Pariban Jadi Rokkap

Pariban Jadi Rokkap
Kertas ajaib bertanda tangan



Danau Toba.


Setelah Netta membeberkan rahasia besar antara  Mami dan Tante, akhirnya aku paham kenapa kedua kakak beradik itu tidak pernah akur.


Karena pernah juga aku baca dalam satu artikel, tidak semua anak  kembar itu saling  ketergantungan dan  saling menyayangi, tetapi ada juga  beberapa kasus mereka saling membenci dan saling bersaing satu sama lain.


Sama halnya dengan kasus Mami dan Tante tidak pernah sejalan, akhirnya aku paham alasan mereka berdua kenapa tidak pernah akur.


“Apa tante sudah pernah membahas tentang perjodohan itu sama kamu? Kapan ? Di mana?” tanyaku mencerca Netta.


“ Pernah  ngomong sekali samaku,  saat bicara sama bapak di tolak.”


Aku baru tahu  ternyata Netta sudah lama direbutkan mami dan tante, ternyata  Netta begitu berharga, lalu kenapa mami dulu mendadak berubah jadi membenci Netta, padahal ia dulu yang meminta Netta jadi menantu? pastilah karena hepeng, takut Netta menghabiskan harta untuk kuliah.


“Terus menurut kamu … kita bagaimana, Ta?” Aku akhirnya memberanikan diri untuk bertanya, walau aku mengusap telapak tanganku beberapa kali, butuh kerja keras untuk menanyakan itu pada Netta.


“Maksudnya hubungan kita?”


“Iya,” kataku mengangguk pelan.


“Buatku .... abang ya suamiku lah, memang apa lagi?”


“Haa!? T-a-tapi surat yang kamu tanda tangan itu apa ?” tanyaku terbata-bata.


“Iya ampun, Abang tidak  tahu? Aku kan saat itu hanya menegaskan ke bou, tetapi yang ku tulis dalam  kertas, bukan itu.”


“Memang apa isinya?” tanyaku seperti orang kebingungan sendiri.


“Lah… bukannya abang Nathan sudah baca isi dengan jelas?” Netta menatapku dengan kaget.


“Tidak.” Aku merasa semakin bodoh lagi.


“Lucu…ni abang,” ujar Netta tertawa.


“Netta jangan  buat aku semakin gila … memang apa  isi kertas yang kamu tandatangani itu?” Tanyaku melihat Netta tertawa aku merasa  frustasi, karena sejujurnya aku  belum membaca kertas yang ditinggal Netta saat itu karena memikirkan sebuah perpisahan aku merasa ingin gila, jadi aku tidak pernah membaca apa isi dalam  kertas yang tinggalkan ya.


“Bou kan saat itu memaksaku menandatangani surat izin agar kamu menikahi Mikha, Aku tidak setuju, lalu aku membuat surat pernyataan bermaterai sebelum aku pergi yang isi aku tidak akan pernah setuju kamu menikah dengan wanita itu."


"Lalu apa lagi?"


"Aku bilang isi dalam kertas itu, Aku masih tetap istrimu sampai aku kembali dari Jerman dan aku menolak kamu menikahi Mikha."


Aku sangat kaget mendengarnya, bodoh aku.


Dreeet ….!


 Suara decit  panjang dari ban  mobil.


Aku tiba-tiba mengerem mendadak lagi untuk kedua kalinya, kelima adik lelaki Netta nyungsep ke depan.


“Aha lae? Na adong do huting di toppur?”


(Kenapa bang ada kucing tertabrak?) Tanya adik Netta menatapku dengan bingung.


“Oh gak-gak lae, maaf iya, ayo kalian nonton lagi,” ujarku, tetapi mataku menatap Netta dengan tatapan melotot.


Aku tidak tahu kalau isi dalam kertas itu bunyi seperti itu, padahal  banyak hal yang sudah aku lalui  karena kertas tersebut, aku pikir Netta menuliskan  perceraian dalam kertas bodoh tersebut.


“Kenapa?”Tanya Netta gerakan bibir tanpa suara, ia mengusap dadanya dengan panik, Netta kaget, aku lebih terkejut lagi, aku menatapnya tidak percaya.


“Nettania boru Nainggolan ….! Kamu membuatku hampir gila.”


“Apa?” Netta menyengitkan kedua alisnya.



Samosir Dolok Martahan.


Aku bahagia karena  Netta tidak pernah menginginkan kami berpisah, ia hanya ingin  menegaskan ke mami saat itu, harusnya aku membaca isi surat tersebut agar aku tidak salah jalan dan melakukan hal-hal yang salah.


