
Aku mengantar Netta
Jam berputar tidak terasa semuanya begitu cepat, tadi pagi aku masih di rumah sakit, tapi saat ini aku mengantar Netta meninggalkan rumah.
‘Bukankah ini aneh?’
Iya, karena penyesalan selalu datang belakangan, kalau datangnya duluan namanya pengumuman.
Tapi aku mengantarnya bukan karena mendukungnya untuk pergi meninggalkan rumah.
Tapi Netta bukan tipe wanita yang suka di paksa-paksa, jika aku membiarkannya jalan sendirian, ini sudah malam aku tidak ingin terjadi apa-apa padanya.
Sebenarnya aku ingin menahannya atau memaksanya untuk jangan pergi, karena aku berhak untuk itu, sebab aku suaminya.
Tapi aku terhalang dengan janji dan kesepakatan yang kami lakukan dulu, tidak ingin memaksakan kehendak pada pasangan.
Ia diam, aku juga diam, kami berdua seperti dua orang asing yang saling canggung.
Kalau ditanya aku sedih , jawabannya aku sangat menyesal, aku ingin menangis memeluknya dan memohon agar jangan pergi.
Tapi aku tidak punya keberanian sebesar itu.
Mungkin aku telah menyakitinya.
Tetapi aku tidak pernah berhenti mencari maaf mulai saat ini, agar ia tau betapa aku Menyesal.
Jalanan lancar karena memang sudah larut malam, bahkan sudah tengah malam jam 24:00.
“Kita kearah Cibubur Permai iya, bang ke rumah temanku,” kata Netta, matanya menatap layar ponsel miliknya, sibuk berbalas chating dengan seseorang.
“Baiklah,”jawabku singkat.
Hingga tiba di salah satu perumahan mewah di daerah cibubur Permai.
“Kita berhenti disini, iya bang.”
Belum juga aku sempat bertanya rumah siapa, seseorang sudah menunggunya, seorang wanita mudah menunggu di depan gerbang berpakaian piyama tidur.
Ia melambai kearah kami.
Aku merasa linglung, bagaimana hanya seperti ini? Otakku membeku serasa berhenti di salah satu titik.
Aku masih suaminya kataku dalam hati, tapi aku hanya berdiam tidak melakukan apa-apa.
“Aku turun iya Bang, hati-hati pulangnya,” Netta membuka pintu mobil mengangkat kopernya.
Jiwaku seakan terbang entah kemana, aku membatu tidak tahu mau melakukan apa.
Aku bahkan tidak menyahut.
Netta menyeret koper miliknya , aku bahkan tidak membantu mengeluarkan kopernya dari bagasi.
Ia masuk kedalam rumah, aku baru sadar saat ia masuk seakan jiwaku yang bergentayangan itu kembali ke ragaku.
Saat aku ingin keluar dari mobil, ingin menghampiri Netta, ia sudah keburu masuk tanpa menoleh kebelakang.
“Apa yang aku lakukan Netta?
Kamu itu pergi dari rumah , kenapa aku bersikap seakan kamu aku antar mau piknik saja, apa kamu akan kembali,”
aku berucap sendiri.
Aku belum meninggalkan tempat itu, masih di dalam mobil, sengaja menunggu, aku meminggirkan mobilku.
Tapi ternyata Netta keluar lagi dari sana, ia diantar naik mobil aku tidak tahu kemana, saat aku ingin mengikutinya, sudah keburu jauh dan aku kehilangan jejak.
Aku tidak pulang ke rumah, memilih tidur di dalam mobil, aku merasa kembali ke rumah melihat kamar itu lagi membuatku merasa bersalah dan menyesal, tidak ada Netta teman satu kamar pasti sangat berbeda.
Dua hari sejak kepergian Netta ternyata mengubah banyak dalam kehidupan kami.
Aku kembali ke rumah setelah dua hari memilih tinggal di Hotel menenangkan pikiran.
Ternyata Papi pergi keluar Kota setelah bertengkar dengan mami katanya.
Kak Eva tidak datang lagi ke rumah, ia memilih tinggal di rumahnya.
Biasanya ia dan anaknya akan banyak menghabiskan waktu di rumah Mami, karena ada Netta juga yang pintar mengurus anaknya, yang ikut menjaga anaknya jika ia kerja.
Tidak ada Netta, ia juga tidak datang lagi, belum lagi karena kak Eva juga marah pada Mami karena menemui Mikha.
Saat aku datang, rumah itu sudah sepi, tidak akan ada lagi suara Netta yang terdengar.
