
Setelah semua keluarga berunding, akhirnya sepakat beberapa utusan keluarga untuk menemani Candra untuk menjemput Tivani.
Aku dan Netta juga ikut dan ada juga tulang anggota Dewan yang dari Bandung, jika ingin berhadapan dengan orang besar kamu juga harus besar, begitulah istilahnya.
Tadinya aku dan Netta tidak ingin ikut, tetapi karena tulang Bandung yang meminta kami berdua dengan Netta tidak bisa menolak.
*
Setelah keluarga berkumpul di rumah mami hari itu, kami berangkat empat mobil, akhirnya tiba perumahan elite di PIK saat rombongan tiba, kami di sambut sappam rumah Tivani.
“Selamat siang Pak, bapak-bapak ini mau bertemu siapa?”
“Kami ingin bertemu besan kami pemilik rumah ini"
“Apa sudah ada janji Pak?”
“Sudah”
“Bisa tunjukkan KTP Pak?”
“Bah … nungga lobi- lobi pajuppang dohot presiden on"
(Ah … sudah melebihi bertemu presiden ini) Ujar tulang Bandung dengan wajah kesal.
“Panggilkan saja, kami sudah ada janji,"ujar Tulang Kembar. Sementara Candra hanya diam.
“Maaf pak, ini sudah prosedurnya”
“Lean, lean ma Bang asa hatop sae”
(Kasihlah Bang, biar cepat selesai) ujar tulang dari Bogor
Dengan wajah terpaksa tulang dari Bandung menyerahkan kartu identitas miliknya, setelah menerima, bukan langsung meminta kami masuk, masih di suruh menunggu.
“Tunggu sebentar Pak, saya akan melapor dulu”
“Ah … sudah gak benar lagi ini.” Tulangku yang dari Bandung sudah mulai tidak nyaman.
“Apa tadi Ito, tidak kabarin mereka dulu?” Tanya tante Ros.
“Sudah, memang tidak tahu adat mereka, Batak Dalle, masa besan mereka datang sianggap sepele,” ujar tulang.
Sappam tadi keluar lagi, “Maaf bapak sedang tidur siang”
“Katakan besannya sedang datang,” ujar tulang dari Bogor dengan emosi yang tertahan.
Lalu ia menelepon ke dalam rumah menjelaskan kedatangan kami.
“Gila … ini mengemis namanya,” ujar tulang sudah ingin pulang.
“Aku ingin tahu siapa lelaki yang sangat terhormat ini sombong sekali sudah besannya datang baik-baik malah di cuekin,” ujarnya, ia mengeluarkan ponselnya dan meminta pengacara untuk menyelidiki apa usaha dan pekerjaan mertua sombong Candra.
“Sudah Ito, mungkin mereka masih marah karena Candra meninggalkan anak mereka,” ujar tante Ros.
“Orang yang berpendidikan dan punya sopan santun, akan mempersilahkan tamunya masuk dulu, segala masalah akan dibicarakan baik-baik dalam rumah. Kita menunggu seperti gembel di sini selama beberapa menit”
Tidak lama kemudian tulang mendapat kabar tentang informasi mertua Candra, wajahnya terlihat mendengar serius.
“Apa uda mendapat sesuatu dari penyelidikannya?”
“Sepertinya, ada, aku yakin dia akan menyelidiki sampai ke akar-akarnya, kamu tahu sendiri kalau tulang kalau marah yang salah bisa dibenarkan hang benar dibuat salah. Apalagi yang salah, dia akan menenggelamkannya ke laut,” ujarku.
Setelah jadi gembel selama beberapa menit di depan pintu pagar itu, seorang lelaki paruh baya meminta sappam mempersilahkan kami masuk.
Saat kami masuk tulang Roy masih sibuk menelepon, saat kami datang dengan pakain sopan pakai jas dan pakai kemeja ternyata kami hanya di sambut dengan sikap biasa saja. bahkan hanya ia sendiri tanpa didampingi sama istrinya.
‘Kurang ajar bangat pantas saja bapa uda sakit jantung ternyata dapat mertua yang beginian’ batinku memaki.
“Baru sahali on dope au di bahen jolma songonon dobah”
(Baru kali ini diperlakukan seperti ini) ujar tulang kami yang tinggal di Surabaya ia seorang pengancara kekayaannya jangan ditanya.
Maka saat perlakuan memalukan seperti ini ia sudah merekam Simon mertua Candra.
