
Suara kak Eva menggelegar di dalam rumah, suara luapan emosi.
“Katakan dengan jujur, Katakan siapa pelakunya, aku ini petugas medis, aku tahu ciri-ciri orang bunting,
sekali lagi aku tanya, siapa yang menghamili mu?”
suara itu bahkan sampai ke kamarku.
Deg...!
Jantung berdetak tiba-tiba, saat mendengar Arnita hamil di luar nikah, membuat bulu kudukku merinding.
Hamil??
Nita hamil sebelum menikah, itu membuat aib.
Keluarga ini akan makin terkenal saja, dan akan jadi bahan omongan banyak orang, baru juga beberapa hari lalu gempar karena rumah tanggaku dengan Netta
sekarang Arnita bikin masalah baru lagi.
“Katakan!
Cepat katakan!
kamu tidak mau bilang?"
Arnita di seret ke kamar mandi dan disiram pakai air.
“Ampun kak, ampun…!
iya aku katakan, benar aku hamil, maafkan aku kak.”
Anita menangis minta ampun.
“Mami dengar!
itu karma dari Tuhan buat Mami karena merendahkan menantumu sendiri, sekarang anak perempuanmu yang rendah.”
Kak Eva terdengar emosi.
“Ma… jangan ngomong seperti itu sama orang tua.”
Suaminya menegurnya.
Papi terlihat pucat dan hanya duduk membatu.
“Biar saja bang, itu akibatnya kalau Mami memanjakannya, itu akibatnya, lihat ia akhirnya bikin aib dan mempermalukan keluarga ini.
Mami mau taruh di mana harga diri Papi, mungkin kalau Mami sudah biasa, tidak malu lagi.
Tapi aku kasihan sama Papi, aku juga malu. Apa kata orang nanti, kalau tau Arnita hamil di luar Nikah?”
“Mami…!
maaf,” kata Arnita dari pintu kamar mandi.
“Kamu membuatku malu,”
ucap Mami, ikut memukul Arnita di kamar mandi.
“Maaf Mi, Nita salah, minta ampun tolong maafkan, Mi,”
suara Arnita memohon.
Aku tidak tahu harus berkata apa lagi, apa ini teguran untuk mami atas segala perbuatanya selama ini pada Netta, apa aku harus tertawa atau aku harus menangis?
Tapi aku sangat merasa sedih, aku tidak pernah menginginkan hal ini untuk terjadi pada Arnita adikku dan Netta Istriku.
Tapi satu hal yang pasti dalam kehidupan ini, Apa yang ditanam, itu juga yang akan di tuai.
Jika hal baik yang di tabur, maka hal baik juga yang akan dituai.
“Kenapa kamu mempermalukan Mami? Arnita!”
Mami terdengar menangis histeris, ia juga memukuli Arnita.
“Itu sebabnya Mami terlalu manjakan dia selama ini, terlalu bebas Mami buat, sekarang lihat, ia melempar kotoran ke wajah orang tuanya sendiri.
Dari dulu sudah saya bilang sama Mami, jangan terlalu di bebaskan Mi, kalau kuliah biarkan fokus kuliah dulu, tidak usah jadi model-model segala.
Mami tidak mau dengar, sekarang lihat akibatnya, masa depannya hancur, tidak mungkin ia kuliah lagi, ketahuan hamil dari Kampusnya, ia pasti sudah di keluarkan,
hancur sudah masa depannya. Memalukan, menjijikkan, kamu tidak bisa menjaga martabat mu sendiri,
sekarang kamu masih berani melawan sama saya ha?
makanya, dengar orang yang lebih tua darimu, jangan sombong, Haaa!”
Pak...!
“Sakit…!
Jangan urusi hidupku,”
teriak Arnita masih berani melawan.
“Masih mau melawan Ha?
Apa kamu bilang, dasar wanita tidak tahu malu.”
Pak...!
Aneh, walau sudah di hajar habis-habisan seperti itu, Mami diam, sepertinya ia kaget dengan kejadian ini, ia diam hanya melihat Arnita di hajar sama kak Eva, sampai-sampai suara teriakkan kemarahannya memenuhi seisi rumah.
“Ampun…
Mami tolongin, aku salah,”
teriak Arnita melihat Mami membiarkan kak Eva jadi algojo hari itu.
