Pariban Jadi Rokkap

Pariban Jadi Rokkap
Diam Saat Marah


Aku masih menyetir tetapi sepanjang perjalanan, Netta  menghukumku dengan sikapnya yang diam, satu jam sampai dua jam aku masih tahan, lama kelamaan aku merasa tersiksa, menyesal membuat marah, tetapi aku seperti itu karena cemburu.


'Ah ... sudahlah apa yang akan aku lakukan agar Netta tidak marah lagi?' Aku memikirkan cara untuk memulai obrolan.


“Aham … aham…” Aku pura-pura terbatu-batuk  mengharapkan perhatiannya Netta, berharap ia menawarkan air minum untukku, tetapi kalau sudah marah, apapun yang terjadi ia tidak akan cuek.


Aku menarik kuping si milon yang berada di jok belakang  menggunakan satu tangan, untuk menarik perhatian Netta, si milon meringis, tetapi Netta  hanya menoleh  dan kembali tenggelam dalam buku bacaannya.


Aku menyetel musik audio dalam mobil, dan sesekali ikut bernyanyi agar konsentrasi Netta buyar dari buku yang di pegang. Tetapi demi rambut gimbal mak lampir' Netta tidak perduli.


Aku melakukan semuanya untuk memancing perhatian Netta tetapi ia diam.


“Baiklah … aku salah,” ucapku saat mobil kami tiba di Jakarta.


“Ya, baiklah”


“Ta … ayolah, aku hanya cemburu, kamu harusnya tahu mana yang ceburu dan mana yang marah biasa”


“Ok, baiklah.” Netta tersenyum kecil, tetapi aku tahu , ia ash marah.


“Aku tidak ingin kita seperti ini ke rumah mami …. Hasian, aku minta maaf”


“Aku sudah bilang Bang, baiklah”


Aku menghela napas berat, tidak seharusnya aku bersikap cemburu tadi padanya.


“Baiklah, tetapi kamu idaka akan  marah kan?”


“Tidak”


Tidak lama , setelah beberapa jam berkendara, kami tiba di rumah mami tanpa mengabari mereka terlebih dulu.


“Eh, ito sama Eda datang?” Kak Eva  kaget.


Mami yang saat itu sedang merarawat tanamanya  berlari ke depan rumah.


“Kok … pulang gak bilang-bilang”


“Masa pulang ke rumah orang tua harus bilang-bilang,” ucapku ketus, mami sama papi saling melihat lalu menatap Netta.


“Roman-romannya lagi ada hujan  badai tadi di tengah jalan,” ujar Kak Eva bergurau.


Netta hanya tertawa kecil ia meminta Jeny dari gendongan kak Eva, ia masih berdiri di luar, mengobrol dengan kakak Eva sementara aku  menuju kamar dan merebahkan tubuhku di atas kasur, perjalanan terasa sangat jauh dan membosankan saat Netta mengacuhkanku sepanjang perjalanan.


Tidak lama kemudian suara ketukan pintu terdengar.


“Boleh papi masuk?”


“Ya Pi masuk saja”


“Apamasalah?”


“Tidak Pi, hanya lelah saja menyetir,” ucapku menutup pertengkaran konyol kami dengan Netta,  aku malu kalau sampai papi tahu aku bertengkar dengan Netta karena aku cemburu.


“Baiklah, kamu istirahat saja” Papi keluar.


Walau badan lelah ingin istiahat , tetapi mata enggan diajak tidur.


“Netta ngapain sih bukannya istirahat.” Aku  berdiri di depan jendela kamar, melihat Netta.


Ia sedang menelepon  seseorang dan terlihat sangat serius.


“Dia bicara dengan siapa di telepn, apa dia menelepon  temannya dar Jerman tadi” Melihat Netta  menelepon aku turun, aku penasaran dengan siapa da menelepon.


Aku buru-buru turun dari kamar.” Loh … katanya ingin istirahat Mang” Papi duduk di ruang tamu.


“Tidak bisa tidur Pi”


“Oh, ya sudah makan dulu”


“Ya Nanti” Melihat Jeny sedang  berjalan ke arah papi, aku mengendongnya menjadikan bayi gembul itu alasan untuk mendengar Netta meneleon sama siapa.


Aku membawanya  bermain di dekat Netta dan aku sengaja duduk di sampingnya, ternyata ia sedang bicara dengan Le Rudi.


