Pariban Jadi Rokkap

Pariban Jadi Rokkap
Ada Tujuan Tersembunyi


Seperti tradisi Batak, biasanya di buka dengan doa, harus di tutup dengan doa penutup, dan acara makan-makan besar bersama keluarga semua hidangan sudah tersedia, siap dimakan bersama, tidak lupa juga mengundang tetangga dan keluarga yang rumahnya dekat, rumah oppung kembali ramai.



Dalam tradisi keluarga kami setiap kali mengumpul, baik di Jakarta maupun di kampung harus ada namanya Naiura atau Sashimi versi Batak.


Ikan Mas tidak di masak hanya di baluri dengan bumbu kuning.



Masakan ke dua Ayam Nanipada dan daun singkong ditumbuk



Makasan Ketiga Ikan mas arsik.


Masakan khas Batak ini memang mantap banget rasanya, apa lagi ibu mertuaku dan Netta yang masak mantap .... saat Makan Nanipar dan daun singkong ditumbuk, ibu mertua menyapa pun tidak digubris saking enaknya.


Saat makan bersama, ternyata Bapa uda kembali lagi, ia hanya mengantar ketiga anak lelakinya pulang duluan ke bandara.


Bapa uda bilang, ia tidak akan merasa tenang karena perbuatan istrinya, ia harus meminta maaf pada hula-hulanya dan ke makam mertuanya.


Bapa uda bilang ia dihantui rasa bersalah karena tidak ikut membiayai biaya pemakaman mertuanya.


Setelah acara makan selesai dan penutupan acara sudah selesai saat ini hanya acara santai acara bebas.


“Lae, makkatai jo au saotik, ala ni mohop di ate-ate nabodari dang adong be adat niba na marhula-hula dohot na markeluarga.”


(Lae saya ingin bicara sedikit karena emosi tadi malam saya tidak ada sopan santun untuk keluarga ini, karena saya langsung pergi, saya minta maaf)


Bapa uda suami tante membuka obrolan serius lagi, semua keluarga diam mendengar.


“Iya Lae, kami mengerti,” ucap Tulang yang dari Bekasi.


“Ini Lae dari saya hela, tidak usah lihat dari istri saya, ini dari pribadi saya sebagai menantu.”


Bapa uda memberikan 20 juta dalam amplop untuk patungan biaya pemakaman oppung, tidak cukup itu saja, seakan membungkam mulut istrinya, Bapa uda membagi-bagi amplop untuk semua tetangga yang ikut membantu pemakaman oppung.


Tante tidak bisa ngomong apa-apa lagi, ia hanya diam tidak berkutik, keburukan istri akan tertutupi jika suaminya bertindak dan melakukan hal yang benar.


“Bang aku baru ingat, botol minuman yang kita beli sama kacang malam itu masih di simpan kan?” Netta menatapku.


Jika keluarga saling memaafkan maka kesalahpahaman pasti tidak akan makin panjang, karena dalam satu keluarga kata orang tua dulu.


Dalam satu keluarga selalu ada istilah, ibarat gabah yang tidak berisi, artinya pasti ada satu keluarga yang sering menyimpang pemikirannya.


Acara hari ini kami berharap damai, Netta mengeluarkan minuman yang kami beli dan kacang, minuman soda yang di simpan, Tapi saat acara santai saling tertawa.


Tidak mau ketinggalan tiba-tiba mertuaku ikut memberikan sepatah dua- kata sebagai ucapan terimakasih.


“Saya juga ingin memberikan ucapan terimakasih, terlebih pada yang Maha Kuasa karena acara pemakaman ibu mertua berjalan dengan baik, dan terimakasih pada para tetangga yang baik karena mau membantu kami dan eda-edaku terlebih Eda Ros, karena selama Inang sakit, Eda selalu menelepon dan membantu, baik doa maupun moril dan begitu juga untuk amang Eva, selama Inang sakit Amang dalam setahun terakhir ini ada dua kali amang pulang menjenguk Inang, beli inang kursi roda, mencukupkan semua kebutuhan kami, kalau tidak ada bantuan dari amang terus terang, kami akan kesusahan karena panen kami gagal tahun ini,” kata Mertuaku.


