Pariban Jadi Rokkap

Pariban Jadi Rokkap
Rumah Baru


“Malam itu kamu berpenampilan seperti itu, dari mana?


Sejak saat itu aku merasa lelaki yang paling bodoh di muka bumi ini, saat aku datang ke kantor administrasi, katanya uang kuliahmu sudah lunas satu tahun, apa Itu?”


“Apa abang masih mengingat malam itu?”


kata Netta ia menggaruk kepalanya, sepertinya ia ragu untuk bercerita.


Aku sungguh tidak tahan melihatnya seperti itu, aku terpaksa memarkirkan mobil, menyandarkan kepalaku di jok, ada saatnya hati tidak dapat menerima kenyataan, sekalipun mulut berkata tidak apa-apa, Tapi hati berkata beda.


Saat ini, Netta ragu menceritakan, aku sudah langsung menyimpulkan hal-hal buruk.


“Abang tidak apa-apa?”


Netta bingung melihatku yang tiba-tiba menghentikan mobil ke pinggir jalan, dengan alasan yang tidak jelas.


“Sakit kepalaku,” kataku menutup mata.


Netta merogoh saku bagian tasnya mengeluarkan minyak gosok.


“Sini aku gosok, biar kepalanya tidak pusing lagi,” kata Netta.


“Tidak perlu Netta,


ini karena kamu,”


Kataku memijit pelipis ku.


“Kok aku!?”


“Kamu tidak mau menjawab pertanyaan ku, dan kamu mengalihkan pembicaraan setiap kali aku bertanya tentang malam itu,


aku tahu kamu berpikir kalau aku tidak pantas menanyakan hal itu, kamu pasti berpikir karena aku juga seperti itu, apa harus kelakuan buruk’ku,


akan dibalas seperti itu juga Ta?,”


“Abang ngomong apa sih,


membalas apa?”


“Kamu juga selingkuh’kan?.


Kamu jalan sama om-om kan?,”


aku menatap dengan serius.


“Tidak,


siapa yang selingkuh sih bang ngaco aja sih,”


ia tidak marah, aku pikir ia akan marah, karena saat malam itu, aku bertanya ia juga marah.


“Terus darimana kamu dapat duit banyak untuk uang kuliah itu,” kataku,


kali ini aku menatap dengan tajam.


Aku berpikir berhak tau, karena aku seorang suami, aku memang melakukan kesalahan, tapi aku sudah memperbaikinya.


“Nanti saja kita bahas bang, saya mau ke kamar mandi dulu, ini tidak tahan lagi.


Nanti akan aku ceritakan” Netta memegang perutnya, itu alasan apa tidak, aku tidak tahu, tapi aku akan menagihnya nanti.


“Baiklah yang penting kamu tepati janji,” kataku menjalankan mobil lagi.


Sekitar dua puluh menit mobilku tiba di rumah baru Netta, ia belum tahu kalau rumah ini aku belikan untuknya, mulai saat ini Netta akan memiliki apa yang aku miliki, begitu juga sebaliknya, ia adalah milikku seutuhnya.


Matanya menatap tajam saat mobilku memasuki halaman rumah dengan desain pakai remote control.


“Ini rumah siapa bang?”


kata Netta menatapku dengan bingung.


“Sudah sana dulu ke kamar mandi, nanti kalau sudah, aku ceritakan sama kamu ,”


“Apa boleh saya ke kamar mandi, yang punya rumah mana?”


“Kamu tinggal bilang ke saya saja dulu, nanti ku sampaikan pada yang punya rumah,” kataku santai.


“Aduh maksudnya apaan sih bang, aku tidak tahan lagi ,”


Netta berjinjit kecil.


“Iya sudah sana dulu nanti aku bicara.”


Netta berlari kecil, matanya masih sempat celengak-celinguk hampir ia menabrak pot bunga.


Sudah, sana masuk kamar mandi di samping dapur,” aku sengaja mengantarnya ke kamar mandi karena ia tidak mau masuk ke rumah, ia takut kalau tidak ada orang lain.


“Cepatlah Netta , masa aku harus ikut,” kataku bercanda.


“Abang tidak usah ikut, di sini saja biar, saya yang masuk,”


Aku duduk menunggu di ruang tengah,


Netta sudah keluar, tapi matanya lagi-lagi mengawasinya, desain dan interiornya aku yang pesan sendiri, jadi rumah baru milik Netta sangat spesial.


“Bang , saya tinggal disini?


