Pariban Jadi Rokkap

Pariban Jadi Rokkap
Lari dari rumah sakit


Puas menghancurkan semuanya dengan palu besar itu, aku kehilangan tenaga dan terduduk lemas dan tak sadarkan diri.


Ternyata perutku kosong, dari kemarin belum diisi apa-apa, saat bangun aku lagi-lagi berakhir di ranjang rumah sakit, aku pingsan setelah melakukan penghancuran besar-besaran di rumah Mami.


Barang-barang antik kesayangan Mami aku hancurkan, aku ingin tahu apa barang antik itu lebih berharga dari nyawa manusia?”


Aku ingin tahu apa Mami akan menyinggung barang yang aku hancurkan itu nantinya?


Tidak tahu berapa lama aku berbaring di tempat menyebalkan ini, tapi saat buka mata sudah di ranjang rumah sakit dengan infus menggantung di sampingku.


Setan!


kenapa selalu berakhir di tempat ini sih. Kenapa aku bolak-balik ke rumah sakit, memalukan sekali habis marah-marah langsung tumbang.


Entah apa yang dipikirkan keluargaku saat ini, tapi bodo amat, aku harus keluar dari rumah sakit.


Aku harus kabur dari rumah sakit ini.


Saat membuka mata, melihat kanan –kiri tidak ada yang menjagaku sepertinya, baguslah, ini kesempatanku untuk kabur, melihat selang infus masih melekat di tanganku, hanya satu tarikan dan keluar dari kamar perawatan.


Mengintip kanan-kiri aman, tidak ada orang saat mau ke pintu keluar.


Aku melihat kak Eva berdiri di meja administrasi, aku terpaksa lewat tangga, entah berapa jam aku terbaring di rumah sakit itu.


Tapi hari sudah mulai gelap, untungnya dompetku dan kunci mobil kak Eva di letakkan di atas nakas, jadi aku bisa leluasa untuk kabur.


Aku sempat kesulitan di buatnya karena aku tidak tahu mobil kak Eva parkir di mana, di lantai parkiran menekan tombol kunci mobil, tidak ada tanda-tanda mobil parkir di sana, hampir putus asa, tapi saat melihat ke halaman bawah, baru terlihat mobil Honda jazz berwarna merah milik kak Eva di parkir di halaman rumah sakit.


Lagian, rumah sakit lagi- rumah sakit lagi, memang tidak bisa merawat di rumah apa?


aku merengut kesal, saat turun ke halaman rumah sakit, di mana mobil kak Eva di parkir.


Aku terpaksa membawa mobil kak Eva, aku tahu ia akan marah nantinya, selain membawa kabur mobilnya, aku juga melarikan diri dari rumah sakit.


Melajukan mobilnya ke arah rumah kami di Depok, aku merogoh ponselku dari kantong mencari nomor Beny, kemarahan ku belum redah, sekalipun aku sudah pingsan.


“Halo Bro, gue butuh bantuan lagi ini"


“Apa bro, katakan saja, mari ketemu kalau ada yang penting, kebetulan aku libur nie.”


ajak Beny.


“Ok, aku putar balik tunggu aku di sana."


Biasa yang ingin mengajak ketemuan orang membutuhkan mengajak polisi bertemu, tapi pak polisi yang satu ini, dialah yang mengajakku bertemu, itu dia enaknya punya sahabat polisi.


“Eh!? ada apa dengan pakaian itu, bro?” tanya Beny menatapku.


“Jangan tanya, aku melarikan diri dari rumah sakit.”


Beny tertawa lepas karena pakaian rumah sakit masih melekat di tubuh ku, di balik jaket yang aku gunakan.


“ Biasanya tahanan yang kabur dari penjara, lah… lu kenapa jadi kabur dari rumah sakit?


Katakan, bantuan apa yang kamu inginkan dariku lagi?”


“Aku ingin kamu menjebloskan lelaki itu ke penjara.”


“Lelaki yang mana?”


“Juna, lu bilang waktu itu lagi mengawasi lelaki itu, bagaimana gak ada kabar lagi?”


Ia licin bagai belut, kami sudah beberapa kali mengawasinya, tapi sebanyak itu juga ia kabur dan saat ini kami kehilangan jejak.”


“Aku ingin lu menangkapnya bro, gue tunjuk in markasnya,”


kataku bicara bersemangat.


“Ada apa?


sepertinya lu marah bangat kali ini?” tanya Beny ia masih melihatku penuh peyelidikan.


