
Hari ini, hari yang paling mengecewakan mungkin sama tante, wajahnya masih sangat terkejut saat Netta menjelaskan semuanya pada tante.
“Tapi, saat itu kamu memberikan surat, lalu itu surat apa? "
“Itu bukan surat cerai Bou, itu surat perjanjian.” Netta memberikan salinan surat yang bermaterai pada tante
“Apa ini? jadi selama ini kamu bohongi kami?”
“Aku tidak pernah bilang sama bou pisah, sama bapa uda juga aku sudah bilang, aku hanya kuliah. Iya, kan uda Gres? Bapa Uda juga beberapa kali meneleponku,” kata Netta.
Wajah Tante terlihat memerah, saat apa yang dipikirkannya semua salah, ia gagal menjodohkan Candra dengan Netta, ia terlihat kesal.
“Sudah banyak pengorbananku padamu Netta, apa ini balasanmu?” Ia mulai lagi.
“Aku tahu bou, aku berterimakasih untuk itu,” kata Netta tenang.
“Aku juga membantumu jadi dokter, Sekian Juta uangku aku habiskan untuk kamu agar bisa jadi dokter, tapi kamu menusukku dari belakang” ujar tante Candra.
Tatapan semua orang makin bingung melihat pernyataan Tante, sangat jelas sekali saat ia membantu Netta ada imbalan yang ia inginkan. Ada udang di balik bakwan, ia pikir Netta sudah berpisah denganku dan ingin menjodohkan Candra dengan Netta.
“Bou… aku dapat beasiswa makanya bisa keluar negeri, bou tahu sendiri kan, bagaimana mahalnya kuliah untuk dokternya. Karena amang boru bapak mertuakulah yang menjaminku, makanya aku berani kesana."
" Tapi aku kasih uang sama juga kan? "tanya tante lagi, niatnya ingin pamer pemberian pada Netta.
" Pertama kamu datang ke rumah Bou di Bogor bou kasih satu juta, besoknya bou kasih dua juta lagi, saat kamu berangkat ke Jerman bou kasih tiga juta, saat Edo menemui kamu, aku kasih lagi empat juta jadi totalnya sepuluh juta," ujarnya pamer.
"Aku sangat berterimakasih bou untuk bantuan kalian semua," ujar Netta.
"Bukan semua, hanya aku yang kasih, kan? si Ros tidak ada?"
"Bukan hanya kamu Kak, aku juga kasih uang buat pegangan Netta tapi aku tidak mau pamer, apa Kakak minta uang Kakak di kembalikan biar kami ganti?" ujar Tante Ros.
Wajah tante memerah setelah tahu bukan hanya ia yang kasih uang untuk Netta
“Aku tidak meminta balik Ros, Kamu jangan sombong! "
“Netta ....sebutkan saja Dek, siapa saja yang kasih uang sama kamu, biar gak dipikir kakak ini hanya dia yang kasih duit," ujar Tante Ros
Netta awalnya merasa tidak enak, saat diminta membaca rincian uang diberikan semu keluarga.
"Biar tidak ada kesalahpahaman lagi, katakanlah, Nang, asa bulus sude," ujar tulang Gres.
(Asa bulus sude>Biar transparan semua)
" Baiklah, pertama untuk bapak mertuaku, karena beliaulah aku bisa seperti saat ini, mungkin kalau aku hitung dari awal aku kuliah, uang amang boru sama sudah banyak, hingga aku pulang dan rencana akan Koas di Indonesia, semua karena bapak mertuaku. Kedua, tentu saja suamiku uang bang Nathan yang sudah aku habiskan untuk sekolah.
Ketiga bapa udah kembar memberiku juga dan bou Ros, Bapa uda Bekasi dan inang ngudu
Terimakasih bapa uda, inang nguda Tuhan akan aku membalas kebaikan kalian semua,” ucap Netta memeluknya dengan erat, tulang Bekasi juga memeluk Netta, semua terharu atas kebaikan tulang Bekasi dalam kekurangannya ia memberi, tanpa mengumbar ke sana kemari.
Tidak ada yang mengira kalau Tulang Bekasi ikut memberi uang untuk Netta, semua mata lagi-lagi tertuju pada tante Candra yang hanya kasih sepuluh juta saja, tapi pamernya minta ampun. Ia benar-benar merasa malu dan ia mempermalukan dirinya sendiri.
“Memalukan…,” umpat bapa uda, meninggalkan istrinya, ini namanya senjata makan tuan.
