Pariban Jadi Rokkap

Pariban Jadi Rokkap
Akan Tinggaldi Bali


Setelah berunding dengan keluarga, bapa uda akan dibawa ke Bali menerima perawatan di sana, sementara Riko adik Candra yang masih kuliah memilih ikut uda Roy ketimbang mamanya.


Dari semua sikap anak- anaknya, kami semakin yakin kalau tante telah melakukan hal - hal yang  melewati batas dan menimbulkan rasa kecewa di hati semua anak-anaknya.


Walau mereka tidak mau menjelaskan sikap tante yang sebenarnya, hanya Candra yang  mengutarakan bagaimana sikap tante, sementara adik-adiknya mereka memilih tutup mulut, tidak mau menceritakan keseluruhan sikap tante yang aneh tersebut pada keluarga dari bapa uda.


“Jadi kita sudah melihat sendiri, kalau lae akan  mendapat perawatan di Bali karena Candra dan istrinya bertugas di sana juga ada boru kita juga ,  aku dengar Netta bertugas di Bali juga, jadi lae ke sana  untuk mendapat perawatan hal yang tepat.”


Tulang yang dari Bandung mencoba menenangkan  hati namborunya Candra dan uda Roy.


Namborunya Roy yang datang dari Medan terlihat lebih emosional,  ia bahkan  beberapa kali membentak Lasria,  karena berusaha membela diri, sementara uda Roy lebih tenang, walau terlihat di wajahnya rasa kecewa .


“Lasria akan ikut ke Bali juga tulang,” ujar ku.


“Ok baiklah, itu  benar, biar ada teman lae di sana”


“Ito kami dibawa ke sana apa di sana sudah pasti? Soalnya aku dengar menantunya yang kaya itu sombong dan tidak perduli sama  keluarga.


Apa kalian bisa menjamin Tivani  bisa mengurus bapak dengan baik?” Ia menatap tajam padaku dan Lasria.


‘Galak juga ini inang-inang ini’ ucapku dalam hati.


“Ada Bang Candra di sana Bou ada Kak Netta, Bou tidak tahu istri abang ini juga dokter juga”


Wajahnya yang tadi sempat mengeras, ber-angsur pulih.


“Baiklah, tetapi ingat … kalau kalian menelantarkan itoku ini lagi, aku akan membawa pulang ke rumah mama kami di Medan,” ujarnya menekan Lasria.


“Udahlah Ito, aku gak papa,  anak-anakku mengurusku dengan baik,” ujar bapa uda, ia selalu membela  keluarganya di depan saudaranya, terutama anak-anaknya, wajah bapa udah terlihat tidak senang, saat kakak perempuannya memarahi putri satu-satunya, tetapi bapa uda tidak berdaya membela anak-anaknya di hadapan kedua saudaranya karena ia  juga sakit.


“Kalian boleh pergi setelah mama pulang.” Tulang tidak ingin disalahkan  nantinya."


“Ya, nanti jadi masalah, coba telepon Ros, kabarin kakakmu kalau lae ini akan dibawa” Papi mengingatkan tante.


Tante Ros mencoba menghubungi tante, tetapi teleponnya tidak diangkat, tante benar- benar telah melupakan kodratnya  sebagai istri dan ibu, Lasria hanya menunduk tidak mengatakan apa-apa, seolah-olah ia sudah tahu kalau telepon dari kami semua tidak akan diangkat oleh tante Candra.


“Tidak perlu tulang, kami berangkat bareng abang Jonathan saja, mama mungkin lama pulang tugas.”


Aku bisa melihat tatapan kecewa dari wajah Lasria, aku semakin yakin kalau tante bukan tugas, melainkan happy-hapy sama teman-teman arisannya.


Aku ingat mami juga  pernah seperti tante ini, ia pernah beberapa hari tidak pulang karena terlalu asik di dunia  sosialitanya, tetapi bedanya mami tetap ingat anaknya, saat papi mengancam akan meninggalkan mami, akhirnya perlahan berubah.


“Aku  tinggal sama bapa uda saja ya,aku tidak mau tinggal sendirian di rumah ” Riko yang baru tiba di rumah langsung minta ikut sama uda Roy.