‘Iya ampun apa takdir hidup sedang mengolok-olokku saat itu atau aku yang terlalu bodoh? ’ ucapku dalam hati.


Aku menertawakan kebodohan ku selama ini, aku percaya kalau Netta sudah menanda tangani surat perceraian, padahal aku beberapa kali melihatnya, karena sudah terlanjur takut, aku tidak membaca  isi dalam kertas itu, aku hanya sekilas melihat tanda tangan Netta dan materai nya, lalu menyimpannya saat itu karena kepalaku  sudah keburu  pusing dan aku hanya menebak kalau kertas itu kertas gugatan cerai dari Netta untukku, karena itu aku enggan menandatanganinya.


Kebodohan tingkat dewa, aku hampir gila dan hampir kehilangan nyawa karena kebodohan sendiri.


Pantas saja Netta bersikap biasa saja, memperlakukanku seperti biasa, bersikap layaknya seorang istri, pantas ia bersikap  baik-baik saja.


Karena kenyataanya memang semua baik-baik saja, akunya saja yang membuatnya jadi bencana.


“Iya ampun, bodohnya aku,” kataku masih menundukkan kepalaku di setir mobil, menenggelamkannya di antara lenganku.


“Aha lae, na marhasit do lae? Na boha lae ito?” ( Kenapa lae, apa lae sakit? Kak kenapa abang?) Adik-adik Netta menatapku dengan bingung, bagaimana tidak, tiba-tiba mobil kami berhenti di tengah jalan , di jalanan gelap.


“Tidak Lae, tunggu sebentar aku mau menenangkan pikiranku dulu, aku merasa bodoh dan bercampur senang malam itu, apa aku harus tertawa, atau aku harus menangis, Ta?” tanyaku pada Netta istriku.


“Abang kenapa sih? belum juga minum sudah mabuk duluan,” kata Netta wajahnya terlihat jengkel, melihatku yang bertingkah konyol.


“Aku keluar dulu sebentar,” kataku membuka pintu mobil.


Membuang napas beberapa kali, menatap langit di desa Samosir, langit terlihat sangat indah malam ini, bintang di langit seakan-akan ikut senyum melihat kebodohan ku selama ini.


Bayangkan, dua tahun lebih aku dilanda pikiran sendiri, aku berpikir Netta benar-benar meninggalkanku, aku berpikir kalau ia tidak kembali, tidak akan menerimaku lagi, aku berpikir Netta akan memilih bule Jerman.


Apa lagi saat mendengar penuturan Edo saat ia ke Jerman dan bertemu Netta, saat ia datang ke rumah bersama tante, Edo bilang Netta punya teman orang bule, jujur saat itu ... aku aku hampir depresi lagi.


‘Kenapa aku tidak membaca surat itu dulu, kalau aku membacanya, mungkin aku tidak akan menjalani hidup yang salah selama dua tahun, harusnya aku sadar pernikahan di adat Batak pernikahan abadi, tidak mudah membangun satu mahligai rumah tangga dan tidak mudah juga untuk memisahkan dan meruntuhkan sebuah pernikahan.


Karena apa yang dipersatukan Tuhan tidak boleh dipisahkan manusia’ Harusnya aku aku menyadari itu.


Netta keluar, melihatku memegang kepala, aku berdiri di samping mobil yang aku parkir kan di jalan menuju Huta Dolok Martahan, jalanan yang sepi,  kanan kiri yang di tumbuhi hamparan tanaman padi yang masih hijau.


“Abang, kenapa ? Apa ada yang salah?” Tanya  Netta, kali ini raut wajahnya marah bercampur bingung menatapku.


Tanpa aba-aba dengan gerakan tiba-tiba aku menarik tangannya, merangkul tubuhnya membawanya ke dalam dadaku, bodoh amat dengan tatapan adik-adik Netta yang melihat kami bagai adegan di film India.


“Apa yang abang lakukan ... itu banyak anak kecil,” protes Netta.


“Tidak perduli,” ucapku masih memeluknya di dada ini.


“Memangnya ada apa?” Bisik Netta


“Karena kamu wanitaku, istriku,” ucapku sangat bahagia.


Bersambung ….


KAKAK  JANGAN LUPA KASIH KOMENTAR DAN PENDAPAT KALIAN DI SETIAP BAB DAN JANGAN LUPA JUGA


LIKE,  VOTE DAN KASIH  HADIAH


Baca juga  karyaku yang lain


-Aresya(TERBARU)


-The Cured King(TERBARU)


-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)


-Menikah dengan Brondong (Tamat)


-Menjadi tawanan bos  Mafia (ongoing)


Bintang kecil untuk Faila (tamat)