Jika kamu memberi dengan tangan kanan, tidak perlu tangan kirimu mengetahuinya.
Artinya lebih baik memberi atau memberi pertolongan pada orang lain, tanpa harus mengumbar pemberian kita, karena pemberian yang tulus, akan jadi berkat untuk diri sendiri.
Nasihat itu sering aku dengar dari orang tua jaman dulu, bahkan Papi sering memberi nasehat itu untuk kami, tapi sepertinya tidak untuk Tanteku.
‘Ini ibarat pepatah. Tong kosong, nyaring bunyinya’
Tulang Gres orang yang kekurangan, bisa memberi untuk Netta, tidak sesumbar seperti Tante.
Mendengar itu Tante diam, wajahnya terlihat pucat, ternyata hanya ia yang memberi paling sedikit, tetapi yang paling pamer.
“Jadi kakak sudah jelas kan? bukan hanya kakak yang kasih. Jadi, Jangan mengharapkan imbalan apa yang kakak kasih jika kakak menolong orang lain, biarlah kakak mendapat balasan dari Tuhan,” kata tante Ros memberi nasihat pada kakaknya.
Tante Candra mungkin kaget atau ia tidak menduga kalau ia akan malu hari ini itu, ia diam, kalau biasanya selalu menyolot dan selalu merasa paling benar, tapi, kali ini akhirnya ada remnya juga.
“Baiklah semua sudah sangat jelas’kan tidak ada kesalahpahaman, mudah-mudahan kedepannya keluarga kita bisa saling kompak,” ucap Tulang Gres tulus.
“Tunggu! aku juga ingin bicara sedikit,” kata Mami dengan suara pelan.
“Aku juga ingin meminta maaf terlebih dulu pada Eda mama Netta, karena aku bukan ibu yang baik dan juga ibu mertua yang baik, selama Netta jadi menantu di rumah kami ak-“
“Nungga, Nungga Eda akka naung salpu lokma salpu ma, petting tu joloanni ari ta pedenggan ma diritta laho manjaga gelleng ta dohot pahoppu ta. Nungga di ceritain amang be tu hami .”
(Sudah, sudah eda yang sudah lalu biarlah berlalu yang penting kedepannya mari kita saling introspeksi diri untuk lebih baik lagi untuk anak-anak dan cucu kita kelak, sudah di ceritakan ipar sama kami) kata Mertuaku, memotong ucapan Mami.
Aku juga sebenarnya ingin mengucapkan sepatah dua kata, ingin minta maaf juga, tapi tiba-tiba aku kehilangan keberanian, aku malu karena masa laluku yang yang salah.
“Jonathan! apa kamu tidak bilang apa-apa?”
Tiba-tiba papi memintaku untuk mengucapkan sepatah dua kata, awalnya sangat berat, tapi akan semakin merasa malu lagi kalau tidak melakukanya, Mau tidak mau harus melakukanya.
“Terimakasih untuk kesempatan ini, aku mengucapkan banyak terimakasih untuk semua keluarga yang ada di sini, aku tidak ingin banyak bicara, aku hanya ingin minta doanya dan bimbingannya untuk selalu mengarahkan kami dalam membina rumah tangga , mungkin semua keluarga sudah banyak yang tahu aku melakukan kesalahan dimasa lalu, meminta maaf pada Mami dan papi karena membuat kalian malu, membuat mami sakit, juga meminta maaf pada Netta, karena membuat malu rumah tangga kami, itu saja,” kataku grogi bahkan suaraku terdengar bergetar bukan hanya suara yang bergetar, bahkan dengkul itu bergetar.
Sebelum pulang ke Jakarta tulang Gres meminta kami mengutarakan akka na potjjot di roha, biar tuntas mumpung masih ngumpul.
(Na potjjot di roha>beban dalam hati)
Karena perut sudah kenyang, aku yakin pembicaraan juga akan tenang, rem ... tante akhirnya berfungsi juga, setelah ia tahu aku dan Netta resmi masih suami isteri.
Kini mendengar alasan Netta, kenapa ia bisa koas di Indonesia
Bersambung …
Akak yang baik , jangan lupa tetap dukung karya ini kasih like vote dam komentar. Kalau bisa bantu share di facebook kalian iya kakak agar makin banyak lagi yang mampir.
Terimakasi untuk semuanya
Baca juga karyaku yang lain
-Aresya(TERBARU)
-The Cured King(TERBARU)
-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)
-Menikah dengan Brondong (Tamat)
-Menjadi tawanan bos Mafia (ongoing)
Bintang kecil untuk Faila (tamat