
“Baiklah dari tadi kita belum mendengar penjelasan Netta, biarkan dulu Boru ini yang menjelaskan semuanya,”
kata Tulang, akhirnya tiba waktu Netta membuat tamparan, aku ingin melihat reaksi Mami, kalau yang rusak itu bukan Netta, yang tidak berguna itu adalah anaknya sendiri.
“Terimakasih bapa uda, tapi sebelumnya aku dan Bang Nathan minta maaf karena adanya masalah ini, aku dan bang Nathan saling mencintai Bou, Boulah yang memilihku jadi menantu di rumah ini-“
“Sudah, kamu jangan ungkit lagi, itu satu kesalahan yang saya lakukan, saya menyesal melakukan itu,”
potong Mami membuat tulangku sampai geleng kepala, karena Mami tidak menunjukkan rasa hormat di depan ito-itonya.
“Tapi dengarkan aku dulu Bou’ aku tidak bisa memberikan apa yang bou minta, bukan aku yang salah, tapi bang Nathan yang bermasalah, bang Nathan yang tidak bisa punya anak.”
Kata Netta.
Mata Mami langsung melotot tajam.
"Jangan menuduh sembarangan kamu,”
ucap Mami dengan suara bergetar.
“Aku diam selama ini kerena aku tidak ingin bang Nathan terluka dan merasa rendah, rencana kami tadinya ingin mengobati seiring berjalannya waktu.”
“Jangan menghina anak saya, kamu yang tidak berguna,”
kata Mami sampai ia berdiri menunjuk-nunjuk Netta.
“Mami diam, dengarkan dulu.”
Kata Papi menarik tangan Mami, semua terlihat menegang dan suasana hening, aku tahu mereka semua akan terkejut, ini belum seberapa tunggu Netta membuat Mami serangan jantung.
“Eda Eva juga tahu kasusnya, eda Eva tahu, Eda… kertas yang aku suruh di periksa, yang aku bilang sangat penting? itu punya abang Jonathan, saya meminta maaf jika aku berbohong, bilang punya teman, tadinya aku ingin menyembunyikan selamanya dan membiarkan tuduhan itu di tujukan untukku, tapi Namborulah yang memaksaku membongkar semuanya.” Kata Netta.
“Iya Tuhan, itu punya Jonathan?
Aku sudah memeriksanya,”
kata Kak Eva menutup mulutnya.
“Bou…! Bang Jonathan itu tidak bisa punya anak, jadi anak yang diakui wanita itu anak abang Jonathan, itu bukan anak bang Jonathan, itu anak hubungannya dengan pacarnya Juna teman Arnita, wanita yang menghasut Bou yang bilang kalau anak yang di kandungnya cucu bou. Ia bohong.”
“Bohong, kamu bohong! kamu pembohong, Jonathan katakan sesuatu.” Kata Mami ia terlihat panik seperti orang kesurupan.
“Itu benar Mami, sekarang Mami sudah puas?
Ia menghasut Mami, ia menipu Mami.
setiap kali aku mau menjelaskannya Mami tidak mau mendengar, sekarang ia sudah melarikan diri, sana kejarlah.” Kataku ikut marah“
Makanya jangan percaya sama orang lain mentang-mentang kaya dan banyak duit Mi, begini kan akibatnya”
ucapku kesal.
“Bou, aku diam selama ini walau bou hina, bou rendahkan, bahkan Mama di kampung juga sering bou hina, aku berpikir kalau itu hanya kemarahan sementara, kemarahan seorang ibu sama anaknya, karena aku menganggap bou itu ibuku, aku tidak punya siapa-siapa di Jakarta ini.
Tapi tidak disangka, kemarahan bou itu berkepanjangan, bahkan memaksaku untuk meninggalkan bang Jonathan, Aku hanya ingin kuliah bou, aku mencari uang kuliah sendiri, aku juga dapat beasiswa, jadi biaya kuliahku tidak menghabiskan uang bang Jonathan, aku tahu ini awal kemarahan Bou samaku, karena aku kuliah, tapi aku tidak pernah meninggalkan tugasku sebagai seorang istri, aku bekerja juga bou, aku jadi asisten Dosen, aku kerja di restauran, jadi tukang sapu, amang boru juga lihat aku kerja di sana, yang penting dapat tambahan, aku tidak menghabiskan uang Bou sedikit ,pun.
Bang Jonathan memberikan kartu untuk aku pakai, tapi aku tidak pernah menggunakannya bou.
