Pariban Jadi Rokkap

Pariban Jadi Rokkap
Ulang Tahun Netta


Tapi belakangan hubungan kami sudah ada kemajuan, Netta sudah mau sedikit terbuka padaku tentang kuliahnya dan teman-temannya.


Aku berharap kejutan malam ini, di ulang tahun Netta mendapat hal yang indah-indah.


Aku ingin ulang tahun Netta yang sekarang lebih berkesan dan lebih spesial, segala sesuatunya sudah aku persiapkan jauh-jauh hari.


Sekretaris ku sudah mengurus segalanya, perempuan lebih teliti untuk urusan membuat surprise untuk ulang tahun Netta kali ini.


Untuk meramaikan aku mengundang anak-anak dari kantor, karena di kantorku kebanyakan anak-anak muda.


Ada juga beberapa yang sudah tua dan senior, tapi bekerja bareng dengan yang muda-muda, terkadang membuat para senior di kantorku berjiwa muda juga.


Mungkin karena aku sebagai direktur perusahaan kebetulan masih mudah juga.


Aku juga tipikal orang yang dekat dengan semua pegawai,


terkadang bercanda pada saat di luar pekerjaan, tapi saat dalam urusan pekerjaan beda lagi, saya orang tegas.


Hari ini aku sengaja pulang cepat, dan kantor juga pulang cepat, untuk membuat satu pesta kecil untuk ulang tahun Netta, dan mungkin ulang tahunku juga.


Sebenarnya, ulang tahunku juga dua hari yang lalu, dan biar hanya Netta yang mengucapkan selamat aku senang.


Jadi, aku dan Netta lahir di bulan yang sama, hanya tahun dan tanggalnya yang berbeda, apa lagi tahunnya berbeda sangat jauh.


Anak-anak sudah mulai sibuk membuat persiapan dekorasi-dekorasi kecil, rumah kami hari ini sangat ramai, di penuhi orang-orang dari kantorku.


Netta pulang katanya agak malam, karena ada rapat dengan Dosen,


sebagai asisten Dosen ia ikut hadir .


Jam sudah bertengger di angka 18:35


semua Persiapan belum selesai, aku mendengar suara motor berhenti di depan pagar rumah.


Mengintip dari kaca, tukang ojek mengantarkan Netta pulang .


Netta tidak bisa bawa motor, aku sudah beberapa kali mengajarinya keliling rumah, tapi belum berani bawa ke jalan raya, maka setiap hari kalau berangkat Kuliah, ia menggunakan jasa gojek.


Tintong, tintong


Suara bel gerbang,


menekan remote control untuk buka gerbang.


Netta mungkin bingung melihat banyak motor dan mobil di depan rumah kami,


untungnya halaman rumah luas.


Bangunannya sengaja aku buat tidak terlalu besar, jadi halaman itu mampu menampung banyak motor anak-anak dan mobil kepala bagian,


bahkan sekretaris ku juga bawa mobil yang biasanya bawa motor kalau ke kantor.


Jadi di halaman rumah berderet mobil dan motor disusun seperti ikan asin.


Maka saat masuk Netta terlihat sangat bingung, saat pintu di buka tapi tidak ada satupun anak-anak yang memberinya ucapan selamat, bahkan anak-anak itu mengacuhkan Netta. Pegawai ku memperlakukan Netta seakan bukan istri bos mereka, semua sibuk dengan aktivitas masing-masing, main HP nonton, ada lagi yang sedang bercanda.


Netta kasihan tidak ada yang menyambutnya, menghiraukannya selaku tuan rumah.


“Udah pulang Ta?”


“Iya, tapi mereka siapa?


“Oh mereka anak-anak kantor, sama teman-teman, mau malam mingguan di sini.”


“Oh.” Netta terlihat menghela nafas panjang.


“Kamu ganti baju deh, aku belum makan malam, aku minum-minum sama teman-teman, padahal belum makan.”


“Lah, Bi Atun kemana?”


Bi atun, seorang wanita paru baya yang bekerja paruh waktu di rumah kami, aku tidak ingin Netta capek mengurus pekerjaan rumah, apa lagi ia sering pulang malam, berangkat pagi, aku ingin ia fokus pada kuliahnya, itu caraku mencintai istriku.


“Itu dia dek,


ia tidak datang dari tadi, makanya ganti baju, masak mie instan saja dulu,


masak yang banyak, anak-anak sudah lapar,


masak tamu di buat kelaparan.”


“Wajahnya terlihat lelah dengan bawaan buku tebal di lengannya.”


“Baiklah, aku ganti baju dulu,” kata Netta bergegas ke kamar.


Ia terlihat mulai sibuk di dapur.


“Sudah masak?”


“Iya ampun bang, ini juga baru mau di masak,”


kata Netta menghela nafas.


“Bu,tolong bikinin kopi iya buat pak Agus dan pak Amran kopi hitam mintanya,”


Revan membuat permintaan.


