Pariban Jadi Rokkap

Pariban Jadi Rokkap
Di ujung kesabaran


“Tapi aku malu punya kakak ipar kampungan malu-maluin seperti itu, ngapain dipertahankan kalau tidak bisa memberi cucu untuk Mami, untuk apa?


abang Nathan, kan anak lelaki satu-satunya anak pertama yang membawa marga, kan? harus punya anak, kalau wanita itu tidak bisa memberikan anak mengapa harus di pelihara lagi,”


Kata Arnita, Mami terlihat mangguk-mangguk, mami itu gampang bangat dipengaruhi.


“Kamu diam Nita, kamu tahu apa?


Netta itu berusaha, hanya Tuhan yang belum memberi, jangan menghina belum tentu kamu lebih baik dari dia, nanti bisa-bisa kamu kena karma, ia calon Dokter pasti tahu banyak tentang apa yang mereka hadapi,” kata Kak Eva.


Arnita tersenyum mendesis, menatap Netta dengan tatapan merendahkan.


“Bukankah ia bisa sekolah Dokter karena memplototi uang abang Nathan, anak kampung itu tidak akan bisa sekolah Dokter dengan biaya mahal seperti itu kalau bukan karena harta Mami yang ia plorotin dan memanfaatkan abang, kalau tidak, dari mana ia bisa mendapatkan uang, orang tuanya miskin di kampung.”


Pak


Papi menampar Arnita lagi, sepertinya otaknya sudah korslet, semua orang sudah menggamparnya karena kelancangan mulutnya, tapi karena Mami selalu membelanya dan memanjakannya.


“Kamu tidak sopan iya, orang yang kamu hina itu Nantulang dan Tulang kamu sendiri, orang yang kamu hina itu keluarga kita.”


“Papi kok ikut-ikutan menamparku juga sih?”


Mata Arnita menatap Papi dengan tatapan mata terkejut.


“Jaga bicaramu, jangan aku dengar lagi kamu bicara kasar sama Netta seperti itu, cukup Mami yang berbuat seperti padanya jangan aku sekali-sekali kamu ikut-ikutan menghina lagi, sekarang kamu diam, biarkan kami yang bicara,” suaranya tegas.


Kalau sudah marah beliau pasti terlihat sangat tegas.


Suasana makin panas saat kak Eva berdiri , ingin bicara.


“Sekarang aku tanya sama Mami, kapan bapak Veno minta-minta duit sama Mami?”


Kak Eva ikut-ikutan mencerca Mami, Ia tersinggung juga dengan ucapan Arnita yang merendahkan suaminya.


“Ha, kok jadi kau bawa-bawa suamimu sih, Tanya Mami bingung, saat Kak Eva ikut marah.


“Tadi di bilang si Nita, pak Veno minta –minta duit sama Mami.”


“Mami tidak pernah ngomong seperti itu,”


kata Mami terlihat bingung, entah siapa yang benar dan siapa yanga bohong tidak ada yang tahu.


Tapi yang pasti semuanya jadi ribut saat ini.


“Sudah, sudah mari duduk dan bicara baik-baik.”


“Sini inang, duduk,” ajak Papi menyuruh Netta ikut duduk.


“Ia tidak perlu ikut duduk,” kata Mami melarang Netta ikut duduk.


“Mami apaan sih kok seperti anak kecil jadinya,”


kata kak Eva.


“Saya tidak mau kalau ia duduk bergabung kalau tidak saya mau naik keatas,” kata Mami.


“Ayo pulang Ta…!”


kataku berdiri.


Aku sudah tidak tahan lagi melihat perlakuan mereka semua pada Netta.


“Kamu tidak sopan lama-lama Jonathan! kamu durhaka Mami hanya tidak ingin melihat wanita itu bukan kamu,”


kata Mami


“Netta itu istriku Mi, bukan Mami memilih ia jadi istriku dulu? kenapa jadi berubah sekarang? aku bingung jadinya, dulu saja aku bilang tidak mau, tapi mami memaksa setelah kami bersama Mami malah memisahkan kami.”


“Mami menyesal menjadikan anak kampung yang tidak berguna ini jadi menantuku, aku tidak tahu ia tidak bisa memberiku cucu, ia malah menghabiskan duit ku dan dikirimkan ke kampung tanpa sepengetahuanku.


kata Mami, selalu mengungkit hal itu, sepertinya keinginan Netta untuk jadi seorang Dokter membuat Mami tidak rela atau merasa iri.


