluar,” kata tante.


“Tapi aku tidak pukul tante’kan?” tanya Eva.


“Tidak, kakak yang lempar aku pakai cangkir minum.”


“Iya itu urusan kalian kakak adik , kami anak bisa buat apa, tapi ketika Tante mulai mengungkit ini dan itu, demi kesehatan Mami, aku menyuruh Tante keluar.


Begini Tante,


tidak bisakah kita hidup akur layaknya saudara? Jika orang tua kami saling bertengkar, bagaimana nanti kami anak-anak kalian? mungkin tidak saling mengenal jika kalian seperti ini,” kata Eva.


Kakak  perempuanku  memang luar biasa pemikirannya, Kak Eva yang terlihat lebih dewasa dari tante Candra.


“Anak akan mencontoh apa yang di lakukan orang tuanya, walau kami semua sudah dewasa tapi tetap saja, terkadang apa yang dilihat akan tertanam di otak bawah sadar.


Harusnya sebagai orang tua harus berpikir matang matang dulu sebelum berbuat, apalagi di depan anak anaknya, sebab kalau saudara selamanya akan saling bertemu, apalagi di suku kita Batak.


Jadi aku berharap hubungan keluarga kami berjalan baik, aku berharap Tante berhenti menginginkan Nathan untuk berpisah dari Netta,” ujar Kak Eva dengan suara lembut.


“Baik, aku akan pulang, tapi jangan berharap dia jadi menantu di rumah ini lagi.”


Tante masih marah-marah tidak jelas, padahal  kita semua sudah berusaha menahan diri agar tidak tidak emosi.


“Netta tidak pantas lagi di rumah ini,” ucapnya lagi.


Tiba-tiba Eva datang lagi dari kamar, mendengar tante masih mengotot untuk aku berpisah, Eva marah, bahkan wajahnya memerah, matanya menatap tajam ke arah tante.


“Tante, kenapa sih memaksa orang untuk berpisah? lucu kalilah ku tengok Tante inilah! orang berpisah itu atas kemauan dan kesepakatan ke dua belah pihak,


ini, kenapa tante yang kepanasan aku tengok, ingin orang berpisah, kenapa tante yang repot, ada apa? apa benar tante menginginkan Netta jadi menantu juga?”


“Iya itu benar, memang kenapa? Orang hebat harus sama orang hebat juga, sebentar lagi Candra akan jadi seorang Dokter dan Netta juga dokter, mereka sama-sama, dokter,”ucap Tante Candra.


Kami semua terpolongo mendengar permintaan gila Tante.


‘Mana ada seorang Tante menginginkan istri anak kakaknya untuk jadi istri anaknya? Ini gila …’ ucapku dalam hati.


Bersambung ….


KAKAK  JANGAN LUPA KASIH KOMENTAR DAN PENDAPAT KALIAN DI SETIAP BAB DAN JANGAN LUPA JUGA


LIKE,  VOTE DAN KASIH  HADIAH


Bantu support dengan share ke Facebook ya kak🙏🙏🙏


Baca juga  karyaku yang lain


-Aresya(TERBARU)


-The Cured King(TERBARU)


-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)


-Menikah dengan Brondong (Tamat)


-Menjadi tawanan bos  Mafia (on going)


Bintang kecil untuk Faila (tamat)