Pariban Jadi Rokkap

Pariban Jadi Rokkap
Saat Netta Bertekad Ingin Kuliah


Satu tahun kemudian.


***


Jakarta.


Jam 06:15


“Makanya aku bilang pergi ke Dokter, sampai kapan kalian seperti ini, aku jenuh menunggu,” suara omelan Mami sudah seperti nyanyian setiap pagi untuk kami.


Kreak...


Decit pintu di buka, Netta masuk dengan raut wajah terlihat lelah, seperti apapun Mami bernyanyi padanya, ia akan tetap tenang dan diam tidak pernah membantah.


“Abang udah bangun, mau aku buatin kopi, Bang?”


“Mami bilang apa lagi, kali ini?,” tanyaku pada Netta.


“Masih seperti biasa,” bibirnya tersenyum tipis.


“Abang mau minum kopi apa langsung serapan?,” tanya Netta lagi.


“Serapan bareng saja di bawah, aku berangkat pagi, ada rapat di kantor,” kataku, bangun dari ranjang dan masuk ke kamar mandi.


Netta dengan sigap membereskan ranjang , menyiapkan baju yang akan aku pakai ke kantor.


“Abang, turun duluan saja, aku mau mandi dulu,” kata Netta membawa baju gantinya.


“Baiklah,” jawabku dan turun ke kebawah duluan.


Di meja makan keluargaku sudah berkumpul duduk membentuk lingkaran mengikuti bentuk meja makan kami yang mirip meja bundar, karena sudah kebiasaan di keluargaku setiap pagi serapan, kali ini serapan yang di sediakan bu Rika asisten di rumah tangga, yang sudah berkerja selama bertahun-tahun di rumah kami, jadi sudah hafal menu-menu Favorit di rumah keluargaku, maka pagi ini menu serapan kami Nasi goreng teri medan. Menu kesukaan di keluargaku maka jika Ibu Rika sudah memasaknya sebanyak pasti makan lahap dan habis.


Dari baunya saja sudah membuat cacing semakin kegirangan, baunya Menggugah selera makan.


Baru juga menjatuhkan panggul ku di salah satu kursi di meja makan , Mami sudah bernyanyi kembali padaku.


“Kamu Than, apa kalian tidak jadi pergi ke Dokter yang Mami bilang itu? kenapa?,”


“Iya, Mi kemarin saya ada rapat di kantor,” jawabku santai.


“Kenapa Netta juga gak pergi, sibuk juga, Dia?”


“Ia juga kuliah, Mi,” jawabku.


“Kuliah-kuliah, apa hebatnya kuliah, sok bangat aku lihat dia, tidak tau diri,” kata Mami mengoceh.


Netta akhirnya turun, ia juga sudah rapih , ia ada kuliah pagi hari ini.


“Kamu, mau kemana sekarang?”


“Aku ada kuliah pagi, bou.”


“Tidak, tidak kalian berdua, sekarang ke Dokter yang Mami bilang, jangan membantah, kau!,” kata Mami terlihat terlalu memaksakan kehendaknya, padahal Netta juga tidak pernah membantah omongan Mami, tapi Mami kadang mencari-cari kesalahan Netta.


Mata Netta melirikku,


“Baiklah, Bou,” jawabnya kemudian.


“aku sudah telepon tadi Dokter itu, sudah janjian, kalian datang ke tempatnya pagi ini kata Mami menatap tajam pada Netta.


“Kamu juga pergi Than, tidak ada bantahan tidak ada alasan,” kata Mami menekan kamu berdua,.


“Baiklah,” Jawabku, tidak ada yang berani membantah perintah Mami si nyonya Besar.


Papi hanya diam dan kakak Eva juga dan suaminya hanya diam, tidak boleh ada yang membela kami dan membantahnya perintah Mami.


Tepat satu tahun yang lalu. Sesuai Janjiku Netta akhirnya masuk ke salah satu Universitas Negeri di daerah Depok. Ia mengambil jurusan Kedokteran sesuai keinginannya.


Hal itu juga membuat Mami meradang dan tidak menyukai Netta sejak saat itu, karena ia Kuliah dan mengambil jurusan Kedokteran.


Tapi dengan kuliahnya Netta membuat Mami sangat marah, bahkan sangat membencinya, hampir tiap hari Netta kena marah sama mami, kata-kata kasar bahkan sudah ia terima, tapi tetap ia sabar dan diam, tidak pernah sekalipun membantah, aku salut dengan pendirian dan kesabarannya, jarang orang Batak punya hati se sabar itu, biasanya kalau boru batak itu, ia menerima satu makian, sudah menjawabnya dengan seratus kata.


Mami menganggap Netta memanfaatkan ku dan ingin memploroti hartanya. Apa lagi biaya untuk kuliah Kedokteran sangat mahal.


