
Dua minggu kami habiskan di Dolok Martahan Samosir, setelah mengunjungi banyak tempat wisata di pulau Samosir kini saatnya untuk pulang ke Jakarta.
Karena ibu mertuaku akhirnya mau ikut, laeku yang kecil juga minta ikut ke Jakarta karena mereka juga sedang libur panjang, kami dan Netta menyusun rencana.
Karena oppung sudah meninggal, jadi rumah yang ditempatinya selama ini ditutup, rumah itu akan kosong tak berpenghuni, kami menyarankan lae Saut yang tinggal di rumah oppung, tapi entah kenapa istrinya tidak mau menurut, ipar Netta katanya seram seperti kebanyakan rumah di kampung Netta juga banyak yang kosong.
Setelah semua persiapan sudah selesai, kami akan berangkat pagi, ada empat mobil sewaan, rencananya yang mengangkut kami ke Bandara Silangit dan dari sana terbang ke Jakarta.
**
Akhirnya pagi yang dinanti tiba, di iringi doa diantar para tetangga dan saudara yang tinggal di kampung, kami meninggalkan kampung halaman Netta.
“Selamat tinggal Dolok Martahan, kita akan bertemu lagi dilain waktu,” kataku, Mertuaku senyum mendengarnya.
Berangkat sudah seperti satu kampung iringan mobil kami perlahan meninggalkan Samosir, mobil akan membawa kami langsung ke Bandara silangit, tidak perlu lagi naik kapal.
Dalam perjalan ke Bandara kali ini untung aku duduk di depan, adik Netta muntah karena mabuk darat, membuatku tersenyum mengingat Netta pertama sekali naik pesawat mabuk udara. Lima tahun yang lalu hari yang memalukan, Netta dulu muntah dan mengotori pakaiannya, saat itu aku malu sempat memarahinya dulu.
Tapi itu dulu, kali ini saat aku melirik kebelakang, ia terlihat tenang mengusap-usap punggung adiknya dengan lembut , ia juga terlihat telaten menolong adiknya yang mabuk .
Oh ternyata bukan hanya adiknya, bahkan Ibu mertuaku yang lebih parah, terlihat pucat dan lemas karena terlalu banyak membuang cairan, merawat tiga orang yang mabuk sekaligus membuatnya kewalahan, tapi ia sabar tidak marah ataupun mengeluh.
“Mama tiduran saja, buka jaketnya biar tidak gerah,” ucap Netta menggosok kening mamanya dengan minyak angin.
Aku tahu, wajah nantulangku sudah mulai berkerut, melihat Ibu mertuaku mabuk, mereka juga merasa ikut mual, tapi melihat Netta sabar dan telaten merawat mamanya tidak ada yang berani buka mulut.
“Boru, mamamu ini malu-maluin,” kata Mertuaku merasa bersalah.
(Nak, mamamu ini bikin malu)
“Dang pola boha omakku, borumon calon Dokter, lobi sian on anonn urussonku.”
(Tidak apa-apa Ma, Putrimu ini calon Dokter, lebih dari kayak mama nanti aku akan tangani)
Ucap Netta degan sabar.
“Mauliate Nak.”
(Makasi nakku” ucap mamanya terlihat makin lemas)
Kedua adik laki-lakinya ia tidurkan di pangkuannya kanan –kiri dan Mama di sebelahnya.
Perjalanan menempuh beberapa jam, akhirnya tiba juga di Bandara Silangit, jalanan berliuk-liuk bagai ular yang menyebabkan Ibu mertua mabuk dan adik Netta, untukku sebagai anak Kota itu perjalan yang menyenangkan, tapi untuk ketiga orang ini, mungkin itu perjalanan yang amat panjang.
Wajah ibu mertua terlihat putih pucat, tidak berdaya sudah turun dari mobil pun masih saja muntah.
“Bagaimana Ta, Mama masih kuat gak meneruskan perjalanan ke Jakarta?” Tanya Nantulang Gres melihat Ibu mertua dengan khawatir.
