
“Mi, saya sudah bilang,kan, itu Inisiatif aku yang ingin bantu Nantulang( mertua), pusing bolak-balik bahas itu lagi, Ayo Ta, kita naik dengarin Mami sampai pagi akan bolak-balik bahas itu lagi, Intinya hari ini kita sudah ke Dokter sesuai permintaan Mami, jadi jangan marah lagi. Tunggu dan bersabarlah.” Kataku menarik tangan Netta masuk ke kamar kami.
“Kamu tidak apa-apa Ta?” kutanya, ia hanya mengangguk, ia memang wanita yang kuat, tapi sekuat-kuat wanita aku tau ia pasti terluka, kata-kata kasar Mami sangat menyakitkan.
Aku pikir karena ia pariban ku dan ia satu marga Mami. Mami bakalan baik padanya, tapi tenyata uang tidak punya saudara dan keluarga, Mami sangat kasar dan memarahinya, karena ia khawatir hartanya akan di pakai. Mami berharap Netta berhenti kuliah dan menjaga usaha Mami. Mami memiliki banyak ladang duit, punya kontrakan dan punya kantor koperasi juga.
Ia berharap Nettalah yang menjaganya, karena kami anak-anaknya tidak ada yang mau meneruskan usaha Mami.
Karena itu Mami ingin Netta, berharap bisa ia kendalikan, tapi pemikiran Netta sangatlah maju, ia ingin menempuh pendidikan tinggi walau dengan jalan yang berat.
Ia berniat membantu orang tua dan adik-adiknya di kampung, ia rela menahan semua cacian dan makian dari Mami, belum lagi aku yang punya wanita lain yang aku pelihara di luar sana.
Saat melihatnya seperti ini, aku merasa aku lelaki paling jahat di muka bumi ini.
Saat wanita peliharaan ku menghabiskan duit ku ratusan juta bahkan sudah hampir satu ember mungkin kalau di hitung-hitung saat kami mulai bersama, tapi istriku disini tersakiti, bahkan duit sepuluh ribu begitu berharga untuknya.
“Abang yang mandi duluan, apa aku?”
“Kamu saja,” kataku.
Ia membawa baju gantinya, sekalian berganti di kamar mandi seperti kebiasaanya setiap kali mandi.
Tit...
Mataku meraih ponselku, pesan dari Mikha. Untuk pertama kalinya untukku tidak ingin melihat isi pesan Mikha.
“Sudah Bang,” suara Netta mengagetkanku.
“Kamu membuatku kaget, Ta,” kataku memungut ponselku yang tercecer di lantai, aku seperti pencuri yang tertangkap basah.
Tapi ia tidak menanggapinya, Ia membungkus rambutnya yang basah dengan handuk kecil, sorot matanya datar, istri kecilku saat ini sudah cantik tidak lagi kucel seperti dulu, tidak ada lagi bekas-bekas pulau di wajahnya, bahkan kulit wajahnya terlihat mulus alami. Ia sering mengoleskan tomat yang sudah di parut sebelum tidur, ia menggunakan yang alami-alami saja ke kulit wajahnya, terkadang ia mengocok putih telur dan dijadikan masker, ia tidak perlu ke salon untuk melakukan perawatan mahal, ia merawat tubuhnya sendiri dengan yang alami-alami.
Berbeda dengan Mikha yang selalu perawatan yang mahal mulai dari alisnya yang di lukis, giginya yang di bikin seperti gigi kelinci, belum lagi, rambutnya yang selalu berganti-ganti warna.
Terkadang menemaninya ke salon tidak cukup dua jam, paling cepat tiga jam, belum lagi biayanya dari aku juga.
Aku di hadapkan diantara dua wanita yang sangat berbeda.
“Abang tidak mandi?” Suara Netta membangunkan ku dari lamunanku.
“Oh, iya aku mandi,” kataku berdiri.
“Ini handuk Abang yang bersih, handuk Abang yang tadi pagi Netta cuci.”
“Ok, makasih Ta.”
Ia juga menyiapkan baju yang aku mau pakai malam ini, aku melihat punggungnya berdiri di depan pintu lemari ku, sebagai istri ia yang mengurus semuanya untukku, mulai apa yang aku pakai, apa yang ingin aku makan.
Aku menarik nafas panjang dan masuk ke kamar mandi.
Dalam kamar Mandi pantas lama, pakaian kami berdua selalu ia cuci pakai tangan, walau ada pembantu yang mengurusnya dan mencucinya, tapi ia selalu melakukan sendiri.