“Kamu sudah jadi menantu di rumah saya, itu artinya kamu sudah saya beli untuk menantu di rumah ini. Mana mungkin kamu minta kuliah lagi dan tidak meminta izin dulu sama aku,” kata Mami satu tahun lalu.


“Tapi Bang Nathan sebagai suami aku sudah mengijinkannya ,Bou,” jawab Netta tepat setelah ia di terima di Universitas ternama itu.


“Kamu Gila, tidak tahu diri bangat iya, anak saya saja tidak ada yang aku sekolahkan jadi Dokter, kamu anak kampung sudah aku pungut, aku beli mahal untuk menantuku. Kamu malah bertingkah ingin jadi kuliah jadi Dokter. Aku tidak mau… Jangan kuliah!,” kata mami , ia terlihat sangat marah saat itu.


“Maaf bou, tapi saya sudah di terima, nanti saya akan belajar untuk mendapatkan beasiswa,” kata Netta, semarah apapun Mami ia tetap pada pendiriannya ingin kuliah.


“Kamu tau gak, biaya kuliah Kedokteran ini mahalnya sebagaimana, anak orang kaya saja belum tentu mampu, saya tidak mau iya mengeluarkan sepeserpun untuk biaya kuliahmu, jangan harap,” kata Mami.


“Saya akan kerja, bou,,” kata Netta tidak mau menyerah, bagaimanapun Mami memarahinya, ia tetap tidak mau menyerah.


“Kerja, kamu pikir dengan kamu kerja, bisa membiayai kuliahmu! mau kerja apa kamu? Kamu pikir gampang cari kerja di Jakarta ini, apa lagi kamu dari Kampung,” Kata Mami merendahkan.


“Nanti pasti ada Jalan Bou,” kata Netta.


“Than, apa kamu menyuruhnya kuliah?”


“Aku hanya mendukungnya, Mi,” kataku.


“Jangan coba-coba kamu kasih duit buat dia iya, ia memang istrimu tapi kamu bekerja di perusahaan yang di bangun Mami dan Papi,” katanya dengan kejam.


“Baiklah, aku tidak akan memberikan apa-apa,” kataku, agar Mami berhenti marah.


Saat itu mami benar-benar sangat membenci Netta, tidak mau memberikan uangnya sepeserpun.


Aku terpaksa memberikan uang diam-diam pada Netta untuk membantunya.


Saat ini, usia pernikahan kami sudah setahun lebih, tapi belakangan ini Mami mulai sangat menekan kami berdua tentang keturunan.


Entah berapa Dokter yang kami datangi karena Mami, entah berapa kali Netta diurut dan disuruh minum obat penyubur rahim.


Semua ia lakukan tanpa membantah, tidak ada satupun perintah Mami yang ia bantah kecuali, untuk berhenti kuliah.


Kembali ke waktu pagi ini, baik hari ini saat ia mau berangkat kuliah, ia disuruh Mami cek ke Dokter kandungan, memeriksa kesuburan kami berdua, karena kenapa sampai satu tahun ini belum juga hamil.


“Ayo bang,” kata Netta.


“Makan dululah,”kataku melihat ia makan serapannya, baru beberapa suap.


“Sudah kenyang, bang kita pergi saja,” gara-gara Mami tidak berhenti mengomel mengungkit semuanya, membuat Netta ingin cepat-cepat pergi.


“Baiklah, ayo.”


Saat dalam mobil tiba-tiba Mikha menelepon, nama mikha aku ganti dengan nama samara, pak Juan.


“Iya, pak juan.”


“Beb, temanin aku dong, aku ada pemotretan di Sudirman, tapi asistenku lagi sakit jadi tidak ada yang antar aku, mau iya Beb,” kata Mikha di ujung telepon, suaranya memelas aku tidak bisa menolaknya.


“Maaf pak Juan, saya hari ini tidak bisa saya ada urusan penting,” kataku, menatap Netta dan menutup teleponnya.


Netta sama seperti dulu waktu baru kenal, ia masih jadi seorang pendiam, jika tidak ada yang penting, ia tidak mau memulai cerita atau memulai obrolan denganku.


“Itu tadi pak Juan, di kantor ada rapat sebenarnya,” kataku berbohong lagi padanya, entah berapa kali aku sudah membohongi Netta tentang banyak hal terutama tentang Mikha.


“Abang pergi saja, biar aku yang ke Dokternya, nanti kita atur janjian untuk abang lagi, nanti biar aku ngomong sama Dokternya, aku saja dulu yang di periksa hari ini,” kata Netta , ia selalu seperti itu satu tahun ini, selalu jadi malaikatku saat Mami memarahi aku.


“Beneran Boleh?” kataku bersemangat


“Boleh, abang ada rapat, kan?”


“Iya,” kataku ragu, sedikit merasa bersalah karena terus-terus membohonginya, padahal ia tidak tau kalau aku menemui Mikha.