
Kami masih di rumah Dr.Tagam ada banyak pengalaman hidup yang positif di bagikan, dokter senior itu untuk kami, bekerja sebagai dokter tidak semata hanya ingin mengejar uang dan popularitas, ia ingin membantu orang yang membutuhkan jasanya.
Beliau juga memberi nasihat tentang rumah tangga, untuk, saling menghargai pasangan hidup, istri bukanlah pembantu atau pelayan suami, namun, istri adalah partner hidup.
“Kami tidak punya pembantu di rumah ini,”ujar tulang.
Kami berdua kaget mendengarnya
'Rumah sebesar itu siapa yang akan membersihkannya?’ tanyaku dalam hati.
Rumah sebesar itu tidak punya pembantu, aku bisa membayangkan kalau mereka semua punya tugas masing-masing dan aku yakin tulang itu bukan tidak mampu membayar asisten rumah tangga, tetapi ia ingin mendidik anak-anaknya untuk mandiri, itu sungguh berbeda dari kami dulu, saat kami kecil mami tidak pernah memperbolehkan kami mengerjakan pekerjaan rumah, semua di lakukan asisten rumah tangga.
“Lalu siapa yang mengerjakan pekerjaan rumah Tulang?”
“Kami berempat, kami ini, team dan membagi tugas, wanita memasak sementara pria yang mengepel dan beres-beres rumah, tetapi untuk menyetrika dan cuci kami panggil yang harian, karena kami berempat masih bekerja”
Aku yakin mereka keluarga yang harmonis dan kebersamaan keluarga yang nomor satu, tulang bukan orang yang pelit, terlihat di depan pintu ada dua orang satpam penjaga rumah dan seorang pengurus tanaman.
“Kenapa seperti itu? Bukannya mereka juga bekerja?”
“Ya kalau anak-anak kerja kami berdua yang mengerjakannya, pekerjaan masak, dan beres-beres rumah, anggap saja sebagai olah raga, jangan gengsi kalau di katakan lelaki yang lemah, karena melakukan pekerjaan rumah tangga”
Benar kata papi setiap kepala rumah tangga itu punya peraturan di rumah tangga mereka masing-masing, kita tidak bisa meniru dan membandingkan cara orang lain di rumah kita.
Sama seperti tulang ini, beliau sudah sukses dalam karier, tetapi di rumah dengan senang hati ia melakukan pekerjaan rumah tangga bersama keluarganya, beliau tidak gengsi saat menyapu rumah dan mencuci piring.
Semua nasihat yang tulang berikan semuanya masuk akal, dan aku bisa menerimanya, setelah selesai makan dan mengobrol banyak hal, akhirnya Netta menyingung tentang bayi tabung.
“Buat siapa lagi kan sudah ada?”
“Sebenarnya dr. Candra sepupuku tulang, anak ni namboruku”
“Oh ... gitu, tulang gak pernah tahu … lalu program ini untuk mereka?”
“Ya itu rencana ku tulang, tapi kami belum mendiskusikannya”
Netta menceritakan semua tentang Tivani, beliau menanggapinya dengan baik.
“Baik Bere, bisa, tapi sebaiknya bicarakan dulu sama mereka berdua secara pribadi biar sama-sama enak, karena tidak semua menerima hal-hal yang seperti itu dengan baik, terkadang masih banyak orang yang berpikir kolot, berpikir kalau bayi tabung itu melanggar aturan Tuhan, bahkan sesama dokter juga masih ada yang berpikir seperti itu”
“Baiklah Tulang kami akan bicarakan dulu sama mereka berdua, baru nanti aku kabarin tulang lagi”
*
Setelah pulang dari rumah tulang sudah agak sore kami ke rumah mami.
“Kalian dari mana sih, masa lebih penting orang lain dari keluarga kalian sendiri,” ucapnya mengoceh.
“Eh … mulai lagi dah, kan, dari tadi malam aku sudah bilang Mi, kami ingin bertemu seseorang”
“Tapi, bukan keluarga, kan?”
“Dia sudah lebih dari keluarga untuk kami berdua”
“Molo keluarga do ma ajakma tu jabu”
(Kalau keluarga ajaklah ke rumah ini) ujar mami lagi.
Aku tidak ingin berdebat sama mami, aku duduk di samping papi.
