
Saat melihat Netta di depanku, aku berpindah tempat dan tidur di depannya, menatap wajahnya saat tidur membuat mataku tidak bisa terpejam lagi malam itu, ku tatap setiap inci wajahnya.
Jujur, Netta yang saat ini sangat cantik, aku baru menyadari kalau ia memiliki hidung yang mancung dan alis yang tebal alami, maksudku alis Netta tidak dibentuk seperti celurit Madura seperti alis tante Candra dan mami
Lagi - lagi aku sport jantung dibuatnya, Suara jantungku bergemuruh saat melihat Netta tertidur pulas di depanku dengkuran halus terdengar dari mulutnya.
Ah … Ingin rasanya saat itu tidak ada pagi, terus saja malam agar aku bisa terus tidur di samping Netta.
Berbagi satu selimut di dalam satu ruangan bersama keluarga besar kami tidak banyak yang bisa aku lakukan, hanya merangkul pinggangnya dari bawah selimut itu sudah lebih dari cukup bagiku saat itu.
Tidur malam itu serasa sangat berbeda dari malam-malam sebelumnya, karena hampir dua tahun lebih Netta belajar di negeri orang. Dengkuran halus dari Netta membuat tersenyum tipis, sudah sangat lama tidak mendengarnya, setelah puas menatap wajahnya, menjelang pagi barulah mataku bisa diajak kompromi, aku ikut tertidur pulas.
Pukul 05:00
Dolok Martahan Samosir.
Suara ayam saling bersahut-sahutan dan suara orang sudah mulai sibuk di dapur.
Mungkin karena Netta kecapean sejak dari kemarin sudah pagi ia belum juga bangun, kalau biasanya ayam berkokok ia sudah bangun seperti kebiasaanya yang dulu.
Saat semua sudah bangun hanya kami berdua yang masih tidur terlelap di tikar di pojokan ruangan , semua orang sudah sibuk mempersiapkan diri karena hari ini pemakaman oppung kami, itu artinya hari ini ada pesta adat dan pesta besar, semua ibu-ibu sibuk marhobas dan keluarga kami sibuk ke salon, termasuk Mami dan Ibu mertuaku sudah terlihat di salon di kamar.
“Kemana si Netta?” tanya mertuaku terlihat mondar-mandir setelah selesai di salon, mengintip dari balik selimut tatanan rambut ibu mertua terlihat seperti sinden Jawa.
Aku mendengarnya, tapi aku mendiamkannya, membiarkan Netta tidur lebih lama denganku.
Tante Candra sudah datang dari Hotel, setelah semalaman memilih tidur di Hotel daripada tidur dengan keluarga besar kami, tapi aku senang ia tidur di hotel, dengan begitu Netta bisa tidur bersamaku, mungkin kalau tadi malam mereka tidak menginap, bisa saja aku di suruh tidur dengan Candra atau tidak adik-adiknya.
Aku mendengar keluarga itu duduk di samping kami.
“Siapa yang masih tidur, lni?” tanya Tante mendudukkan tubuhnya di sampingku.
Aku sengaja menutup kepala dengan selimut dan Netta meringkuk kedinginan di bawah selimut .
“Abang Jonathan, iya ?” Edo menepuk pundak ku.
“Aduh … Netta tidur di mana lagi” tanya mertuaku mencari Netta mondar-mandir.
“Ini nantulang, siapa yang tidur?” Candra menunjuk kami berdua.
“Nettania …! na dison doho modom, sai lului sian nakking ( Nettania kamu tidur di sini, aku cariin dari tadi)” kata mertuaku menarik selimut kami.
Netta bangun dengan mata yang masih mengantuk.
“Bangun kalian, sudah jam berapa ini? lihat Namboru sudah ke salon, kamu tidak?”
“Jam piga mak?(Jam berapa mak?)” tanya Netta mengucek-ngucek matanya dan merapikan rambutnya.
“Jam pituh”(Jam tujuh)”
Aku yang pura-pura tidur melirik Netta yang duduk di sampingku, wajahnya terlihat sangat cantik saat baru bangun tidur, ia tiba-tiba melirikku, aku berpura-pura tidur lagi.
Aku tahu tatapan tante Candra pasti tidak suka melihat kami tidur berbagi satu selimut, tatapannya sinis menatap Netta. Sepertinya niatnya untuk menjodohkan Netta dengan Candra belum surut.
“Bang, ayo bangun sudah pagi,” ucap Netta, membuatku buka mata dan ikut duduk di samping Netta.
Tante menatap kami dengan tatapan sinis, tetapi tatapan anak-anaknya, terlihat biasa saja, bahkan Edo tertawa melihat kami bangun kesiangan, ia senang melihat kami bersama lagi, hanya pemikiran otak tante saja yang aku pikir bocor halus.
Driiing …!
Driiing ….!
