
Masih dalam pembahasan untuk tuhor ni boru (mahar) mami yang pemikirannya masih kolot, ia masih ingin sinamot atau harga perempuan itu murah.
“Jadi boha amang? di doho kuncina”
(Jadi bagaimana amang? Sama kamu semua keputusannya ) Tanya tulang tertua yang di kampung sama Lae Rudi.
Tidak ingin lae Rudi bigung karena biaya, aku mengerti dia juga pasti memikirkan biaya yang lain, aku mengambil inisiatif , kirim pesan sama si borneng.
[Bilang saja lima puluh juta dek, biar kita nanti yang bayar]
[Empat puluh juta saja bagaimana?] balas Netta.
[Ya, sudah]Balasku lagi.
Netta mengirim pesan pada Lae Rudi yang di depan kami,.
[Ito, dokkon ma opat puluh juta hami mambayar dohot laem, molo sangap ni bahenko boruni rajai, halakki pe sanggap do mamereng ko dohot oma]
(Ito, bilang saja harga calon eda itu empat puluh juta, kamipun yang membayar sama laem, kalau ito memberikan rasa hormat pada calon keluarga ibu mertuamu, mereka juga akan menghormati ito dan keluarga kita) Netta mengirim pesan.
[Olo ito, aupe songonido pikkiranku, mauliate itoku dohot lae]
(Ya ito, aku juga pikirannya seperti itu makasai itoku dan makasi sama lae)Rudi membalas pesan Netta, ia menunjukkan padaku isi pesan lae Rudi.
Kami terpaksa bicara lewat pesan, tidak ingin mengurangi rasa hormat pada Lae di depan keluarga.
“Ake boha amang?”
(Ya, bagaimana amang?) Tulang Gres bertanya lagi.
“Ya , Bapa uda kasih saja empat puluh juta”
“Ahh …! Ai godang mai!”
(Ah … banyak kali itu!) Mami langsung bereaksi.
"Ah, mami diam saja" Kakak Eva sama papi marah.
Saat lagi pembahasan sinamot Candra menelepon kalau mereka sudah pulang ke Bali, karena sebelumnya aku sudah mengabari kalau Lae Rudi akan menikah.
“Sebentar, Candra menelepon,” bisikku sama Netta.
“Abang keluar saja”
Aku keluar menerima telepon dari Candra.
“Kami ikut pulang ya Bang, ikut hadiri pestanya”
“Oh … baguslah itu, kebetulan kami lagi membahas sinamot di rumah”
“Ya, sudah biar aku dan Vani yang patungan untuk biaya, bilang sama Lae Rudi jangan khawatir dengan biaya”
“Ok, ok Can”
Mendengar itu aku langsung bersemangat jadi ada alasan sama keluarga yang bantu lae Rudi banyak.
Aku masuk kembali dalam rumah.
“Ake Amang pikirkan denggan”
(Ya, amang pikirkan baik-baik) Tulang kembali menasihatinya.
“Ya, pikirkan lagilah rumahnya dekatnya, ulos, dekke dari kita,” ujar tante Ros.
“Lagian sikkolana so adaong, bayarmu ma opat puluh juta? Nanggo di baenko i dp di jabu annon”
(Lagian sekolahnya tidak ada, kau bayarlah itu empat puluh juta? Kenapa kamu bikin saja itu dp cicilan rumahmu) Mami merepet.
Karena semua keluarga menekan lae Rudi karena menurut keluarga Nainggolan .... mahar segitu kemalahan, Borneng akhirnya angkat bicara.
“Sattabi bapa uda boi do au boru on, mangalean pendapat?”
(Maaf bapa uda, apa aku anak perempuan ini, bisa memberi pendapat?) Tanya Netta.
“Boi, Boi Inang dokkon ma”
(Bisa, bisa Nak katakanlah) Ujar tulang tertua.
