
Setelah berkomunikasi dengan Netta istriku, hidup saat ini seolah-olah punya tujuan hidup lagi, aku yang saat ini menjadi percaya diri lagi.
Aku akan menjalani hidup yang lebih baik lagi.
Aku ingin Netta bangga melihatku saat ia pulang nanti, maka itu aku memulai membangun perusahaan lagi , walau harus merangkak mulai dar bawah.
Benar kata orang, uang tidak akan mengenal saudara, keluarga maupun teman.
Kamu akan di hormati dan disegani jika kita punya uang, itu benar, sepertinya aku di kelilingi orang-orang yang seperti itu, misalnya Mami dan mantan karyawan ku, mereka akan mendengar jika sudah punya harta.
Aku meminta mantan karyawan ku untuk kembali bekerja, mereka menolak dengan alasan takut gaji mereka tidak bisa aku bayarkan.
Kalau untuk membayar gaji beberapa karyawan, aku masih sanggup, tetapi mereka sudah menilai ku rendah duluan, jadi tidak memaksa mereka susah memang menyakinkan orang lain untuk percaya pada kita, apa lagi dengan lencana mantan napi dan mantan pemakai yang melekat padaku saat ini.
Tetapi percayalah, aku sudah sembuh dan sudah sadar dengan kebodohan yang pernah aku lakukan.
Ini sudah dua minggu, memulai bekerja sendirian tanpa hasil yang pasti, bagaimana tidak, semua orang yang aku ajak bekerja sama semua menolak, jangankan perusahaan besar, perusahaan kecil sekalipun menolak ku.
Lelah, itulah yang aku rasakan saat ini, aku merindukan Netta ada disini untuk memberiku dukungan dan semangat, aku butuh Netta untuk temanku berbagi rasa dan beban saat ini, mendapat berbagai penolakan membuatku hampir putus asa.
Namun harus tetap berusaha berjuang demi masa depan
Walau yang aku lakukan tidaklah mudah, karena akan memulai dari nol lagi.
Saat Netta mengirim pesan meneleponku satu minggu yang lalu, aku begitu bersemangat, ia berjanji menghubungiku lagi, tapi ini sudah lima hari sejak ia meneleponku, tidak ada lagi kabar dari Netta, itu juga yang membuatku merasa lemah hari ini, Netta tidak meneleponku lagi, saat aku meneleponnya ponselnya tidak aktif.
Andai tidak ada peraturan dari kampus Netta yang melarang keluarga mengunjungi mereka, mungkin hari ini juga aku sudah terbang ke Jerman menemui Netta.
Tetapi peraturan itu menghalangiku untuk menemui istriku, Netta juga melarang ku datang, ia memintaku menunggunya di Jakarta.
Aku harus mencoba berpikir positif, mungkin mereka tidak di perbolehkan memegang ponsel, karena mereka di tempatkan di asrama khusus.
Tit ….
Bunyi pesan Fax dan pesan dari Lina masuk.
Pengacara Lina, aku memintanya untuk menyelidiki keterlibatan mantan karyawan ku yang dulu, aku curiga mereka terlibat atas tumbangnya perusahaan, tidak mungkin rasanya Brayen melakukan sendiri, bisa jadi, ia hanya dijadikan badut oleh para karyawan senior yang bekerja di kantorku.
Dugaan ku benar, mereka semua melakukan korupsi berjamaah di kantor, menjual property milik perusahaan dan hutang pribadi di tangguhkan ke perusahaan, dari jabatan atas sampai bawah semua kebagian.
‘Kurang ajar kalian semua, selama ini perusahaan ini yang kasih kalian makan selama bertahun-tahun, bahkan ada yang sudah puluhan tahun, seenaknya mereka semua menghancurkan perusahaan ini’ makiku dalam hati.
Dadaku terasa terbakar saat melihat daftar dan nama-nama mereka semua. Mungkin mereka berpikir, aku tidak akan sembuh lagi, jadi semua karyawan bekerja sama melakukan korupsi selama aku tidak ada.
“Gila…! Ini keterlaluan namanya,” ucapku kesal.
