Pariban Jadi Rokkap

Pariban Jadi Rokkap
Seorang Bapak Yang Merindukan Anaknya


Simardan.


Acara yang diadakan papi berjalan dengan baik, semua teman- teman yang ia undang datang, bahkan  yang tinggal di luar negeri ada yang datang juga.


“Senang bangat melihat papi tertawa lepas begitu ya Kakak,” ujar Arnita, menatap papi dan bapa yang tampak asik bercerita tentang masa lalu  dengan  teman-temannya saat sekolah dulu.


“Papi di masa tuanya harusnya sering-sering  begini …  bertemu dan  dengan temannya -temannya, biar pikirannya tetap segar,” ucapku.


Penyambutan  dan jamuan untuk teman-teman papi benar- benar sangat baik, Kak Eva, Riko, Netta dan kedua laeku  mengurus semuanya agar teman-teman tidak kecewa.


Setelah pembukaan cafe papi selesai, acara makan juga sudah selesai,  diawali dengan doa maka ditutup juga dengan doa, maka acara sudah bebas, saat lagi duduk menikmati sepotong cake, tiba-tiba papi memanggil kami  semua anak-anaknya.


“Ini anak-anakku.” Lalu dengan  wajah bangga papi mengenalkan semua anak-anak dan menantunya, apa lagi saat memperkenalkan Netta menyebutnya ‘parumaen na burju’ menantu yang baik. "Ini Riko anak anggi kami, anak dia". Menunjuk bapa uda, saat ia memperkenalkan kami ia juga selalu memperkenalkan Riko, ia tidak mau anak muda itu merasa diacungkan, karena kasus yang menjerat tante membuat semua anak-anaknya terkadang merasa inscure.


Tetapi aku menasihati Riko dengan mengatakan seperti ini;


"Jika kita berpikir semua akan baik-baik saja maka orang lain juga, akan berpikir demikian ke kita"


"Terkadang tidak nyaman melihat tatapan orang Bang"


"Ya, anfirmasi dalam pikiranmu semua akan baik-baik saja, maka alam bawah sadarmu atau mindset dalam otakmu akan memproses tindakanmu dengan baik"


"Baik Bang"


Lalu ia mulai bersikap santai karena dukungan kami semua, karena teman-teman papi yang datang hampir sebagian besar satu kampung mereka orang yang mengenal keluarga bapa uda.


Kami semua masih berdiri di dekat papi dan teman-temannya.


“Oh … jago do ho bah kedan, akka na beteng ido hape kerejo ni anakmu dohot helam”


(Oh … hebat kau kawan,  pekerjaan yang hebatnya anakmu dan menantumu)ucap  teman-teman papi.


Saat sedang duduk  cerita-cerita, tidak di duga salah seorang teman baik papi, rupanya anaknya bekerja di perusahaan kami.


“Aha naking didokko goarni perusahaan ni anak taon?”


( Apa tadi nama perusaan milik anak kita ini?”


“Naima Karya, Tulang,” jawabku, aku


memangilnya tulang, karena  beliau marga Siregar , karena antara marga Siregar dan Nainggolan itu marpadan.


“Bah ai disido kedanku karejo”


(Wah di sananya jagoanku kerja!) Ucapnya kaget.


“Ise goarna …!?” tanya papi ikut terkejut.


“Biden Siregar”


“Oh adong do?”


(Adanya?)


“Ya, Biden bagian kepala proyek di kantor kami,” ujar ku.


“Bah … bos ni anakku doho  bah amang! ”


(Wah … bos anakku ternyata kamu Nak) ucapnya  dengan mata berkaca-kaca.


“Iya Tulang”


“Bisanya kamu telepon dia Mang sudah rindu kali aku sama dia, semenjak mati mama dia, tidak pernah lagi aku ditelepon,” ucapnya dengan mata berkaca-kaca.


“Bah unang jadi lungun roham bah, telepon majo Bapak Paima, songoni do si pata anak molo naung berkeluarga, lupa do tu natua-tua na”


(Ah … jangan jadi sedih, teleponlah dulu Nak,  terkadang seperti itu kalau sudah berkeluarga, lupa sama  orang tuanya,” ucap  tulang yang di sampingnya   menepuk- nepuk punggung  tulang tersebut.


“Daong Lae si Mardan do kedankon, sappe monding omakna so dibereng bayoon”


(Tidak Lae, Simaling Kundang anakku itu, sampai meninggal mamanya gak di jenguk sama dia) ucap tulang itu dengan suara bergetar.