Papi ku ternyata menantu yang sangat baik, ternyata papi sering pulang ke kampung menjenguk oppung, kami tidak pernah diberi tahu, Papi bilangnya urusan bisnis, saat itulah aku mulai mengerti kenapa inang mertuaku dan laeku tidak marah padaku, karena papi sudah menjelaskan semuanya pada ibu mertuaku, dan Netta berpesan sama papi agar tidak menceritakan tentang kelakuan mami yang ingin memisahkan kami pada ibu mertuaku.


“Kok Papi ga pernah bilang, papi pulang?” tanya Mami lebih bingung lagi.


“Masa berbuat baik untuk orang tua harus bilang-bilang,” kata Papi, semua kami menunduk merasa malu, begitu juga tulang dan bapa uda.


Ucapan papi seolah-olah  menembak seseorang.


“Terimakasih juga karena sudah membantu Netta menjadi dokter” kata Mertuaku, kalau itu aku tidak setuju, karena aku belum memberi banyak uang  untuk Netta menjadi dokter, itu usaha sendiri, aku menunduk merasa malu.


Saat Ibu mertua memujiku setinggi langit semua orang menatapku, baik tante Candra, ia terlihat seperti cacing kepanasan lagi.


“Baik, saya juga ingin bicara sedikit,” kata tante Candra, semua orang langsung garuk-garuk kepala, pasti ia ingin mulai cari panggung untuk ribut lagi.


“Kalau mau cari ribut dan buat kekacauan mendingan tidak usah,” kata suaminya menolak.


“Tidak Pa, aku tidak akan membuat masalah aku hanya ingin mengungkapkan apa yang didalam hatiku dari kemarin mereka tidak mau memberiku kesempatan untuk bicara.”katanya dengan lantang.


“Biarkan lae, biarkan saja, biar puas apa yang ingin ia bicarakan” Tulang dari Bekasi memberinya kesempatan untuk tante bicara.


“Begini…! tadi eda bilang Netta bisa dokter karena Jonathan, tapi eda tidak tahu apa yang sebenarnya yang terjadi selama ini di Jakarta’kan?”


“Ma …! Aku sudah bilang jangan bahas yang lain lagi!” Bentak bapa Uda menarik istrinya.


Jantungku seakan mau copot saat Tante menyingung tentang hal itu, tapi saat aku melihat papi beliau tampak tenang, membuatku sedikit bernapas lega.


“Kami sudah tahu Bou, tidak usah dibahas lagi,” kata Lae saut.


“Apa, kalian sudah tahu? Terus?”


“Bou dalam rumah tangga hal bertengkar itu sudah biasa, ini adikmu, istriku sudah dua kali aku antar kan pulang ke rumah orang tuanya kerena dia melawan sama mama, sebagai suami aku tidak mau istriku tidak patuh pada orang tuaku, aku suruh mertuaku menasehatinya baru dia bisa datang lagi ke rumah ini, sejak saat itu dia tidak pernah membantah mama.


kalau istri tidak baik, tidak masalah di kasih pelajaran,” kata Lae  Saut, Bapa uda langsung menunduk.


Sebenarnya bapa udah Candra orang baik, sama kayak papi, mungkin kedua nasip kedua lelaki malang, ini sama karena istri mereka kembar Rini dan Rita. Sama-sama mendapatkan istri yang parbada.


“Masalah mereka sudah ingin-”


“Berantam'kan? tapi bukan keinginan Netta sama Lae Jonathan, karena kemarahan bou’kan? Amang boru sudah menjelaskan semuanya namboru Candra! Sudahlah, jangan diungkit-ungkit lagi, toh juga mereka tidak apa-apa , Netta hanya ingin sekolah dan saat kembali mereka baik-baik saja,” ujar Lae saut.


“Tapi saat itu kamu memberikan surat cerai sama Jonathan.”


“Itu bukan surat cerai Bou, itu surat perjanjian, ini maksud boukan?” Netta memberikan salinan surat yang bermaterai pada Bou yang isinya membuat tante Candra kena mental.


 Bersambung …


Akak yang baik , jangan lupa tetap dukung karya ini kasih like vote dam komentar. Kalau bisa bantu share di facebook  kalian iya kakak agar  makin banyak lagi yang menonton. Jangan lupa baca juga karyaku yang lain.


Terimakasih  untuk semuanya


Baca juga  karyaku yang lain


-Aresya(TERBARU)


-The Cured King(TERBARU)


-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)


-Menikah dengan Brondong (Tamat)


-Menjadi tawanan bos  Mafia (ongoing)


Bintang kecil untuk Faila (tamat