“Baiklah, kalau kamu maunya seperti itu tetapi orang lae ini  saksinya kalau Uda, tidak menghasut mu untuk tinggal di rumah kami"


“Jadi mama kalian tinggal sendirian di rumah?” Mami menatap anak-anak adik kembarannya dengan wajah kaget tidak percaya,  kalau itu  terjadi sama mami, bisa dipastikan ia akan stres.


                  *


Tanpa tante lihat, kami membawa bapa uda pergi, sebelum berangkat kami membawa mereka berdua ke rumah  mami, rencana kami akan berangkat pagi ke Bali.


“Kamu tidak kuliah Las?” Tanya kak Eva.


“Aku ambil cuti kuliah dulu Kak, fokus ke bapak dulu”


“Lalu bagaimana dengan inang uda?”


“Apa benar dia tidak perduli sama bapa uda?” Tanya kak Eva, kakakku yang satu ini selalu  kepo pakai bangat urusan orang lain, ia tidak tahu apa yang terjadi karena pagi itu saat kami ke Bogor ia tidak ikut.


Selama ini Lasria selalu tidak mau  terlalu terbuka masalah   kedua orang tuanya pada siapapun, bahkan sama uda dan namborunya, ia tidak menceritakan semuanya, tetapi malam itu ia dan bapa uda akhirnya terbuka.


“Apa kalian bertengkar bapa uda?” Tanya kak Eva.


“Bukan hanya bertengkar lagi Mak Arkan, bahkan inang udamu melempar gelas ke kakiku”


“Bukan hanya gelas, mama minta pisah sama bapak,” ujar Lasria akhirnya ia mengakui semua perlakuan tante sama bapa uda selama sakit, ia mengakui semuanya pada kami malam itu.


“Marsirang?” Bah na gila  do haroa jolma songonni”


(Pisah? Wah, sudah gila sepertinya  manusia ke gitu) Mami sangat geram mendengar tante minta pisah sama bapa uda, karena tidak tahan di tekan dan selalu disalahkan sama keluarga dari suaminya.


“Lalu?” Kami menatap mereka berdua bergantian.


Ini sangat mengejutkan, segila- gila istri ia masih akan memikirkan anak  dan suaminya, tetapi tante terlihat tidak seperti itu, ia seakan-akan lupa daratan dan tenggelam dalam  kegiatan sosialitanya.


“Lalu bapa uda bilang apa?”


“Aku bilang; Apa yang disatukan Tuhan  tidak boleh di ceraikan manusia.  Aku juga bilang  aku akan  hidup dan menua bersamanya, bapa udah tidak mau Marsirang dung matua”


(Marsirang dung matua> Berpisah setelah tua)


“Bapa uda ini tipe suami  idaman Kak, sama seperti papi, mereka berdua tidak mau menjelekkan istri di depan  keluarga,” ujar ku.


“Ya, bapa uda lelaki yang sangat baik sama seperti papi, tapi dapat istri   yang menyebalkan,” ujar Kak Eva setengah berbisik.


“Gak usah berbisik-bisik mami mendengar!” Teriak mami dari  ruang tegah


Kami  semua tertawa mendengar teriakan mami, kali ini kami semua tidak tahu setan apa  lagi yang merasuki tante belakangan ini, setelah pernikahan Candra dan Tivani tante  jadi berubah  total, kalau dulu tante itu sangat perduli sama anak-anaknya dan bapa uda.Tetapi belakangan ini, seolah-olah ada setan  bertambah satu lagi di  tubuhnya.


Keputusan anak-anaknya meninggalkannya sendirian di rumah seperti hal yang tepat, agar tante punya waktu sendiri untuk memperbaiki dirinya sendiri.


"Nanti bapa uda bosan di tempat Candra, kita ke Tempatku"


“Mami khawatir  bagaimana tempat tinggal kalian apa layak atau tidak di sana”


“Sebenarnya, villa yang kami tempati sekarang ini … sudah aku beli”


“Kamu kenapa tidak bilang sama mami kalau kamu  beli villa di sana, pasti harganya mahal”


“Ya, itu alasan aku tidak kasih tahu mami, pasti  bilangnya  mahal,” ujar ku.


“Papi ikut saja besok, papi juga ingin cuci mata jugalah di sana”


“Mami jugalah ikut, ingin lihat rumah


Jadi, kami  rencananya akan  berangkat    besok pagi ke Bali.


Bersambung


Bantu like dan Vote ya Kakak jangan lupa kasih hadiah juga.


Terimakasih.