
Bila saat ini kamu pergi dan kita berpisah, jangan pernah kamu lupakan semua kenangan indah yang pernah kita lalui bersama walau hanya sementara, bukan hati ini tak sakit, bukan hati ini tak hancur, bukan pula hati ini tidak sedih, namun, hanya kepasrahan yang mengiringi.
Selamat jalan Netta, raihlah cita-citamu. Jadilah seorang Dokter yang hebat gumamku menatap pesawat yang melintas dia atas kepalaku.
Aku tiba di Bandara soekarno Hatta, Sejak dari semalam aku tidur disini, pergi dari rumah karena marah gara-gara kak Eva.
Aku datang bukan untuk mengucapkan selamat jalan, atau hanya mengucapkan hati-hati untuk Netta.
Tapi aku datang kesini untuk melihatnya pergi dengan diam-diam.
Flash back
Satu hari sebelum hari keberangkatan Netta, saat itu aku memilih menghabiskan satu hari tidur di kamarku, aku tidak melakukan apa-apa, bahkan mandi pun tidak, bau busuk iya.
Dalam kamar bau tembakau menyeruak dalam kamar, main game dari ponselku di temenin hampir dua bungkus rokok, alhasil, kamar itu berbau asap rokok.
TokTok....!
“Masuk!”
Papi datang dengan tatapan cemas, menatapku dengan iba, aku tahu arti dari tatapan itu, karena seharusnya orang tua yang paling mengerti apa isi hati anak-anaknya, karena seperti kata orang batak, Makkuling do mudar i (hubungan sedarah pasti saling merasa) apalagi anak sendiri katanya,
orang tua merasa dua kali lebih sakit bila anaknya terluka, baik merasa sedih.
Begitu juga dengan lelaki paru baya ini, ia menatapku dengan tatapan cemas, ia tahu kalau aku sedih tapi pura-pura tegar, ia tahu hatiku hancur, tapi bersikap seakan semua baik-baik saja.
“Ikut Papi Tan ke kantor, tidak ada kamu semua proyek hancur.
Brayen memang tidak bisa apa-apa, ia datang bukan untuk membantu pekerjaan, ia tidak bisa apa-apa.”
Papi membujuk agar kembali lagi kerja ke kantor.
Untuk apa kerja? harta Mami banyak, tujuh turunan katanya tidak akan habis, ngapain capek-capek bekerja?
“Tidak Pi, aku lagi malas.”
“Baiklah,
apa mau keluar sama Papi, temani Papi memancing.”
“Lagi malas keluar,”
Kataku, tidak berpaling dari permainan game Mobile Legen,baru juga kill empat musuh diajak ngobrol membuat konsentrasi hilang.
“Sejak kapan kamu mau mainan anak kecil seperti itu, bukannya kamu bilang itu permainan yang buang-buang waktu dan permainan anak kecil waktu itu?”
“Aku salah Pi, ternyata seru.”
“Baiklah, kamu makan iya, Papi suruh antar makanannya.”
“Tidak usah pi, aku sudah pesan pizza.”
“Haaa!?
Bukanya kamu tidak suka pizza.”
“Sepertinya enak Pi, makan itu sama main game.”
Papi menarik kursi dan duduk di depanku, menatapku dengan tatapan dalam.
“Tan, bukannya Netta pergi besok, alangkah baiknya kamu bicara dengannya.”
“Tidak usah Pi, ngapain?
Apa kalau aku bicara dengannya ia bakalan batal pergi?
Tidak kan?
aku bertemu dengan dia tidak akan merubah apa-apa, jadi untuk apa.”
“Setidaknya kamu menemuinya, jadi ia pergi dengan hati lega.”
“Mau lega, mau tidak, itu tidak penting Pi, biarkan ia pergi.”
Papi menghembuskan nafas dengan berat.
“Baiklah, Papi tidak akan memaksamu, tapi papi berharap kamu menemuinya, agar kamu tidak menyesal nantinya.”
“Aku tidak akan menyesal,”
kataku fokus ke layar ponselku.
“Baiklah ,Papi mau keluar dulu,
kamu belum mandi Tan?”
“Belum, dari kemarin, malah”
“Ckkk, Papi mencemaskan mu, ini bukan dirimu Tan,
kamu seakan menghukum dirimu sendiri, kamu buka tipe orang yang jorok, kamu tidak suka kalau tidak mandi, tapi kini seperti kebalikannya semua yang kamu lakukan sekarang.”