Tidak ada lagi lagu-lagu daerah, yang diputar saat sore-sore seperti kebiasaan Netta jika ia ada di rumah, ia akan mengerjakan sesuatu itu sambil dengar lagu.
Aku merindukan Netta.
Mikha sudah beberapa kali meneleponku, tapi aku tidak menjawabnya, tidak membalas pesan chating darinya, saat ini yang aku rindukan bukan dia, melainkan Netta.
Aku juga tidak membalas pesannya, aku sudah mengabaikannya sudah hampir seminggu, aku berharap ia pergi untuk selamanya.
Aku duduk di sisi ranjang, ternyata kepergian Netta dari rumah mengubah duniaku, bahkan pekerjaanku ikut terkena dampaknya, pekerjaan Kantor tidak ada keurus.
Beberapa minggu tidak masuk kantor, entah apa jadinya.
Biasanya aku orang yang bertanggung jawab dalam pekerjaan, tapi kali ini , sejak Netta pergi beberapa hari yang lalu, aku juga tidak ke kantor walau aku sudah merasa sudah sehat.
Dalam kamar itu, aku merasa sesak, aku rindu pada Netta.
Aku tidak pernah membayangkan akan hal ini, aku tidak pernah berpikir kalau hidupku sehancur ini saat Netta pergi dari rumah.
Dengan langkah lunglai mencoba mengamati semua ruangan.
Kamar itu terasa begitu asing, ternyata tidak ada lagi yang bertanya padaku‘
Mau makan apa?’
‘Mau minum kopi apa tidak?’
Membuka lemari Netta, tapi lemari itu sudah kosong, membuatku merasa semakin sedih.
Aku paling tidak suka dengan situasi yang sedih seperti ini, kamar itu membuatku semakin merasa bersalah.
Aku tidak tahan situasi seperti ini, menyambar kunci mobil dan keluar lagi dari rumah Mami.
Saat aku merasa sedih dan stres seperti saat ini, hanya satu tempat yang aku kunjungi yaitu Bar, seperti lelaki kebanyakan di dunia ini, jika sudah banyak masalah akan melarikan dirinya pada minuman.
Tidak perduli, ini masih siang ataupun pagi, ada satu tempat yang selalu kami kunjungi dengan Juno, lelaki yang dulu aku anggap teman.
Sepertinya, saat ini tidak lagi, sejak aku memergokinya dengan Mikha, sejak saat itu aku dan dia tidak pernah lagi berkomunikasi.
Ada satu lagi teman yang bisa di ajak untuk teman nongkrong,
Bonar lelaki yang bisa di ajak untuk rusak, karena satu galon pun minuman beralkohol di berikan untuknya, ia jarang mabuk, tapi sekali mabuk akan masuk rumah sakit.
Mencoba mencari nomornya dan meneleponnya.
“Loe di mana Bro?
Temanin gue mabuk, iya.”
Hanya omongan seperti itu saja ,tidak pakai lama, ia pasti sudah datang, apalagi kalau sudah ada yang bayarin, bisa sampai pagi.
“Ok, le, gue datang tempat biasa, kan?”
Tanya Bonar di ujung telepon
“Iya.” menutup teleponnya.
Tidak perlu jauh-jauh. Bar yang buka 24 jam di daerah Cibubur, tempat kami biasa nongkrong untuk menghabiskan waktu dan menghabiskan isi kantong.
Baru duduk sepulu menit Bonar sudah tiba.
“Hai, bro ada apa ni? tumben ajak gue nongkrong lagi”
kata lelaki berambut kribo, tangannya melakukan gaya tos anak muda denganku.
“Biasa saja, hanya ingin minum, ayo, pesan! Pesan!,” pintaku.
Dengan sigap ia berdiri di depan bartender.
Ia selalu menyukai minuman campuran margarita es batu dan Guinness.
Aku lebih suka minuman hanya satu rasa, Bir selalu pilihanku.
Mengobrol dan turun kelantai dansa, benar saja kami masuk kedalam bar dan seakan lupa jalan untuk pulang.
Aku melupakan bahwa aku baru pulang dari rumah sakit, habis dirawat di rumah sakit, beberapa hari yang lalu.
Datang siang berlanjut sampai pagi, merusak tubuh memang gampang , kita akan menghargai betapa pentingnya kesehatan jika kita sudah merasakan sakit.
Minum dalam keadaan perut kosong, itu artinya aku mencari penyakit sendiri.
Bersambung