Pariban Jadi Rokkap

Pariban Jadi Rokkap
Dokter Yang Jadi Panutan


Sejak Netta hamil banyak hal yang berubah termasuk bentuk tubuhku yang semakin berisi, anehnya lagi, sudah tahu tubuh gemuk, tetapi aku malas olah raga,  tadinya kami pikir napsu makanku hanya berlaku seminggu atau sebulan, tetapi nyatanya mulutku semakin tidak bisa di kontrol walau sudah berapa bulan.


Netta sampai khawatir dengan perubahan napsu Makan.


Saat itu aku sedang duduk di kursi setelah makan beberapa potong mangga yang aku beli tadi, aku mulai berkutat dengan dokumen yang akan ditandatangan, baru juga setengah tumpukan yang selesai aku periksa, fokusku kembali hilang, ada sesuatu yang menari-nari dalam otakku.


Aku membuka dompet, lalu menatap foto usg berwarna hitam putih tersebut, meminta Tiara membelikan satu bingkai foto untuk diatas meja..


Lalu meletakkan  foto tersebut di atas mejaku, dengan  melihatnya aku sangat bersemangat untuk  bekerja, Netta mengatakan kalau ukurannya masih sebesar kacang, aku meletakkannya sebuah kaca di dekat foto bingkai tersebut, kalau ada yang mengatakan aku lebay dan berlebihan, tidak masalah … memang itulah yang aku rasakan saat itu, aku sadar, aku memang rada aneh.


Bahkan semua pegawai di kantor, bisa melihat perubahan sikapku belakangan ini, saat melihat jam di dinding di ruangan itu sudah mendekati angka didua belas siang, aku video call Netta untuk mengingatkannya agar jangan telat makan, panggilan pertama tidak diangkat, panggilan kedua tidak diangkat juga, pada panggilan ketiga baru di angkat, kalau ia tidak mau mengangkat teleponnya ku sudah berniat mendatanginya ke sana.


Tetapi untungnya ia langsung angkat.


“Kenapa Bang?”


“Kenapa lama mengangkat teleponku Hasian”


“Ehe … aku lagi berdoa mau makan, jadi lupa aku, kata-kata doaku gara-gara suara teleponmu,” ujar Netta sembari memajukan bibirnya ke arah camera ponselnya.


“Oh, ya sudah berdoa lagi” ucapku merasa Bersalah.


“Gak usalah, aku sudah makan, abang jangan khawatir aku sudah makan”


“Makan  di mana Hasian?” tanyaku menunjukkan perhatian yang begitu besar.


“Kami makan di kantin rumah sakit "


“ Kalau makan .... Aku pesan ayam bakar di kantor, ” ucapku melapor, padahal Netta tidak bertanya.


" Ya sudah selamat makan ya Bang"


"Ya sudah jangan capek dulu ya, selamat makan)


Netta hanya tertawa, melihat sikapku yang manja,  memang sangat manja.


Saat sedang bekerja mataku selalu melirik ke jam dinding, aku selalu cepat berharap cepat sore,  karena sore akan menjemput Netta, sebelum jam lima aku sudah berangkat dan menjemput Netta dan setiap  kali pulang kerja, kami juga  akan makan dulu, tiba di rumah  beberapa jam aku juga merasa lapar dan wajib makan lagi. Netta tidak marah dengan perubahan pola makan u, ia hanya selalu mengingatkan agar jangan terlalu berlebihan makan yang bersantan.


Saat sedang lelap tidur, malam aku terbangun karena kelaparan, hal inilah, paling  tidak sukai Netta karena ia kan terganggu dengan aroma masakan dari dapur.


“Abang mau ngapain?” Tanya Netta saat aku kasak-kusuk di dapur.


“Aku lapar Dek, aku masak nasi goreng ”


“Bang, di tahan  seleranya, ini sudah malam, masa lapar mulu yang hamil kamu atau aku”


Aku hanya  tersenyum melihat Netta yang kesal,  karena melihat selera makanku yang berlebihan.


“Aku tidak bisa tidur Dek, perutku terus saja keroncongan,” ucapku  sembari  menyendok nasi  goreng yang aku masak ke mulutku.


