Pariban Jadi Rokkap

Pariban Jadi Rokkap
Suami Sakit Istri Tidak Perduli


Selalu saja ada masalah dalam keluarga, dulu kami, sekarang tante Candra, keluarga dari pihak Manurung marah saat tahu kalau tante meninggalkan bapa uda di rumah tanpa ada yang mengawasi.


Besok harinya  kami memutuskan datang ke Bogor, sementara Netta pulang duluan ke Bali karena ia   masih bertugas.


Dari pada masalah semakin panjang kami memutuskan datang ke rumah tante di Bogor untuk melihat keadaan bapa tua, saat kami tiba, benar perkiraan kami, tante tidak ada di rumah, alasannya ia lagi ada pekerjaan di luar kota. Tetapi kami tidak yakin itu hanya alasan, pasti ia  mengumpul dengan grup sosialitanya.


Dalam rumah hanya ada si Lasria bersama bapa uda, seperti yang sudah di sepakati uda Candra yang polisi datang juga.


“Mana mama Las?” Tanya tante Ros saat kami tiba.


“Mama katanya lagi ada kerjaan di Bandung Tan,” jawab Lasria.


Saat kami tiba ia hanya diam,  biasanya ia selalu ramah dan baik saat bertemu keluarga, tetapi saat ini gadis berambut poni itu hanya  duduk diam tidak banyak bicara.


Tidak lama kemudian namboru nya Lasria datang, dan bapa uda nya juga datang, setelah duduk dan mengobrol hari itu.


“Jadi bagaimana Bang, apa yang harus kita lakukan, abang inipun selalu bela-bela istrinya sudah tahu salah,” ujar udah Roy menyalahkan bapa udah.


Suami yang baik, suami yang bisa  menjaga kehormatan dan nama baik istrinya walaupun ia sendiri terluka, itulah yang aku lihat dari  bapa uda, walau semua  keluarga menyalahkan dan menuduh unang uda, ibu dan istri yang tidak baik, tetapi bapa uda tidak mau membuka aib istrinya di depan keluarga, justru si Lasria yang menjawab semua pertanyaan keluarga.


“Lalu bagaimana Bang, apa abang memilih  mati di sini tidak ada yang mengurus?” Tanya uda Roy sama abangnya.


“Ada kok yang urus anggi, ada si Las, nanti si Candra akan membawa kami ke Bali”


“Tidak ada tanggung jawab anak-anakmu sama istrimu samamu ku lihat, percumanya kamu sekolahkan tinggi-tinggi, anak dokter tapi bisa abang di sini seperti orang yang  tidak punya keluarga”


Lasria hanya diam, jelas sekali ia tidak suka mendengar Candra disalahkan, karena ia tahu mereka semua anak-anaknya sayang sama bapa uda.


“Mereka mengurusku dengan baik”


“Abang tidak usah berbohong menutupi kesalahan mereka, kami kemari datang abang di rumah dengan keadaan memprihatikan, lalu  mengurus bagaimana?”


“Aku kuliah bapa uda”


“Kalau aku sebagai anak, aku tidak akan tega meninggalkan bapakku yang sakit di rumah sendirian, bagaimana seandainya dia  jatuh dari kursinya saat  mau ke kamar mandi lalu meninggal tidak ada melihat, apa kalian tidak menyesal seumur hidup!” Namborunya Candra yang datang dari Medan ternyata sangat galak.


“Macam preman Pajak Horaslah aku tegok namboru ini,” bisik ku pada tante Ros.


“Dia kecewa karena dia merasa  adiknya ditelantarkan kelurganya,”jawab tante.


Jadi keluarga dari pihak tante dan keluarga pihak bapa uda datang ke rumah Candra, untuk mencari jalan keluar untuk bapa uda, karena mereka menganggap bapa uda tidak urus sama keluarga, jadi pihak Manurung mengadukan tante ke hula-hulanya, itulah kedatangan kami hari ini ke rumah tante


“Jadi bagaimana lae pendapat kalian dengan ito kalian yang menelantarkan abang kami ini? saat sehat diperlukan  saat sakit dibuang”


Lasria tidak  berani lagi membantah pembicaraan bapa uda Roy, karena ia tahu lelaki yang berprofesi polisi itu sedang marah besar.


