
Kami dalam mobil perjalanan pulang dari Ancol, aku merasa sedikit lega saat Netta dan Tivani mulai akraf. Uda polisi sepertinya sudah tahu kalau Netta bisa membantu Tivani, aku yakin tidak akan ada keluarga kami yang akan cocok di hatinya.
Dalam mobil itu hanya suara mereka berdua yang terdengar, pembahasan mereka tidak jauh dari dunia kesehatan, aku baru tahu kalau Tivani lebih tua dari Candra. Aku membiarkan Candra menenangkan pikirannya matanya menatap kosong arah jalanan, sebelum malam pengantin mereka, mam itu ia terlihat masih tegar, tetapi pagi ini ia kembali seperti orang yang patah hati lagi, mungkin malam pengantin mereka tidak seperti yang Candra harapkan.
Aku berharap kekecewaan yang ia rasakan tidak berlangsung lama, saat kami berdua dalam diam.
“Bang, nanti kita tidak usah lama di rumah mami Ya,” ujar Netta.
“Kenapa?”
“Aku dapat shift jaga nanti malam”
“Kita antar mereka, bagaimana kalau kita langsung pulang, aku kasihan sama si Milon,” ucapku dari depan.
“Kenapa tidak dibawa?” Tanya Tivani.
“Dia tidak mau naik mobil”
“Terus dia sama siapa di rumah?”
“Sendiri, dia udah mandiri, tadi malam aku minta edaku menjemputnya ,” balas Netta.
“Kok … kalian tega bangat ninggalin anak di rumah sendirian”
“Haaa! … anak?” Netta dan aku tertawa
“Bukan anak, anjing jantan peliharaan kami,” jawabku dari depan.
Netta tertawa saat Tivani berpikir kalau Milon anak kami.
“Lalu kalian sudah berapa tahun menikah?” Pertanyaannya mulai lebih pribadi.
“Hampir enam tahun,” ujar Netta dengan santai.
“Belum punya anak?”
“Belum”
“Kenapa?”
“Belum di kasih Tuhan. Nanti kalau tiba waktunya akan dan dikasih, makanya kami berdua menikmati masa-masa pacaran kami dulu, nanti kalau sudah punya anak, tidak akan banyak waktu berdua,"jawab Netta santai
“Aku salut sama pemikiran yang seperti itu, aku suka pemikiran kamu,” balas Tivani.
“Nanti kalian mau punya anak berapa?” Tanya Netta.
Tiba-tiba Tivani diam, aku meliriknya dari kaca wajahnya terlihat tidak nyaman dengan pertanyaan tentang anak.
‘Ada apa dengannya jangan bilang dia tidak mau punya anak? Kalau dia tidak mau punya anak dan punya pemikiran seperti itu. Aku yakin Candra tanpa ragu akan meninggalkannya’ ucapku dalam hati.
“Aku tidak tahu”
Netta sepertinya tahu, kalau Tivani tidak ingin membahas tentang anak, jadi ia mengalihkan pembicaraan.
Candra masih diam entah apa yang mereka Bicarakan pagi itu, mereka berdua sepertinya menyimpan sesuatu dalam hati, tetapi, aku tidak ingin ikut campur hal pribadi mereka berdua.
“Can kita langsung ke rumah mami ya, bukan ke rumah kalian di Bogor”
“Kenapa?”
“ Tulang masih menunggu kalian di rumah mami?”
“Apa bapa uda Jon masih ada di sana?”
Candra menatapku dengan perasaan tidak nyaman, ia tidak ingin uda itu bertanya tentang masalah ranjang lagi.
“Jangan khawatir, uda Jon sudah pulang tadi malam,” balasku.
Candra tidak ingin pembicaraan kami di dengar Tivani ia mengirim pesan padaku aku sengaja berhenti di pinggir jalan.
[Aku benci kalau keluarga bertanya ini itu lagi samaku, kupingku panas saat mereka selalu menyalahkan ku]
[Kamu harus kuat mental Can, hadapi saja]
[Mama menuduhku menemui kekasihku, aku tidak ingin mereka mengaitkannya masalahku dengannya]
[Katakan tegas, kalau kamu akan melupakannya. Kamu akan melupakannya kan? Kalau kamu mengatakan dengan yakin untuk melupakannya aku akan bantu kamu] balasku lagi.
[ Baiklah Bang, aku akan berusaha]
[Ok]
Setelah Candra berjanji akan melupakan kekasihnya, aku bersedia membantunya lagi.
