
Aku melupakan bahwa aku baru pulang dan dirawat dari rumah sakit beberapa hari yang lalu.
Datang siang berlanjut sampai pagi, merusak tubuh memang gampang.
Jauh lebih sulit membuat orang sehat daripada membuat mereka sakit.
Karena salah satu mencintai diri sendiri yaitu dengan menghindari kebiasaan buruk yang dapat merusak kesehatan jiwa dan raga.
Aku mencoba membuka mataku, badanku rasanya sangat berat dan bagian perutku terasa nyeri dan perih, terutama di bagian ulu hati.
“Aku lapar.”
Mencoba membuka mata dan ingin duduk, tapi tanganku seakan ada yang menarik.
Ah apa ini?
selang infus, mataku mengerjap-erjap melihat sekeliling, bau itu- bau paling aku benci,bau rumah sakit.
Rumah sakit?
Kapan aku berakhir di sini lagi, gila…!
Belakangan ini sepertinya aku sering berurusan dengan Dokter dan jarum suntik.
“Kamu sudah bangun, Tan?”
Mami menatapku dengan raut wajah cemas, layaknya seorang Ibu pada umumnya.
“Mi, siapa yang membawa aku kesini, apa yang terjadi?”
“Bonar yang membawa kamu kesini, kamu pingsan di Bar.
Tan, apa yang kamu lakukan, apa kamu ingin membuat Mami sakit dan terkena serangan jantung?
Kamu sakit parah Tan, kamu sampai muntah darah, apa yang kamu lakukan di sana?”
Mami mendesak ku, mencercaku dengan banyak pertanyaan.
“Aku pusing, bisa gak Mami itu membuat pertanyaan satu-satu,” suaraku meninggi dan bernada ketus.
Bukanya tidak sopan sama orang tua, kadang kalau Mami bicara selalu ngegas tidak pakai jeda.
Mami langsung diam, ia menatapku.
“Baiklah, katakan ada apa?”
“Karena apa?"
Tentu saja karena Mami, coba Mami tidak bilang berpisah untuk Netta hidupku tidak sesedih ini Mi.”
“Apa?
Bukannya kamu bilang kalau kamu tidak menyukai Netta?”
“Ia istriku Mi, aku sudah berjanji akan menjaganya selamanya seumur hidupku, berjanji di hadapan orang tua dan di hadapan Tuhan.”
“Mami juga tidak ingin melakukannya
Tan, tapi semua yang aku lakukan seakan semua tidak ada yang di dengarnya, aku sudah bilang, aku ingin segera punya cucu, setiap kali aku buat Janji sama Dokter ia malas untuk datang.
Ia menolak memberiku cucu karena ia ingin kuliahnya.
Aku menikah kan mu dengannya dan membawa ke rumah kita bukan untuk melihat dia kuliah jadi Dokter.
Mami menikah kan mu dengannya untuk jadi istrimu,” Kata Mami.
“Ia hanya ingin kuliah apa salahnya sih, banyak kok kuliah setelah menikah dan di dukung sama keluarga suaminya
Aku senang juga ia jadi Dokter, Mi.”
“Senang apaan?
Si Eva saja aku kuliah kan sekelas perawat, masa ia si Netta aku kuliahkan jadi Dokter.”
Mami mendesis
Dengan badan masih berbaring di ranjang rumah sakit.
Gilanya lagi aku masih masuk keruangan yang sama, saat aku di rawat di beberapa hari yang lalu.
Ruangan V I P, blok mawar no 124.
Hadeeeh, betah bangat badanku masuk keruangan ini.
Karena menahan perasaan karena Netta
aku mengalihkan perasaanku dengan banyak minum, bergadang dengan perut kosong, hanya diisi minuman keras mengakibatkan luka lagi di bagian lambungku.
Hari ini. Mami pulang dan akan di gantikan kak Eva, aku yakin ia akan mengoceh nanti.
Dreaaak
Suara pintu terbuka.
“Kamu itu iya, kamu sudah bosan hidup ya. Kalau sudah bosan hidup sana mati jangan menyusahkan orang,” Kak Eva berdecak pinggang berdiri di samping ranjang ku.
“Pulang sana…!
Saya tidak menyuruh kakak kesini.”
“Aku punya anak yang harus di jaga, waktu terbuang-buang untuk kamu, kamu punya rumah tangga, aku juga punya, jadi laki-laki kamu melempem bangat sih” Ia mendumal kesal.