‘Oh, syukurlah, aku kirain  bule keparat itu lagi yang menelepon Netta’


“Ito, pikkirhon denggan setiap keputusan na nibuatmu, apa lagi sahuta do hita dohot si Nelly, jaga omak dohot ito si Saut”


(Ito pikirkan baik-baik setiap keputusan yang kamu ambil, apa lagi kita satu kampung sama Nelly, jaga persaan mama sama abang Saut) ujar Netta, rupanya uda Rudi masih belum memberi keputusan, apa ia akan  mundur apa maju, karena waktu dan kondisi saat ini sangat sulit.


“Aku jadi pusing  jadinya To, aku belum dapat cuti”


“Aku boleh bicara?” Tanyaku sama Netta.


“Ini ito Rudi”


“Lae, aku sudah minta pak Beny untuk membantu Lae, nanti kalau lae di panggil bilang saja terus terang”


“Sebenarnya  aku tidak enak Lae, melibatkan Pak Beny”


“Tidak apa-apa ini juga kedaaan mendesak, jangan sungkan Lae, itomu juga sudah mengajukan cuti dan rencananya kita akan pulang  bersama ke kampung”


“Ito sudah Cuti?”


“Ya, kami sudah di Jakarta, bagaimana kalau pulang tugas lae mampir ke rumah mami”


“Oh, iya, kebetulan, aku hari ini pulang cepat”


Mendengar Netta sudah cuti, Lae Rudi  akhir sedikit merasa lega, apa lagi  tadi pagi aku minta tolong Beny untuk membatu Lae Rudi mengurus cuti.


“Nanti  lae langsung ke rumah mami saja lae , jangan ke rumah kami”


“Baik Lae”


Setelah menutup telerpon raut wajah Netta lansung berubah,ia menatapku dengan penasaran.


“Memangnya apa minta bantuan Pak Beny?”


“Ya”


“Tapi tidak enak Bang kalau kita minta tolong terus- terusan”


“Teru-terusan bagaimana … ? Baru juga beberapa kali Dek, kalau tidak darurat Abang juga tidak akan meminta tolong “


“Apa dia mau?”


“Maulah kalau aku yang minta,” ujarku sedikit berbangga diri.


"Baiklah suamiku memang yang terbaik dan ..."


"Jangan bilang lagi," potongku dengan cepat, aku tahu  Netta pasti bilang aku tukang cemburu.


"Baiklah" Netta tersenyum.


Setelah aku melakukan hal yang sangat besar akhirnya, Netta menunjukkan senyum manisnya kembali, beruntung tadi pagi Beny langsung mau membantuku, coba saja aku tidak  melakukannya mungkin Netta akan diam sampai kami pulang kampung. Segala perbuatan baik akan mendapat balasan yang baik pula.


Senang rasanya saat borneng tersenyum lagi, ia tidak marah  lagi padaku


*


Setelah kami datang ke Jakarta,  pas hari minggu semua keluarga mengumpul di rumah mami  berunding kembali untuk acara pernikahan Lae Rudi.


“Aku  berharap ini  rencana yang terakhir,” ujar mami.


“Mami jangan ngomong seperti itu, nanti Lae Rudi, makin gak enak nanti perasaannya,”ujarku menegur mami.


“Bukannya begitu Mang, kasihan juga mami melihat semua keluarga kita yang jadi repot”


“Itulah tujuan ada keluaga mi, saling membantu dan saling memberi dukungan,” ucapku lagi.


"Tau ni mami ... sudah tau situasinya seperti ini, malah bikin panas," kata kakak Eva.


"Baiklah mami tidak akan bicara lagi," ujar marah.


Kami akan berangkat ke kampung duluan sama Netta, aku berharap  semua berjalan sesuai rencana, berharap tidak berubah lagi, agar kedua keluarga pihak paranak dan Parboru biar sama-sama enak. Rencananya saat di kampung nanti kami juga akan meminta pasu-pasu atau berkat  sama tulang kami  bapak Netta, berharap semua doa dan harapan kami di kabulkan


Bersambung


KAKAK  JANGAN LUPA KASIH KOMENTAR DAN PENDAPAT KALIAN DI SETIAP BAB DAN JANGAN LUPA JUGA


LIKE,  VOTE DAN KASIH  HADIAH


Terimakasih untuk tips ya


Baca juga  karyaku yang lain


-Aresya(TERBARU)


-The Cured King(TERBARU)


-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)


-Menikah dengan Brondong (Tamat)


-Menjadi tawanan bos  Mafia (on going)


Bintang kecil untuk Faila (tamat