“Kalau dari pihak sebagai hula-hula mama Candra, apa yang kami bilang Lae, selama ini  ito kami ini tidak pernah aku sama keluarganya, jangankan untuk menasihati, hanya menegurnya kadang mikir dua kali, jadi, menurut kami, melihat kondisi kesehatan lae kita bawa saja ke dokter,” ujar tulang kembar.


“Tapi jangan asal dibawa, coba telepon dulu mamanya Candra,” mami mengingatkan.


“Kami akan membawa ito kami ini berobat kalau kamu tidak bisa mengurusnya,” ujar Namboru Candra.


“Silahkan kalau memang eda mampu membayar pengobatannya, silahkan bawa dan obati sampai sembuh, biar gak jadi beban keluarga,” ujar Tante dengan marah.


Aku tahu ia semakin marah karena namboru Candra terus- menerus menekannya dan memakinya lewat telepon.


Semua keluarga marah mendengarnya, tetapi sebagai keluarga dari tante aku juga marah mendengar ia menyebut oppung kami mamanya mami ibu yang tidak mendidik.


“Hamu eda sattabi unang sahat-sahat hamu tu inong nami, molo muruk  hamu tu mama Candra ba tu ibana ma. Unang sahat tu natua-tua nami”


“Maaf eda, jangan kamu kait-kaitkan ibu kami, kalau kalian marah sama mama Candra cukup ke dia saja, jangan ikut-ikuttan ke ibu yang melahirkan kami) ujar mami marah. Ia dan tante Ros tidak terima saat mama  mereka di singgung-singgung.


Namboru itu langsung diam  ia  mungkin tidak ingat kalau mami satu mama dengan tante.


“Kakak juga jangan seperti itu, kita mencari solusi untuk kebaikan abang,bukan  masalah baru,” ujar Uda Roy.


“Apa lagi yang mau didamaikan, eda mama Candra hanya ingin  gaji bulanan ito ku  , kalau dia sakit tidak mau diurusin”


“Hmm orang-orang repot juga, balas berhadapan sama orang -orang seperti ini.” Tante dan mami bangun.


Aku juga langsung kehilangan simpati, namboru Candra sebelas dua belas juga sama tante.


Aku juga keluar menelepon Candra untuk jalan terbaik.


“Bang, aku minta tolong kalau abang pulang ke sini sekalian bawalah  bapa sama si Lasria, biar aku tidak  bolak -balik ke Jakarta lagi”


“Candra ingin membawa kamu dan bapa uda tinggal di Bali bagaimana Dek?”


“Apa  benar Eda Netta tugas di  Bali sekarang Bang, apa benar abang juga tinggal di sana?”


“Ya, benar, Netta  bertugas sama Candra sekarang dan rumah sakit, kita juga tidak terlalu jauh, kita ke Bali saja ya Dek”


“Ya Bang.” Lasria bersemangat saat ia mendengar Netta bertugas di Bali.


Setelah mendengar penjelasan Lasria dan Candra aku kembali ke rumah.


“Candra akan membawa bapa uda tinggal bersama mereka di Bali, sebenarnya  beberapa hari yang lalu dia sudah mengutarakan itu padaku, cuman aku memintanya untuk  bicara sama tante.


Tetapi besok dia memintaku membawa bapa uda ke sana, karena mereka berdua bertugas di Bali dan aku juga dan istri sudah tinggal di Bali, jadi mereka sepakat  bapa uda di bawa ke sana”


Bou Candra yang  tadinya marah- marah akhirnya diam, kahirnya anak-anaknya memberi tante pelajaran mereka semua meninggalkan tante sendirian di rumah, jadi ia bebas melakukan  semua yang ia mau.


Jika tante seorang ibu yang masih waras, ia akan merasa kehilangan karena semua anak-anaknya pergi.


Bersambung ...