“Songon do bapa uda. Namboru … si Nely dang na baru di tanda hami, nungga hera boru ni oma di jabuoan, ibana membantu oma dohot akka adik-adik, saat hami dang adong, jadi hepeng sinamot nasai sian gogoni roha nami doi, alani burjuna tu oma, dang mamereng sikkla dohot titel. Tu aha titel molo so dihargai oma. Talean nasai sinamotna ... Halaki pe barani mengundang keluargana, bangga mangundang keluargana.
Molo sangap di bahen ito on borunai dohot calon si matua nai, sanggapma di bereng jolma keluarga ta tarlumobi mama. Harta na boi di sarido, alai roha na burju dang boi di tuhor”
(Begini Bou, bapa uda … Nely bukan baru dikenal sama kami, sudah seperti anak perempuan mama dia di rumah, walua tidak ada ito Si Rudi tapi dia tulus membantu mama dan adik-adik selama ini. Jadi uang itu dari hati kami yang dalam karena kebaikan hati Nely sama mama selama ini, ito Rudi dan mama tidak meliha titel dan jabatan, untuk apa dia punya jabatan kalau dia tidak menghargai mama? Tetapi, jika kita menghargai dan menghormati keluarga. Dengan sinamot segitu mereka juga bangga mengundang keluarga, bangga kalau boru mereka dihargai, juga akan menghargai ito Rudi, telebih mama. Harta bisa di cari Namboru. Tetapi, kebaikan dan keiklasan seseorang tidak bisa dibeli) ujar Netta.
Semua tulang mengangguk kagum dengan penjelelasan Netta.
“Alani burju nai saleleng tu keluarga, makana hami boi bertahan”
(Karena dia baik makanya kami bisa bertahan sampai saat ini) Ujar Lae Rudi.
“Baenma molo songoni , amang boru nauli ma na dibaenmunai tutu, lagian pe naburju do hubereng boru Pandiangan na marnatua tua. Botuldo nadidok mi inang, haburjuon dang boi dituhor”
(Baiklah kalau seperti itu Nak, bagus sekali yang kamu lakukan, lagian perempuan baik aku liht boru Pandiangan , baik sama orang tua. Benar kata kamu boru, kebaikan seseorang tidak bisa ditukar dengan uang) ujar bapa uda.
Salut sama Netta berani mengungkapkan kebenaran dengan cara yang sangat sopan, walau dia pihak boru dan masih mudah, semua tulang kami menganguk dan menerima pendapat Netta, padahal lae kami Saut yang harusnya yang bicara, tetapi ia tidak berani, tetapi Netta dengan cara yang berkelas, berani mengungkapkan apa yang mereka pikirkan.
‘Istriku keren’ ucapku bangga, melirik mami yng masih cemberut.
“Ake bohado akkang pendapatmu?”
“Ya kak bagaimana pendapatmu?” Tanya tulang sama mama mertua.
Ibu mertua juga melihat Netta .” Dokkon ma aha naeng si dokkon onmu, unang pala si simpan ko di bagas roham”
(Bilanglah Ma, apa yang ingin dikatakan, jangan dimpan dalam hati,” ujar Netta.
“Seperti yang kamu bilang itu , saja inang,” ujar ibu mertua beliau dari dulu tidak terlalu banyak bicara.
“Amani Tika, adong sidohonmu?”
“Bapak Tika, ada yang ingin kamu katakan”
“Tidak bapa uda, ito mamak Paima sudah mengatakan semua,” ujarnya lae Saut.
“Baiklah, Rudi sudah mengatakan segitu ya segitulah, nanti kita sampaikan ke rumah pihak par boru,” ucap tulang.
Semua akhirnya sepakat sinamot empat puluh juta, mami dan tante yang tadinya menolak, setelah mendengar penjesan Netta dan Rudi, akhirnya diam. Pesta adat besar aka berlansung.
Pesta akan bertamba meriah karena Candra dan Tivani akan datang , ini akan jadi pesta adat Batak pertama untuk Tivani setelah ia masuk ke falam keluarga kami, aku berharap dalam pesta nanti, semua berjalan dengan lancar dan keluarga semua akur
Bersambung