“Aku hampir mau gila ini ,Bro.”


“Ada,apa, ada apa?”


“Mikha dan adik gue mukulin Netta, satu hal lagi gue ingin wanita gila itu masuk penjara.”


Mata Beny menatapku dengan tatapan tidak percaya.


“Tidak, itu bukan anak gue, ia yang mengaku-ngaku."


“Bagaimana adik lu, kalau Mikha di tangkap adik lu pasti akan kena juga?”


“Adik gue sudah diungsikan keluargaku pastinya, tadi siang gue juga habis beri pelajaran, jadi tinggal MIkha yang belum dapat, aku ingin ia mendapat balasan juga.


“Ok malam ini kita bergerak.”


Aku benar-benar marah, sebelum aku menemui Netta, aku ingin mereka semua mendapat pelajaran yang setimpal.


Aku tahu siang itu Juna yang mengantar Mikha dan Arnita masuk Ke rumah kami. Ia menunggu di mobil, dan kedua wanita barbar itu yang masuk ke rumah kami untuk memukuli Netta.


Dasar Arnita gadis bodoh, mau saja di pengaruhi otaknya sama Mikha.


“Ok, aku pulang dulu, aku ganti pakaian, nanti malam aku ikut, aku harus melihat sendiri kalau Juna di tangkap.”


“Ok siap, tapi yakin bro lu gak sakit lagi, kan?”


“Gue itu sakit bohongan.”


Beny tertawa, karena ku bilang hanya sakit bohongan.


“Sakit bohongan, tapi masuk rumah sakit.”


kata Beny.


Meninggalkan Beny dan aku pulang ke rumah untuk berganti baju, aku harus ikut sendiri, aku ingin lihat dengan mataku kalau Juna di tangkap.


Ia juga harus mendapat pelajaran karena ikut menyakiti Netta.


Kembali lagi rumah tidak menemukan Netta membuatku merasa sedih, rumah kami juga tidak tahu lagi bentuknya seperti apa, barang-barang masih berserakan di mana- mana, belum di bereskan.


Berganti baju dan menemui Beny, aku terpaksa menyuruh orang mengantar mobil kak Eva, kalau mobilnya tidak di kembalikan, wanita itu akan mengamuk nanti,


mungkin juga mobil yang aku larikan akan di bawa untuk kerja, jadi kalau tidak di kembalikan sekarang akan ada masalah baru,


jadi, dari pada masalah semakin bertambah, aku menyuruh orang mengembalikan mobil kak Eva, karena kunci mobilku tidak tahu terbang kemana. Aku akan ikut mobil polisi malam ini. Kak Eva menelepon.


Kringg ....!


“Halo kak, mobil kakak sudah aku suruh orang mengembalikannya,”


aku langsung melapor sebelum wanita itu mengutarakan kemarahannya.


“Kamu dimana,


Kenapa pergi dari rumah sakit ga bilang-bilang? sudah dong Tan jangan mencari Arnita lagi, Mami sudah menyembunyikannya,”


kata kak Eva.


Aku diam, aku tidak ada niat untuk mencari Arnita lagi, bagiku kemarahan ku tadi siang sudah cukup untuknya, aku sudah memberinya balasan padanya ,menggamparnya, menyeret, menggunting rambutnya, terlihat sangat kejam tapi, ia pantas mendapat apa yang ia perbuat pada Netta.


Kini ia di sembunyikan keluargaku, takut aku mengamuk lagi padanya.


“Aku di rumah, jangan khawatir sudah baikan sekarang.”


“Tapi kamu aka”-


“Sudah aku tutup teleponnya, aku baik-baik saja.”


“Tan! Jonathan jangan tutup dulu, aku mau bilang, aku akan mendukungmu, tapi jangan melakukan hal-hal yang nekat lagi, jangan mencari Arnita lagi, tolong maafkan ia.”


Suara kak Eva memohon.


Saat aku menggunting rambut Arnita dan berteriak marah menghancurkan rumah Mami kak Eva terlihat ketakutan, ini pertama kalinya aku marah seperti itu, aku marah seperti kesurupan.


Itu luapan kemarahan yang selama ini aku pendam, karena Mami dan Arnita selalu menyalahkan ku, karena lebih memilih Netta.


“Tidak lagi kak, tenang saja"


“Benar iya Tan.”


“Iya!”


bentak ku, mematikan ponsel, para wanita ini.


Bersambung....