“Kok berhenti Bang?” Tanya Netta saat kami selesai bicara.
“Gak, tadi ada kawan mengirim pesan,” ujar ku berbohong, lalu menghidupkan mesin mobilnya melanjutkan perjalanan pulang ke rumah mami.
*
Setelah beberapa lama perjalanan kami tiba di rumah mami.
“Ini rumah siapa, kok beda sama rumah Candra yang di Bogor, rumah Candra mah kecil ketimbang ini. Ini gede rumahnya,” ucap Tivani, masih harus didik cara bagaimana menjaga perasaan orang lain, untungnya Candra bersikap bodoh amat dengan ucapan istrinya.
Tetapi coba Tante dikatain rumahnya kecil, ia akan meradang, apa lagi di banding-bandingkannya dengan rumah kembarannya ya itu mami.
“Ini rumah mami mertuaku”
“Oh, kalau kami tinggal di sini saja boleh gak Bang?”
“Boleh saja, kita turun dulu, keluarga sudah menunggu kita,” ujarku.
Netta membuka bagasi belakang mobil mengambil sarung miliknya, aku dan Candra hanya diam.
“Ini pakai.” Netta menyodorkan sarung.
“Untuk apa ini?”
“Kamu dan aku adalah menantu di rumah ini, jadi kita harus bersikap sopan , orang di dalam rumah ini tulang mereka jadi harus hormat”
“Lalu sarungnya untuk apa?” Tivani bingung.
“Untuk lopes”
“Lopes apa, ayo kamu turun dulu, pakai seperti ini.” Netta meminta Tivani memakai sarung di pinggangnya, memang begitulah adat Batak , jika ada adat formal seperti saat itu perempuannya akan memakai sarung di pinggang.
“Sudah, gandeng tangannya, bawa dia kerumah, tunjukkan pada mereka kalau kamu lelaki sejati”
“Baiklah”
Candra mengajak Tivani masuk ke dalam rumah, aku kaget ternyata banyak yang datang.
“Masuklah pengantin baru duduk di tikar,”pinta papi.
“Masuk kamu bapak Paima,” ujar tante Ros bercanda, ia menarik tanganku.
Di balas tawa keluarga yang lain.
“Ayo Dek, kita juga pengantin baru”
Netta tertawa, melihat Netta santai menangapi pertanyaan keluarga besar kami, aku juga ikutan santai, sabodo teing lah .... dengan tatapan orang, benar kata Netta dan papi yang penting kami sudah berusaha kalau Tuhan belum kasih, berarti belum saatnya.
“Lalap ma hamu nadua sehera pengantin baru, holan na mekkel”
(Teruslah kalian bersikap seperti pengantin baru, tertawa terus) Cletuk mama tua dari oppung kakak beradik, mama tua yang satu ini mirip bangat sifatnya sama tante Candra cerewet tidak bisa lihat orang bercanda.
“Itu lebih baik Kak … dari pada pusing mendengar omongan orang di belakang,” balas mami . Ia membela menantunya di depan kakak sepupunya. Mama tua langsung diam, sekarang sudah ada team pembela Netta. Kakak Eva satu lagi, setiap kali ada yang menyindir atau omongin Netta, Langsung di bar-bar Kak Eva.
Arnita dulu tidak pernah suka sama Netta, tetapi saat ini, ia dan Kak Eva yang jadi team pembela Netta dan guru mereka saat belajar tentang adat dan memasak ala masakan Batak.
Kami berdua duduk si samping mami, saat ada mamak tua itu makan sirih, Netta juga mau makan sirih.
Kami duduk sebentar sebelum pulang ke rumah kami, aku ingin melihat apa yang akan dikatakan tante sama menantu pilihannya tersebut. Tante bersikap seolah-olah tidak terjadi apa-apa, sama Tivani dan Candra, tetapi ia tidak tahu betapa hancur hati anaknya. Ia menggantikan cinta anaknya dengan harta, wajah Candra terlihat sangat terpaksa. Tetapi nenek lampir bersikap santai .
‘Mami sudah tobat, kalau tante kapan tobatnya?’ tanyaku dalam hati sebagai lelaki aku kasihan sama Candra.
.
.
.
.
.
Bantu like dan Vote, Kasih Hadiah dan share Kakak agar Pariban Jadi Rokkap masuk Rank
Terimakasih
BERSAMBUNG