Pariban Jadi Rokkap

Pariban Jadi Rokkap
Bahagia itu sederhana


Belanja mereka tidak sampai satu juta, aku sudah meminta megambil apa yang mereka suka,  tetap sekitar peralatan sekolah, tapi adik Netta yang bernama Lamhot yang duduk di kursi Sekolah Menengah Atas selalu, melirik ke Toko sebelah, aku penasaran dan ikut melihatnya.


Ia melirik showroom motor.


‘Apa dia ingin motor?’ Aku bertanya dalam hati, tidak masalah bagiku kalau ingin motor.


“Lae ingin motor?”


Wajahnya terkejut saat aku memergokinya melihat-lihat motor.


“A-a-a kawan-kawan semua ke sekolah sudah naik kreta lae, sekolahnya jauh, sekolahku itu lae yang samping lapangan itu, jalan kaki dari   rumah berangkat dan pulang,” ujarnya sedih.


“Wa jauh bangat lae kalau jalan kaki,” ucapku terkejut, rumah Netta ke sekolah lumayan jauh, dari huta Dolok Martahan   ke Nainggolan, jika di tempuh jalan kaki kira-kira satu setengah jam, tiba di sekolah sudah pasti lelah duluan, mana masuk lagi pelajaran ke otak kalau sudah capek tiba di sekolah yang ada ingin tidur.


“Kakak juga dulu jalan kakinya Bang. Kadang aku tidak serapan dari rumah, karena tidak sempat, di sekolah tidak jajan, pulangnya kadang kaki sudah gemetaran,” katanya berucap pilu.


“Baiklah, ayo kita beli, mau yang mana?” tanyaku.


Matanya kaget, menatap ku tidak percaya, ia hampir menangis.


“Ayo pilih lah,” ujar ku,  aku menarik tangannya untuk memilih, pertama ia sangat takut.


“ Mabiar au lae abang Saut muruk.”


(Takut aku lae, nanti abang Saut marah)


“Tidak apa-apa, biar aku yang bicara nanti,” kataku menenangkannya.


Ia setuju dan satu memilih motor yang ia suka, Rudi dan kedua adiknya masih sibuk memilih sepatu , saat selesai mereka kaget melihat kami masuk ketempat penjualan motor.


“Mau beli kreta abang? Mata mereka melotot tidak percaya.


“Iya lae mau beli satu untuk lae Lamhot.”


“Wah… boi hita markareta molo sikkola ake bang.”


(Wah … bisa kita naik motor kalau berangkat sekolah iya, bang)


Adik yang duduk di bangku SMP  melompat  kegirangan, ia memilih motor yang pakai gigi yang punya slogan iklan


‘Semakin didepan’


Aku membayarnya pakai kartuku, nominal segitu tidaklah seberapa bagiku, mereka makin senang karena dihadiahi helem payung dan raket badminton.


“Kiabaak … manuhor  motor dapot payung puang ….!” Ujarnya  sangat senang  saat mendapatkan hadiah, wajah polos itu menatapku dengan gembira, terlihat apa adanya.


“Bisa mengendarainya kan?” Tanyaku penasaran, karena dari tadi lae ku tidak menaikinya hanya mengelilingi body motor yang ia pilih.


“Bisa bang, bisa …  Kami pulang naik ini nanti iya lae,” ujarnya minta izin  padaku.


“Au mamboan asa aman.”


(Aku yang bawa biar aman) Rudi menawarkan diri.


Tiba-tiba lelaki pendiam itu menghampiriku dan merangkul ku, ia menangis sesenggukan saat aku memberikan kunci motor padanya, Lamhot menangis karena senang membuatku merinding,  ikut merasa terharu.


Aku membayangkan Netta jalan kaki selama bertahun dari rumah ke sekolah yang lumayan jauh, dalam perjalanan jauh, aku semakin salut padanya, hidup yang keras dari kecil mendidiknya jadi anak yang kuat dan mandiri hingga dewasa.


‘Aku juga senang, jika melihat kalian senang ‘ ucaku dalam hati.