Mereka membuat keluargaku membayar hutang mereka semua, Aku akan membalasnya, tidak pantas mereka melakukan itu padaku, karena mereka sudah puluhan tahun bekerja di perusahaan ini, perusahaan ini memberi mereka makan, membuat anak-anak mereka sekolah, tapi apa ini balasannya, jahat sekali,” ucapku emosi.
Saat duduk dalam kemarahan tiba-tiba ada suara ribut-ribut dari bawah, aku intip dari atas, ada lima orang berbadan besar menggedor-gedor pintu dengan kasar.
Lelaki berbadan besar, berkulit gelap, rambut cepak memiliki banyak tato di tangan, mereka terlihat seperti orang-orang mata elang yang sering menarik motor di jalanan.
“Mau apa preman ini? Perasaan aku gak punya kreditan yang macet,” ucapku mencoba mengingat-ingat.
Aku memang punya kemampuan bela diri, tetapi kalau di suruh untuk melawan sekali empat orang dengan badan sebesar tiang beton seperti itu , aku merasa takut juga.
Biasanya aku selalu mengunci pintu kantor dari dalam, sebelum masuk ke ruangan ku dan biasanya aku mengunci gerbang, kalau tidak di kunci pemulung akan masuk tanpa pamit, makanya aku selalu kunci.
Kelakukan keempat orang ini sudah mulai bar-bar, mobilku mau dibuka paksa dan pintu kantor kini mau didobrak juga.
Aku pikir mereka preman yang biasa minta uang ke Perusahaan, karena biasanya preman-preman itu minta uang keamanan, apa lagi sudah mengerjakan satu proyek, terkadang ada empat kelompok preman minta jatah, dan kita harus membayar mereka.
Maka kedatangan keempat mahluk sialan ini saat ini kurang tepat, karena perusahaan saat ini tidak beroperasi lagi, sebab sudah bangkrut, perusahaan Naima karya saat itu lagi mati suri, karena ulah adik sepupuku Brayen di keparat.
“Kalau kalian minta bayaran ke sini aku hanya mau bilang …. Bayar pakai apa bodoh!” Aku memaki kesal.
Kini, kelakuan mereka sudah mulai brutal aku terpaksa menelepon Beny, takut terjadi hal yang tidak diinginkan ,dengan cepat jari-jariku mengusap layar ponselku dan menekan nomor Beny, beruntung punya teman seorang polisi, bisa meminta bantuan saat keadaan darurat seperti ini.
“Halo Tan, ada apa?” suara Beny di ujung telepon.
“Ben kamu sibuk gak?” Tanyaku dengan sopan, kalau biasanya aku selalu memanggil pak polisi ini dengan panggilan lu dan gue tetapi belakangan ini seiring berputarnya roda kehidupan, jadi aku berusaha bersikap sopan.
Karena Netta pernah bilang begini padaku; Di toru do tangan na mangido
(Ditoru do tangan na mangido artinya tangan orang yang meminta selalu dari bawah, artinya jika kamu meminta tolong sama orang kita harus sopan) mengingat ungkapan dari Netta maka itu aku bersikap sopan.
“Tidak, ini lagi bersantai dengan teman-teman.”
“Ben, aku butuh bantuan mu, kantorku di datangin preman.”
“Eh, lu jangan keluar, tetap saja di sana, gue datang dekat kok,”ucap Beny.
“Jangan lama-lama Bro, mereka ada empat orang, pintu kantor mau didobrak ini.”
“Siap, lu jangan keluar bro, tetap di ruangan tunggu sampai kita datang.”
Benar saja, tidak berapa lama, Beny sudah tiba bersama empat anak buahnya.
“Ada apa? preman dari mana ini,” kata Beny.
Bersambung ….
KAKAK JANGAN LUPA KASIH KOMENTAR DAN PENDAPAT KALIAN DI SETIAP BAB DAN JANGAN LUPA JUGA
LIKE, VOTE DAN KASIH HADIAH
Terimakasi untuk tips ya
Baca juga karyaku yang lain
-Aresya(TERBARU)
-The Cured King(TERBARU)
-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)
-Menikah dengan Brondong (Tamat)
-Menjadi tawanan bos Mafia (ongoing)
Bintang kecil untuk Faila (tamat)