Pariban Jadi Rokkap

Pariban Jadi Rokkap
Ada apa dengan Netta?


“Tidak lagi bang, tidur sajalah,” kata Netta merebahkan tubuhnya dan memilih tidur, aku tau ia sedang sedih dan mungkin saat ini ia sedang menangis.


“Maafin Mami iya, Ta,” kataku, berucap pelan mungkin ia sudah tidak mendengarnya lagi.


Aku merasa lelaki yang lemah, tidak punya pendirian dan ketegasan. Lelah dengan pikiran dan tubuhku, aku juga sebenarnya belum makan, tapi memilih untuk tidur melihat Netta tidak mau makan, aku juga kehilangan selera makan.


Saat aku bangun, Netta juga sudah bangun, seperti kebiasaanya ia selalu bangun sebelum jam lima pagi, walau di rumah kami ada dua orang Asisten rumah tangga tapi ia selalu ikut membantu di dapur, membereskan banyak hal, boleh dibilang di rumah ini sebenarnya, ia lebih terlihat seperti pembokat daripada seorang istri, semua ia kerjakan.


Sejak malam itu, ia sedikit demi sedikit mulai berubah.


Aku sudah sengaja bangun cepat, niat ingin mengantarnya ke kampus, tapi saat ingin serapan pagi ternyata kata si Bibi , pagi-pagi sekali ia sudah berangkat.


Tumben pagi-pagi ia sudah berangkat, apa ia tidak serapan? Di meja makan ada dan tidak ada Netta, mami tetap saja bernyanyi membuatku tidak berselera makan. Baru dua suap, tapi mendengar mami marah-marah pagi-pagi membuatku kehilangan nafsu makan.


“Aku berangkat.”


“Loh, serapan belum habis,” Papi menegurku, Papi paling tidak suka melihat nasi terbuang-buang.


“Maaf Pi, tiba-tiba kehilangan selera makan karena Mami marah-marah terus.”


“Aku marah sama si Netta bukan sama kamu,” kata Mami dengan suara menggelegar dalam rumah.


“Netta ada, tidak ada, Mami tetap saja marah-marah, Mami tidak kasihan apa sama dia?”


“Kasihan? kenapa saya harus kasihan, saya memberinya nasehat untuk kebaikannya,” kata Mami selalu ada jawaban dan tidak pernah mau mengalah.


“Nanti kalau Mami terus menerus seperti itu, kami akan mengontrak sendiri.”


“Kamu tidak akan mampu jauh dari Mami Tan, kamu sama Netta harus tetap bersama kita, agar kita mengawasi kalian berdua.”


Tapi sejak Tulang kami memberi nasehat pada Netta malam itu, sejak hari itu ia mulai berubah, ini sudah hampir empat bulan Netta mulai jaga jarak, terlihat di rumah ia seperti semakin menjauhkan diri, rumah kami sudah seperti menginjak bara api baginya, ia tidak pernah betah di rumah, berangkat pagi-pagi sekali, pulang sudah sangat larut malam .


Aku sudah tidur, ia baru pulang. Hampir tidak mengobrol dengannya lagi, aku terlalu santai, tapi hatiku sangat sedih memikirkannya, aku sengaja tidur malam sengaja ingin melihatnya pulang jam berapa.


Jam 23:30 ia baru sampai, aku masih berkutat di meja kerjaku.


Kereaak


decit pintu di buka.


“Eh, abang belum tidur?”


“Kok baru pulang jam segini, Ta,?”


"Ia bang tadi restorannya sangat ramai jawabnya," tapi wajahnya terlihat sangat lelah, bahkan ia tidak membuka baju yang ia pakai lagi dan langsung merebahkan tubuhnya.


“Ta, kamu sudah tidur?”


“Aku ngantuk bangat Bang, biarkan aku tidur sebentar,” pintanya, matanya sangat berat.


Ya Tuhan, apa ia sangat lelah?


Aku bangun pagi-pagi, ia sudah berangkat, ia hanya menumpang tidur beberapa jam di rumah kami, bahkan ia tidak pernah lagi mendengar Mami mengomelinya.


Tadi melihatnya semakin menjauh aku merasa ada yang hilang dari bagian hatiku. Aku sangat sedih pernikahan kami hanya pajangan, Aku jarang mengobrol dengan Netta bahkan hampir tidak pernah, ini sudah hampir berbulan-bulan sejak ia melakukan itu.