Saat kami duduk Netta menerima panggilan telepon, kami terdiam hanya pendengar tanpa mengerti, Netta menerima panggilan telepon mengunakan bahasa Jerman sepertinya dari kampus di Jerman.
Kalau bahasa inggris sudah hal biasa, tapi Netta sepertinya menguasai beberapa bahasa seperti: mandarin, jepang, bahasa inggris dan sekarang ia bicara bahasa Jerman, menurutku itu suatu kebanggaan tersendiri untukku sebagai seorang suami, ia mengakhiri telepon, aku bisa lihat tatapan ketiga anak lelaki tante menatap Netta dengan takjub.
“Kalian ngapain tidur berdua-duan sih sampai jam segini?” ucap Tante dengan sewot.
‘Lah … istriku suka-sukakulah’ balasku dalam hati.
“Iya bou, tadi malam capek bangat, bikinin kopi sama bapak-bapak, membantu Mama untuk mempersiapkan untuk acara hari ini,” kata Netta melipat selimut yang kami gunakan.
“Iya kamu perempuan, masa tidur gabung sama banyak orang,” kata Tante memojokkan Netta.
“Ya …bou, kayak bukan orang kampung dari sini, tidur bersama –sama sudah tradisi di kampung kita ini bou, apa lagi kalau ada yang partus( lahiran) kan mar-anggap( tidur sama-sama) justru disitulah ada rasa kebersamaan keluarga bou, tidak perlu menginap di hotel,” kata Netta, Tante dan bapa uda menunduk malu, tadinya Tante pikir aku sama keluarga mau menginap di Hotel saat kami pergi sama Papi jalan-jalan keluar tadi malam.
Tante tidak mau susah sendiri, tapi itu satu keuntungan untukku, Netta memilihku.
“Makanya tadi malam aku ajak kamu ikut kami menginap di Hotel,” kata Tante.
“Justru itu Namboru, ini rumahku, ini semua keluargaku, kita lagi berduka karena kepergian oppung, masa aku menginap di hotel? Tapi sudahlah itu pemikiran aku sih bou,” kata Netta.
Mertuaku datang lagi, perdebatan Netta dan Tante akhirnya berhenti.
“Hatop mai inang, mandi maho tu jabutta boan helai.”
(Cepatlah nak, mandilah bawa suamimu,” kata Mertuaku mendengar itu kupingku naik lima centi meter.
“Ayo bang, koper abang di mana?”
Oi… hari yang menyenangkan untukku, saat mendengar mertuaku panggil aku menantu di depan tante Candra, ya, memang aku masih menantu, karena kami belum cerai dan tidak akan bercerai. Melihat raut muka Tante, ingin rasanya aku menari di depannya, menari poco-poco.
“Itu koper ku." Aku menunjuk koper besar di dalam kamar.
“Bawa ke rumah Mama saja, Bang,” ucap Netta.
“Oh, baiklah.”
Meninggalkan Tante dan keluarganya yang duduk terdiam, terlihat asing di rumahnya sendiri.
Oh rumah Netta yang sekarang sudah permanen, aku lupa, dulu aku yang kasih uang ke mertuaku untuk memperbaiki rumah dan membuatkan kamar mandi di rumah.
Saat masuk kedalam, sangat berbeda sekali saat aku datang lima tahun yang lalu, rumah ini hanya sebuah rumah kecil berdinding papan, sekarang sudah punya tiga kamar, dan di dalam juga terlihat rapi dan bersih, ini juga yang diributkan Mami saat aku membantu ibu mertuaku mengirim mi mereka uang untuk biaya hidup Ibu mertuaku dan adik-adik Netta.
Saat aku masuk ke ruang tamu, ada rasa sedih foto pernikahan kami terpampang ukuran sangat besar di ruang tamu dan masih ada lagi foto-foto kecil lainnya yang tergantung di dinding.
‘Oh iya ampun inilah keluargaku yang sebenarnya.
Padahal di rumah Mami tidak satupun foto pernikahan kami dengan Netta, di sini tergantung fotoku dan Netta dengan ukuran yang sangat besar, ini salah satu bukti kalau aku masih suami Netta.
“Sini masuk Lae,” kata abang Netta yang paling besar, pahoppu panggoaran si boan tukkot atau cucu pertama di keluarga mami.
Karena cucu pertama dari anak laki-laki dalam adat Batak yang berhak membawa nama oppung.
Kalau di Nainggolan keluarga mami sama Netta Oppung Saut, kalau di keluarga papi Situmorang, Oppung Jonathan walau sebenarnya Kakak Eva yang duluan lahir, tetapi yang dipakai anak laki-laki itu aku, itulah kenapa anak laki-laki itu sama orang Batak sangat berharga. Karena membawa kelangsungan marga, jika tidak ada anak laki-laki putuslah penerus marga.
Aku sangat bahagia saat laeku juga menerimaku dengan baik saat itu.
Bersambung ..
Jangan lupa lika dan vote ya kakak
Terima kasih.....Horas