“Baiklah maksud kedatangan kalian rame-rame ke rumah kami untuk apa?” Tanyanya dengan kaki digoyang-goyangkan.
“Kami datang ke sini Pak dengan niat baik hany-”
“Niat baik apa? Saya sudah bilang sama Ibu Rini anak saya tidak bisa hidup susah,” potongnya dengan sombong.
“Karena itulah Amang kami ingin meminta maaf atas kelakuan anak kami,” ujar Tante Ros dengan suara melembut.
“Kalian pasti tahu dari Inang Rini, harusnya dia yang datang ke sini, bukan meminta orang lain datang”
Tulang Roy mulai naik pitam, darah Bataknya mulai bergejolak, kalau nantulang itu memegang tanganya ia sudah berdiri.
“Dalam … adat Batak, kami sebagai hula-hula orang di paling di hormati oleh Bu Rinj, kami bukan bayaran atau suruhan, kami saudara, kakak kami lagi tidak bisa datang dia mengurus ipar kami yang sakit,” ujar tulang kembar.
“Saya memang orang Batak, tapi saya kurang paham tetang apa yang kalian jelaskan tentang hula-hula atau adat istiadat saya tidak tahu. Tapi sebagai seorang bapak saya berkawajiban untuk menjaga putri saya”
“Karena itu kami datang baik-baik Pak”
“Anak saya tidak bisa kembali ke rumah itu, dia tidak terbiasa tinggal di rumah kecil, dia anak satu-satunya semua kebutuhannya selalu di layani, kalau ingin berbaikan biarkan Candra yang tinggal di sini”
“Anda salah Pak Simon, itu artinya anda melanggar hukum adat Batak,” akhirnya bapak pengacara itu murka juga.
“Kok jadi tuntut menutut?”
“Apa Kamu tahu Adat! Jika wanita Batak sudah di menikah dan diadatti, maka dia sudah menjadi milik suaminya seutuhnya, dia sudah di beli atau sinamot. Kamu bisa saya tuntut melanggar adat Batak, karena memyembunyikan anak perempuammu yang sudah kami adatt jadi keluarga Manurung ”
“Ya, Pak sepertinya orang yang sangat terhormat sekali, saya jadi penasaran tentang perusahaan Bapak jalankan, saya seorang anggota Dewan yang tinggal di Bandung, saya juga bisa diajak kerja sama. Abang saya itu juga pengacara yang menangani banyak kasus korupsi dan barang-barang ilegal.
Istriku juga bekerja di kantor Jaksa,” ujar tulang Roy mendadak pamer.
Seketika wajah Pak Mertua Candra pucat, ia berpikir orang-orang yang datang ke rumahnya hanya pegawai biasa seperti tante, kakinya yang tadi diangkat diturunkan.
“Sementar, saya panggilkan istri saya dan Vani,” ujarnya lagi, ia ketakutan saat tulang bilang ingin menyeliki perusahaannya miliknya, itu membuat kami semua jadi curiga, mendadak mengeluarkan ponsel masing-masing dan mengetik nama perusahaan di mesin pencarian.
“Mertuamu sombong sekali Can”
“Aku tahu tulang,” ujar Candra.
“Sekarang aku mengerti apa yang kamu rasakan dan lae rasakan. Tenang, kita akan kuliti dia sekarang sampai dia tidak berkutik,” ujar tulang.
Lalu ia meminta pengacaranya untuk menyelidiki perusahaan penyalur obat-obatan milik keluarga Tivani . Tulang juga meminta menyelidiki kaitan antara tante dan besannya
Secara Tante bekerja di puskesmas dan Mertua Candra, sebagai ditributor penyalur obat-obatan.
“Bang … ingat tujuan kita membawa Tivani dari sini yang lainnya baru menyusul,” bisik tulang Kembar pada tulang Roy.
“Iya, iya baiklah, kalau kita sudah memegang kartu as, maka, muda untuk menjinakkan lelaki sombong ini,”ujar tulang.
Setelah diancam akan diselidiki perusahaan miliknya, kami di jamu dengan hidangan yang beraneka ragam, sementara mertua Candra masih berada di lantai atas terdengar ia sedang menelepon pengacaranya, ia seolah-olah ketakutan meminta pengacara membersihkan file-file lama.
Tetapi, apapun itu, tujuan kami hari itu hanya ingin memperbaiki hubungan rumah tangga Candra dan istrinya.
Bersambung ….
Jangan lupa tetap dukung ya Kakak semua dengan cara like, komen, share di facebook
Terimakasi Kakak semua.