
Hampir satu minggu rasanya tidak pernah bisa tidur malam dengan baik membuat penyakit baru muncul, dalam tubuhku salah satunya penyakit lama, lambungku yang sering kambuh bila aku kurang istirahat.
Aku kurang enak badan karena bergadang lagi tadi malam.
Saat bangun sudah jam 09:15 pagi, aku harus bertemu Netta, sebelum bertemu dengan keluargaku, aku harus bicara bertemu dengannya, aku tahu apa yang terjadi pasti Netta sangat membenciku, tapi apapun keputusannya aku harus bertemu dengannya.
Aku harus memberitahunya kalau aku juga marah, aku sudah menghukum orang yang sudah menyakiti Netta.
Badanku terasa meriang, kepala pusing, tapi aku harus kuat, di sebrang Hotel tempat aku menginap ada apotik, obat yang buat mag untuk menghilangkan rasa perih di lambungku yang sudah menusuk ke bagian ulu hati, tapi sebelum minum obat bagusnya di isi dengan makanan.
Kebetulan ada penjual Bubur di depan apotik, pas bangat makan Bubur baru minum obat.
Tepat jam sepuluh, aku meninggalkan Hotel, aku akan ke Bekasi, aku akan menjemput Netta ,kami akan pulang ke rumah, aku tidak akan meninggalkannya lagi apapun yang terjadi, sekalipun aku nantinya akan jauh dari Mami aku siap demi Netta.
Aku sudah menyusun segala rencana yang baru dengan Netta, aku akan bekerja keras, aku mau sembuh, aku siap menerima pengobatan asal Netta mau menerimaku kembali.
Tiba-tiba ku merasa jantungku bergemuruh, aku berpikir ada hal buruk lagi yang akan terjadi.
Tapi aku tidak tahu kalau tidak mencobanya, segala sesuatu itu harus dicoba baru tahu hasilnya.
Aku terpaksa mematikan ponsel karena Papi dan semua keluarga meneleponku. Mengajariku ini, itu, menyuruhku menunggu tapi aku tidak akan melakukanya, aku harus menjemput Netta, membawanya pulang,
karena bukan aku yang melakukannya, aku mencintai Netta jauh dari yang mereka pikirkan.
Perjalananku dari Bogor ke Bekasi membutuhkan waktu kira-kira dua jam, mudah-mudahan tidak macet.
Aku akhirnya tepat saat matahari di atas kepala, jam 12 siang aku pertama ke bengkel tulang, tapi sayang bengkel itu di tutup.
Bengkel milik Mami, yang di sewakan Mami sama adiknya.
Mami memang luar biasa pelit, dan kikir sama adiknya sendiri ia menyewakan, apa ruginya memberikan satu untuk saudaranya, karena itu tidak akan menjadikan Mami jatuh Miskin, karena Mami punya kontrakannya banyak, belum lagi kantor koperasi yang di bangun Mami.
Tapi setiap kali aku dan kak Eva membahasnya Mami akan marah, maka itu aku dan Kak Eva, tidak mau membahas lagi.
Kami berpikir biarlah ini jadi urusan orang tua kami, tapi lama-lama kelamaan aku berpikir Mami makin tamak mengutamakan uang di atas segalanya, termasuk kebahagian anaknya sendiri.
“Abang itu hampir satu minggu tidak buka.”
Seorang ibu tiba-tiba berdiri di sampingku.
“Kenapa iya Ibu?.”
Tanyaku pada seorang ibu yang berjualan di samping bengkel tulang.
“Kurang tahu iya dek, rumahnya dekat dari sini jalan juga bisa.”
“Iya bu makasih.”
Masuk ke dalam mobil lagi berpikir sejenak, menenangkan hati karena tulang dalam adat Batak itu orang yang paling di hormati, tidak sembarangan berucap, apalagi dalam kasus ku yang melakukan kesalahan besar, menyakiti borunya(Boru: anaknya) melakukan ritual kecil tarik nafas dalam-dalam, membuang dari mulut.
Akhirnya memberanikan diri harus ke rumah tulang.
Rumah permanen bercat kuning, aku memarkirkan mobil di depan rumah, mendengar ada suara mobil
Tulang keluar, melihatku turun dari mobil wajahnya langsung tidak bersahabat,
Oh, jantung berdendang dengan hebat.
“Tulang,”
Menjulurkan tangan untuk bersalaman, terlihat berat rasanya tulang menerima tanganku.
“Mari duduk,.” membentangkan tikar kecil.
“Maaf Tulang, saya mau bertemu Netta.”
“Apa kamu menitipkan Netta di sini?” Tulang mulai bersikap dingin dan terlihat sangat marah.