Tulang inilah salah satu teman papi yang rezekinya kurang beruntung, ia yang ongkosin dari Sidikkalang, ternyata di balik itu semua ada cerita yang menurutku  sangat sedih.


“Tega kali sampai mamanya pun meninggal tidak dijenguk"


“Tega bangat ya, kalau ada kisa seperti, si Mardan  sama orang tuanya,” ucap Arnita lagi dengan wajah geram.


"Ya Kurang ajar dia"


Lae Arkan menyenggol tubuh Kak Eva  meminta untuk diam.


“Bisa kamu telepon Mang?” Tanya papi lagi.


“Unang di dokkon ho Tulang di sini Bere, dang laho olo ro apalagi parumaen, parumaen na takkang do”


(Jangan bilang tulang di sini bere, dia tidak akan mau datang , kalau dia tahu aku ada di sini,” ujar tulang itu lagi.


Terlihat jelas ada kerinduan besar untuk melihat anak dan cucunya, apa lagi tulang itu bercerita Biden  Siregar anak satu-satunya.


“Ake boi amang?”


(Bisa gak Nak?) Tanya mami dengan wajah sedih, ia juga ikut duduk dengan kami,.


Dulu aku memang bukan tipe bos yang mencamburkan masalah pribadi dengan pekerjaan, tetapi setelah menikah dengan Netta, hidupku berubah, hatiku lebih gampang sedih, dan iba jika ada orang yang aku dengar bercerita tentang hal yang sedih juga.


“Teleponlah Hasian, kasihan bapa uda ini,” bujuk Netta, kalau sudah Netta yang minta jangankan menelepon dia , bulan di langitpun akan aku petik jika tanganku bisa menggapai langit.


“Baiklah akan aku telepon si Mardan itu”


“Begini saja … tulangmu juga ingin melihat cucu-cucunya, kalau bisa ajaklah mereka,” ujar papi.


“Ya, Bere minta tolongma tulang”


Kami semua beruding bagaimana caranya agar  kedua anak-anaknya  dan istrinya juga diajak ke Bali, begini saja aku  punya kupon tiket gratis empat untuk liburan ke Bali, sebenarnya untuk pegawaiku yang dapat promosi, tetapi nanti bisa ganti dengan hadiah yang lain, kasih itu saja, kita bisa telepon  untuk ganti harinya,” ujar Lae Arkan.


“Boleh lae, tolonglah kasihan tulang ini”


“Ok, kita pastikan dulu apa dia bisa baru kita pesan tiketnya”


Aku menelepon  Biden  berpura-pura membawa berkas penting untuk proyek di Bali, karena saat itu proyek kami ada di Bali, aku meminta datang dan aku bilang punya tiket gratis, sayang kalau hangus meminta mengajak istri dan kedua anaknya, awalnya ia menolak tetapi setelah aku jelaskan kalau tiket itu paket liburan untuk keluarga, lalu ia bertanya pada istrinya ternyata mau.


“Baiklah,” ujar lae Arkan ia meminta sekretarisnya untuk mengurus tiket tersebut.


“Aku penasaran bagaimana wujud istrinya, apa dia secantik bidadari sampai dia harus memilih wanita itu dari pada keluarganya?” Tanya kakak Eva.


“Aku akan menasihatinya besok kak, bila perlu sentil saja ginjal parumaen yang jahat itu,” ujar Arnita geram.


“Di keluarga kami mami lah yang jahat, tetapi di sini  menantunya yang jahat,” ucap Riko.


“Jangan menyinggung itu lagi Riko, biarkan amang boru tertawa sebentar, untuk melupakan beban dalam hatinya,” ujar Netta.


“Iya Kaka”


“Makanya hati-hatilah memilih istri nanti kalau kamu mau menikah, jangan sampai istrimu memintamu memilih antara istri atau ibu, kerena  istri yang baik bukan  meminta kita memilih tetapi menyatukan semua perbedaan,” ujar  Netta.


Benar kata Netta, wanita yang baik bukan memisahkan  hubungan anak dengan  ibunya, tetapi untuk menyatukan semua perbedaan.


Bersambung


KAKAK  JANGAN LUPA KASIH KOMENTAR DAN PENDAPAT KALIAN DI SETIAP BAB DAN JANGAN LUPA JUGA


LIKE,  VOTE DAN KASIH  HADIAH


Terimakasih untuk tips ya


Baca juga  karyaku yang lain


-Aresya(TERBARU)


-The Cured King(TERBARU)


-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)


-Menikah dengan Brondong (Tamat)


-Menjadi tawanan bos  Mafia (on going)


Bintang kecil untuk Faila (tamat