“Iya,


tunggu, iya,”


kata Netta dengan sabar.


Belum juga di kerjakan apa-apa, anak-anak sepertinya sudah kelaparan, karena pulang dari kantor langsung ke rumah.


“Bu, kita masak apa?


biar saya bantuin, lapar nih” Intan memegang perutnya.


“Ini kita masak mie instan saja iya kak?


Cepat kok tidak lama, tunggu saja, iya,”


jawab Netta lagi,


ia terlihat kebingungan dengan banyaknya permintaan, ia memikirkan apa yang terlebih dulu yang ia kerjakan.


Ia menatapku dengan tajam,


“Abang, bantuin aku, aku hanya punya dua tangan,” kata Netta.


kataku menarik salah satu kursi di kabinet dapur.


“Terus, apa dong yang aku kerjakan duluan?”


“terserah, suamimu yang kelaparan, apa orang lain yang meminta kopi,” kataku.


Intan balik lagi”


Bu ada kain lap tidak?


Di depan ada air minum tumpah.”


“Tunggu bentar, iya,


Netta menuju lemari penyimpanan kain lap tangan di samping dapur.


“Ini,” memberi lap lap pada Intan.


“Bu kopi buat pak Agusnya mana?


pak Amran tidak mau kopi hitam, maunya kopi susu,” Reno berambut kribo melihat Netta.


“Sebentar iya pak, aku bikinin “ Netta terlihat berjinjit mengambil gelas di lemari bagian atas.


“Ibu sibuk, biar saya yang bikinin deh,” Reno dengan baiknya, ingin membantu Netta buatin kopi, mungkin ia tidak tega, melihat Netta kerepotan sendiri.


Tapi tidak sengaja, ia menyenggol toples kopi, alhasil kopi itu tumpah mengotori lantai dapur, kebetulan toplesnya dari kaca.


“Oh iya ampun,”


matanya melotot putus asa melihat kekacauan yang dibuat Reno.


“Adu maaf bu,


saya niat ingin membantu saja,”


katanya penuh sesal.


“Kamu bagaimana sih No,


istri saya kasihan jadinya, awas… biar saya yang membereskannya,


kamu ke sana nanti belingnya kena kaki kamu,” pintaku kesal.


Aku tidak mau Netta terkena pecahan beling,


aku terpaksa membereskan kekacauan yang di buat Reno.


“Abang pakai Serokan, nanti kena tangan,” Kata Netta memberikan serokan kecil, aku memasukkan pakai tangan bukan pakai sapu, alhasil beling itu melukai sedikit tanganku.


“Auhh tanganku kena,”


aku memegang tangan yang terluka.


“Abang, bagaimana sih,


kenapa jadi ‘oto’


(oto: bodoh)


Masukin nya pakai sapu abang!


bukan pakai tangan, emang telapak tangannya abang besi apa,” kata Netta terlihat sangat kesal.


Ia menyeka keringat di keningnya melihat kekacauan hari ini.


“Iya, gak tahu dek, tadi hanya tidak ingin kamu kena, itu saja,” kataku.


Dengan sigap ia mengambil kotak P3K, menempelkan plester di tanganku.


Anak-anak sepertinya sudah mulai kelaparan , mereka terlihat mondar-mandir.


“Bu, mie instan nya sudah matang, iya?”


Intan datang lagi.


Netta berdiri memijit keningnya, wajahnya mulai panik karena dari tadi, ia bagai orang linglung tidak mengerjakan apapun, dan tidak ada satupun yang berhasil selesai.


“Biar aku bantuin saja iya bu, biar cepat anak-anak sudah pada lapar, ada yang dari siang belum makan katanya.”


Netta masih berdiri seperti orang kebingungan, wajahnya terlihat semakin lelah saja.


“Iya, bantuin saja Intan, Ia sepertinya tidak sanggup kerja sendirian.”


Kataku pada Intan.


“Bukan begitu bang, banyak permintaan, aku bingung mana dulu yang aku kerjakan,” kata Netta ia membela diri.


“Dari kamu pertama datang, aku sudah bilang aku lapar dek,


mau makan ,


soalnya aku takut sudah masuk beberapa gelas, tapi aku belum makan,” kataku.


“Mie instannya mana Bu?


biar Intan yang masak saja deh,” kata gadis berhijab itu dengan ramah.


“Mienya belum di beli?


Tanya Netta menatapku dengan matanya yang tajam.”


“Memang tidak ada?”


aku balik bertanya.


“Iya ampun Bang,


kita kan tidak pernah makan mie instan, bagaimana mau buat stok?”


Kata Netta, kali ini ia benar-benar frustasi.


“Bagaimana sih Ta, bukannya bilang dari tadi tidak ada, jadi orang ini tidak nungguin, jadi kelaparan, harusnya ngomong dari tadi tidak ada, biar mereka beli di luar, ini sudah jam berapa?” kataku bernada marah.


Bersambung....