“Ayo pilih lagi apa yang kalian mau, kita bertemu dengan kakakmu, mungkin orang itu sudah selesai belanja” kataku.


“Aku sudah lae,” ucap Lamhot lelaki yang irit bicara itu menaiki motornya.


“Aku juga lae, ini sudah cukup.” Rudi ikut memperlihatkan belanjaan, berhubung semua sudah kebagian dan semua keinginan masing sudah dapat.


Mengajak menemui Netta yang sudah menunggu di samping mobil.


Saat Adiknya menaiki motor dengan gembira  menghampiri mereka, mata semuanya menatap kaget.


“Abang Lamhot ada kreta baru kak!! di beli lae,” ucap Parasian adik Netta yang ke tujuh berlari menghampiri Netta


Netta menatapku matanya membesar.


“Dia  belum bisa naik motor bang,” ujar  Netta protes matanya melotot segede jengkol.


“Itu sudah bisa, dia sudah beberapa kali mutar-mutar pasar tadi, aku juga tidak mungkin membelikannya kalau belum bisa naik motor Dek, ia bilang jalan kaki dari rumah ke sekolahnya, itu jauh menurutku, kita saja tadi naik mobil hampir setengah jam, apalagi jalan kaki, bisa berapa lama itu? maka itu aku kasihan, aku yang menawarkannya,” kataku membelanya, aku tidak ingin ia kena marah.


Tadinya Lae Saut kami pikir marah atau melarangnya, ternyata ia diam, matanya menatap adik-adiknya yang berebut naik motor, ia hanya tersenyum kecil.


Motor di samosir di kampung Netta disebut kreta dan mobil disebut motor, kadang aku suka lupa.


“Terimakasih Lae, mereka sangat membutuhkan itu ke sekolah,” katanya menatapku.


“Berarti besok-besok tidak ada terlambat lagi’kan,” ucap Netta bercanda.


“Daongbe attong Kak, marjanji hami ikkon tamba semangat, asa bou jadi dokter songon kakak dohot jadi polisi sama abang Rudi,” ujar Parasian.


(Tidak ada lagi kak , kami janji, kami akan bertambah semangat biar bisa kayak kakak sama abang Rudi)


Hari ini mereka belanja dengan puas, dan belanjanya semuanya memenuhi bagasi mobil,  bahagia gembira itulah yang terpancar di wajah adik-adik Netta saat itu,  aku berharap aku bisa suatu saat bertemu dengan mereka lagi mendapatkan wajah bahagia seperti saat ini.


Saat puas belanja, karena sudah sore, aku mengajaknya mereka untuk makan lagi, mencari tempat makan yang lebih bagus lagi dari tempat sebelumnya.


Saat makan semuanya terlihat diam seperti biasa, Keluarga Netta punya kebiasaan unik, dilarang bicara selama makan, kecuali bicara tentang seputar makanan itu, misalkan minta nambah nasi atau minta tambahan lauk.


Saat selesai makan. “Jangan bawa dulu ke rumah, tunggu bou Candra pulang,” kata Lae Saut.


“Iya, tadi pagi ‘kan sudah ribut apalagi kita dilihat nanti bawaan belanjaan sebanyak ini makin gila nanti, dia pikir harta oppung yang di berikan ke Mama kita jualin, padahal, abang Jonathan yang beli” ucap Netta.


“Olo kakak hu baenpe, tu tempat ni dongan jonok tu hutai.”


(Iya kakak nanti aku titip motornya ke rumah teman di kampung bawah)


“Belanjaan kita ini juga, tidak usah di keluarkan dulu, nanti saat ia tidak ada bou, biar abang nanti malam yang keluarkan, saat acara rapat nanti malam, biar tidak dilihat,” Rudi abang Netta ikut memberi masukkan.


Bersambung


Akak yang baik , jangan lupa tetap dukung karya ini kasih like vote dam komentar. Kalau bisa bantu share di facebook  kalian iya kakak agar  makin banyal lagi yang menonton. Terimakasih,


Jangan lupa baca juga karyaku yang lain