Papi menarik nafas panjang beberapa kali dan keluar dari kamarku, aku tahu ia mungkin merasa aneh dengan kelakuanku, tapi aku tidak gila, aku hanya ingin mengikuti hatiku, ingin bermain-main dan menikmati hidup.
Mencoba hal-hal yang baru, yang selama ini, tidak pernah aku nikmati.
Mami sudah menjamin hidupku, menyuruhku berpisah dengan Netta, aku menurutinya, berarti Mami sudah menjamin seluruh kebutuhanku, aku hanya perlu jadi menikmati hidup bebas.
Ting...
Ting...
Bunyi notif ponselku, lagi asik bermain game mobile legend, main di elit jadi aku tidak mau di AFK, maka itu apapun yang mauk ke ponselku, aku mengabaikannya sebelum menyelesaikan satu ronde permainan.
Karena Papi mengajak mengobrol tadi, aku sampai kalah dan turun rank, belum lagi dikatain bocah, sama satu team dalam permainan game ML ini.
Jadi kalau ada panggilan sejak bermain tadi, aku mematikannya, tidak ingin diganggu karena pemainnya sangat seru.
Hingga permainan putaran kali ini, aku menang dengan team, naik Rank, permainan game ML membuatku ketagihan.
Bahkan ke kamar mandi saja sampai ditahan-tahan.
Saat permainan satu ronde selesai, aku baru membuka notif, ternyata pesan dari Netta, aku membalasnya.
berangkat ke Jerman, mari kita bicara.
Aku : Baiklah.
Netta : Baiklah, maksudnya abang mau
Bertemu?
Aku : tidak.
Netta :Abang marah?
Aku : tidak
Netta : Kalau kamu tidak marah ayo kita ketemu
Bicara.
Aku : Kamu berisik Ta, aku lagi mau
Main game, buruan mau
Ngomong apa?
Netta : Apa!? hanya gara-gara main
Game saja?.
Aku : iya.
Netta : Baiklah, besok aku berangkat
dari bandara jam 7:00 pagi,
aku berharap abang
mengantarku, kunci rumah
Aku simpan di tempat biasa,
Abang sehat terus iya, jaga
kesehatan, jangan merokok
lagi.
Tunggu aku datang,
walau lama aku pergi. Tapi
kalau abang sabar dan yakin
tidak akan terasa lama.
Aku : iya.
Isi pesan chating dengan Netta, baru selesai berbalas-balasan pesan.
Kebetulan Pizza pesanan ku sudah datang, makan satu potong.
Tapi rasanya bikin aku pengen mual, jadi tergeletak begitu saja. Aku kembali melanjutkan permainan ML.
Tanpa mengecek siapa yang meneleponku tadi, baru main lima menit, kali ini tidak bersemangat, membaca pesan Netta membuatku terusik, tapi berpura-pura tegar.
Mencoba menguatkan jiwaku yang terluka.
Tok~Tok...
Suara ketukan pintu lagi, entah siapa lagi pengganggu kali ini.
"Masuk..."
“Kok, panggilan telepon aku di matikan terus sih Tan?”
Kak Eva datang dengan Papi.
“Itu aku lagi main game kak”
“Sejak kapan kamu mau main game? kamu makan pizza Than
sama soda ? iya ampun joroknya, kamu juga belum mandi, sejak kapan kamu jorok begini, Tan?”
Kak Eva mengomel membuatku semakin panas.
“Bawel bangat, keluar sana!”
Kak Eva terdiam melihatku marah.
“ Maaf maksudku tidak biasanya kamu jorok”
“Sudah keluar sana, kamu pikir aku anak kecil!”
“Sana…sana” Papi mengusir kak Eva, tapi sepertinya enggan keluar.
“Aku mau bilang tadi-“
“Ah bawel bangat.”
aku keluar, menyambar kunci motorku dan jaket keluar dari kamar.
“Kok jadi pemarah gitu sih,?”
kata Eva, ia terdiam melihatku pergi.
Melajukan motor ninja milikku, melaju tanpa tujuan awalnya, tidak diduga aku malah berakhir di Bandara.
Oh. Netta besok berangkat pagi.
Bersambung....