Bou ingin kami berpisah aku terima Bou, aku menyerah, pemukulan yang di lakukan Bou dan Arnita padaku membuatku menyerah,
mungkin aku harus meminta Maaf buat Bapa ke kuburan nya, karena aku tidak bisa jadi wanita yang kuat seperti yang ia inginkan, karena ia selalu menasehatiku untuk menjadi wanita yang kuat.
Wajah Mami langsung pucat
“Iya ampun kata Mami terduduk lemas.”
“ Nungga puas ho? allang ma harta Mi, asa ibotoho, nungga dungo jala tangis beguni abang Berton mamereng on, dibaenko boruna songoni. (Mungkin sudah menangis almarhum bapak Netta dari kuburannya, kamu perlakukan borunya seperti itu)”
Kata tulang bekasi dengan marah.
“Selama ini aku selalu diam kamu bertindak kasar sama Netta, tapi kali ini aku benar-benar marah, makanlah hartamu, kamu tidak akan membawanya mati,
tapi ingatlah Orang yang selalu mengumpulkan harta duniawi dengan menyakiti orang lain, akan kehilangan lebih banyak dari yang kamu kumpulkan, aku sudah muak melihat kesombongan mu selama ini, karena kami miskin ito-itomu, tidak pernah kamu hargai,”
kata tulangku.
“Tega bangat sih kak memperlakukan Netta seburuk itu, menghina memukulinya hanya karena ia kuliah, padahal kerjanya dia, kalau aku tahu kakak berbuat kejam sama Netta seperti ini, aku tidak akan mendukung pernikahan mereka, aku juga tidak ikut menjemput ke kampung, mungkin aku juga meminta maaf ke kuburan Ito, bapak Netta,”
kata tanteku, salah satu tante yang menemani kami ke kampung saat pernikahan.
“Jaloonmu doi sogot, ingot ma hataki, dang ise si Netta on Ito..! tubu ni ibotom kandung doi, mudarmu doi, apala di pasirang ho halaki alani harta, Marjea do jolma na pasirangkon na ni pasada ni Tuhan, asa di botoho” (Kamu akan terima besok balasan yang dari apa yang kamu perbuat, ingatlah ucapanku, Netta bukan orang asing, ia masih ada hubungan darah denganmu, tapi kamu tega memisahkan mereka karena uang, ingatlah, Celakalah orang yang memisahkan hubungan yang dipersatukan Tuhan ,”
kata Tulang dengan kemarahan.
Mami benar-benar dapat hujatan dari semua saudara-saudaranya setelah mendengar pengakuan Netta.
Selama ini mereka tidak tahu kalau Mami selalu berbuat kasar sama Netta, tapi kali ini, semua terbongkar karena mendengar dari Netta, mereka semua tidak menduga Mami rela memisahkan rumah tangga anaknya, karena seseorang yang lebih kaya dari Netta.
“Cuiih, bursik antong, tu boruni ibotom di baenko songoni, boha molo tu boru ni halak, hu boan tu diriku, ala adong borukku dao-daoma songon ko( Cuiii amit-amit sama anak abangmu sendiri kamu bikin seperti itu, bagaimana sama anak orang lain. Aku langsung merasa karena aku punya anak perempuan, semoga anakku di jauhkan dari orang seperti mu,”
kata seorang nantulang yang sudah mulai agak tua dan terlihat sesepuh di kumpulan arisan itu,
Aku pastikan Mami tidak punya muka lagi dalam arisan ini, semua keluarga mencemoohnya.
Papi sampai mohon meminta ampun, karena tidak tahan mendengar sumpah serapah dari tulang dan semua yang datang.
“Minta ampunlah aku laeku hula-hulaku semua, karena aku gagal mendidik Parni jabu on,”
kata Papi menundukkan kepalanya dan menyatukan kedua telapak tangannya di dada, tanda memohon ampun
(Parni jabu: istri. Hula-hula: orang yang di hormati saudara laki-laki dari istri)
“Sekalian Bou amang boru… aku mau pamit”
Semua terdiam karena kepergian Netta belum ada yang tahu selain aku.
“Aku ingin Ke Jerman, aku dapat kesempatan terpilih pertukaran mahasiswa Kedokteran antara Indonesia-Jerman.
Hanya orang yang terpilih dan yang sudah di seleksi yang dapat kesempatan, jadi saya ingin pergi, saya minta maaf sama Bou dan bapa uda, tidak memberitahukan kalian sebelumnya, hanya abang Jonathan yang aku kasih tahu , doakan aku bapa uda, dan bou semua yang disini, saat aku kembali nanti ke Indonesia aku ingin menjadi seorang Dokter.”
Saat itulah aku tidak bisa menahan air mataku, Nettaku akhirnya akan pergi.
Bersambung....