Kini Netta hanya diam tidak mau membantah, kami semua kasar padanya, baru tadi pagi aku membuatnya menangis dan merendahkannya, aku tidak tahu apa yang ia pikirkan , aku takut ia benar-benar menyerah dan melepaskan semuanya.


Karena manusia punya batas kesabaran.


“Mami dari tiga tahun lalu itu terus yang di bahas, ia tidak pernah meminta uang dari Mami, kan?


Aku yang memberinya uang kuliah, aku sudah bilang aku tidak keberatan Mi, jangan bilang uang Mami dan harta Mami yang di plorotin Netta.


Tiap tahun itu ia dapat beasiswa prestasi Mi, beasiswa prestasi, itu artinya ia pintar dan biaya kuliahnya di tanggung Negara, tidak semua orang mendapatkan kesempatan seperti itu mi, sebagai suaminya, jujur aku senang aku bangga,” kataku bicara apa adanya.


“Kamu pikir perusahaan yang kamu duduki hasil usahamu?


Kamu pikir itu milik siapa?


Itu saya dan Papi yang membangunnya dari Nol dan hingga bisa besar sampai sekarang, jadi itu duit yang kamu pakai itu uang Mami juga, jangan kamu pikir itu hasil usahamu dan bisa seenaknya kamu gunakan untuk menghambur-hamburkan untuk hal yang tidak perlu.”


“Mami perusahaan itu juga tidak akan bisa bertahan seperti saat ini jika aku tidak bekerja keras, apa Mami hitung-hitungan buat anak sendiri?”


“Aku tidak hitung-hitungan sama anak sendiri tapi sama orang lain iya.”


“Sudah, sudah kalian buat aku pusing,”


Papi memegang kepalanya.


“Tapi Netta bukan orang asing Mi!, sebelum ia jadi istriku ia sudah jadi sepupuku, jadi uang milikku uang ia juga Mi.”


“Tidak, semua yang ada di rumah ini milik Mami selagi mami hidup, apapun yang harus kalian ambil. harusnya meminta izin sama Mami. Kamu membeli rumah atas Netta itu artinya ia sudah mencuri dari saya.


“Iya ampun Mi, itu hasil kerjaku.”


“Kalau aku suruh kamu keluar dari perusahan emang kamu bisa cari duit lain, apa Netta bisa Kuliah? aku sudah bilang semua itu milikku, kamu lupa perjanjian kita iya, kalau kamu keluar dari rumah berarti kamu harus siap kehilangan hak mu termasuk perusahaan, sekarang kamu pilih , kamu pilih kembali ke rumah ini atau kamu keluar dari perusahaan?”


Kata Mami membuatku terkejut.


“Mami apa-apa sih sama anaknya sendiri seperti itu,”


kata Papi ikut terkejut.


“Tau nih Mami, maslah anak sendiri seperti itu,” Kak Eva ikut menimpali.


“Baik aku meninggalkan perusahaan,” kataku dengan emosi tanpa berpikir panjang.


Sebagai lelaki aku punya harga diri


“Cukup. Kalian tidak menghargai saya dari Tadi”


Papi berdiri berdecak pinggang menatap Mami dengan tajam.


Suasana hening sesaat Papi marah, kamu sudah tua masih kelakuannya seperti itu, apa kita ingin bercerai saja?


Aku tidak tahan melihat sikapmu seperti itu, aku bosan mengurus hal-hal seperti ini terus menerus, kamu selalu mempermalukan keluargamu sendiri, aku capek.” Kata Papi meninggalkan kami.


“Kalau Papi berani melangkah sekali keluar dari pintu selamanya tidak akan pernah harap aku Memaafkan mu dan menerima lagi di rumah ini,” kata Mami.


“Terserah!,” ucap lelaki paru baya itu beliau keluar.


Disusul aku juga yang berdiri menarik tangan Netta.


Tidak tahu mau sampai kapan situasi tidak mengenakkan ini terus terjadi.


Mami semakin tua bukannya semakin dewasa. Tapi malah tambah mata duitan.


Bagaimana hubungan kami selanjutnya dengan Nata? Mami mendesak untuk segera punya anak, kami sudah berusaha tapi kalau Tuhan belum memberi momongan untuk keluarga kami, memang kami bisa apa?


Bersambung....