Itu tidak mungkin bayarnya pasti sangat mahal, mana sanggup saya bayarnya,”


Matanya terlihat sangat takjub saat semua yang di inginkan ada di rumah yang aku berikan padanya.


“Iya, ini rumah yang tepat buat kamu Ta,”


“Gak salah?


harganya pasti mahal,kan.”


“Tidak juga."


“Aku tidak mau, nanti ga sanggup bayar bagaimana?”


“Sini,sini! Kita harus bicara dan tuntaskan semuanya,’


Netta duduk di sampingku, matanya menatapku dengan serius.


“Iya aku duduk,


abang mau ngomong apa?”


“Gini Ta, aku ingin memujudkan janjiku padamu, aku ingin menjadi suami yang benar, aku ingin suami yang baik, yang punya hanya satu wanita,


maaf waktu itu bila aku menyepelekan pernikahan kita.”


Netta mendengar diam, sesekali ia menundukkan kepalanya.


“Ta, aku ingin jujur mulai saat ini sama kamu, uang ku adalah uangmu juga,


jadi suamimu, seorang pemilik perusahaan, masa istrinya hanya ngekost di tempat kecil sepertinya lucu’ kan.


Jadi rumah ini milikmu Ta, ini rumah kita, yang aku bangun untuk kita tempati berdua.


Aku tidak ingin kamu tertekan lagi dengan Mami, aku tidak ingin kamu dimarah-marahin terus.”


Mata Netta menatapku dengan serius.


“Ini rumah kita?”


“Ini rumah kita, aku membelikannya untukmu Ta, ini atas nama kamu, kamu pernah bilang ingin mengajak nantulang(ibu mertua) dan adik-adikmu ke Jakarta, kamu boleh melakukannya , tanpa harus takut lagi dengan Mami.”


“Tapi bang.


Bou pernah bilang, kalau kita pisah akan mengganti abang sebagai direktur kan?


Bagaimana nanti kalau bou tau, apa abang sudah siap?”


Walau dengan jantung berdetak lebih cepat, aku mendekatkan tubuh pada Netta,menggenggam tangannya dengan lembut.


“Ta, karena itu aku perlu kamu. Kalau misalkan Mami tahu aku membelikan rumah untuk kita, kalau ia marah dan menggantikan aku dari posisi dari direktur, apa kamu kecewa?”


“Tentu saja tidak, aku malah lebih suka kalau abang mandiri, tidak di bawah kendali Bou.”


Aku sangat senang dengan penuturan Netta aku bisa bernafas lega.


“Ok, sekarang supaya aku merasa tenang , sebaiknya kamu ceritakan padaku, tentang malam itu, dan tentang uang kuliahmu yang lunas,”


aku sengaja mencari momentum yang tepat untuk menanyakan hal itu, agar aku lebih tenang.


“Baiklah, malam itu saya hanya kerja sebagai sales promotion di salah satu mall, kebetulan mengadakan bazar hanya beberapa hari saja,


tentang uang kuliahku, itu yang bayar amang boru bapak mertua.”


Katanya sukses membuatku melongo.


“Papi yang bayar?”


“Iya, sebenarnya ada cerita di balik itu,


saya lagi mengepel di restoran tempat saya bekerja, kebetulan bapak mertua lagi makan sama teman bisnisnya saat itu, bodohnya saya’ gak sadar, kalau pak mertua di sana, amang boru pasti malu, padahal saat itu saya sudah pura-pura tidak kenal.


Amang malah mengenal kan ku pada kedua rekan bisnisnya, tidak terbayang amang boru pasti malu bangat saat itu, besoknya amang boru datang, bayar uang kuliah dan bayar uang praktek juga.”


“Terus papi melarang kamu kerja lagi?, makanya kamu tidak kerja di restoran itu lagi?”


“Tidak, saya yang berhenti, saya tidak mau amang boru malu.”


“Oh iya ampun, lega mendengar itu, aku pikir kamu membalas ku.”


“Gak lah, masa sudah tahu salah dan dosa masa di tiru juga,” kata Netta.


“Iya, kamu benar, jangan ditiru.”


“Tapi. apa tidak apa-apa bang, aku tinggal disini?”


“Tidak apa-apa Ta, masa membeli rumah buat kita tinggalin jadi masalah,


lagian aku sudah berumahtangga, tapi bukan hanya kamu yang tinggal di sini, tapi kita, karena masih ada hal penting yang belum kita lakukan.”


“Apa??”


Wajah Netta langsung tersipu bagai kepiting rebus.


“Memberikan cucu untuk Mami seperti tuntutannya selama ini.”


Bersambung...