“Bang, aku baru berapa bulan saja hamil, perut abang sudah buncit”


“Bukan kemauanku Dek, aku hanya tidak bisa mengontrol mulutku "


“Perut kita nanti balapan, kamu mau Dek?”


“Gak … masih kenyang, aku penasaran jangan-jangan di perut abang itu anak kucing?”


*


Setelah makan banyak aku mengajak Netta untuk duduk. Netta sudah memberitahukan ke kehamilannya pada Dr. Tagam, dokter yang tadinya akan membantu kami untuk bayi tabung, ia sangat senang mendengarnya dan ikut bahagia, ia bahkan mengudang kami datang ke rumahnya yang di jakarta.


“Bang Bagaimana kalau kita  berikan jadwal kita sama Tivani sama candra”


“Tapi masalahnya mereka mau tidak?”


“Pasti mau Bang”


Kami  berencana memberikan jadwal program  untuk Tivani dan Candra, tetapi setelah aku pikir-pikir lagi aku takut mereka tersinggung kalau langsung bicara pada dokter.


“Tapi … aku tidak begitu yakin dek, bagaimana kalau kita bicarakan dulu sama Candra kalau bisa bertemu langsung”


"Kita di Jakarta dan mereka di bali”


"Apakah mereka tidak akan marah nanti? masalahnya membahas soal anak itu, sangat sensitif"


"Tivani pernah bilang kalau dia juga ingin punya anak"


"Mungkin Tivani mau Dek, lalu  bagaimana dengan Candra, dia belum tentu setuju, hal seperti itu lebih baik dibicarakan berdua"


Walau niat Netta sangat baik, tapi aku takut Candra salah paham, terkadang niat Baik pun yang  kita Lakukan belum tentu diterima, apalagi membahas mengenai anak.  Aku  sendiri sudah mengalaminya.


Mengobral lama sama Netta, mata sudah mulai mengantuk,


Kami menyudahi pembicaraan malam itu, mau bertanya pada Candra sama Tivani tidak enak karena sudah malam, kita mau bicara sama dokter langsung, aku takut mereka berdua tersinggung.


Jadi kami memutuskan menunda, besok harinya, kami memenuhi undangan dokter ke rumahnya, kami di jamu dengan sangat baik, dengan acara adat Batak Netta di kasi makan ikan emas, agar kandungan selalu sehat.


Aku kagum sama dokter Dr. Tagam, walau ia sudah lama merantau dan istri orang Manado ternyata ia menjalankan adat Batak di rumah mereka, bahkan tulang itu mengajari istrinya tradisi dan adat Batak untuk istri dan anak-anaknya.


"Hebat Nantulang terkadang yang orang Batak asli saja belum tentu mengerti semua susunan adat Batak," ujar Netta


"Tulang mu orang yang sangat rajin mengikuti acara pesta, saya selalu diajak, dengan mengikuti dan melihat saya banyak mengerti"


"Tapi, Tulang juga mengikuti dan tahu tentang adat di suku nantulangmu, dengan begitulah Bisa seimbang"


Tadinya aku pikir istri orang Batak, karena sesekali mereka menggunakan bahasa Batak, ternyata Bacam atau Batak campuran. Istri juga seorang dokter bahkan kedua anak mereka juga dokter.


'Waduh ... ini mah keluarga dokter semua'


Salut, sama anak - anak-anak ganteng, cantik tapi sangat sopan tidak sombong bahkan kata tulang kedua anaknya aktif pelayanan gereja.


Dia sukses jadi suami yang baik dan ayah yang baik dan panutan bagi anak-anaknya.


"Aku ingin sukses jadi bapak yang baik, seperti tulang nanti," ucapku dengan kagum.


"Seberapa kuat, kaya, pintar kamu, Jika kamu tidak menyerahkan segala urusan sama Tuhan, semua akan sia-sia"


Aku mengangguk setuju, beruntung bertemu sosok laki-laki hebat, bukan hebat soal karier, tetapi ia hebat mengajarkan keluarganya tentang kasih. Aku berharap Dr. Tagam mau juga membantu Candra dan Tivani, untuk program bayi tabung


Bersambung