Aku pusing untuk berdebat, biasanya kalau boru batak itu semakin kita balas mereka semakin kalap, tamba ngegas, malas rasanya kalau adu mulut dengan perempuan lebih baik berkelahi dengan lelaki, adu jotos-adu jotos sekalian.
Tetapi rasanya bertengkar atau saling bersahutan dengan perempuan, itu membuat harga diriku rendah.
Kak Eva terlihat kalap semakin marah.
Aku ingin bangun dari tempat tidur meninggalkannya mengoceh sendirian.
Aku bukan tipikal lelaki yang mau mendengar nasehat seperti itu.
Menarik Infus dari tanganku dengan kasar, mencoba berdiri, ingin rasanya aku terbang ke mars saat itu ketika mendengar ocehannya yang pedas bak cabe rawit.
“Kamu mau kemana?”
Kak Eva menatapku dengan bingung.
“Mau mati!
Mendengar mu mengoceh seperti itu ingin rasanya aku langsung menabrakkan diri di jalanan sana.”
Ia menarik nafas panjang dan menghembus perlahan, kadar emosinya menurun.
“Baiklah, aku salah.”
Menarik tanganku, untuk duduk.
“Awas…!” Menyingkirkan tangan kakak Eva dari lenganku.
“Kakak pikirnya aku anak kecil di repetin seperti itu, aku bisa saja menyuruh pegawai ku menjagaku disini.
Aku bisa menyuruh sekretaris ku, mengawasi ku 24 jam disini, tapi Mami yang menyuruh kakak kesini.”
Aku membentak kakak dengan kesal.
“Baiklah, duduk lagi, aku hanya terbawa emosi Tan, aku hanya ingin kamu dan Netta rujuk kembali.
Ia gadis yang baik, ia juga keluarga kita, anak tulang kita, ia bukan orang lain.
Mami sudah di buta kan kekuasaan dan uang, kitalah sebagai anak-anaknya yang harus menuntunnya.
Kasihan Papi tertekan selama ini di buat Mami, Papi tidak pernah semarah itu Tan, baru kali ini,” Ia menatapku dengan lembut membuatku luluh akhirnya.
“Aku tau, sudah kakak pulang sana, biar aku sendiri.” Kataku berbaring lagi di ranjang.
“Kamu kayak tidak tahu saja Mami, disuruh jaga kamu, iya harus.
Kalau tidak Mami akan jadikan aku pelampiasan kemarahannya juga.
Aku lelah, kerja dari pagi, masih harus disini lagi.”
Kak Eva menguap beberapa kali.
“Aku menjaga kamu di sini, kamu harus belikan aku tas baru nanti,” katanya, dan merebahkan tubuhnya di sofa di samping ranjang ku.
“Baiklah, aku akan membelikannya, tapi kak…”
Kak Eva, menatapku dengan mata yang sudah mulai sayu.
“Apa?”
“Aku butuh bantuan kakak.”
“Bantuan apa?” Ia duduk lagi, menatapku dengan wajah serius.
“Aku ingin meninggalkan Mikha selamanya, agar aku bisa memperbaiki hubunganku dengan Netta, aku butuh bantuan kakak untuk melakukan sesuatu.”
Dua hari dalam rumah sakit, aku merasa sudah seperti penjara, aku menuruti semua apa yang dikatakan Dokter, meminum obat yang di berikan.
Kalau biasanya aku paling benci di suruh minum obat, aku selalu punya cara agar obat tidak masuk ke lambung ku. Tapi kali ini aku benar-benar bertekad ingin sembuh.
Demi rumah tanggaku yang baru kami bangun di atas janji suci, dalam ikatan pernikahan yang sakral, yang tidak didasari Cinta awalnya, tapi saat ini, Netta kecilku membuatku penasaran, ingin mengenal pribadinya
Tapi sikap tegar dan prinsip-Prinsipnya yang kuat, dan kesabarannya dalam menghadapi Mami yang punya sikap keras
Aku jatuh cinta pada Netta. Aku jatuh cinta pada Istriku saat ini.
Apakah hati Netta masih bisa aku jangkau, setelah semua yang terjadi?
Masih pantaskah aku mengucapkan kata cinta padanya setelah apa yang aku lakukan?
Oh, Nettaku, aku merindukanmu.
Tunggu aku untuk memperbaiki kerusakan yang sudah aku lakukan.
Bersambung