“Ia tidak ada di sini.” Katanya kemudian.
“Mungkin tulang salah paham tentang permasalahan yang kami hadapi.”
“Tidak, saya tidak salah paham, karena saya mengetahui semua kejadiannya.”
“Baiklah tulang, setidaknya biarkan aku bicara berdua dengan Netta, karena ia masih istri saya, tulang.”
“Tulang tau, masalahnya ia ke rumah tante mu yang di Bogor.”
Saya baru dari bogor tulang.”
“Iya Netta memang di sini kemarin, tapi sudah di bawa kemarin, sebaiknya kamu pulang dan besok kita bicarakan, besok kita akan berkumpul dan membicarakan semuanya di rumahmu,”
raut wajah tulang benar-benar tidak bersahabat, pandangannya acuh.
“Tulang, apapun yang terjadi pada Netta, saya tidak tahu, saya pergi ke Papua saat itu, Netta tidak bisa di hubungi, karena itulah aku pulang, jadi aku tidak tahu tentang pemukulan pada Netta,
aku juga marah karena itulah Tulang… saya sudah memberi mereka hukuman, bahkan Arnita juga sudah mendapat pelajaran dariku.”
"Maka itu tulang tidak bilang apa-apa samamu bere (Bere: keponakan) karena tulang tahu, kamu tidak melakukannya, tapi hati tulang panas melihat keadaan Netta terluka dan di perlakukan buruk seperti itu, ia bukan orang lain, tapi kenapa Mama kamu melakukan seolah ia orang lain dan begitu juga Arnita.
Ada apa dengan kalian semua?
Kamu juga Bere!
Kalau saja kamu tegas mungkin orang-orang itu tidak memperlakukan Netta dengan buruk.
Netta di lukai orang lain berarti itu kegagalan mu tidak bisa melindungi istrimu, terus terang kamu saya anggap gagal melindungi Netta.”
Mendengar tulang bicara seperti itu membuat jantungku seakan copot, kalau saja disuruh memohon dan berlutut aku akan melakukannya.
“Aku minta maaf untuk itu tulang, tapi kami tidak punya hubungan lagi dengan perempuan itu,”
menundukkan kepalaku, aku merasa sangat malu di hadapan tulang.
Tulang menarik nafas panjang dan menghembuskan, aku tahu ada rasa yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
“Netta tidak punya bapak lagi, kamu tahu kan, Bere…
Tulanglah yang akan jadi bapaknya.”
“Saya tau tulang”
menunduk tidak berani menatap.
“Pulanglah, besok kita akan tahu keputusannya, besok kita akan berkumpul di rumah kalian, semua keputusan ada di tangan kalian berdua.”
Tiba-tiba dari dalam rumah datang nantulangku membawa minum.
“ Tan harusnya kalau sudah ada istri jangan ada lagi wanita lain lagi.”
katanya membuat suasana makin panas, aku bisa melihat tulangku mengeraskan rahangnya lagi.
Padahal tulang tadi sudah sempat sudah adem dan tenang.
“Iya nantulang, tapi kami sudah tidak berhubungan lagi sejak saat aku bersama Netta.”
Aku membela diri.
“Tan kalau kamu tidak punya hubungan tidak mungkin Arnita bisa akrab, dan lebih membela ia dari pada Edanya sendiri,
Eda juga katanya ikut memukuli Netta, memaksanya menanda tanganin surat cerai dan kalau tidak mau akan di seret ke Penjara.”
Kebiasaan ibu-ibu tukang gosip atau inang parbada bolon beginilah…
Nantulang memperbesar-besarkan masalahnya, padahal bukan seperti itu kenyataanya, tapi seperti kebiasaan Nantulangku seperti itu, ngomongnya A tapi omongan keluar dari nantulang pasti sudah a b bahkan c.
“Tidak ada yang seperti itu nantulang, mungkin natulang salah dengar mungkin.”
“Tidak, teman Netta yang bilang yang satu kampung sama Netta, kakaknya Aldo yang bilang begitu.”
Oh, Tuhan aku tidak tahan lagi, tidak ingin menambah masalah, aku memutuskan pamit pulang.
“Tulang, Nantulang aku pamit pulanglah, aku mau balik ke Bogor lagi ke rumah Tante, menemui Netta.
“Baiklah.”
Pamit pulang tapi demi apapun raut wajah tulangku tidak begitu senang melihat kedatanganku.
Aku harus menemui Netta, kalau masalahnya akan melebar perpecahan keluarga akan terjadi, bila aku dan Netta sampai berpisah.
Bersambung....