Pariban Jadi Rokkap

Pariban Jadi Rokkap
Team Pembasmi Pelakor


Setelah berunding panjang lebar  Candra setuju, kami berangkat  menuju tempat wanita tersebut.


“Can,  kami bertiga akan membentuk  team trio anti pelakor,” ujar kak Eva.


“Ya, cocok itu, kakak yang jadi ketua gengnya,” kataku Netta dan Tivani tertawa.


“Aku bendaharanya.” Tivani ikut-ikutan


“Aku bagian  mencatat saja.” Netta masih tertawa, ia  gampang  bangat tertawa terkadang hal kecil ia bisa tertawa sendiri.


Tidak lama kemudian mereka turun.


Kami berdua  keluar dari mobil, duduk di bangku di dekat taman rumah sakit


Ke tiga wanita-wanita tangguh  yang menyebut diri mereka tri anti pelakor


“Apa yang kamu pikirkan?” tanyaku saat Candra kembali diam seperti patung.


“ Mama Bang, aku sudah membawa bapak ke sini  dan kami semua anak-anaknya sudah tidak ada di rumah, aku pikir mama itu … akan berubah, ternyata dugaan ku salah , bapak sudah beberapa hari di sini , mama baru sekali saja menelepon. Entah apa  yang salah dengannya”


“Bersabarlah dan tunggu, aku yakin tante, akan sadar suatu saat nanti, biarkan dia puas-puaskan melakukan semua yang ia mau, tidak usah larang. Tetapi kamu juga jangan jadi menciptakan masalah baru dengan niat berselingkuh”


“Tidak ada niat selingkuh sedikit pun Bang, aku hanya berbagi  cerita dan masalah padanya, karena dia yang bisa  mengerti aku”


“Kamu tahu gak awal orang selingkuh ya seperti yang kamu lakukan ini … awalnya saja teman ngobrol, lama  kelamaan teman tidur,” ucapku lagi.


Setelah beberapa  lama duduk  bercerita, sekitar tiga puluh menit, mereka bertiga datang dari arah rumah sakit,  membawa bag coklat, wajah ketiganya tersenyum puas


“Astaga wajah kakak Eva terlihat puas, aku berharap tidak ada yang kehilangan gigi,” ujar ku bercanda.


“Ha, abang yakin?”


“Ya, kamu lihat saja tangan Kak Eva sege de palu hanoman,  coba kami bayangkan saja, seberapa kuat tinju  tangannya, jika ia memukul wanita itu, di rumah suaminya saja tidak berani macam-macam padanya”


Candra terdiam sejenak, lalu ia berkata lagi.” Aku berharap mereka tidak memukulnya, dia wanita baik- baik Bang,  kalau ingin marah aku saja yang mendingan mereka pukul”


“Jangan katakan itu di depan Tivani, bisa menyakiti perasaannya, itu artinya kamu masih mencintai mantanmu  itu, istri mana yang rela suaminya,” ujar ku.


Aku kasihan sebenarnya padanya, ia tidak bisa bersama wanita yang ia cintai, ia ingin bertahan pada Tivani …. Namun, keluarga istrinya merendahkannya sebagai menantu, Candra di posisi yang sulit, jika aku  berada di posisi Candra, aku lebih baik pergi dan menghilang selamanya, tetapi Candra tidak, ia masih  memikirkan  nasip keluarganya.


“Ayo, pulang,” ujar Kak Eva berdiri di samping mobil.


“Sudah?”


“Sudah dong, di jamin aman”


“Maksudnya ?” Tanyaku lagi melirik Candra  yang masih  berdiri dengan wajah menegang.


“Aku memperkenalkan Tivani padanya, aku  bilang Candra yang meminta istrinya untuk mengambil barang-barang suaminya”


“Lalu …?”


“Dia kaget,” ucap Netta.


“Tenang Can, kami tidak  memukul atau menjambak rambutnya, tetapi kami bicara tegas padanya  kalau ada apa-apa atau masalah kamu dan dia di masa lalu … dia bisa membicarakannya dengan Tivani”


Kakak Eva memang ahlinya menyingkirkan pelakor tanpa menyakiti, menurut cerita Netta kakak Eva bilang kalau dia kakak perempuannya di Candra dam meminta wanita itu tidak menemui Candra lagi, kalau ingin bertemu  bicara sama istrinya, Kak Eva juga  meminta barang-barang milik Candra, untuk dibawa pulang.