Aku keluar dari kamar mandi, aku melihat Netta di balkon mengetok-ngetok sesuatu’ apa yang ia kerjakan’ aku mengintip dari balik kaca jendela.
Saat itu juga hatiku bagai di sayat sembilu.
Sepetinya tumit sepatunya lepas, ia memaku sepatunya sendiri dan memakaikan lem.
Ya Tuhan, ini sangat menyakitkan, tadi Mikha baru membeli sepatu yang harga satu sepatunya puluhan juta.
Aku mengepal tanganku dengan kuat menahan ada rasa yang bergejolak di dalam dadaku.
Apa yang harus aku lakukan, kami berdua terikat dengan janji yang kami sudah kami sepakati, aku membuat janji yang saat ini aku sesali.
Janji yang kami sepakati Netta tidak berhak mencampuri hal pribadiku, tapi aku tidak pernah berpikir kalau Netta juga bahkan tidak mau meminta uang sepeserpun dari aku, bahkan kadang ia menolak uang yang aku berikan sama seperti tadi, saat ia menolak ponsel yang aku belikan.
Itu artinya aku hanya suami pajangan untuknya, hatiku sakit saat melihatnya seperti itu.
Aku buru-buru duduk pura-pura tidak melihat apa yang di kerjakan di luar.
Aku duduk disisi ranjang, aku ingin, bicara empat mata dengan Netta, tapi berat rasanya untuk sekedar untuk membuka mulut.
Kehidupan kami berdua selama setahun seperti ini, Netta gadis yang sangat pendiam, kita tidak pernah makan bersama dan tidak pernah jalan berdua selama menikah.
Tadinya, aku pikir tidak apa-apa, aku pikir Netta hanya istri dalam surat Nikah, tapi saat ini, akulah yang dilanda perasaan amburadul, akulah pihak merasa bersalah.
Saat datang kedalam rumah kami, ia tidak sekalipun aku lihat tertawa puas, bagaimana mau tertawa, kalau Mami hampir tiap hari menekannya mencari-cari kesalahannya.
Aku masih posisi duduk di sisi ranjang, kali ini Netta mengangkat kasur lipat membentangkannya di balik sofa, ia mulai tidur, saat melihat Netta tidur di lantai itu, aku merasa aku seorang b*nci kaleng, bagaimana aku tidur di ranjang empuk ini? sedangkan Netta tidur di lantai.
Tapi ia yang memintanya saat itu, ia tidak mau tidur satu ranjang denganku ia memilih tidur sana.
Apa yang kamu pikirkan sih Netta, kenapa kamu membuatku merasa bersalah seperti ini, aku bermonolog sendiri.
“Ta…! Boleh kita bicara?”
“Iya bang, mau bicara apa?”
Ia duduk, matanya menatapku, tidak tau kenapa, aku ingin memeluknya membuang bebannya.
Aku menarik nafas panjang sebelum bicara.
“Ta, apa kamu perlu sesuatu?”
“Tidak bang, tidak ada keperluan yang mendesak.”
“Oh, begitu,” padahal aku berharap ia meminta uang padaku untuk membeli sepatu baru karena sepatunya keadaan mendesak juga.
“Apa kamu sudah makan?”
Kali ini terlihat ragu untuk menjawabnya, aku yakin ia belum makan, karena Netta tidak pernah membuang uangnya untuk makan di luar, baginya duit sepuluh ribu itu sangat berarti, saat kita pulang tadi Mami sudah marah-marah.
“Belum Bang.”
“Abang juga belum makan, kita makan diluar, biar ga di marahin Mami mau gak?”
“Nanti, kalau Bou bertanya?”
“Tenang, nanti biar abang yang jawab,” kataku meyakinkan.
Tumben sekali ia mau, mungkin ia sudah lapar, pikirku.
“Iya ayo Bang,” katanya meraih jaketnya.
“Kita pakai Motor saja, iya?”
“Iya” ia menganggukkan kepalanya.
Bersambung.
KAKAK TERSAYANG JANGAN LUPA KASIH KOMENTAR DAN PENDAPAT KALIAN DI SETIAP BAB DAN JANGAN LUPA JUGA
LIKE, VOTE DAN KASIH HADIAH SEBANYAK-BANYAKNYA IYA
JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA BARU IYA KAKAK
Baca juga.
- Pariban Jadi rokkap( Baru)
-Aresya(Baru)
-Turun Ranjang(Baru)
-The Curet king( Baru)
-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)
-Menikah dengan Brondong (ongoing)
-Menjadi tawanan bos Mafia (ongoing)
-Bintang kecil untuk Faila (ongoing