Ini hari menggemparkan, Mami terdengar tidak menggubris kata minta tolong dari Arnita, ia masih membatu seperti patung, mungkin ia menyadari kesalahannya, atau ia memikirkan hal yang lain.
“Kita harus ke rumah sakit, kita akan mengkuretnya, ini tidak boleh, Mami akan sangat malu kalau orang melihatmu hamil tanpa suami.”
“Mami aku takut, jangan…!”
“Diam…! Diam!”
suara Mami meninggi seperti orang kesurupan.
“Aku malu.
Aku benci sama kamu, kamu memalukan, Bi, Ambilkan pakaian gantinya, kami akan ke rumah sakit sekarang.”
kata Mami.
“Baik Bu,” jawab Bi Atun dengan cepat ia berlari keatas, melewati ku yang duduk di tangga , Netta kamarnya di sebelah kamarku.
Tidak butuh beberapa lama, ia sudah turun lagi membawa baju ganti yang di Minta Mami.
“Ini Bu, baju gantinya.”
“Ayo cepat, kita harus ke rumah sakit.”
“Mami! aku takut, jangan Mi…”
Mami menyeret tangannya, memaksa ke rumah sakit, rumah mami terdengar gempar hari ini, dengan suara-suara seperti memakai Toa.
“Hentikan itu!”
Papi melepaskan tangan Mami dari Arnita.
Karena mami menyeret tangan gadis bandal itu, memaksanya ke rumah sakit untuk melakukan kuret.
“Papi maafkan aku, aku salah.”
Kata Arnita.
Aku masih duduk di tangga melihat degan jelas
rambutnya yang aku potong minggu lalu sudah dipotong rapi.
Saat melihatnya seperti ini, aku tidak membencinya lagi, tapi aku kasihan padanya,
Ia seperti itu karena Mami memanjakannya, ia salah pergaulan, dulu ia anak yang baik, pintar.
Tapi, sejak Mikha datang dan mereka berteman, hidupnya jadi rusak.
Belum lagi karena Mami salah mendidiknya, membiarkannya ikutan jadi foto model, padahal kami sudah memperingati Mami, karena dunia hiburan itu sangat menakutkan, apalagi untuk gadis muda seperti Arnita.
Aku tahu banyak betapa menakutkannya dunia hiburan di tanah air, baik model dan kehidupan para artis, karena aku punya teman artis juga, mereka cerita demi bisa dapat job kadang harus mau tidur dengan bos-bosnya.
Jadi, kejadian yang menimpah Arnita, aku tidak kaget lagi, ini semua kesalahan Mami yang terlalu membebaskannya, terkadang ia mau berangkat kuliah saja, pakaiannya sangat terbuka memperlihatkan auratnya.
Tapi beberapa kali Kak Eva menegurnya, ia malah ngomong, kalau kak Eva syirik karena tidak bisa jadi artis,
anehnya Mami malah membiarkannya saat itu, kalau sudah kejadian seperti ini, suara Mami yang paling kencang, berteriak seperti kesetanan, menyalahkan si A dan si B
Hadeh…!
“Biarkan saja PI, aku membawanya ke rumah sakit, sekalian saja ia disuntik mati,”
teriak Mami marah.
Anita memeluk papi
”Cukup aku bilang, sudah duduk,
koreksi diri Mami dulu, kenapa jadi seperti ini.”
“Aku muak kalian selalu menyalahkan ku,” teriak Mami marah.
“Memang benar, kan?
dulu kamu mengatai Netta mandul, memukulinya, lagian bukannya Mami mau cucu?
Itu cucumu.”
Kata Kak Eva marah.
“Kamu diam Eva…!”
bentak Mami, menatap wanita berambut panjang itu.
“Tidak Mi, aku tidak mau diam lagi, selama ini aku diam karena di suruh Helamu (Hela menantu lelaki)
tapi, melihat kalian berbuat sesuka hati, pada akhirnya begini, kan?
Netta pergi gara-gara Mami, Arnita bunting di luar nikah itu salah Mami.
Mami pikir, dibawa ke rumah sakit Dokter mau melakukan tindakan kuret sembarangan?
biarkan Ia tetap seperti itu.
Bersambung....