“Bagaimana acaranya lancar?” tanya papi, sikap mami dan papi dua hal yang berbeda, tadi malam saat mereka meminta kami datang ke rumah, aku sudah bilang kalau kami akan ke rumah tulang itu, papi setuju namun Borneng senior marah, bahkan kami datang juga masih marah.
'Eheee ... tahe'
“Mami salah-salah mulu , kan, mereka sudah bilang tadi malam sudah mengiyakan terlebih dulu ke rumah dokter itu, janji ya harus di tepatilah Mi, gak bisa asal dibatalkan begitu saja, apa lagi eda menganggapnya sebagai tulang. Lagian orang tulang juga bilang gak papa kan, minggu depan mereka datang lagi, ngapain mami marah"
Kak Eva muncul sebagai pembelaku, berhadapan sama kakak Eva, mami langsung diam, ia naik ke atas karena marah.
Jadi, rencananya hari itu, tulang Gres dan lae Rudi akan ke rumah, karena kami bilang kami ada acara tidak bisa datang ke rumah mami, mereka juga tidak jadi datang, rupanya hal itu membuat mami marah, ia bilang kami berdua lebih mementingkan orang lain dari pada tulang sendiri.
Untung hati Netta kuat dan sabar, kalau saja itu menantu yang lain sudah kabur, karena ibu mertuanya cerewet kayak mami.
“Pi, bagaimana menurut papi, kita mengusulkan Candra untuk program bayi tabung?” tanyaku saat sedang Mengobral dengan papi.
“Apa Candra setuju, mereka baru menikah Mang, mungkin mereka masih ingin menikmati masa berdua”
“Masalahnya Tivani, rahimnya ada masalah”
“Sensitif hal seperti itu Mang, tapi coba tanya, dulu biar pasti”
Aku menelepon Candra ternyata mereka lagi di Bogor untuk mengambil surat-surat dari rumah yang lama, sekalian menjenguk tante.
“Tanya mau datang ke rumah papi apa tidak, biar kita bicara langsung itu lebih enak,” bisik papi.
“Kalian mau ke rumah papi gak?”
“Kami mau jalan ke rumah abang, kami ingin melihat kakak”
“Jangan ke rumah abang Can, ke rumah mami saja, kami sama Netta lagi di sini”
“Oh di rumah mamak tua, ya sudah aku putar balik saja”
Puncuk dinanti, ulam pun tiba, saat kami ingin bicara dengan Candra ternyata merek juga sedang di Jakarta, tidak berapa lama mereka tiba juga di rumah mami.
Saat mereka tiba, kami tidak langsung bertanya tentang itu,
“Bagaimana keadaan tante, dua minggu kemarin kami juga sudah menjenguk”
“Mami baik-baik saja Bang, aku berharap penjara membuat mereka berubah”
“Apa bapak mertuamu juga sehat Mang? "Tanya papi.
“Sehat bapa tua, hanya dia gak mau menemui kami, padahal niat kami baik ingin menjenguk dan melihat ke adaan bapak mertua, tapi dia tidak mau bertemu kami”
“Ya, sudahlah, kalau kalian di lihat akur dan rumah tangga harmonis, bapa tua yakin hatinya akan luluh nanti ”
Vani hanya mengangguk, matanya terlihat sembab, aku yakin, sebagai anak ia pasti sedih karena papinya tidak mau menemuinya.
“Mudah-mudahan bapa tua”
Setelah mengobrol beberapa lama, papi mulai mengiring obrolan kami tentang bayi tabung.
Tadinya aku pikir kalau kami membicarakan hal itu, Candra akan tersinggung.
“Boleh bagus itu … bagaimana menurutmu sayang?” Ia menatap Tivani yang sedang menggendong Jeny.
“Mau … aku mau, "jawab Tivani malu-malu.
‘Syukurlah tadinya aku pikir akan tersinggung’ aku membatin.
Jadi mereka berdua setuju, papi dan kakak Eva juga mendukung, mereka akhirnya setuju, Rencananya kami mempertemukan Tivani dan Candra pada Dr. Tagam secara pribadi. Aku berharap rencana itu berhasil, Tivani terlihat begitu mencintai Candra, ia menurut apapun yang dikatakan suaminya, rumah tangga mereka akan semakin lengkap dengan kehadiran anak.
Bersambung …
Bantu lika vote kakak semua.