“Jangan khawatir Inang uda pasti kuat,” ucap Netta yakin, padahal berdiri saja mamanya sudah tidak berdaya lagi, turun dari mobil duduk dan tidak bisa berdiri lagi.
Menunggu izin mendarat pesawat yang ingin kami tumpangi, masih menunggu di atas, semua duduk menunggu dengan khawatir dan menonton Netta, ia membuka koper kecil miliknya, memperlihatkan alat-alat kesehatan yang ia bawa.
“Baenma inang songon dia petaho asa unang mangarepoti au,”
(Lakukan apa saja nak, biar gak ngeropotin aku)
Kata Mertuaku, saat aku dan Netta masih mendampingi yang lain sudah mencari tempat duduk yang nyaman di ruang tunggu.
“Ma ga ada yang repotin, aku borumu, mama kenapa sungkan?” ucap Netta matanya menatapku dengan tatapan sendu.
“Iya nang, jangan khawatir nanti di pesawatnya inang bisa tidur tidak akan muntah lagi, tempatnya nyaman”
Inang mengangguk, tidak pernah kemana-mana membuat Ibu mertua mabuk setiap kali naik mobil karena tidak biasa, kedua adik Netta masih terduduk Lemas.
“Minum ini iya dek nanti tidak akan pusing lagi,” Netta memberikan pil untuk kedua adiknya, setelah menyuntik mamanya, Ia berlari juga kearah toko pakaian, membeli tiga pasang pakaian untuk kedua adiknya dan Ibu mertua.
“Aku pusing bangat kak, tidak punya tenaga lagi untuk jalan.“ Kedua lelaki itu mengeluh dengan wajah tak kalah pucat dan pakaian sudah kotor bekas muntahan, tadinya aku merasa mual, tapi melihat Netta kerepotan mengurus ketiganya, mau tidak mau aku ikut membantu.
“Ayo kakak temenin ke kamar mandi, ganti pakaiannya biar tidak bau nanti di pesawat,” ucap Netta mengarahkan punggungnya, untuk menggendong salah seorang adiknya.
“Biar aku Dek, urus inang saja,” Kataku.
“Ayo sama Bapa uda saja.”
Tiba-tiba kedua Tulangku datang menggendong masing-masing satu ke kamar mandi untuk berganti pakaian.
Tapi mertuaku tidak bisa berdiri, kakinya tidak kuat berdiri pakaiannya juga basah dan berbau .
Rudi yang tadi sibuk mengangkat koper dan barang-barang bawaan kami, ia datang.
“Sini ma, naik ke punggungku, kita berganti dikamar mandi.” Membawanya ke kamar mandi di bantu Netta.
Sempat terjadi kepanikan, karena tiba-tiba ibu mertuaku sangat lemas tidak bertenaga, keluarga semua panik.
Tapi Netta terlihat sangat tenang. “ Tidak apa-apa inang uda, itu karena mama tidak perjalanan jauh, tubuh dan lambungnya bereaksi, aku sudah memberinya suntikan”
“Dang pola boha ito omai ?”
(Apa tidak terjadi apa-apa sama mama itu?)
Lae Rudi terlihat sangat khawatir, saat ia gendong untuk berganti pakaian di kamar mandi ibu mertua sangat lemas.
“Tidak apa-apa, jangan khawatir, Pegang tangan mama hangat kok, aku sengaja menyuntiknya tadi, biar badannya istirahat, soalnya semua jaringan di tubuh mama tegang, jadi aku berikan suntikan kata Netta wajahnya terlihat tenang dan percaya diri. Terlihat seperti Dokter professional.
“Aduh, syukurlah aku sudah sempat khawatir,” kata Rudi menghela napas panjang.
“Untung kamu ikut Inang, ada mengurus mama ,” kata Tulang Gres.
Bersambung ….
Maaf Kakak semua kemarin tidak update karena libur hari raya keluarga mengajak ngumpul dan jalan-jalan🙏