“Kamu tidak ingin masalah dalam keluarga kita semakin besar kan, kamu tidak mau kelurga kita jadi topik pembicaraan orang lain?” Kau menatap tegas padanya.


“Tidak”


“Ya, sudah lakukan saja”


 Candra sudah setuju kalau Kaka Eva, menemui wanita yang jadi mantan pacarnya. Tetapi setelah mereka membawa Tivani ia menolak.


‘Astaga kedua itoku wanita yang menakutkan juga. Aku yakin tidak ada pelakor atau sebangsanya yang berani mampir ke keluarga kami’ ucapku dalam hati.


Setelah semuanya selesai, karena sudah malam,  kami mengantar bapa uda dan Lasria kembali ke rumah mereka.


Aku masih penasaran apa yang  mereka lakukan sampai Tivani ikut tertawa puas seperti itu.


“Memang apa saja yang kakak lakukan?”


“Eda, Arkan memang parah  ….,” ujar Netta.


“Kamu pukul?” Tanya mami kaget.


“Tidak, aku bisa membaca tujuan dia, memang ada arah untuk merebut Candra, dengan cara ….Kak Eva melihat kami bergantian”


“Kok  kamu tahu Mar Arkan …”


“Dia ingin bertemu Candra lagi, tetapi di hotel, tadi aku minta bicara berdua dengannya, dia bilang Candra cerita kalau Tivani tidak bisa punya anak”


Mami sama papi saling melihat.


“Memangnya dia tidak bisa punya anak?” Mami kaget.


“Gini ya Mi, dokter sudah pernah memvonis dia, katanya dia tidak akan bisa punya anak, karena rahimnya sudah pernah rusak”


“Bisa gila tantemu kalau tau ini”


Aku kaget karena kakak Eva tahu, padahal selama ini aku merahasiakannya, demi menjaga  harga diri Candra,  sekarang Kak Eva tahu semuanya, aku menatap Netta, aku pikir ia yang memberitahukannya pada Kakak.


“Tivani yang menceritakan semuanya sama Eda,” ucap Netta, tidak mau disalahkan.


“Ya, dia  yang menceritakan semuanya padaku, dia juga bilang karena papinya selingkuh”


“Bah … nabohado akka jolma na rundut do haroa”


(Wah … keluarga yang berantakannya rupanya) Ujar mami,


Kalau menilai kekurangan orang lain mami paling cepat, padahal kami juga lebih  hancur dulu dari itu.


“Jangan begitu Mi, jangan langsung menilai orang seperti itu, setiap manusia itu pasti ada masalah,  hanya masalah setiap orang itu berbeda-beda itu sudah hukum alam Mi,” ujar Kak Eva  mami langsung dapat teguran dari wanita tegas itu.


“Lalu kalau dia belum punya anak, apa Candra mau mempertahankannya?” tanya mami lagi.


“Mi … jangan ngomong seperti itu, punya anak memang penting, tetapi Tuhan juga membenci perpisahan karena tidak punya anak.


Kalau kamu ngomong seperti itu lalu …. Jonathan sama Netta apa bedanya, Apa kamu mau meminta mereka berpisah lagi?”


Papi langsung emosi, ia  takut aku dan Netta  tersinggung, padahal kami berdua sudah kebal mendengar kata-kata sindiran seperti itu jadi kami bersikap santai.


“Ga tau ni mami, gak pikir dulu baru ngomong”


Mami itu paling cepat mendapatkan kesalahan orang  lain, tetapi kesalahan di dirinya sendiri tidak dilihat.


‘Semut di mata orang lain dapat dilihat, tetapi gajah di pelupuk mata sendiri tidak terlihat’


Ungkapan itu memang sering terjadi  pada banyak orang, kesalahan di  dirinya tidak di sadari,  tetapi kesalahan orang lain begitu nyata di matanya, ibu-ibu komplek yang sering ngegosip yang  seperti itu, melihat mami menunduk merasa bersalah, aku kasihan.


“Sudah, mami hanya salah bicara,” ujar ku membela.


“Tenang Pi, jangan marah tahun depan kami sama Netta akan progam punya anak,” ucapku.


Wajah papi dan mami langsung memerah, mendengar begitu saja mereka sudah sangat bahagia.


Bersambung …