Aku malah tidak perduli lagi pada Mikha, malah sering mengabaikannya dan sudah jarang aku menemuinya. Tapi hatiku mulai terusik atas sikap Netta


Tidak, aku harus melihatnya ke kampus, aku sengaja membatalkan rapat ku hari ini, agar aku bisa melihat apa yang di kerjakan Netta di Kampusnya.


Kebetulan juga, sudah waktunya aku membayar uang semesternya.


Saat ingin membayar uang semester untuk tahun ini, aku ingin melunasi, tapi Netta sudah melunasi katanya.


Jantungku berdetak tidak karuan, uang sebanyak itu dari mana ia dapatkan? Pekerjaan paruh waktu tidak akan bisa melunasi semua itu.


Aku mencari Netta, tapi hari ini ia tidak ada mata kuliah, tapi ia berangkat pagi-pagi dari rumah.


Aku pulang ke rumah badan tiba-tiba lemas, sengaja menunggunya pulang, jam sepuluh belum pulang, jam sebelas belum pulang hingga jam 12 ia belum pulang juga, emosiku tidak tertahan lagi, aku meneleponnya tapi ponselnya tidak aktif . Aku sengaja mematikan lampu di kamar agar ia tidak curiga.


Kreaak


Ia sudah datang, aku menyalakan lampu. Ia terkejut mengalihkan wajahnya.


Darahku langsung mendidih melihat wajahnya, lipstik merah, bulu mata, ayeliner dan pipinya di merah-merahin.


“Kamu dari mana?”


“Abang… belum tidur, apa perlu sesuatu? Apa abang lapar?" Tapi ia tidak berani menatapku, membuatku semakin panas.


“Iya aku memerlukan mu,” kataku, emosi.


Dadaku naik turun, bahkan aku merasakan bulu kudukku berdiri, ia sangat cantik malam itu, ia tidak pernah secantik itu sebelumnya, untuk apa itu, untuk apa ia melakukan itu?


“Aku mau ke kamar mandi dulu Bang, katanya.


“Katakan …! Kamu dari mana?" aku menahan lengannya mencoba menatap wajahnya, tapi ia tidak berani menatapku, Saat itu juga aku merasakan duniaku seolah runtuh.


“Aku mau ke kamar mandi dulu Bang.”


“Apa kamu tidak ingin memberitahu, kamu dari mana?”


“Ini sudah malam, aku sangat mengantuk aku capek ,” ia melepaskan tanganku dan masuk kedalam kamar mandi membersihkan makeup-nya dan sekalian berganti baju.


Ya Tuhan, apa yang sudah terjadi? Aku menutup wajahku dengan kedua telapak tanganku dengan kasar,


tidak sanggup rasanya aku memikirkan hal itu, ia keluar dari kamar mandi sudah berganti pakaian.


Merentangkan kasurnya dan merebahkan tubuhnya, aku masih terduduk dengan lemas.


“Apa kamu akan tidur begitu saja,Ta?”


“Aku minta maaf bang Nathan, besok saja, aku lelah.”


“Menunggu besok aku rasa aku mau mati, Ta.”


“Aku minta maaf bang, tapi aku tidak pernah mengurusi pribadi abang, bukankah begitu sebaliknya? Bukankah abang yang dulu membuat peraturan itu satu setengah tahun yang lalu?”


“Apa!?”


“Mari kita, tidak saling mengurusi satu sama lain,” kata Netta. suaraku meninggi tapi ia menjawab dengan suara pelan dan lembut.


Aku terdiam aku merasa ada puluhan batu menghantam bagian dadaku, rasanya sakit.


Aku tidak bisa bicara apa-apa, malam itu tidak sedikitpun aku bisa memejamkan mata.


Aku bangun lagi-lagi Netta sudah tidak ada lagi, kasurnya sudah di lipat dengan rapih.


Aku Mandi dan baju yang ingin aku pakai sudah terlipat rapi, di sediakan Netta sepasang ****** *****, kaos kutang, celana dan kemeja.


Aku membiarkan baju yang sudah disiapkan Netta, memakai pakaian yang lain.


Pagi itu aku seperti mayat hidup, seluruh tubuh dan otak ini seakan mati rasa mengingat penampilan Netta.


Dalam meja makan Mami tidak cerewet lagi, ia mulai berkurang saat tidak melihat Netta.


“Abang Nahthan, kenapa pucat seperti itu sih?" Arnita menatapku diikuti yang lain ,gadis berseragam abu-abu itu selalu cerewet dan selalu ingin tahu.


“Kamu sakit Tan?” Papi menatapku aku hanya menggeleng dengan pelan.


Aku bahkan tidak menyentuh serapanku.


Bersambung....